
Santi jengah karena ditatap Allena, merasa khawatir kalau dirinya dicurigai. Namun Allena bersikap seolah-olah bukan curiga pada baby sitter itu tapi perhatian padanya. Santi lega karena sikap Allena selama ini memang perhatian padanya. Allena menganggap Santi seperti keluarga. Sama seperti perlakuannya terhadap Rahma.
Tapi Rahma dan Santi berbeda, Rahma telah ada di sini sebelum aku datang sudah lebih dulu mengenal Kak Zefran dibanding aku. Sedangkan Santi datang baru-baru ini, sejak Zifara lahir. Mmm, mereka tidak sama, Santi memang patut dicurigai. Tapi harus hati-hati dia tidak boleh tahu kalau aku curiga padanya, batin Allena.
Kali ini Allena berpikir sambil membereskan perlengkapan bayinya yang masih bergeletakan di atas karpet. Tak mau lagi berpikir sambil menatap Santi. Allena tak ingin baby sitter itu tahu kalau dia telah mencurigainya.
"Nyonya tidak berangkat kerja hari ini?" tanya Santi memberanikan diri bertanya.
"Ya, tapi agak siangan saja … Baiklah Santi kalau begitu aku sarapan dulu ya, mungkin suamiku dan Mommy sudah menunggu," ucap Allena sambil pamit meninggalkan Santi dan putrinya.
Allena turun dari lantai atas untuk menemui suami dan ibu mertuanya yang telah menunggu di meja makan.
"Sudah siap sayang, mau berangkat kerja?" tanya Mahlika.
"Nanti Mom, agak siangan," jawab Allena.
"Oh, ya sudah, ayo sarapan dulu, Mommy mau berangkat pagi-pagi. Hari ini ada kegiatan organisasi," ucap Mahlika.
"Aku salut sama Mommy, masih tetap enerjik sama seperti saat kami baru menikah dulu," ucap Allena.
Sebuah ungkapan yang tentu membuat Ny. Mahlika bangga. Allena pun duduk di samping Zefran.
"Lama sekali turunnya, padahal kita mandi sama-sama, bersiap-siap juga sama-sama? Kenapa turunnya lama sekali," tanya Zefran heran.
Allena langsung menoleh ke arah Ny. Mahlika dengan wajah yang bersemu merah. Tersenyum dengan canggung lalu beralih menatap suaminya. Zefran seperti tak sadar kalau kata-katanya membuat Allena malu.
"Kenapa?" tanya Zefran.
Jangan diumbar di depan Mommy juga, batin Allena masih teringat pada kemesraan mereka saat mandi bersama tadi.
"Tidak apa-apa," jawab Allena dengan malu-malu.
__ADS_1
Ny. Mahlika tertawa, sama sekali tak ingin menutupi kalau dia juga mendengar ucapan putranya.
"Kamu tidak peka Zefran, istrimu malu karena ketahuan mandi bersama," ucap Mahlika.
"Oh, kenapa harus malu. Justru suami istri harus seperti itu biar tetap mesra, ya kan Mommy?" tanya Zefran meminta persetujuan.
"Ya sayang," jawab Mahlika.
"Tuh benar, kenapa harus malu. Mommy dulu juga pernah muda, mungkin lebih hot lagi dari kita," ucap Zefran.
Ny. Mahlika kembali tertawa, tak hanya karena ucapan Zefran yang lucu menurutnya tapi rasa bahagia yang membuatnya tertawa seperti itu. Rasa bahagia karena seperti kembali memiliki putranya yang dulu manja padanya.
Ucapan Zefran yang meminta persetujuan dan dukungan atas ucapannya telah lama tak didengarnya. Laki-laki itu, dulu bersikap tak acuh, pulang selalu larut malam dan kalau bicara selalu ketus tapi sekarang sikapnya manja, hangat dan betah di rumah.
"Lihat 'kan Mommy ketawa, habisnya Kakak terlalu blak-blakan, aku jadi malu," ungkap Allena akhirnya melihat Ny. Mahlika yang tertawa.
"Tidak apa-apa Allena, Mommy justru bahagia seperti ini. Zefran kembali menjadi anak Mommy yang dulu manja sama Mommy, setiap berkata-kata selalu mengucapkan iya kan Mommy … iya kan Mommy? Itu lah yang membuat Mommy tertawa karena Mommy bahagia sayang. Kamu telah membawa kembali Zefran yang manja pada Mommy.. Terima kasih ya Allena," jelas Mahlika pada Allena.
Allena pun bersyukur, mereka lanjut sarapan pagi bersama. Setelah selesai sarapan. Ny. Mahlika langsung bersiap-siap berangkat. Allena mengantar hingga ke teras. Ny. Mahlika yang diantar sopirnya melambaikan tangannya pada menantu dan putranya.
Allena tak menyadari kalau suaminya telah berada di belakangnya.
"Aku juga berangkat ya sayang," bisik Zefran.
"Oh ya Kak, aku pikir Kakak belum siap berangkat?" tanya Allena membalik badan menatap suaminya.
Zefran langsung membenamkan bibirnya ke bibir istrinya. Allena agak ragu menerima ciuman Zefran karena dari sudut matanya, Allena melihat Santi yang menggendong Zifara sedang menatap ke arah mereka.
Apa yang harus kulakukan, dia melihat ke arah kami, batin Allena.
Entah apa yang menggerakkan hati Allena. Sikapnya yang tadi ragu membalas ciuman Zefran sekarang justru membalas ciuman itu dengan hangat dan menggebu-gebu seolah menunjukkan kalau dirinya adalah orang yang berhak berbuat seperti itu terhadap Zefran.
__ADS_1
Laki-laki itu hingga kaget melihat respon Allena yang seperti begitu bernafsu.
"Sayang, kalau seperti ini, aku bisa gagal berangkat kerja," ucap Zefran sambil tersenyum.
"Maaf ya, itu adalah hukuman karena membuatku malu di depan Mommy," balas Allena.
"Enak sekali memiliki istri kamu ini, hukumannya saja begitu enak," ucap Zefran kembali tertawa.
Allena juga ikut tertawa. Dengan sudut matanya Allena tak lagi melihat Santi di posisi tadi.
Dia pergi? Apa dia cemburu? Aah biarkan saja, biar dia tahu rasa," batin Allena bertanya-tanya.
Zefran pun berangkat setelah mengecup kening istrinya. Wanita itu melambaikan tangan, matanya mengikuti mobil suaminya hingga menghilang di balik gerbang kediaman mereka.
Allena kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tak karuan. Setelah mengetahui isi hati Santi dan berbuat seperti tadi dengan suaminya. Allena seperti menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Wanita itu segera mencari Santi, karena tak melihatnya di lantai bawah. Allena kembali ke lantai atas, ke ruang bermain anak-anak.
"Nggak bisa Mom, aku belum bisa kembali. No, I can't … He was supposed to be mine. He was supposed to be my husband," ucap Santi melalui sambungan telepon.
Sebelah tangannya memegang ponsel dan sebelah lagi menggendong Zifara. Allena kaget mendengar ucapan Santi. Wanita itu mengintip dari balik pintu.
Dia seharusnya menjadi milikku? Apa yang dimaksudkannya adalah Kak Zefran? Kak Zefran harusnya menjadi suaminya? Oh tidak! Ternyata dia benar-benar menginginkan Kak Zefran. Aku lupa kalau dia semalam dia berkata London. Dia bukan baby sitter yang jatuh cinta pada Kak Zefran tapi calon istri yang berpura-pura jadi baby sitter di rumah ini, jerit hati Allena.
Wanita itu terhuyung ke belakang, kakinya mendadak lemas mendengar ucapan baby sitter gadungan itu. Allena kembali ke kamarnya, di sana dia memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat.
Allena melihat dan mendengar, dari bicaranya Santi bukan orang sembarangan. Tak mungkin seseorang yang kembali dari London hanya bekerja sebagai baby sitter.
Mom? Apa orang kalangan menengah ke bawah sekarang juga memanggil Mommy pada ibunya? Aku yakin dia menyamar jadi baby sitter di rumah ini. Santi? Apa itu nama aslinya? Nanti malam aku akan bertanya pada Mommy nama anak gadis yang dijodohkan dengan Kak Zefran, batin Allena.
Wanita itu bertekad menyelidiki siapa sebenarnya Santi. Allena akan berusaha membuat gadis itu sadar bahwa dia tidak memiliki harapan sama sekali untuk mendapatkan cinta Zefran. Allena akan melakukan apa saja untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Termasuk tak mengizinkan gadis itu menjadi istri kedua suaminya jika itu yang menjadi niatnya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1