
Adit mengantar Zefran ke kamarnya, membantu laki-laki itu membukakan pintu kamarnya. Setelah Zefran menaruh Allena pelan, laki-laki itu segera menemui Adit yang menunggu di luar kamar.
"Terima kasih Adit, kamu telah banyak membantu kami," ucap Zefran sambil menepuk lengan fotografer muda itu.
"Tak masalah Kak, demi kebahagiaan Kak Allena, apa pun tidak masalah bagiku," jawab Adit sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau sekarang aku traktir minum," tanya Zefran.
"Ah, kita baru saja minum Kak," jawab Adit mengingatkan Zefran.
Zefran tertawa, laki-laki itu lupa karena kebiasaan mereka untuk menghargai dan membalas kebaikan seseorang adalah dengan mengundangnya minum bersama.
"Benar juga, bagaimana kalau lain waktu," ucap Zefran.
"Baiklah, sebaiknya Kak Zefran temani Kak Allena saja. Aku takut dia bangun dan merasa bukan di kamarnya, nanti merasa diculik pula," ucap Adit sambil tertawa.
Zefran pun ikut tertawa, laki-laki itu merasakan ketulusan Adit pada Allena. Anak muda itu terlihat perhatian dan sayang pada Allena.
"Oh ya, apa Kak Zefran sudah tentukan tanggal resepsi?" tanya Adit tiba-tiba teringat tentang resepsi pernikahan Zefran.
"Oh ya maaf, kami belum menentukan tanggalnya. Sepertinya masih banyak kegiatan dan janji yang harus kami penuhi. Mungkin setelah ini kami baru bisa mencari tanggal yang tepat," jawab Zefran merasa tak enak hati karena belum bisa menentukan tanggal.
"Santai Kak, nggak masalah. Jangan terburu-buru menentukan tanggal, aku bisa kapan saja kok," ucap Adit.
"Sungguh? Kalau memang seperti itu aku lega, soalnya aku pakai minta bantuan padamu segala padahal belum jelas apa-apa. Semua masih buram," ucap Zefran.
"Nggak apa-apa Kak, aku justru senang Kak Zefran beritahu aku tentang rencana itu. Kalau tidak, aku menyesal tidak melakukan apa pun untuk Kak Allena. Jangan sampai nggak jadi Kak, Kak Allena pasti bahagia jika resepsi pernikahan itu benar-benar diadakan," jelas Adit sambil tersenyum.
Zefran mengangguk.
"Silahkan Kak, tadi aku yang minta Kak Zefran segera masuk tapi malah aku yang ajak ngobrol lagi," ucap Adit sambil tertawa.
"Oh ok, kamu mau balik kemana sekarang?" tanya Zefran.
"Mau liat Vivi dulu Kak, mau tanya apa dia takut tidur sendirian atau tidak," ucap Adit sambil tertawa.
"Dasar!" seru Zefran.
Fotografer muda itu pun pamit dengan tawa yang belum hilang dari bibirnya. Zefran pun tersenyum menatap laki-laki muda itu melangkah menjauh dari kamar mereka.
Zefran masuk ke dalam kamar dan melihat Allena yang masih nyenyak tidurnya. Perlahan Zefran rebah di samping wanita itu dan menatap wanita yang tidur dengan posisi miring ke arahnya itu. Sisa tangisnya masih terlihat dari hidung Allena yang masih merah.
"Maafkan aku," bisik Zefran.
Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Mengecup kening wanita cantik itu dengan begitu lembutnya. Zefran takut kecupannya membangunkan Allena. Namun laki-laki itu justru dikagetkan oleh Allena yang tiba melingkarkan tangannya hingga ke punggung laki-laki itu. Allena bahkan bergeser hingga menempel di dada Zefran.
Kamu ini bangun atau tidur sih? tanya Zefran dalam hati.
Namun tak ada tanda-tanda Allena bangun, wanita itu seperti hanya ingin mencari kenyamanan dalam pelukan Zefran. Laki-laki itu tersenyum dan memeluk istri yang dicintainya itu.
Di pertengahan malam, wanita itu terbangun. Langsung heran saat melihat Zefran yang sedang tidur sambil memeluknya. Allena perlahan mengangkat tangan Zefran yang melingkar di tubuhnya. Allena duduk, pandangannya mengitari kamar hotel kelas presidential suite itu.
Kapan aku pindah ke sini? Pasti Kak Zefran yang membawaku ke sini, dari dulu aku tak pernah sadar kalau telah di gendong olehnya. Saat tertidur di kamar mandi, di lantai, di mobil, entahlah! Tahu-tahu sudah di ranjang bersamanya. Kakak, Tolonglah jangan cemburu buta lagi ya? Cuma Kak Zefran satu-satunya di hatiku, batin Allena sambil menatap wajah tampan di hadapannya itu.
Begitu dekat hingga Zefran bisa merasakan hembusan nafas Allena. Laki-laki itu langsung mendekap wanita itu hingga kembali ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku sayang," bisik Zefran dengan mata yang masih terpejam.
"Jangan minta maaf padaku, bukan aku yang dipukul," ucap Allena.
Zefran membuka matanya dan menatap wajah Allena. Wanita itu terdengar lebih blak-blakan mengungkapkan isi hatinya. Zefran merasa kalau dia tak melakukan itu Allena akan memandang dirinya seorang yang tidak bertanggung jawab.
"Baiklah sayang! Aku akan meminta maaf padanya," ucap Zefran sambil mengusap pipi istrinya.
"Bukan hanya itu, Kakak berhentilah cemburu padanya. Dia tidak tertarik padaku, percayalah!" ucap Allena memohon.
"Ya, aku percaya!" seru Zefran.
"Kakak cuma asal bicara, sekarang Kakak bilang percaya, setelah itu cemburu lagi. Kejadian tadi benar-benar membuatku takut, Kakak bisa dituduh melakukan penganiayaan," ucap Allena khawatir.
"Maafkan aku ya sayang! Aku sudah membuatmu khawatir. Sekarang aku benar-benar percaya kalau dia tidak akan menggodamu. Adit telah menceritakan semua tentang laki-laki itu," ucap Zefran.
"Apa yang diceritakan Adit, Kak?" tanya Allena penasaran hingga tanpa sadar langsung duduk.
__ADS_1
"Aku kira Adit telah menceritakan semuanya," ucap Zefran.
"Semuanya?" tanya Allena tak yakin.
"Semuanya, yang menyebabkan dia tidak mungkin jatuh cinta padamu karena pelecehan yang pernah dialaminya," sambung Zefran.
"Oh, akhirnya Kakak tahu juga, aku tidak berani menceritakan tentang penyimpangan diri Kak Robert. Aku kasihan padanya tapi juga selalu was-was karena dia sering menanyakan Kakak," ucap Allena dengan suara yang semakin pelan hampir tak terdengar.
"Apa yang membuatmu was-was? Kalau aku bisa tergoda padanya? Lalu meninggalkan istriku yang cantik ini? Apa aku sudah gila?" tanya Zefran sambil tertawa.
Laki-laki itu langsung memeluk istrinya dan mengecup puncak rambutnya.
"Kalau cemburu itu yang masuk akal sayang! Seperti aku cemburu pada Robert Daniel itu wajar. Dia tampan, kamu cantik, yang tampan dan yang cantik itu saling tertarik itu wajar. Kalau yang tampan tertarik dengan yang tampan itu tidak wajar. Mulai sekarang aku tak akan cemburu lagi padanya, tapi bagaimana jika dia selamanya seperti itu?" tanya Zefran.
"Itulah Kak, saat ini aku rasa Kak Robert masih menahan diri dan berusaha untuk hidup normal tapi aku takut dia menemukan seseorang yang memiliki kesamaan dengannya hingga mereka merasa cocok. Maka kita terlambat untuk menolongnya," ucap Allena.
Zefran memeluk istrinya, saat ini dia sendiri tak bisa memberikan solusi pada Allena. Namun dia tak ingin membuat hati wanita itu risau terhadap Robert. Zefran menempelkan bibirnya ke bibir Allena, membuat wanita itu langsung memejamkan matanya. Zefran ingin istrinya itu melupakan segala yang meresahkan hatinya.
Zefran membuktikan cintanya lebih kuat dari masalah yang mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. Setelah berbaikan, Zefran akan melakukan apa saja untuk memuaskan hasrat istrinya. Allena menyambut dan membalas semua perlakuan manis Zefran.
"Aku sulit tidur tanpa memelukmu, aku bahagia di sini bersamamu," bisik Zefran.
Allena segera bergeser mendekat, laki-laki itu langsung melingkarkan tangannya memeluk tubuh istrinya dan tertidur.
Keesokan harinya Zefran menemani Allena menjalani jadwal kegiatan selama di Paris. Pertama-tama yang dilakukannya saat bertemu dengan Robert Daniel adalah meminta maaf. Robert Daniel menerima permintaan maaf Zefran, meski sedikit merinding Zefran menerima pelukan dari model tampan itu.
Mereka kembali ke tanah air setelah menjalani serangkaian kegiatan seputar mode dan fashion. Allena langsung memeluk putranya yang telah menunggu di teras rumah sambil melambaikan tangannya.
"Zeno jagain adek selama Mama pergi?" tanya Allena sambil memeluk anaknya.
"Ya Ma," jawab Zefano.
"Adek nakal nggak sama abangnya?" tanya Allena lagi.
"Nggak Ma, cuma kadang-kadang ganggu mainan Zeno," jawab Zefano.
"Kok adek Zara bisa ganggu mainan Abang Zeno?" tanya Allena penasaran.
"Abang lagi main di dekat adek, tahunya tangan adek sambar mainan Abang jadi ambruk. Adek sekarang suka ambil mainan Abang," jelas Zefano.
"Nggak apa-apa Ma, mungkin adek mau main sama Abang," ucap Zefano.
"Oh ya ya, benar juga. Abang Zeno ini baik sekali. Sangat pengertian sama adeknya. Sepertinya udah bisa masuk ke sekolah lagi ini," ucap Allena.
"Ya Ma? Bener Ma? Zeno udah bisa sekolah lagi?" tanya Zefano bersemangat.
"Tentu dong sayang, besok libur, lusa kita ke sekolah baru Zeno, Ok!" seru Allena.
Zefano langsung mencium pipi ibunya, langsung melompat-lompat kegirangan. Selama menjalani pengobatan di rumah sakit Zefano tak bisa lagi meneruskan sekolahnya di Taman Kanak-kanak. Namun, Allena di waktu luangnya selalu mengajak putranya untuk tetap belajar.
Allena yakin kemampuan Zefano sangat cukup untuk melanjutkan ke tingkat sekolah dasar di mana umurnya pun telah mencukupi untuk itu. Berkat pengertian dari sekolah Taman Kanak-kanak dulu, yang bahkan sempat beberapa kali datang menjenguk Zefano di rumah sakit. Zefano tetap mendapatkan sertifikat tanda tamat belajar dari Taman Kanak-kanak itu. Dan saat tahun ajaran baru, Allena telah siap mencari sekolah terbaik untuk putranya.
Hari Minggu siang itu Allena mengajak Zefano untuk berbelanja keperluan sekolah. Sementara Zefran memilih di rumah bermain bersama Zifara. Allena dan Zefano asyik memilih buku-buku tulis dan alat perlengkapan menulis lainnya. Sepatu sekolah hingga tas sekolah.
"Zeno suka tas sekolah yang ini atau yang ini?" tanya Allena sambil duduk berjongkok memegang dua buah tas sekolah di tangan kiri dan kanannya.
Zefano terlihat bingung.
"Atau Zeno mau pilih sendiri?" tanya Allena.
Anak itu menoleh ke arah tas-tas yang berjajar di rak di depannya. Kadang menoleh kembali pada tas yang dipegang Allena, lalu menoleh lagi ke tas yang berjajar di rak itu lalu menoleh kembali pada tas yang dipegang Allena.
"Apa kita beli dua-duanya?" tanya Allena melihat kebingungan Zefano.
Anak itu langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Zeno mau pilih dua yang mana?" tanya Allena yang melihat sepertinya Zefano ingin salah satu yang berada di rak di depannya.
"Yang ini sama yang itu," tunjuk Zefano pada sebuah tas ransel berwarna biru gelap.
"Oh baiklah, satu yang ini satu lagi yang itu," ucap Allena menyakinkan Zefano lagi.
Saat anak itu mengangguk segera Allena mengambil tas yang ditunjuk Zefano. Namun saat mengambil tas itu tiba-tiba seorang laki-laki berteriak. Allena dan Zefano kaget langsung melihat ke arah orang yang berteriak itu.
__ADS_1
Namun belum sempat mengetahui apa yang terjadi, orang itu telah mendatangi mereka dan berdiri di belakang mereka. Hanya hitungan detik, laki-laki yang berteriak tadi tertimpa sebuah koper besar yang ditaruh tak semestinya di rak paling atas.
Allena kaget dan segera menoleh, laki-laki itu tertimpa koper besar dan langsung jatuh pingsan. Para karyawan toko langsung berdatangan, tak hanya itu manager toko pun langsung memanggil ambulans.
Allena langsung memeluk putranya, yang shock hingga tubuhnya gemetar. Manager toko bertanya penyebab kejadian pada karyawan toko tapi tak ada yang bisa menjawab.
Allena hanya bisa menatap laki-laki yang terlihat seperti seorang mahasiswa itu tergeletak di lantai tak ada yang berani menyentuh. Allena mengambil tasnya yang berbahan lembut lalu menaruhnya di bawah kepala laki-laki itu.
Sambil menunggu ambulans Allena hanya duduk sambil memeluk Zefano yang duduk dipangkuannya. Allena baru bisa menjelaskan kalau tadi dirinya dan anaknya sedang memilih-milih. Tiba-tiba mendengar suara laki-laki itu berteriak dan akhirnya justru dirinya yang tertimpa koper besar itu.
Manager itu langsung memanggil para karyawan yang bertugas mengurus counter itu. Terlihat manager yang memberi teguran dan peringatan pada karyawan yang bertanggung jawab mengatur letak koper-koper itu.
Tak lama kemudian, ambulans datang sementara laki-laki itu masih belum sadar. Allena membayar semua barang belanjaannya dan berangkat mengikuti mobil ambulans itu. Allena merasa meski bukan atas permintaannya namun apa yang terjadi pada orang itu tak lain karena ingin menolongnya.
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Allena yang menunggu sejak tadi.
"Benturan keras pada kepala dapat menyebabkan terjadinya cedera kepala dan cedera pada otak. Beratnya cedera tergantung seberapa keras benturan yang terjadi dan jatuh dari ketinggian berapa. Karena pasien mengalami benturan di kepala dan mengalami penurunan kesadaran maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti melakukan CT scan kepala untuk mengetahui apakah terjadi cedera pada tulang tengkorak, otak, ataupun perdarahan di dalam kepala. Kami akan memantau lebih lanjut apakah nanti pasien akan mengalami nyeri kepala berat, terjadi perubahan kesadaran, terjadi gangguan neurologis tertentu seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan bicara, kelumpuhan salah satu sisi tubuh, kejang, dan lain sebagainya," jelas dokter itu.
Mendengar penjelasan dokter itu Allena langsung tertunduk sedih. Penjelasan dokter itu terdengar sangat menyeramkan.
"Mudah-mudahan tidak terjadi cedera berat, kita bisa melihat dari hasil CT scan nanti," ucap dokter itu menenangkan Allena.
"Tolong lakukan yang terbaik untuknya dokter, dia sudah menyelamatkan saya," ucap Allena memohon.
"Tentu saja nyonya, kami akan melakukan yang terbaik," jawab dokter itu.
Allena menoleh pada putranya yang duduk di kursi tunggu. Allena segera menghampiri.
"Apa Zeno capek? Zeno ingin pulang sekarang?" tanya Allena yang kasihan melihat putranya yang murung.
Zefano menggelengkan kepalanya, Allena melihat mata anak itu yang berkaca-kaca.
"Zeno kenapa sayang?" tanya Allena khawatir dan langsung duduk di samping Zefano serta memeluknya.
"Zeno yang salah, Om itu tertimpa koper karena salah Zeno," ucap anak itu pelan sambil mengerjapkan matanya untuk menghilangkan genangan air di pelupuk matanya.
"Kenapa jadi salah Zeno?" tanya Allena heran.
"Kalau Zeno nggak bingung milih tas itu, mungkin kita sudah pergi dari situ. Om itu tidak perlu menolong kita," ucap Zeno yang tak bisa menahan lagi air matanya.
"Zeno, ini bukan salah siapa-siapa? Tidak ada yang tahu kalau koper itu akan jatuh. Jika Zeno merasa bersalah, Mama yang lebih merasa bersalah karena mengajak Zeno ke sana. Kalau Mama mengajak Zeno ke toko lain mungkin tidak akan terjadi peristiwa itu, apa Zeno sekarang menyalahkan Mama?" tanya Allena.
"Nggak! Nggak! Mama nggak salah!" seru anak itu menangis tak ingin menyalahkan ibunya yang telah berbaik hati mengajaknya berbelanja keperluan sekolah untuknya.
Zefano memeluk erat ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Zefano sedikit pun tak ingin menyalahkan ibunya karena dia sendiri begitu bahagia diajak berjalan-jalan oleh ibunya.
"Kalau begitu ini bukan kesalahan kita, ok!" tanya Allena sambil berusaha ceria demi menenangkan hati putranya.
Zefano mengangguk.
"Zeno tidak ingin pulang? Kalau Zeno capek, Mama antar Zeno pulang ya Nak?" tanya Allena.
"Nggak Ma, Zeno ingin tahu, gimana sakit Om tadi itu," jawab Zefano.
"Baiklah! Tapi kalau tunggunya terlalu lama, kita pulang dulu ya Nak," ajak Allena.
Zefano mengangguk, mereka pun menunggu. Allena meminta Zefano untuk tidur di pangkuannya. Tak lama kemudian seorang perawat memberitahukan kalau pasien telah sadar.
"Benarkah Suster?" tanya Allena langsung mengikuti Suster itu.
Allena mengajak Zefano melihat pasien yang telah duduk bersandar di ranjang rumah sakit itu. Terlihat juga dokter yang tengah memberi penjelasan padanya. Allena mendatangi dan ikut mendengarkan penjelasan dokter. Allena bersyukur karena hasil CT scan menunjukkan tak ada cedera yang serius pada pasien. Dokter itu pun minta diri untuk melanjutkan tugasnya.
"Terima kasih karena kamu telah menolong kami, entah apa jadinya kalau ternyata menimpaku apalagi putraku yang masih kecil ini," ucap Allena.
Allena menunjukkan rasa terima kasihnya yang begitu besar pada seorang yang terlihat seperti mahasiswa itu. Namun laki-laki muda itu justru hanya tersenyum.
"Ternyata memang benar, saya ternyata tidak salah lihat. Ternyata benar-benar Kak Allena," ucap pemuda tampan itu.
"Apa kamu mengenalku?" tanya Allena heran.
"Ya tentu karena Kak Allena adalah cinta pertamaku," ucap pemuda itu begitu blak-blakan.
Ucapan terbuka pemuda itu membuat Allena terperangah hingga tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...