Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 92 ~ Tamu dari Masa Lalu ~


__ADS_3

Melihat sikap Radian yang perhatian pada Allena dan keluarganya. Zefran merasa Radian tidak hanya sekedar menyapa Allena yang telah lama tak bertemu dan tidak akan sebentar bertamu di rumahnya. Zefran penasaran dan ingin tahu seperti apa hubungan Radian dengan istrinya.


Zefran mengajak Radian duduk di beranda belakang sambil menikmati taman dan udara yang segar.


"Sudah lama sekali ya kak? Sejak malam perpisahan itu, aku tidak pernah dengar kabar Kak Radian lagi," tanya Allena memecah sunyi.


"Ya betul, sejak malam perpisahan itu," ucap Radian.


Allena sebenarnya bingung harus bertanya apa, dan tak mungkin bertanya tujuan Radian datang mencarinya.


"Oh ya, bagaimana Kakak bisa tahu kalau aku sekarang tinggal di sini?" tanya Allena.


"Sebenarnya tanpa sengaja aku melihat ulasan berita tentangmu di Internet. Kamu menjadi seorang designer ternama sekarang. Aku tidak menyangka kamu punya bakat merancang busana padahal dulu kamu sama sekali tidak peduli dengan model pakaian," ucap Radian.


"Ya Kak, nasib manusia tidak ada yang tahu," ucap Allena tersipu.


"Kakak kenapa sendirian, aku pikir Kakak datang bersama keluarga," ucap Allena.


"Aku …, belum berkeluarga," jawab Radian kemudian melirik ke arah Zefran.


Zefran mendengar nada sedih dari ucapan laki-laki itu. Zefran juga melihat kesedihan di raut wajah Radian. Zefran merasa ada hubungan khusus antara tamu dihadapannya itu dengan istrinya.


Jangan-jangan Allena adalah cinta terpendamnya, masih berharap bisa mendapatkan Allena hingga tidak terpikirkan untuk mencari pengganti yang lain, batin Zefran.


Tapi Zefran berusaha untuk tetap tenang. Laki-laki itu telah berjanji untuk mempercayai Allena. Meski dadanya bergemuruh, Zefran sekuat tenaga menahan rasa cemburunya. Menghilangkan bayang-bayang dan prasangka buruk mengenai hubungan kedua orang itu di masa lalu.


"Lalu di mana Anda selama ini? Maksudku setelah kalian berpisah?" tanya Zefran.


Laki-laki yang sejak tadi hanya diam itu, akhirnya ikut bicara. Di mata Zefran, Allena dan Radian seperti telah kehabisan kata-kata. Namun, belum ada lagaknya Radian ingin pulang.


"Aku langsung ke New York, melanjutkan kuliah di sana," jawab Radian.


"Columbia University?" tanya Zefran.


"Ya benar, begitu di wisuda juga langsung mendapat tawaran pekerjaan di New York. Kalau Anda sendiri?" tanya Radian yang masih agak canggung.


Laki-laki itu seperti ingin bersikap ramah pada Zefran.


"Stanford," ucap Zefran singkat.


Radian terkejut, namun saat mengetahui kampus Zefran, laki-laki itu seperti memiliki bahan untuk diperbincangkan. Dia mulai bisa menguasai situasi. Radian bercerita kalau beberapa teman kerjanya berasal dari universitas yang sama dengan Zefran. 


Ada yang dikenal Zefran, ada juga yang sama sekali belum pernah didengar namanya. Bahkan ada yang satu kelompok persaudaraan dengan Zefran. Mendengar itu Zefran menjadi semangat mendengar cerita tentang teman lamanya yang telah dianggap saudara saat menjalani perkuliahan di Stanford University.


Mendengar kabar tentang teman-teman yang dikenalnya, langsung membuat Zefran merasa dekat dengan Radian begitu juga sebaliknya. Laki-laki itu juga mulai terbiasa berbincang dengan suami Allena itu.


Hingga seperti lupa kalau yang berteman sebelumnya adalah Allena. Zefran asyik membicarakan kenangan-kenangan saat kuliah bersama fraternity-nya yang sekarang telah menjadi teman kerja Radian.


Radian kadang terkejut tak percaya mendengar kisah yang diceritakan Zefran tentang kawan kerjanya saat masih menjadi mahasiswa. Tanpa terasa mereka sudah berbincang berjam-jam hingga bahkan mengabaikan Allena. Hanya sesekali Radian melirik pada wanita cantik itu.


"Padahal dulu dia lugu sekali, tapi dia memang cerdas. Bisa masuk kelompok persaudaraan itu karena dia mahasiswa yang berprestasi. Tak disangka sekarang menjadi Don Juan," ujar Zefran dan langsung tertawa.


"Aku akan beri nomor kontaknya jika Anda berminat menelponnya," sahut Radian.


"Ya boleh, bisa menghubunginya lagi pasti sangat seru. Apa mungkin dia masih mengingat saya? Tapi mungkin salah satu di antara kami ada yang masih diingatnya. Altop, Ronald, Valendino, dan saya ..." 


"The Four Idiots?" tanya Radian langsung.


"Ya benar, apa dia pernah cerita?" tanya Zefran semakin penasaran.


Radian menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dia bilang sejak masuk kelompok persaudaraan itu, dia mengalahkan popularitas The Four Idiots," ucap Radian dengan senyum malu-malu.


"Apa? Yang benar saja! Yang ada, kami yang menjadi panutan di kelompok persaudaraan itu," sanggah Zefran lalu tertawa.


"Aku rasa juga begitu, karena setiap kali dia bicara sedikit-sedikit The Four Idiots … sedikit-sedikit The Four Idiots. Tapi tak pernah mengakui kalau The Four Idiots adalah idolanya," jelas Radian.


Zefran tertawa begitu juga dengan Radian, hanya Allena yang diam tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Kadang Zefran tertawa sambil menoleh pada istrinya dan merangkul wanita itu bahkan kadang-kadang mencium pipi istrinya. Allena hanya ikut tersenyum membalas sikap mesra Zefran.


Lalu kembali Zefran berbincang-bincang seru dengan Radian. Saat mengajak makan siang barulah mereka mendengar suara wanita cantik itu. Radian menolak dengan halus namun Zefran bersikukuh mengajaknya. Allena bersyukur suaminya tak menaruh prasangka pada Kakak kelasnya itu.

__ADS_1


Saat pamit pulang Zefran meminta laki-laki itu untuk sering-sering datang berkunjung. Radian yang telah kembali menetap di Indonesia itu hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Saat laki-laki itu menghilang di balik gerbang Zefran langsung menangkup wajah istrinya. Kening Allena mengernyit heran dengan sikap suaminya.


"Katakan kalau dia bukan mantan pacarmu," ucap Zefran masih menangkup wajah istrinya.


"Kalau dia bukan mantan pacarmu," ucap Allena yang ingin berlalu.


"Eh, apa itu?" tanya Zefran tak terima dengan ucapan Allena.


"Apa? Tadi Kakak suruh katakan itu, sudah aku katakan persis seperti yang Kakak suruh," ucap Allena memegang kedua lengan suaminya.


"Aku tidak menyuruhmu mengulang persis seperti yang aku ucapkan," ucap Zefran gemas sambil mencubit hidung wanitanya itu.


Allena tersenyum ditahan.


"Dia mantan pacarmu bukan?" tanya Zefran dengan cara lain.


"Bukan," jawab Allena.


"Dia mantan pacarmu ya?


"Ya," ucap Allena dan langsung tertawa.


Zefran membenamkan wajahnya wanita itu dalam pelukannya.


"Please, jawab yang serius sayang! Aku takut salah paham lagi padamu," ucap Zefran.


"Baiklah, baiklah, tapi apa aku harus cerita di teras ini?" tanya Allena sambil mengajak suaminya ke dalam.


Zefran langsung menarik Allena ke kamar mereka. Suami Allena itu sangat penasaran pada laki-laki dari masa lalu istrinya. Semua karena rasa cemburunya yang sangat besar pada laki-laki tampan itu. Namun, Zefran tak ingin menunjukkannya pada Allena, demi janjinya pada diri sendiri yang tidak akan menyalahkan Allena jika ada laki-laki yang mencintainya.


"Kak Radian itu dulu Ketua OSIS di SMA ku," ucap Allena memulai cerita.


"Oh ya, hebat sekali dia," sahut Zefran.


Allena mengangguk.


"Betul, tapi aku dengar sebenarnya dia tidak ingin menjadi Ketua OSIS tapi teman-teman di sekolah rata-rata mendukungnya karena dia itu anak orang kaya. Setiap ada kegiatan sekolah yang menutupi kekurangan anggaran kegiatan itu dialah orangnya. Tapi dia tidak mau mengerjakan apa-apa. Semua kegiatan dikoordinir oleh Wakil Ketua OSIS, karena itu semua tahu dia tidak berniat menjadi OSIS karena pada dasarnya dia orang yang cuek. Tapi karena anggota OSIS butuh rasa aman dalam hal menutupi kekurangan dana, jadi dia yang diangkat menjadi Ketua," lanjut Allena.


"Bukannya mengangkat ketua OSIS itu dilakukan melalui pemilihan suara terbanyak?," tanya Zefran.


Sial, dia idola di sekolahnya. Lalu bagaimana perasaan Allena terhadapnya? Batin Zefran.


"Dia bersedia begitu saja dimanfaatkan oleh seluruh penghuni sekolah itu?" tanya Zefran.


"Pada dasarnya dia tidak peduli, saat resmi diangkat jadi ketua pun dia tidak peduli. Apalagi alasan kenapa dia diangkat? Dia tidak akan peduli," jelas Allena.


Zefran mengangguk-angguk dan mulai bertambah cemburu dengan jabatan yang pernah dipegang laki-laki itu dalam organisasi sekolahnya.


"Menurut cewek-cewek yang suka bergosip tentang dia, Kak Radian itu orangnya dingin. Cuek banget sama cewek dan itu membuat cewek-cewek di sekolah itu jadi penasaran …,"


"Kamu juga? Kamu juga penasaran padanya?" tanya Zefran ingin mengetahui isi hati Allena.


"Kak, aku ini gadis miskin, mana ada waktu untuk mikirin cowok," sahut Allena.


"Lalu bagaimana kamu bisa kenal dengannya?" tanya Zefran penasaran.


"Saat itu Masa Orientasi Siswa, aku anak kelas satu yang baru masuk SMA itu. Hari kedua aku masuk sekolah, sepatuku robek. Aku terpaksa mencari sol sepatu untuk memperbaikinya. Jadi aku telat masuk sekolah. Aku jadi salah satu siswa yang dihukum berjemur di lapangan hingga siang hari. Tapi dia datang dan bertanya padaku alasan aku telat masuk sekolah. Aku ceritakan masalahku lalu dia mengizinkan aku masuk ke kelas," jelas Allena.


"Kamu bilang dia orang yang cuek tapi mau-maunya dia bertanya padamu alasan kamu telat datang ke sekolah?" tanya Zefran.


"Entahlah, tapi saat itu aku nggak tahu kalau jabatannya Ketua OSIS. Dan aku dengar tentang sifatnya itu setelah sekolah cukup lama di sana" jawab Allena.


"Lalu?" tanya Zefran lagi.


"Ya itu, aja," jawab Allena.


"Nggak mungkin sayang, dia jauh-jauh datang dari New York untuk menemui gadis yang perkenalannya cuma segitu," ucap Zefran.


"Aku juga nggak tahu Kak, tapi sejak saat itu. Banyak cewek-cewek yang mengira aku mendekatinya. Padahal aku sama sekali tidak dekat dengannya. Menyapanya saja aku tidak berani. Aku ini siapa lah, siswi yang sama sekali tidak menonjol. Pintar nggak, kaya sudah jelas nggak. Cantik? Banyak yang lebih cantik dari aku. Tapi nggak tahu kenapa mereka menuduhku mencoba menggoda Kak Radian. Tak tahu dari mana gosip itu. Banyak yang bilang kalau aku pacaran dengan Kak Radian," tutur Allena dengan suara yang semakin pelan.


"Jangan-jangan dia menyukaimu, orang terdekatnya tahu dan menyebarkan perasaan terpendamnya itu pada teman yang lain hingga akhirnya tersebar gosip itu," ucap Zefran.

__ADS_1


"Iih, nggak mungkin Kak, banyak gadis-gadis SMA di sana yang lebih cantik, lebih modis dari pada aku," bantah Allena.


Allena tidak sadar dengan kecantikan alaminya, baginya yang cantik itu adalah wanita yang berdandan dan berpakaian modis. Allena sayang, tapi syukurlah kamu tidak punya rasa percaya diri kalau tidak kamu sudah gonta-ganti pacar barangkali, batin Zefran lalu tersenyum sendiri.


"Lalu, bagaimana akhirnya kalian pacaran?" tanya Zefran to the point.


"Siapa yang pacaran? Kalau dituduh pacaran memang iya, pernah ketemuan aja enggak. Tapi saat acara perpisahan memang dia mengundangku datang ke acara itu. Tapi aku tidak percaya diri untuk datang ke pesta itu karena aku tidak punya gaun. Tapi terlanjur menyetujui untuk datang. Aku hanya berani menunggunya di luar gedung. Aku juga tidak bisa memintanya keluar, jadinya aku hanya menunggu dan berharap dia keluar gedung agar aku bisa memanggilnya. Aku datang ke sana hanya untuk berterima kasih padanya atas kebaikannya waktu itu. Saat dia akan pulang, sebelum masuk ke mobilnya dia melihatku, lalu menghampiriku. Eh, dia … dia … memelukku dan menyesal karena aku tidak masuk ke dalam gedung. Dia bilang dia menungguku, aku bilang aku tidak memiliki gaun. Tapi dia bilang, dia tidak peduli aku mengenakan gaun atau tidak. Dia harus pergi karena dipanggil ibunya untuk pulang. Dia berkata, karena dia telah menungguku, maka dia juga memintaku menunggunya. Aku tidak mengerti apa maksudnya menyuruhku menunggu lagi padahal aku sudah menunggunya di luar. Akhirnya kami berpisah begitu saja," jelas Allena panjang lebar.


"Dia akan pergi dan kamu diminta untuk menunggunya pulang lalu hidup bersamanya. Kamu terlalu polos Allena, tapi aku rasa sekarang kamu sudah mengerti maksud ucapannya. Tapi sudah terlambat, kamu terlambat menyadari ucapannya. Mungkin kamu baru sadar hari ini. Kamu menyadari ucapannya saat melihat dia datang. Karena selama ini kamu sudah melupakannya. Hari ini dia datang menemuimu, menagih janjimu untuk menunggunya," ucap Zefran.


Ucapan suaminya itu membuat Allena tercenung. Wanita itu menunduk, apa yang diucapkan Zefran memang benar. Hari ini dia kaget saat melihat Radian datang. Hari ini juga dia menyadari maksud laki-laki itu memintanya menunggu.


"Apa kamu menyesal sayang? Kamu menyesal dengan kenyataan kalau sekarang kamu telah menikah?" tanya Zefran.


Allena menelan ludah, tak mampu berkata-kata.


"Benar Kak, aku menyesal," ucap Allena.


Kata-kata yang langsung membuat hati Zefran remuk.


"Tapi bukan menyesal karena telah menikah tapi menyesal karena dia mengira aku menunggunya. Aku menyesal karena tidak menyadari maksud ucapannya. Aku menyesal karena tidak menolak permintaannya. Andai hari itu aku tahu maksudnya, aku akan langsung menolaknya. Aku tidak akan membiarkan dia mengira aku akan menunggunya. Sekarang dia harus tahu kalau semua sudah berlalu. Dia harus tahu kalau aku tidak mengerti maksud ucapannya. Dia harus tahu, kalau aku mencintai suamiku, aku mencintai keluargaku" ucap Allena dengan dada yang turun naik menahan perasaan.


Dengan suara serak karena terisak-isak, Allena lanjut mencurahkan isi hatinya.


"Aku tidak ingin dia mengharapkan aku lagi. Jangan pernah Kakak mengira kalau aku menyesali pernikahanku. Aku sudah susah payah mempertahankan pernikahanku," teriak Allena dengan suara serak dan semakin terisak.


Zefran langsung memeluk wanita yang dicintainya itu.


"Baiklah, aku mengerti. Jangan menangis lagi, aku percaya padamu sayang," ucap Zefran sambil memeluk erat istrinya dan membelai lembut rambut wanita yang dicintainya itu.


Baiklah Allena, aku percaya padamu. Sekarang aku hanya perlu waspada pada laki-laki itu. Dia harus bisa menerima kenyataan, gadis yang dicintainya dulu tidak bisa dimilikinya lagi, batin Zefran.


Zefran bersyukur hari itu dia tidak berangkat bekerja karena jika itu terjadi. Allena akan bertemu dengan laki-laki dari masa lalunya itu sendirian saja. Zefran tidak tahu apakah hati Allena akan tergugah oleh kebaikan laki-laki itu yang telah menunggunya. Dan mungkin saja, Zefran akan kembali berpikiran buruk pada Allena yang bertemu laki-laki lain di belakangnya.


Sejak membahas masa lalu Allena secara terbuka. Zefran tak lagi mempermasalahkannya, karena Radian pun tak pernah muncul lagi, juga tak menghubungi Zefran.


Sebulan berlalu dan Allena pun telah melupakan kedatangan Radian. Laki-laki itu pun tak pernah menghubungi Allena lagi.


"Hari ini masuk kerja sayang," tanya Zefran sambil bersiap-siap berangkat kerja.


"Ya Kak, aku juga harus segera menyelesaikan rancangan untuk pemilihan itu," ucap Allena sambil menyusui bayinya.


"Apa tidak bisa dikerjakan di rumah?" tanya Zefran.


"Kalau rancangannya sudah dikerjakan di rumah tapi pemilihan bahannya harus ke sana. Aku juga harus mengambil ukuran. Hari pertama ini mungkin agak sibuk," jelas Allena.


"Kasihan anak Papa, ditinggal Mama seharian," ucap Zefran.


"Kakak, kalau ucapannya seperti itu, aku jadi tidak tenang bekerja," ucap Allena merajuk. Zefran tersenyum.


"Maaf ya, aku cuma bercanda. Jangan lupa stock ASI yang banyak untuk Zara ya!" ucap Zefran.


"Baik Papa Zara," ucap Allena dengan suara yang dikecil-kecilkan.


Zefran tertawa, laki-laki itu sudah bersiap-siap turun ke lantai bawah untuk sarapan. Allena pun segera menyusul suaminya untuk menemani laki-laki itu sarapan.


"Selamat pagi Oma," sapa Allena pada Ny. Mahlika.


"Selamat pagi sayang, ayo sarapan. Si cantik sudah sarapan belum?" tanya Mahlika pada Zifara.


"Sudah Oma," ucap Allena yang langsung menyerahkan bayi itu pada baby sitter-nya yang telah menunggu dari tadi.


Allena kembali aktif di perusahaan fashion Ny. Marilyn. Begitu datang Allena langsung disambut oleh semua karyawan, model, fotografer dan semua crew yang bernaung di bawah perusahaan fashion yang telah ternama itu.


"Hari ini kita adakan pesta untuk menyambut kembalinya designer kesayangan kita, Allena," ucap Marilyn.


Wanita setengah baya yang tetap di cantik di usia yang tak muda lagi itu sangat senang designer kesayangannya kembali muncul di perusahaan fashionnya. Hingga mengadakan pesta untuk menyambut aktifnya kembali Allena di gedung itu. Allena tak sanggup menolak, karena Ny. Marilyn sendiri yang ingin mengadakan pesta penyambutannya.


Saat jam kerja habis, mereka bersama-sama datang ke sebuah Night Club untuk bersenang-senang. Meski enggan akhirnya Allena bersedia ikut namun memohon untuk diizinkan pulang lebih cepat karena tak bisa meninggalkan bayinya terlalu lama. Ny. Marilyn memaklumi dan mengizinkan gadis itu pulang lebih cepat dari yang lainnya.


Allena duduk mendengar cerita lucu salah seorang crew lighting. Lagaknya bercerita seperti seorang komika. Allena ikut tertawa saat mendengar cerita lucunya. Sesekali wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Namun, kali ini pandangannya terpaku lama, senyumnya yang mengembang langsung menghilang. Mata Allena berubah sayu saat melihat Zefran yang sedang berbincang akrab dengan seorang wanita.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2