Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 22 ~ Mengejar ~


__ADS_3

Zefran menarik tangan Allena mengajaknya pulang. Namun, Allena menolak karena masih ingin menunggu. Zefran mengatakan dengan pasti bahwa Valendino tidak akan menemuinya karena sengaja memabukkan diri di Night Club Luxury.


Mendengar itu, Allena menangis tertunduk. Zefran langsung memeluknya. Di bawah curah hujan yang deras Zefran memeluk erat tubuh istri keduanya itu. Zefran berhasil mengajaknya pulang. Allena tertidur di kursi penumpang, sementara Zefran mengemudi dengan kecepatan sedang. Sesekali laki-laki itu menoleh ke arah Allena.


Dia pasti lelah menunggu dari sore hingga malam. Kenapa kamu tidak pulang saja? Kenapa begitu ingin menunggunya? Apa kamu begitu menyukainya? jerit hati Zefran kesal.


Teringat kembali saat perjalanan bulan madu mereka. Zefran menampar Allena, memaki gadis itu perempuan murahan. Allena merasakan bahwa pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan yang dilakukan hanya untuk menjaga keutuhan rumah tangganya dengan Frisca. Allena merasa akan dibuang suatu saat nanti. Di saat itu Allena akan kembali pada kehidupannya dan berharap diinginkan dan dicintai oleh seseorang. Dan Valendino adalah laki-laki yang diharapkannya.


Zefran menatap gadis yang tertidur di bangku sampingnya itu. Air mata gadis itu masih mengalir.


Jangan menangis Allena, aku tidak tahu apa yang menyebabkan Valen mengabaikanmu. Jangan mengharapkannya lagi, kamu itu milikku. Meski tidak bisa menjadi laki-laki yang kamu harapkan. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu Allena, jerit hati Zefran.


Zefran masuk ke rumah megah itu sambil menggendong istrinya yang masih tertidur. Seorang pelayan membantu menyiapkan ranjang Allena.


"Nyonya kehujanan Tuan, sebaiknya diganti dulu pakaiannya," ucap Rahma segera mengambil handuk.


Pelayan itu memberi alas handuk besar di ranjang. Zefran merebahkan tubuh Allena di sana, baru saja laki-laki itu hendak membuka kancing bajunya, Allena terbangun. Kaget melihat Zefran yang begitu dekat dengannya reflek Allena bergerak mundur.


"Ganti baju dulu Nyonya, nanti bisa masuk angin," ucap Rahma tiba-tiba.


Allena lega, gadis itu mengira di kamar hanya ada dirinya dan Zefran.


"Ya, nanti saya ganti sendiri," ucapnya sambil menatap Zefran yang masih duduk di depannya.


"Tuan, sebaiknya Tuan juga ganti baju. Baju Tuan juga basah," ucap Rahma mengingatkan.


"Ya, aku akan menggantinya," ucap Zefran, menoleh lagi pada Allena lalu beranjak keluar dari kamar Allena.


Hampir saja! Menatap Allena aku ingin mencumbunya. Sampai tidak sadar ada pelayan itu. Ya ampun, aku rasa, aku tak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta padanya, jerit hati Zefran sambil menghela nafas berat.


Zefran memilih berendam di jacuzzi whirlpool bath untuk menenangkan pikiran dan merelaksasi ototnya. Selama berendam di kolam air panas itu, pikirannya melayang mengenang pertemuannya dengan Allena hingga akhirnya memutuskan menikahinya.


Aku benci padanya saat pertama kali bertemu dengannya karena cintaku pada Frisca. Karena cintaku pada Frisca jugalah akhirnya aku menikahinya. Harusnya aku tetap di jalanku seperti Allena yang juga tetap di jalannya. Dia benar, kami tidak boleh saling jatuh cinta, karena suatu saat dia akan pergi kembali pada kehidupannya, bisik hati Zefran.


Mulai saat itu Zefran bertekad tidak akan peduli pada Allena. Menjalani kehidupannya seperti dulu, setia pada Frisca. Laki-laki itu berjalan menuruni tangga untuk makan malam.


"Kamu ada di rumah?" tanya Mahlika yang sedang asik membaca majalah di ruang tengah.


Zefran hanya mengangguk, laki-laki itu minta di siapkan makan malam untuknya.


"Nyonya Allena juga makan tuan?" tanya pelayan itu yang dibalas dengan anggukan oleh Zefran.


"Allena juga ada di kamarnya?" tanya Mahlika.


Kenapa semua orang harus bertanya Allena padaku, batin Zefran.


Namun, tetap saja laki-laki itu mengangguk.


"Oh ya? Mommy pikir dia langsung ke Night Club," ucap Mahlika masih asyik membaca majalah.


Zefran duduk di hadapan Ny. Mahlika. Diam membisu, memandang lurus kosong ke depan.


"Jika Allena belum hamil juga, Mommy ingin kamu periksakan dirimu Zefran. Jangan-jangan kamu yang bermasalah. Menikah dengan banyak wanita pun tidak akan ada hasilnya jika kamu yang mandul?" tanya Mahlika.


"Aku tidak mandul!" ucap Zefran protes.


"Baiklah, kalau begitu buktikan," ucap Mahlika.


Zefran tercenung, kembali teringat kalau telah dua kali melakukannya dengan Allena tapi tetap belum ada tanda-tanda kehamilan. Timbul keraguan di hati Zefran, laki-laki itu mulai percaya kalau dirinya lah yang bermasalah.


Apa yang harus kulakukan, Mommy minta bukti. Allena belum hamil juga, apa aku benar-benar bermasalah? jerit hati Zefran.


"Makan malamnya sudah siap Tuan," ucap pelayan itu.


"Panggil Nyonya Allena sekalian." Perintah Mahlika.

__ADS_1


"Baik Nyonya" ucap pelayan itu dan langsung naik ke lantai atas untuk memanggil Allena.


Gadis yang sedang termenung itu sebenarnya enggan untuk makan malam. Namun, karena perintah dari Ny. Mahlika akhirnya Allena turun juga dari lantai atas. Melihat Zefran yang sedang menikmati makan malamnya. Allena resah, perasaan mereka semakin canggung satu sama lain. Makan malam itu dilalui mereka dengan saling diam.


Keesokan harinya Allena kembali disibukkan dengan pekerjaannya merangkai bunga. Beberapa buket bunga harus disiapkannya untuk pelanggan tetap toko bunga itu. Selain merangkai bunga Allena juga menulis di kartu ucapan pesanan dari pelanggannya.


Sebagian besar pelanggannya memesan buket bunga melalui telepon. Namun kadang ada juga yang langsung datang ke toko. Seperti yang dilakukan Valendino, biasanya laki-laki itu datang dan memesan buket bunga. Tapi beberapa hari ini tidak pernah muncul lagi. Gadis itu merindukannya, Allena menggenggam cincin yang dijadikan liontin oleh Valendino.


Kak Valen tidak mau menemuiku lagi? Apa salahku? Kak Valen sudah tidak menginginkanku lagi? Katakan sesuatu Kak, kenapa kakak menjauhiku? batin Allena dengan mata yang berkaca-kaca.


Terdengar bunyi bel pintu, dengan semangat Allena menghampiri. Seorang pria berjas hitam berdiri tersenyum padanya.


"Nona Allena?" tanya pria itu.


Allena mengangguk, laki-laki itu meminta Allena ikut dengannya menemui Valendino.


"Maaf Tuan saya tidak bisa, saya sedang bekerja," ucap Allena menyesal tidak bisa ikut dengan pria itu menemui Valendino.


"Tidak usah khawatir soal itu Nona, saya akan bicara dengan pemilik toko," ucap pria itu dan langsung meminta Allena mempertemukannya dengan pemilik toko bunga itu.


Tak lama kemudian pemilik toko itu menemui Allena dan mengizinkan gadis itu pergi bersama pria itu. Allena dipersilakan masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam itu. Tak lama kemudian Allena sampai di sebuah gedung bertingkat berkonsep modern. Allena langsung diantar ke ruangan Valendino.


Allena melihat laki-laki itu berbeda dari biasanya. Tatapannya dingin, tidak terlihat perasaan cinta lagi di sana. Tak perlu mengucapkan kata-kata, hanya diam menatap dengan mata dingin itu, dada Allena telah terasa sakit.


Valendino berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan ke balkon luas di samping ruang kerjanya. Allena mengikuti, laki-laki itu berhenti dan memandang jauh ke depan. Allena berdiri di samping Valendino menatap ke arahnya.


"Aku ingin mencabut permintaanku untuk menikahimu. Aku tidak bisa menikah dengan gadis sepertimu," ucap Valendino dingin dan kejam.


Allena tertunduk, tak bisa menolak, tak bisa berkata apa-apa. Jika itu yang diinginkan Valendino, Allena hanya bisa mengikutinya. Perlahan melepas kalung dan mengambil ponsel dari balik sakunya. Allena mengulurkan kedua barang itu ke hadapan Valendino.


Laki-laki itu diam, seperti tidak peduli. Bahkan untuk menyentuh kedua barang itu saja Valendino terlihat enggan. Sekian lama Allena menyodorkannya namun Valendino tetap diam. Allena memutuskan meletakkannya di pagar pembatas di hadapan Valendino, melihat perbuatan Allena, laki-laki itu terusik.


Allena yang hendak melangkah pergi, dikagetkan oleh panggilan Valendino, gadis itu langsung menoleh.


"Kamu tahu pasti, aku tidak menerima lagi barang-barang yang sudah aku beri," ucap Valendino dengan nada geram.


Valendino tersenyum sinis, dengan cepat mengambil ponsel dan kalung berliontin cincin itu dan melemparnya jauh dari gedung dengan ketinggian 252 meter itu.


Mata Allena mengikuti arah kedua benda itu melayang. Air mata Allena langsung mengalir. Hanya sekejap kedua benda itu singgah dalam hidupnya. Hanya sekejap juga memberi kebahagiaan bagi dirinya.


Allena menatap ke arah Valendino. Laki-laki itu tidak sekali pun mau menatapnya. Sekedar mengucapkan selamat tinggal atau bahkan mengusirnya.


Allena melangkahkan kaki, berjalan dengan pandangan yang kabur tertutup genangan air di pelupuk matanya. Allena bahkan menolak untuk diantar pulang. Gadis itu berjalan sendiri sambil menangis di trotoar. Berjalan tertatih sambil menekan dadanya yang terasa sakit.


Masih terbayang bagaimana Valendino membuang dengan cepat kedua barang itu seolah-olah jijik melihatnya. Valendino telah membuang jauh barang-barang yang pernah menunjukkan perasaan cintanya pada Allena.


Sepeninggalan Allena, laki-laki itu kembali duduk di balik meja kerjanya lalu menangis. Belum pernah laki-laki itu merasakan sakit seperti itu sebelumnya.


Teganya kamu menipuku Allena. Teganya kamu melakukan ini padaku, jerit hati Valendino.


Valendino baru sadar pertemuan mereka di hotel. Sangat tidak masuk akal bagi seorang pelayan Night Club menginap di kamar sekelas VVIP di hotel berbintang lima itu. Tak lama kemudian Valendino mendapati Zefran dan Frisca juga menginap di hotel yang sama dengan gadis itu. Valendino merasa dibodoh-bodohi oleh kedua orang itu.


Ternyata kamu mengikuti Zefran hingga ke sana, melayani laki-laki itu hingga sejauh itu. Tega sekali kalian berpura-pura tidak saling mengenal di depanku. Dasar munafik, kamu dan Zefran adalah orang-orang munafik. Aku tidak akan memaafkan kalian, jerit hati Valendino sambil menangis menyesali.


Sementara itu Allena termenung di halte dengan air mata yang masih mengalir. Setelah sekian lama menangis beban perasaan Allena sedikit berkurang. Tangisnya tidak lagi terisak-isak, hanya tersisa air mata yang mengalir pelan. Entah karena lelah menangis atau karena telah bisa menerima kenyataan, laki-laki yang menjadi harapannya itu telah mencampakkannya.


Tidak ada gunanya disesali bukankah gadis sepertiku memang tidak pantas untuknya. Tidak apa-apa, ini yang terbaik. Aku memang tidak pantas dicintai laki-laki sebaik Kak Valen. Semoga Kak Valen menemukan gadis yang lebih baik dan selalu bahagia, jerit hati Allena.


Allena kembali menjalani hidupnya seperti dulu. Meski telah menjadi menantu keluarga Dimitrios, Allena sama sekali tidak merubah kebiasaannya. Allena membeli keperluannya dengan uang yang dihasilkannya dari bekerja dan memberikan sebagian untuk ibunya yang sekarang tinggal sendiri di rumah kecil mereka.


Apa yang terjadi antara dirinya dan Valendino telah menjadi pelajaran baginya. Allena tidak sanggup menyimpan atau menggunakan barang-barang pemberian orang. Allena siap, di saat hubungan memburuk, Allena akan mengembalikannya.


Kembali mengandalkan dirinya sendiri untuk hidupnya dan ibunya. Bekerja sebaik-baiknya agar dihargai jerih payahnya, di Night Club maupun di toko bunga.


"Allena, tolong antarkan buket bunga ke rumah sakit. Ini namanya dan nomor kamarnya. Pelanggan kita sedang di luar negeri, baru mengetahui sahabatnya masuk rumah sakit. Beliau khusus meminta agar kita mengantarnya langsung, beliau takut orangnya keburu pulang. Kamu yang rangkai buket bunganya ya, pelanggan itu bilang pasien itu pernah memuji buket bunga buatanmu," ucap Tiara.

__ADS_1


"Siap Kak!" ucap Allena sambil tersenyum.


Allena pun langsung mengumpulkan bunga-bunga yang diperlukannya.


Mawar putih, memang banyak yang menyukainya, hanya aku yang merasa tidak pantas menyukai bunga-bunga mahal seperti ini, hmm, wanginya, batin Allena sambil tersenyum.


Allena mulai sibuk merangkai bunga itu menjadi sebuah buket bunga yang sangat indah. Menyelipkan kartu nama dari pengirimnya lalu membungkusnya dengan rapi. Gadis itu sendiri yang mengantarnya atas permintaan Tiara, pemilik toko bunga tempat dia bekerja.


Kadang Allena atau karyawan lain memang diminta mengantarkan langsung. Sebagian besar untuk menghargai pelanggan yang memesan atau yang menerima buket bunga itu. Seperti seorang Chef yang menghidangkan sendiri masakannya untuk tamu istimewanya.


Allena memastikan nama penerima buket dengan papan nama di pintu ruang rawat inap sekelas Presidential Suite itu. Mengetuk pintu kemudian perlahan masuk ke dalam ruang rawat inap yang tak beda dengan kamar hotel berbintang lima itu.


Tak ingin lama-lama mengagumi kemewahan ruang rawat inap itu, Allena segera menyapa pasien yang sedang istirahat.


"Nyonya Rosita ini ada kiriman bunga dari Ibu Ani," ucap Allena.


"Oh, terima kasih kamu mengantarnya sendiri?" tanya Ny. Rosita.


"Ya, Nyonya," jawab Allena.


"Valen, ini dia florist kesukaan Mommy," ucap Rosita memperkenalkan Allena.


Valendino muncul dari kitchen set sambil membawa air mineral. Terkejut saat mendapati Allena berdiri di samping ibunya.


"Terima kasih sudah mengantarkan langsung ya. Buket bunga ini cantik sekali," ucap Rosita sambil mencium wangi bunga mawar putih itu.


"Sama-sama Nyonya," ucap Allena langsung menunduk setelah terkejut melihat Valendino muncul.


"Siapa yang mengirim buket bunga itu? Kenapa harus dari toko bunga itu? Apa di kota ini tidak ada toko bunga yang lain?" ucap Valendino.


"Ini toko bunga langganan kami, kalau ada acara, kami minta toko bunga ini sebagai penanggung jawab dekorasi bunganya. Lihatlah buket buatannya ini sangat cantik, mawar putihnya tersusun indah bahkan bunga-bunga pendampingnya saja sangat cantik," ucap Rosita.


"Baby's Breath memang cantik, bunga itu juga melambangkan kepolosan. Tapi bunga seperti itu selamanya hanya menjadi bunga pelengkap. Tak akan pernah menjadi bunga yang utama meski dia berusaha menguasai sebuah rangkaian bunga. Bunga pelengkap tetaplah tidak akan dihargai orang," ucap Valendino sambil menatap tajam pada Allena.


Perih, sakit di dada Allena, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Valendino. Gadis itu berusaha menahannya tapi tidak sanggup lagi. Ucapan Valendino dengan nada seperti itu jelas-jelas sedang menyindirnya.


Allena berusaha menahan agar air matanya. Tidak ingin air mata itu mengalir di hadapan kedua orang itu, Allena buru-buru meminta diri.


"Saya pamit dulu Nyonya," ucap Allena segera berlari beranjak pergi.


"Tunggu dulu!" jerit Rosita.


Tapi Allena terlanjur pergi, di lorong rumah sakit itu Allena menghapus air matanya yang terlanjur mengalir. Allena berlari sambil terisak.


"Kamu kenal dengannya? Ucapanmu seperti ingin menyindirnya? Apa Zefran sudah cerita tentang dia?" tanya Rosita.


"Apa? Apa maksud Mommy? Mommy kenal dengannya?" tanya Valendino heran.


"Dia adalah istri kedua Zefran, hari di mana Mommy menolak diantar pesta olehmu itu adalah pesta pernikahan mereka. Mahlika sengaja menggelar pesta tertutup hanya untuk kerabat dan sahabat yang dipercayanya saja," ucap Rosita.


"APA? Me-mereka menikah? Zefran menikah lagi?" tanya Valendino tidak percaya.


"Ya, kasihan anak itu, semua orang menganggap kalau dia hanya dimanfaatkan untuk melahirkan keturunan keluarga itu. Frisca masih belum memberi keturunan. Mahlika sangat panik hingga mencarikan istri kedua untuk Zefran. Allena gadis miskin, semua orang yang hadir di situ tidak percaya kalau keluarga itu betul-betul menganggapnya sebagai menantu. Banyak yang bertaruh kalau Allena akan dibuang setelah melahirkan anak untuk Zefran," ucap Rosita dengan wajah prihatin.


"Bagaimana dengan Frisca? Dia tidak menolak dimadu?" tanya Valendino penasaran.


"Justru Frisca yang menyuruh Zefran menikahi Allena," jawab Rosita.


Valendino tercenung dengan wajah yang bingung. Tiba-tiba Valendino berlari keluar ruangan. Meninggalkan Ny. Rosita yang merasa heran dengan sikap putranya. Valendino berlari sekencang-kencangnya mengejar Allena, mencari-cari di antara pengunjung rumah sakit. Valendino terus berlari hingga keluar dari gerbang.


Langkahnya terhenti saat memandang seorang gadis yang berjalan di trotoar sambil menghapus air matanya. Valendino mengejarnya dan langsung memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku Allena, maafkan atas prasangka burukku padamu," ucap Valendino memeluk erat gadis itu.


Tangis Allena yang terisak berubah tersedu-sedu. Gadis itu lebih merasa sedih karena laki-laki yang ingin dilupakannya itu justru berlari mengejar bahkan memeluknya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2