Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 68 ~ Sesaat Bahagia ~


__ADS_3

Frisca mengintip di balik dinding ruang tamu. Menatap Rivaldo yang memandang foto sambil berbicara dengan dua orang polisi. Frisca langsung panik, hatinya bimbang ingin tetap di tempat itu atau segera melarikan diri.


Frisca akhirnya menunggu karena pergi sekarang pun tak memungkinkan karena masih ada dua orang polisi yang berdiri di depan rumah.


Sekarang aku akan mencari alasan, tapi nanti malam aku akan pergi diam-diam, tidak bisa berlama-lama di sini, Valdo pasti telah mengetahui kalau aku menculik Zeno, jerit hati Frisca.


Frisca kembali mengintip keluar, terlihat dua orang polisi itu pergi dan Rivaldo mengangguk. Laki-laki itu segera menghampiri Frisca. Tatapan Rivaldo terlihat aneh, bingung, marah, tidak percaya, ingin bertanya tapi tidak tahu memulai dari mana. Frisca diam menunggu apa yang ingin ditanyakan laki-laki itu.


"Siapa Zefano itu?" tanya Rivaldo.


"Anak mantan suamiku," jawab Frisca.


"Mantan suamimu? Kalian berebut hak asuh? Apa kamu tahu sekarang mantan suamimu menuduhmu menculik Zefano?" tanya Rivaldo.


"Aku tahu, aku yakin dia akan melaporkanku ke polisi," ucap Frisca.


"Saat polisi memperlihatkan foto kalian aku sangat terkejut. Polisi mengatakan kalau kamu adalah penculik Zeno. Aku bingung, apa mungkin kamu menculiknya? Melihat Zeno yang begitu sayang dan perhatian padamu bahkan panik saat melihatmu kesakitan" ucap Rivaldo yang berjalan mondar-mandir kebingungan.


"Jika dia anak yang diculik Zeno harusnya menjerit dan mengadu padaku kalau dia telah diculik. Karena itu aku tidak percaya saat polisi berkata kamu menculiknya," lanjut Rivaldo.


Masih berjalan mondar-mandir kebingungan sementara Frisca hanya diam menatapnya.


"Kasus perebutan hak asuh anak karena perceraian marak terjadi membuat salah satu orang tua bisa menculik anaknya sendiri. Karena itu aku tidak mengakui kalau aku melihat kalian. Polisi itu datang ke daerah ini karena mendapat pengaduan ada yang melihat kalian di sekitar sini," jelas Rivaldo.


"Kami akan pergi malam ini, aku tidak mau melibatkanmu. Maaf karena telah merepotkanmu," ucap Frisca yang langsung masuk ke ruangan paviliun.


Di paviliun itu Frisca menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Wanita itu menangis terisak, ada rasa sesak di dadanya. Hatinya terlanjur bahagia bersama keluarga kecil itu. Terlalu bahagia hingga melupakan siapa dirinya. Sesaat larut dalam kebersamaan yang membuat hatinya berbunga-bunga tapi sekarang harus menerima kenyataan dan harus segera pergi dari rumah itu.


Frisca masih menangis sesenggukan saat Rivaldo masuk dan langsung memeluknya. Wanita itu menghindar namun Rivaldo tetap memeluknya erat.


"Lepaskan aku, aku tidak seperti yang kamu duga. Aku seorang pembohong, aku wanita yang jahat. Jangan berharap padaku, malam ini kami akan pergi, malam ini juga aku harus pergi. Terima kasih untuk semua pertolonganmu dan kebaikanmu. Aku akan mengenang pertemuan sesaat ini. Sampaikan salam sayangku untuk Keisya, aku tidak akan berpamitan padanya. Karena nanti malam kami akan langsung pergi," ucap Frisca pelan sambil memejamkan matanya.


Ya, pertemuan kita hanya sesaat tapi sangat indah, aku akan menyimpannya di dalam hatiku. Hingga akhir ajalku yang tinggal sesaat lagi, jerit hati Frisca.


Frisca menangis dipelukan Rivaldo, tangannya yang bebas kini bergerak naik di punggung laki-laki itu. Frisca memeluk Rivaldo erat.


"Tidak! Tidak! Kamu tidak akan kemana-mana, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Polisi itu telah pergi tidak ada yang akan mencari kalian lagi di sini," ucap Rivaldo.


Rivaldo memeluk wanita yang menangis itu sambil membelai rambutnya.


"Aku harus pergi. Kamu bisa dituduh menyembunyikan penjahat. Aku tidak bisa selamanya bersembunyi di sini. Aku katakan padamu, aku ini wanita jahat. Wanita yang rusak, tidak bermoral, tidak bermartabat, kamu akan kecewa mengetahui siapa aku sebenarnya. Masa laluku sangat buruk, aku tidak pantas untukmu," ucap Frisca.


Rivaldo merenggangkan pelukannya lalu menangkup wajah wanita yang bersimbah air mata itu.


"Aku tidak peduli masa lalumu. Aku sendiri juga bukan orang yang baik. Aku juga laki-laki yang rusak. Segala macam kejahatan telah kulakukan, segala dosa pernah kucoba. Aku sampai diusir oleh orang tuaku sendiri. Drop out kuliah, menggunakan obat-obat terlarang, mabuk-mabukan, berjudi, menjadi anak jalanan. Aku.., aku benar-benar orang yang tidak berguna," cerita Rivaldo.


Frisca menatap tak percaya pada cerita Rivaldo, mata Frisca menatap lurus ke mata laki-laki itu ingin mencari kebenaran dalam ucapannya.


"Tidak mungkin, aku tidak percaya. Kamu laki-laki yang baik. Aku tidak percaya kamu pernah memiliki masa lalu yang kelam. Aku tidak percaya!" ucap Frisca.


"Kenapa? Kenapa tidak percaya? Masa laluku tidak hanya kelam tapi sangat gelap dan suram," ucap Rivaldo sambil mengangkat dagu Frisca.


"Kamu sama sekali tidak seperti orang jahat," ucap Frisca.


"Itu karena aku telah meninggalkan masa laluku yang kelam. Aku bisa benar-benar meninggalkan masa laluku karena aku diberi sebuah kesempatan. Sekarang aku juga ingin memberimu kesempatan untuk menjadi wanita yang lebih baik. Karena aku tahu, ada sesuatu baik di hatimu. Percayalah padaku beri aku kesempatan untuk menunjukkan padamu kebaikan yang ada di hatimu yang kamu sendiri tidak sadar bahwa kebaikan itu ada," ucap Rivaldo sambil tersenyum.


Laki-laki itu mengangkat dagu Frisca dan membenamkan bibirnya di bibir wanita itu. Awalnya Frisca menolak namun akhirnya pasrah saat Rivaldo memeluknya erat. Melihat Frisca yang pasrah membuat Rivaldo semakin ingin membenamkan bibirnya di bibir wanita cantik itu.


Rivaldo merebahkan Frisca di ranjang kecil di ruangan itu. Menyesap lembut bibir wanita cantik itu dan memainkan lidahnya di rongga mulut Frisca. Wanita itu memejamkan matanya menikmati ciuman hangat namun lembut dari Rivaldo. 


"Aku telah lama tidak menyentuh wanita, maafkan aku karena lancang padamu," bisik Rivaldo setelah melepaskan ciumannya.


Frisca menggelengkan kepala sambil tersenyum. Rivaldo kembali memeluk Frisca. Wanita itu pun membalas pelukan Rivaldo. Laki-laki itu bersandar di kepala ranjang sambil terus memeluk Frisca di dadanya.


"Siapa yang memberimu kesempatan?" bisik Frisca teringat ucapan Rivaldo.


"Apa?"


"Kamu bilang, kamu bisa meninggalkan masa lalu yang kelam karena kamu diberi kesempatan. Siapa yang memberimu kesempatan itu?" tanya Frisca.


Rivaldo tersenyum.


"Kamu benar-benar ingin tahu ceritanya?" tanya Rivaldo.


Frisca mengangguk sambil tersenyum.


"Aku mendapatkan kesempatan itu dari seorang gadis bernama Raisya. Dia adalah adik kelasku saat masih kuliah. Tadinya aku tidak mengenalnya tapi dia mengenalku..,"

__ADS_1


"Berarti dia menyimpan rasa suka padamu," ucap Frisca langsung.


"Ya, aku rasa begitu," jawab Rivaldo sambil tertawa kecil.


"Lalu?"


"Kami bertemu, berkenalan dan akhirnya saling menyukai. Dia memintaku kembali masuk kuliah tapi terlambat karena aku tidak bisa mengejar ketertinggalanku. Aku di drop out tapi dia tetap setia menemaniku karena dia bilang aku telah berniat dan berusaha demi dirinya. Walaupun tidak berhasil dia tidak peduli, dia tetap setia padaku meski aku hanya menjadi seorang anak jalanan," ucap Rivaldo lalu menatap Frisca yang bersandar di dadanya.


Laki-laki itu ingin melihat reaksi Frisca karena sedang menceritakan seorang wanita yang dicintainya.


"Kenapa berhenti?" tanya Frisca.


"Kamu serius ingin mengetahui cerita tentang dia?" tanya Rivaldo.


Frisca mengangguk.


"Aku ingin tahu seperti apa wanita yang bisa mengubah seorang laki-laki rusak sepertimu menjadi laki-laki yang sangat baik," jawab Frisca.


Rivaldo mengangguk akhirnya kembali meneruskan ceritanya.


"Raisya memintaku meninggalkan kelompok anak jalanan itu tapi aku tidak bersedia hingga suatu ketika, saat kami jalan berdua seorang anggota kelompokku menginginkan Raisya. Tentu saja aku tidak mau menyerahkannya. Raisya adalah milikku, aku tidak rela jika dia harus melayani mereka. Aku bertahan tidak menyerahkan Raisya hingga akhirnya aku dikeroyok. Aku meminta Raisya lari, aku rela dia pergi demi keselamatannya tapi dia tetap ditempatnya. Dia tidak mau meninggalkanku meski dia menangis ketakutan. Karena itu aku bertekad ingin melindunginya meski harus mengorbankan segalanya termasuk nyawaku. Hingga akhirnya datang masyarakat yang menolongku. Aku selamat dan Raisya tetap berada disampingku. Sejak saat itu aku keluar dari kelompok itu dan hidup sendiri. Tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membiayai hidupku, Raisya diam-diam menguras sedikit demi sedikit uang tabungannya untuk membiayai hidupku hingga akhirnya keluarganya mengetahui. Raisya diminta memutuskan hubungan denganku tapi gadis itu menolak dan akhirnya dia memilih lari bersamaku. Kami pun kawin lari, dengan sedikit uang tabungannya dia memulai membuka warung kecil untuk biaya hidup kami," jelas Rivaldo.


"Dia tidak menyesal karena telah mendapatkan apa yang diinginkannya yaitu hidup bahagia bersamamu" ucap Frisca pelan.


Rivaldo tersenyum sambil mengecup puncak rambut Frisca.


"Iya, itu juga yang dikatakannya waktu itu. Begitu memulai kuliah dia sudah mulai menabung. Niatnya ingin mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk bisa menjadi seorang dosen. Cita-citanya harus pupus karena uang tabungan itu justru habis untuk biaya hidup kami. Saat mengetahui itu aku merasa sangat menyesal tapi dia justru berkata kalau semua yang hilang itu hanyalah sebuah cita-cita tapi dia mendapatkan yang lebih baik dari itu yaitu aku dan bayi dalam kandungannya. Itu adalah saat dia memberitahu kalau dia telah mengandung Keisya di rahimnya," tutur Rivaldo lalu kembali menatap Frisca yang bersandar di dadanya.


Rivaldo tidak ingin wanita dalam pelukannya itu merasa cemburu dengan ceritanya. Tapi laki-laki itu lega karena melihat Frisca yang tersenyum. Frisca mendengar tutur cerita Rivaldo sambil membayangkannya.


"Kalian adalah pasangan yang romantis, cinta adalah satu-satunya yang terpenting dalam hidup kalian," ucap Frisca.


"Hmm, apa pun bisa dilakukan demi orang yang dicintai dan pengorbanan itu tidak akan terasa berat sama sekali," ucap Rivaldo lagi.


Tapi aku tidak bisa dibandingkan dengan Raisya yang suci, kamu berkorban nyawamu untuk melindunginya adalah hal yang pantas. Bertolak belakang denganku, bisik hati Frisca lalu memejamkan matanya membuat air matanya yang tergenang kini mengalir.


Terdengar ketukan pintu dan Rivaldo mempersilahkan masuk. Frisca langsung merenggangkan pelukannya namun Rivaldo menahannya. Kedua anak kecil itu langsung masuk dan terkejut melihat kedua orang itu berpelukan di atas ranjang.


"Sini sayang," ucap Rivaldo merentangkan tangannya pada putrinya.


Gadis itu langsung mendatangi dan ikut berpelukan di sisi Rivaldo yang lainnya.


Zefano menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Rivaldo.


Valdo ingin berlaku adil, dia mengira kalau Zeno adalah anakku, ucap Frisca dalam hati.


"Nggak mau, tambah satu lagi nanti ranjangnya bisa patah," ucap Zefano.


"Masa sih, dari mana Zeno tahu?" tanya Rivaldo.


"Tahu dong karena Zeno genius, semuanya kalah cerdas sama Zeno," ucap anak itu sambil menunjuk ketiga orang dihadapannya.


"Uh, dasar anak yang sombong ayo kita hukum dia beramai-ramai. Ayo kejar!" ucap Rivaldo pada Keisya yang tertawa-tawa mendengar ucapan ayahnya.


Rivaldo dan Keisya mengejar Zefano sementara Frisca tersenyum menatap mereka yang berlarian hingga ke ruang tengah. Saat Rivaldo berhasil menangkap Zefano anak itu langsung di gelitik di atas karpet di ruang tengah. Pemandangan itu membuat Frisca menitikkan air mata.


Di malam hari mereka makan malam bersama dengan riang. Frisca menjadikan malam itu menjadi malam yang penuh arti bagi mereka. Mencuci piring bersama dengan laki-laki baik hati itu dan menidurkan Keisya bersama-sama.


Seperti biasa Keisya mencium kedua pipi ayahnya kemudian mencium kedua pipi Frisca. Anak itu memeluk Frisca cukup lama, membuat Frisca tertegun. Wanita itu membalas pelukan anak itu hingga terasa hangat lalu membaringkannya. Keisya memejamkan mata dan Frisca menyelimutinya lalu mencium pipi anak itu. Tangan Keisya terangkat dan membelai pipi Frisca, masih dengan mata yang terpejam.


"Ternyata belum tidur," ucap Rivaldo tersenyum, Keisya pun tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Tidur ya sayang," ucap Frisca.


Anak itu memeluk bonekanya lalu kembali berusaha untuk tidur.


"Sekarang giliran kita menidurkan Zeno," bisik Rivaldo.


"Biar aku saja, kami 'kan memang tidur bersama. Istirahatlah Valdo," ucap Frisca lalu mengecup pipi Rivaldo.


Frisca ingin berlalu masuk ke ruangan paviliun namun Rivaldo meraih tangan Frisca hingga menghentikan langkahnya. Frisca menoleh pada Rivaldo yang menatapnya dengan tatapan sendu. Rivaldo berjalan mendekat dan menangkup wajah Frisca. Kembali laki-laki itu mencium bibir wanita itu.


Ciumanmu begitu hangat Valdo, lembut menenangkan. Berbeda dengan ciuman bernafsu laki-laki lain. Aku menginginkanmu tapi aku tidak bisa karena kamu harus mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, bisik hati Frisca.


"Selamat tidur sayang!" bisik Rivaldo sesaat setelah melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Frisca tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan paviliun itu. Di sana Zefano menunggu di atas ranjang.


"Zeno belum tidur nak?" tanya Frisca.


"Belum Tante," jawab Zefano.


"Zeno kangen sama Mama dan Papa?" tanya Frisca.


Zefano mengangguk.


"Malam ini Tante akan mengantarmu pada mereka. Maafkan Tante yang telah memisahkan kalian begitu lama," ucap Frisca.


"Cuma dua hari Tante," ucap Zefano.


Aku memisahkanmu selama bertahun-tahun dengan papamu, Zeno, batin Frisca.


"Sehari di sini rasanya sudah tinggal begitu lama ya Zeno?" tanya Frisca.


"Ya Tante karena di sini seru, Om Valdo dan Keisya orang yang baik," ucap Zefano.


"Tante juga orang yang baik," sambung Zefano lagi.


Bagimu semua orang itu baik karena itu kamu tidak mengingat kejahatanku, aku menakuti akan menjualmu, membuatmu menangis semalaman tapi kamu begitu mudah melupakan kejahatan orang padamu, kamu lah anak yang baik Zeno, bisik hati Frisca sambil memeluk Zefano.


"Tidurlah yang nyenyak nanti malam aku akan membangunkanmu untuk pergi dari sini," ucap Frisca.


"Kita pergi diam-diam?" tanya Zefano.


"Ya,"


"Kenapa?"


"Karena aku tidak sanggup berpisah dengan mereka. Aku takut berpamitan akan membuatku berat meninggalkan tempat ini. Itu akan membuatmu lebih lama berpisah dengan orang tuamu. Aku tidak boleh berbuat seperti itu lagi, aku harus mengembalikanmu karena kamu masih harus menjalani pengobatan," ucap Frisca.


Zefano mengangguk dan mulai memejamkan mata sambil memeluk Frisca. Malam itu Frisca tidak tidur, wanita itu menunggu saat yang tepat untuk bersiap-siap dan pergi.


Frisca mengganti dasternya dengan pakaiannya sendiri yang telah dicuci tadi pagi dan membungkus pakaian Zefano. Frisca menatap Zefano yang masih tertidur lelap. Tak tega membangunkannya, wanita itu menggendong Zefano dan mengendap-endap keluar rumah.


Setelah berjalan agak jauh wanita itu berlari hingga membuat Zefano terbangun. Anak itu menatap rumah Rivaldo yang semakin jauh ditinggalkan.


"Kita sudah pergi Tante?" tanya Zefano pelan.


"Ya, kita akan menunggu bus di sana," ucap Frisca yang tidak yakin apakah ada bus yang akan lewat malam itu.


Zefano menatap rumah Rivaldo yang semakin menjauh namun tiba-tiba Frisca berhenti melangkah dan langsung terduduk.


"Kenapa Tante?" tanya Zefano yang langsung berdiri sendiri.


Frisca mengangkat tangannya membelai pipi Zefano. Air matanya mengalir, sebelah tangannya memegang perutnya.


"Zeno, jika ada.., orang.., yang lewat.., katakan.., kalau Zeno.., anak.., yang.., diculik.., mereka.., akan.., mengantar Zeno.., pu..,"


"Tanteeee.., Tante Frisca!" jerit Zefano langsung menangis melihat Frisca yang terkapar di jalan.


Zefano langsung berlari kembali ke rumah Rivaldo. Sambil menangis anak itu masuk kembali melalui pintu paviliun. Menggedor pintu kamar Rivaldo yang langsung kaget melihat Zefano menangis.


"Tante Frisca perutnya sakit sekarang pingsan," ucap Zefano menangis.


"APA?"


Rivaldo langsung ke ruang paviliun dan tercengang karena tak melihat Frisca di ranjang itu.


"Bukan di situ Om, di jalan!" ucap Zefano sambil menunjuk ke arah luar.


Rivaldo berteriak terkejut dan langsung berlari ke jalan. Rivaldo terpaksa menggendong Zefano agar bisa berlari lebih cepat.


"Di sana!" tunjuk Zefano.


Di jalan beraspal,  diterangi lampu jalan terlihat sosok tubuh yang tergeletak. Rivaldo lebih mempercepat langkahnya. Hingga segera sampai di hadapan Frisca yang telah diam memejamkan mata. Rivaldo menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk tubuh yang dingin di jalanan itu.


Rivaldo merasakan nafas Frisca di lehernya, segera laki-laki itu mengangkat tubuh Frisca dan kembali ke rumahnya. Laki-laki itu segera menelpon ambulance untuk dibawa ke sebuah rumah sakit daerah.


Rivaldo mendudukkan kedua anak itu di depan ambulance sementara dia menemani petugas medis duduk di belakang. Sesampai di rumah sakit, petugas medis langsung menangani Frisca.


Dokter dan perawat langsung melakukan pemeriksaan empat tanda vital utama, tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Rivaldo pasrah saat diminta menunggu di bangku pengunjung.


Sementara Frisca diperiksa, Rivaldo duduk bersandar menatap langit-langit rumah sakit. Kedua anak itu bersandar di dadanya, di samping kanan dan kirinya.

__ADS_1


Pemandangan itu yang membuat Suster Nofi terlonjak saat seorang temannya mengirim foto ketiga orang itu melalui pesan pribadi di ponselnya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2