
Zefran mengadakan janji temu dengan Dr. Devan. Setelah menungggu beberapa menit di sebuah coffee shop, dokter muda itu akhirnya datang.
"Apa kabar? Tumben ajak ketemuan, ada apa?" tanya Devan setelah menyalami temannya itu.
"Kabarku baik," jawab Zefran.
"Syukurlah! Waktu itu Allena datang ke rumah sakit. Putrimu demam, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Devan teringat untuk menanyakan keadaan Zifara.
"Baik! Sehat! Kemarin itu langsung mendingan," jawab Zefran.
"Oh syukurlah! Kalau begitu ada kabar apa menemuiku? Aku tidak yakin kalau cuma sekedar ingin mengobrol saja," ucap Devan.
"Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu. Hari itu aku membaca pesan yang kamu kirimkan ke ponsel istriku. Aku ingin bertanya, apa maksudnya?" tanya Zefran.
"Oh ya benar, aku memang mengirim pesan untuknya. Aku merasa dia sedang menjodohkan aku dengan baby sitter-nya," jawab Devan.
"Apa kamu tersinggung? Karena Allena ingin menjodohkanmu dengan seorang baby sitter?" tanya Zefran.
"Tidak! Sebenarnya bukan masalah itu, bukan masalah dia adalah seorang baby sitter atau bukan. Aku hanya tidak suka dijodohkan apalagi oleh seseorang yang aku sukai," ucap Devan sambil tersenyum.
Mendengar Dr. Devan yang bicara begitu ringan membuat Zefran mengernyitkan dahinya. Dari ucapannya tersirat kalau Allena adalah orang yang disukainya.
"Kamu … menyukai Allena?" tanya Zefran tak percaya dengan ucapan laki-laki itu yang begitu blak-blakan.
Zefran berharap Dr. Devan akan menyangkalnya karena hanya ingin bercanda.
"Kamu bilang sudah baca isi pesan untuk Allena lalu kenapa masih meragukan ucapanku tadi," ungkap Devan.
"Aku sudah baca, tapi aku tak percaya kalau kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu," ucap Zefran dengan serius.
"Orang-orang seumuran kita, masih bermain-main dengan perasaan? Aku akan mengungkapkan apa yang ada di hatiku. Aku tidak akan munafik. Jika aku suka, aku katakan suka. Jika tidak suka, aku katakan tidak suka. Intinya aku memang inginkan Allena," ujar Devan.
Sudah terlanjur, apalagi yang harus di tutupi. Aku telah terlanjur mengungkapkan perasaanku melalui pesan itu. Dan Zefran sudah membacanya. Untuk apa aku menyangkal lagi, batin Devan sambil menyesap espresso pesanannya.
"Tapi kamu tahu siapa Allena, bukan? Dia istriku, Devan. Dia ibu dari anak-anakku," ungkap Zefran.
"Tentu saja aku tahu, sejak awal aku tahu dia istrimu. Bukankah saat aku membaca nama putrimu aku langsung tahu kalau dia adalah istrimu. Lalu apa? Aku suka padanya bukan berarti dia juga harus menyukaiku," ungkap Devan.
"Tapi … kenapa harus menyukai istriku. Seorang wanita yang jelas-jelas adalah milikku," ucap Zefran dengan emosi yang mulai naik.
"Apa kamu bisa mengendalikan hatimu jika menyukai seseorang? Kamu mungkin bisa menolak untuk mengejarnya atau bertahan tidak mengungkapkannya. Tapi berbuat seperti itu, apa bisa membuat rasa suka di hatimu menghilang?" tanya Devan.
"Devan, tega sekali kamu. Dari dulu, aku tidak pernah merebut siapa pun darimu," ujar Zefran dengan yakin.
Saat berteman di SMA Devan pernah mengungkapkan isi hatinya kalau Zefran selalu merebut gadis-gadis yang disukainya. Masih teringat dengan jelas oleh laki-laki itu, protes Devan saat mereka bermain bola basket di aula sekolah.
"Kenapa sih, setiap cewek yang aku suka ujung-ujungnya suka sama kamu?" tanya Devan sambil mencoba merebut bola yang sedang digiring oleh Zefran.
"Aku tidak melakukan apa-apa, jangan salahkan aku!" ucapnya lalu melakukan jump shot.
"Aku jadi menyesal mengenalkan mereka padamu," ucap Devan sambil melakukan dribble.
"Kalau begitu jangan kenalkan," ucap Zefran ringan sambil merebut bola dari tangan Devan.
__ADS_1
"Tuh 'kan, kamu tetap saja merebutnya," ucap Devan berhenti berlari.
Laki-laki itu juga telah lelah bermain bola basket sedari tadi. Zefran datang menghampiri Devan yang telah terkapar di tengah lapangan basket itu.
"Ini tentang cewek atau tentang bola?" tanya Zefran juga tidur terlentang di samping Devan.
"Apa saja, semua yang aku usahakan selalu direbut olehmu," gerutu Devan.
"Cewek dan bola itu beda. Kalau bola memang untuk direbut, karena bola itu diam dan tidak punya keinginan sendiri. Kalau cewek punya keinginan sendiri, mereka tidak diam dan ingin menentukan arahnya sendiri," jelas Zefran.
"Aku rasa, aku tidak kalah ganteng darimu, tapi kenapa semua cewek itu mengarah padamu?" tanya Devan kembali menggerutu.
"Karena mereka penasaran untuk sesuatu yang belum menjadi milik mereka. Cewek-cewek itu merasa sudah menguasai hatimu, sudah merasa kamu itu milik mereka. Tanpa melakukan apa pun, mereka merasa bisa mendapatkanmu," jelas Zefran panjang lebar.
"Kalau begitu aku tak boleh mengejar mereka lagi? Seperti kamu yang selalu tak acuh pada mereka? Apa kamu tidak ada rasa tertarik sedikit pun pada salah satu dari mereka? Apa tidak takut mereka memilih orang lain? Tidak takut kehilangan kesempatan mendapatkan gadis cantik di sekolah ini?" tanya Devan sambil menoleh pada Zefran.
"Aku tidak diizinkan menyukai gadis mana pun. Aku telah dijodohkan," jawab Zefran.
"Kamu dijodohkan? Seperti apa orangnya? Cantik kah dia?" tanya Devan langsung penasaran bahkan tidur miring menghadap Zefran.
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah bertemu dan tidak pernah melihat orangnya? Aku tidak tahu dia cantik atau tidak," ungkap Zefran sambil meletakkan lengannya untuk menutupi matanya.
"Kamu rela melepas gadis-gadis cantik ini demi seseorang tidak kamu kenal bahkan tak pernah kamu lihat? Bagaimana kalau ternyata kamu tidak suka padanya. Apa tidak merasa rugi, kehilangan cewek-cewek cantik ini demi jodohmu itu?" tanya Devan.
Zefran hanya diam, tentu saja dia tidak tahu, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Apa dia akan menyukai jodohnya itu atau mungkin akan menyesali karena melepas kesempatan mengenal gadis-gadis itu demi seseorang yang ternyata tidak disukainya.
Namun mulai sejak itu Zefran memikirkan ucapan Devan. Menyesal mengabaikan gadis-gadis cantik ini demi seseorang yang belum tentu disukainya. Saat penerimaan anggota kelompok persaudaraan baru di kampus, ucapan Devan menjadi pegangannya.
Tak ingin melepaskan kesempatan mendapatkan gadis cantik yang menyerahkan diri padanya. Melupakan jodoh yang selama ini mengikatnya, hingga akhirnya Zefran akhirnya jatuh ke dalam pelukan Frisca.
"Aku seperti cangkir ini, pergi sejauh apa pun, di pegang berapa lama pun, akan tetap kembali ke alasnya," ungkap Zefran.
"Apa maksudmu?" tanya Devan.
"Kamu ingat pertanyaanmu saat di aula basket dulu?" tanya Zefran.
"Aku lupa? Terlalu banyak yang kita bicarakan," jawab Devan.
"Aku tidak pernah lupa pertanyaanmu itu, karena setelah itu, pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggangguku," ungkap Zefran.
"Apa itu?" tanya Devan juga penasaran.
"Apa aku rela melepas gadis-gadis cantik di sekolah demi seorang jodoh yang tidak aku kenal bahkan tak pernah aku lihat sama sekali? Bagaimana kalau ternyata aku tidak menyukainya? Apa tidak merasa rugi, kehilangan cewek-cewek cantik ini demi jodohku itu? Semua pertanyaanmu tidak ada satu pun yang bisa aku jawab saat itu," ungkap Zefran.
"Oh pertanyaan itu? Ya! Aku heran kenapa kamu tak menggubris cewek-cewek itu padahal mereka berebut jadi pacarmu. Aku sangat kesal karena itu, aku yang menginginkan mereka, tapi mereka malah menyukai kamu. Padahal kamu selalu mengabaikan mereka," ungkap Devan.
Zefran tersenyum, terlihat kalau sekarang Devan telah mengingat kembali pertanyaannya sendiri saat mereka masih di SMA dulu.
"Lalu apa kamu sudah tahu jawabannya?" tanya Devan.
"Jika ditanyakan sekarang apakah aku rela melepas gadis-gadis cantik itu demi jodohku? Aku akan jawab ya, sangat rela. Bagaimana kalau ternyata aku tidak suka? Aku akan jawab aku suka, aku sangat menyukainya. Apa tidak merasa rugi kehilangan cewek-cewek cantik ini demi jodohku? Aku jawab, aku tidak akan rugi, aku tidak merasa rugi sama sekali karena dia … jodohku itu … ternyata adalah wanita aku cintai. Aku pernah mencoba mengikuti ucapanmu. Mengambil kesempatan mendapatkan gadis cantik yang menyerahkan dirinya padaku. Melupakan jodoh yang selama itu mengikatku, hingga akhirnya aku menikah wanita itu --"
"Allena? Kamu akhirnya meninggalkan jodohmu demi menikahi Allena?" tanya Devan penasaran.
__ADS_1
"Bukan! Tapi dengan Frisca! Aku mengabaikan jodohku demi wanita cantik bernama Frisca," ungkap Zefran.
"Kamu sudah menikah sebelumnya? Dengan wanita lain? Wah … kita benar-benar putus kontak setelah tamat SMA," ucap Devan.
Zefran mengangguk karena dia sendiri langsung terbang ke Stanford university dan sibuk dengan kehidupan barunya.
"Lalu bagaimana dengan jodohmu? Bagaimana dengan pernikahanmu dengan wanita bernama Frisca itu?" tanya Devan.
"Aku menikahi Frisca, aku bahagia hidup dengannya. Sekian lama merasa apa yang aku putuskan itu adalah yang terbaik. Mengabaikan jodohku adalah keputusan yang tepat bagiku. Tapi pada akhirnya, aku tetap harus menikahi jodohku itu --"
"Wah enak sekali kamu, melenceng dari prinsipmu dulu, mendapatkan Frisca lalu kembali mendapatkan jodohmu. Wah jenius, jenius … artinya kamu mencoba yang lain tapi tetap saja mengikat jodohmu itu," ucap Devan lalu tertawa.
"Ya begitulah, mungkin bagimu apa yang aku jalani ini terlihat menyenangkan tapi … kami melalui semua ini dengan air mata. Sama seperti cangkir ini, meski di bawa kemana pun, berapa lama pun tetap akan kembali ke alasnya … aku meninggalkan jodohku, hidup bersama Frisca tapi akhirnya kembali pada Allena," jelas Zefran.
"Jadi ... Allena adalah gadis yang dijodohkan denganmu?" tanya Devan. Zefran mengangguk.
"Aku jatuh cinta padanya, pada gadis yang tadinya ingin aku abaikan. Jodoh yang tadinya aku tinggalkan karena ucapanmu. Aku kembali padanya dengan segala cobaan dan ujian terhadap cintaku padanya. Aku rela melalui semua itu agar bisa tetap bersamanya. Karena ingin selamanya bersamanya, karena aku sangat mencintainya," ucap Zefran dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dia mencintaimu sebesar cintamu padanya?" tanya Devan.
Kembali Zefran mengangguk.
"Dia tetap setia padaku meski sebuah kejadian membuat kami harus terpisah selama lima tahun," jelas Zefran.
"Akhirnya kamu kembali pada jodohmu, dan ternyata kamu jatuh cinta padanya. Lalu … kenapa kamu ceritakan semua ini padaku," tanya Devan.
"Tolong jangan rebut Allena-ku, hanya dia cintaku. Dia telah mengikatku, sebelum dan sesudah aku menyadari arti dirinya bagiku," jelas Zefran lalu menunduk.
Dr. Devan tercenung menatap Zefran yang tertunduk di hadapannya. Laki-laki itu merasa Zefran benar-benar takut kehilangan Allena. Laki-laki itu hingga menangis tertunduk.
Mereka sama-sama teringat ucapan Devan saat bangun dari lapangan aula basket itu.
"Tidak apa-apa! Jika sekarang kamu merebut semua gadis yang aku sukai. Tapi suatu saat nanti, aku pasti akan mengalahkanmu. Aku akan merebut gadis yang kamu cintai, meski dia satu-satunya yang kamu cintai --"
"Kamu tega melakukan itu?" tanya Zefran yang meraih tangan Devan.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Zefran, mengajak sahabatnya itu pulang setelah bermain basket bersama.
"Kenapa tidak tega? Kamu saja tega merebut semua dariku, tidak menyisakan satu gadis pun untukku!" seru Devan lalu meminum air mineral dalam kemasan botol plastik itu.
"Sudah aku bilang aku tidak merebut mereka darimu!" teriak Zefran kesal.
"Bodo amat! Pokoknya aku akan rebut cewek yang paling kamu cintai biar kamu patah hati!" teriak Devan lalu menyipratkan air mineral ke wajah Zefran lalu membuang botol plastik ke arah sahabatnya itu. Zefran kesal wajahnya basah. Devan langsung berlari meninggalkan Zefran. Membuat laki-laki itu kesal dan ingin mengejarnya.
"AWAS SAMPAH!!!" teriak Devan.
Zefran terpaksa mengambil botol plastik yang dibuang ke arahnya tadi dan mencari tong sampah untuk membuangnya. Devan telah jauh berlari ke parkiran motor dan dalam sekejap telah berada di atas motor sport-nya.
Saat itu Zefran masih tersenyum menatap sahabatnya yang melambaikan tangan sambil melaju keluar dari gerbang sekolah mereka. Meninggalkan Zefran dan melaju membelah jalan raya. Saat itu Zefran, masih menganggap ucapan Devan hanya angin lalu dan tidak akan terwujud.
Namun sekarang Zefran tak sanggup tersenyum lagi, mengingat Devan kembali muncul dalam hidupnya dan langsung menggoda istrinya.
Ucapan ingin merebut wanita yang cintainya, meski itu adalah satu-satunya wanita yang dia cintainya, sekarang terasa begitu menakutkan bagi Zefran.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...