Aping

Aping
Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Aping mengendarai vespa nya pelan di tengah gelapnya langit. Entah kenapa jalanan yang biasanya Aping lewati mendadak sunyi.


Seperti lorong waktu yang siap menelan Aping. Di kejauhan terlihat sebuah mobil di hadang delapan preman sekaligus.


Hanya satu pilihan penumpang di dalamnya. Mati atau koma di rumah sakit. Setali tiga uang. Sama saja tak bisa memilih. Aping menghampiri mereka. Turun dari motor dan berpura - pura mencari kucing yang kegencet ban mobil. Para preman menatap heran sekaligus eneg dengan ulah Aping.


Saat Aping mendekat ke mobil itu. Para preman menodongkan senjata tajam mereka.


Aping - Aping coba kalau posisi orang lain di tempat itu mungkin lebih baik ngacir menyelamatkan diri dari pada mengantarkan nyawa ke pada gerombolan preman.


Entah karena keseringan konslet otak Aping jadi agak meslek dari tempatnya.


Aping tak sedikitpun gentar. Meski para preman bertubuh kekar.


Bruugh prang klontang kreekk plaak.


Suara suara horor itu muncul diantara delapan musuh satu orang. Tendangan dan pukulan Aping membuat preman dan senjatanya kocar - kacir.Beberapa tulang mereka ada yang retak. Dengan muka bonyok di sana sini.


Dengan susah payah mereka berlari menjauh dari Aping. Bapak paruh baya muncul dari dalam mobil. Menyunggingkan senyum kepada Aping. Dan menghampirinya.


"Siapa namamu nak?" ucapnya.


"Aping pak," sambil menjabat tangan bapak itu.


"Panggil saya pak Jaya " sambil menyerahkan kartu namanya.

__ADS_1


Aping mengangguk dan menerima kartu itu.


" Bapak sangat berterima kasih kamu menyelamatkan bapak dari preman - preman tadi. Kalau bisa datanglah besok ke alamat itu," menunjuk ke arah kartu nama di tangan Aping.


"InsyaAlloh pak saya akan datang," ucap Aping sambil pamit pergi.


Dengan mengendarai vespa nya Aping kembali menembus malam yang dingin.


Ada perasaan senang di hatinya. Tak kala dia berguna untuk orang yang membutuhkan.


Senyum tersungging di bibirnya.


*****


Keesokan harinya Aping menepati janji untuk bertemu pak Jaya sesuai alamat kantornya. Setelah pulang sekolah Aping segera melaju ke salah satu gedung pencakar langit ibu kota.


Aping menghampiri resepsionis dan menanyakan keberadaan pak Jaya serta menunjukkan kartu nama pemberian pak Jaya. Resepsionis itu kemudian menghubungi sekretaris pak Jaya.


"Silahkan adik ke lantai sepuluh lewat lift itu," menunjuk ke arah lift di kanan Aping.


Segera Aping menuju lift itu dan masuk kedalam menuju lantai sepuluh.


Aping heran kenapa dia harus berada di sini.


Sedangkan dia tidak terlalu mengenal pria itu.

__ADS_1


Langkah kakinya membawa ke depan ruangan bertuliskan Presdir Utama.


Seorang sekretaris menghampirinya.


" Apakah anda bernama Aping?" tanya sekretaris itu memastikan.


Aping mengangguk. Kemudian dia di bawa ke dalam ruang itu.


"Permisi pak, saudara Aping sudah ada di sini," ucap wanita itu penuh kesopanan dan segera pergi dari ruang itu.


Pak Jaya kemudian merangkul pundak Aping.


"Duduk lah dulu Aping."


Aping menurut dan duduk di sofa ruangan itu.


Melihat sekelilingnya penuh takjub.


"Nak Aping saya sangat berterima kasih karena kemarin kamu telah menyelamatkan saya. Sebagai imbalannya maka terimalah ini," sambil menyodorkan sebuah kertas cek bertuliskan nominal seratus juta rupiah.


Aping menatap bingung.


"Maaf pak saya tidak bisa menerimanya," menyerahkan kembali cek itu.


"Jangan menolah nak itu untukmu."

__ADS_1


"Maaf pak saya belum bisa menerimanya."


Pak Jaya menghela napas. Ternyata masih ada anak yang baik di dunia ini. Pikirnya.


__ADS_2