
Zefran mengikuti permintaan ibunya untuk pergi ke rumah sakit menemani Allena yang baru saja melahirkan. Sekian lama laki-laki itu berdiri di balik pintu, menatap istrinya yang menyusui bayinya sambil sesekali menghapus air matanya. Perlahan Zefran mendorong pintu ruangan itu dan berdiri di samping ranjang istrinya.
Meminta maaf kemudian mencium bibir Allena, wanita itu membalas ciuman suaminya dengan air mata yang masih mengalir di sudut matanya. Allena melingkarkan sebelah tangannya di leher suaminya. Seolah-olah tak ingin laki-laki itu pergi.
Zefran duduk di ranjang berhadapan dengan istrinya. Dengan takut-takut melirik pada bayi itu, laki-laki itu terpana. Matanya seperti tidak mau beralih dari makhluk kecil yang tidur sambil tersenyum itu.
"Mommy bilang dia mirip denganku," bisik Zefran.
"Ya, aku senang dia mirip Kakak," balas Allena.
"Apa maksudmu? Apa ada kemungkinan mirip dengan orang lain?" tanya Zefran seperti curiga namun akhirnya tersenyum.
"Tentu saja ada, mirip denganku juga bisa." Allena lega setelah mendengar ucapan Zefran yang ternyata hanya bercanda. Wanita itu akhirnya tersenyum juga.
"Bagus kalau mirip denganmu karena kamu itu cantik," jawab Zefran.
"Tapi aku lebih suka kalau dia mirip dengan Kakak," sahut Allena sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Zefran pelan setengah berbisik.
"Karena jika aku merindukan Kakak, aku hanya perlu menatap wajahnya," jawab Allena sambil menoleh pada bayi di pangkuannya.
"Kenapa merindukanku? Aku akan selalu ada di sisimu," ucap Zefran pelan.
Allena diam, hanya bisa menatap wajah suaminya, tidak tahu jawaban apa yang harus diucapkannya. Allena hanya ingin merasa seperti itu. Jauh di lubuk hatinya selalu ada perasaan kalau pernikahannya tidak akan berlangsung selamanya. Meski saat ini Zefran telah menunjukkan rasa cinta padanya namun selalu ada keraguan di hati Allena bahwa perasaan Zefran itu akan tetap bertahan mencintainya selamanya.
Zefran menginap di ruang perawatan Allena, semalaman menemani dan membantu istrinya itu menjaga bayi mereka. Meski perawat menawarkan untuk menitipkan bayi mereka di ruang khusus bayi. Namun, Allena memilih membiarkan bayi mereka tetap di ruangannya agar gadis itu bisa menyusuinya kapanpun bayi itu terbangun.
Zefran terbangun di tengah malam dan melihat istrinya tertidur di sofa sambil menyusui bayinya. Zefran memindahkan bayi yang telah tertidur lelap itu ke ranjang bayi. Tersenyum saat menatap istrinya yang tertidur sambil bersandar di sofa.
Zefran menggendong Allena dan merebahkannya di ranjang rumah sakit. Memasang kembali kancing baju Allena yang terbuka lalu menyelimutinya. Laki-laki itu naik ke atas ranjang rumah sakit dan tidur di samping Allena. Meraih tubuh istrinya dan membiarkan Allena tidur dalam pelukannya.
Allena menginap di rumah sakit selama tiga hari dan selama itu Zefran selalu berada disisinya. Setiap hari Ny. Mahlika juga menyempatkan diri menjenguk Allena.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik, tidak ada masalah?" tanya Mahlika.
"Saya baik-baik saja Mommy, rasanya tidak beda dengan sebelum melahirkan, hanya tubuh rasanya lebih ringan," ucap Allena polos.
Zefran tersenyum sambil mengecup puncak rambut Allena. Sikap mesra Zefran kepada wanita itu semakin membuat Frisca kesal. Ditambah Ny. Mahlika yang selalu membanggakan cucunya.
Allena kembali ke rumah, seisi rumah mewah itu terasa berseri. Para pelayan yang setiap hari tak henti-hentinya mengagumi keturunan baru keluarga itu. Mereka dengan senang hati membantu Allena mengurusi bayinya itu. Ny. Mahlika juga mengundang teman-temannya untuk memperkenalkan cucu pertamanya. Semua yang hadir melihat dan merasa kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ny. Mahlika, karena mereka tahu persis bagaimana Ny. Mahlika begitu mengharapkan hadirnya penerus keluarganya itu.
"Seorang cucu laki-laki yang tampan, kamu mendapatkan keturunan yang sempurna Jeng Ika," ucap salah seorang tamu Ny. Mahlika.
"Sungguh iri melihatnya, aku punya enam orang cucu. Perempuan semua tak ada satupun cucu laki-laki. Dan parahnya lagi anak-anakku sudah kapok untuk menambah momongan. Aduh ... habis harapanku mendapatkan cucu laki-laki," ujar seorang sahabat Ny. Mahlika lainnya.
Ucapan sahabatnya itu menambah rasa bangga Ny. Mahlika atas kelahiran cucu laki-lakinya. Ny. Mahlika tak bosan-bosannya memamerkan cucunya yang selalu dinilai oleh orang-orang yang melihatnya sebagai bayi yang sangat tampan. Tak lupa mereka memuji Zefran yang akhirnya bisa membuktikan kalau ternyata dirinya memang bisa memberikan keturunan.
Hal itu semakin membuat Frisca kesal, setiap kali memuji Zefran, sahabat-sahabat Ny. Mahlika akan selalu menyalahkannya dirinya yang bermasalah. Dan yang lebih membuatnya kesal saat mereka memuji langkah Ny. Mahlika untuk mencarikan istri lain untuk Zefran.
"Kalau putramu tidak bermasalah memang sayang sekali kalau tidak menikah lagi. Buktinya sekarang dia bisa menghadirkan cucu di tengah-tengah keluarga ini," ucap seorang sahabat Ny. Mahlika.
Setiap hari selalu saja ada yang datang ingin melihat dan mengucapkan selamat atas kehadiran cucu pertama nyonya kaya itu. Para sahabat yang belum mengenal Allena akan langsung diperkenalkannya. Ny. Mahlika begitu bangga pada menantunya itu sekarang dan tidak peduli semua orang tahu kalau putranya memiliki dua istri.
Rasa bangganya justru semakin menjadi-jadi karena terbukti putranya sehat dan bisa memberikan keturunan. Zefran menjadi pelampiasan kekesalan Frisca setiap kali mendengar obrolan ibu-ibu yang datang berkunjung ke rumah mereka itu.
"Kesal ... aku kesal ... obrolan ibu-ibu itu membuat aku kesal. Mereka selalu menyalahkan aku yang tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga ini. Mereka tidak tahu kalau aku juga pernah hamil," ujar Frisca.
"Makanya tak usah di dengar, di sini saja bicara denganku," ucap Zefran sambil memperhatikan layar laptopnya.
__ADS_1
"Tapi aku penasaran ingin dengar apa saja obrolan mereka. Huh ... setiap hari, dari siang hingga malam. Aku pusing melihat orang lalu lalang di rumah ini. Karena itu biarkan aku pulang malam lagi. Aku benar-benar tidak tahan mendengar pembicaraan mereka," pinta Frisca pada suaminya.
"Jangan jadikan mereka sebagai alasan untuk rencanamu pulang malam. Tidak! Aku tidak izinkan!" ucap Zefran tegas.
Baiklah kalau begitu maumu, lihat saja nanti. Aku akan menunjukkan pada Mommy seluruh bukti-bukti bahwa putra Allena itu bukan cucu kandungannya, agar dia tidak berani lagi mengundang teman-temannya dan memamerkan cucunya yang membuat aku kesal setiap hari, batin Frisca.
Frisca tidak sanggup lagi menahan rasa iri pada hiruk pikuk di rumah itu yang setiap hari bercerita tentang bayi yang dilahirkan Allena. Kemanapun dia melangkah selalu saja terdengar nama Zefano.
Zefano, Zefano aahh.., sakit kepalaku mendengar nama itu setiap hari, menyebalkan, menyebalkan, jerit hati Frisca.
Berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, hingga akhirnya turun ke lantai bawah dan menyaksikan keakraban keluarga itu. Ny. Mahlika, Zefran dan keluarganya duduk di ruang tengah. Ny. Mahlika dan yang lainnya bergantian menggendong bayi Zefano.
Di saat yang satu menggendong yang lain akan melihat sambil tersenyum dan tertawa. Sebuah pemandangan yang memuakkan bagi Frisca. Wanita itu berencana untuk refreshing keluar rumah, melintas di ruangan itu dan langsung dipanggil oleh Ny. Mahlika.
"Mau kemana Frisca? Sekarang kan hari libur waktunya berkumpul dengan keluarga. Ayo duduk di sini. Coba gendong Zefano. Orang bilang jika kamu menggendong bayi, kamu juga bisa ketularan memiliki bayi," ucap Ny. Mahlika menarik tangan Frisca untuk duduk di sofa keluarga itu dan menyerahkan bayi Zefano padanya.
Seperti biasa, yang lain akan tersenyum melihat bayi dan orang yang menggendongnya. Frisca berusaha terlihat menikmati menggendong bayi laki-laki tampan itu tapi hatinya tetap menolak.
"Bibi ingin menaruh pakaianku di kamar?" teriak Zefran tiba-tiba saat melihat para pelayan membawakan pakaian-pakaiannya.
"Ya Tuan, mau ditaruh di kamar," jawab seorang pelayan.
"Taruh sebagian di kamar Nyonya Allena ya," ucap Zefran yang dibalas dengan anggukan oleh para pelayan.
"Setelah menikah sekian lama pakaianmu tidak ada di kamar Allena?" tanya Mahlika.
"Ya, aku lupa beritahu mereka tapi tidak masalah Mommy, kamar kami juga berhadapan. Lompat sedikit sudah sampai di kamar Frisca," ucap Zefran sambil tersenyum.
"Ya! Tapi kalau setiap berangkat kerja kamu tidak pernah dari kamar Allena. Kapan lagi kamu bersiap-siap di layani oleh Allena?" tanya Mahlika.
Selama ini aku berangkat kerja juga tidak pernah dilayani oleh siapa pun, batin Zefran.
Frisca mengamati pembicaraan ibu dan anak itu sambil menggendong Zefano. Mencoba menikmati menggendong bayi itu karena seperti yang di ucapan Ny. Mahlika. Menggendong bayi bisa membuat dirinya juga memiliki bayi. Namun, tetap saja wanita itu merasa tak betah, sama sekali tidak bisa menikmati menggendong seorang bayi.
Bayi Zefano yang telah mampu mengangkat kepalanya dengan lebih baik itu menatap pada Frisca dan tertawa. Sesekali mengeluarkan suara yang membuat wanita itu justru merasa risih.
Frisca sama sekali tidak terbiasa dengan bayi dan terlihat tidak begitu menyukai bayi. Hanya karena demi memenuhi permintaan mertuanya wanita itu mau menyentuh makhluk yang baru belajar mengenali wajah-wajah di hadapannya itu.
Allena merasa tidak enak hati, melihat Frisca yang terlihat terpaksa menggendong bayinya. Dan hanya wanita itu yang menyadari sementara Ny. Mahlika dan Zefran asyik membicarakan kondisi perusahaan mereka.
"Nyonya, mari saya gantikan menggendong Zefano," ucap Allena menawarkan diri.
Frisca langsung menyerahkan bayi itu pada ibunya. Allena menyambut bayi itu sambil tersenyum dan membawanya duduk.
"Kenapa buru-buru diambil, biarkan saja Frisca merasakan menggendong bayi. Biar tubuhnya merespon dan bisa menerima hadirnya jiwa lain di tubuhnya," jelas Mahlika.
"Memangnya bisa seperti itu Mom?" tanya Zefran.
"Entahlah tapi kalau Mommy perhatikan orang-orang yang tidak begitu suka anak-anak memang sulit untuk memiliki keturunan. Mommy pikir karena tubuh dan hatinya tanpa sadar menolak hadirnya makhluk kecil itu dalam tubuhnya," jelas Mahlika.
"Tapi aku dan Frisca menyukai anak-anak, buktinya kami berusaha hingga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk program bayi tabung. Memang belum berhasil saja mungkin Mommy," ucap Zefran.
"Kamu mungkin sungguh-sungguh ingin memiliki anak tapi Frisca mungkin hanya ikut keinginanmu saja," sambung Mahlika.
"Jadi menurut Mommy, aku tidak menginginkan anak, begitu? Apa Mommy tidak tahu betapa melelahkannya ikut program bayi tabung. Berkorban waktu, tenaga, uang dan perasaan hanya untuk menghadirkan bayi yang Mommy inginkan?" tanya Frisca tiba-tiba emosi bahkan berdiri dari tempat duduknya.
Zefran tercengang dan tak kalah tercengangnya Ny. Mahlika. Mendengar ucapan istrinya yang terdengar kasar pada ibunya.
"Kamu seolah-olah menyangkal kebenaran ucapan Mommy. Tapi dari ucapanmu tersirat apa yang Mommy ucapkan itu memang benar. Jauh di lubuk hatimu, kamu tidak inginkan anak, benar 'kan?" ucap Zefran.
__ADS_1
Frisca mendekat pada Zefran dengan tatapan mata yang tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Frisca berdiri di hadapan suaminya.
Allena menunduk sambil memeluk anaknya, merasa sangat takut melihat ketegangan suasana di ruang keluarga itu.
"Kamu sendiri yang bilang, mengikuti program bayi tabung itu melelahkan. Frisca, tidak ada orang yang merasa lelah saat ingin mencapai apa yang begitu di inginkannya. Meski lelah pun, orang akan menutupinya karena demi sesuatu yang sangat diharapkan. Bagi orang lain pengorbanan yang dirasakannya hanya waktu, tenaga dan uang ... bukan perasaan. Dan jelas kamu berkata usaha yang kamu lakukan itu hanya untuk memenuhi keinginan Mommy. Tentu saja kamu berkorban perasaan karena semua yang kamu lakukan bukan kehendakmu tapi kehendak Mommy, benar kan? Lalu apa yang salah dengan ucapan Mommy bahwa kamu tidak sungguh-sungguh ingin memiliki anak?" ucap Zefran panjang lebar.
Laki-laki itu baru menyadari isi hati Frisca yang sesungguhnya. Zefran sangat ingin memiliki keturunan bukan hanya untuk memenuhi keinginan ibunya. Dengan sungguh-sungguh melakukan segala usaha untuk bisa membuat istrinya mengandung.
Tapi semua itu dipendam dalam hatinya demi menjaga perasaan istrinya. Zefran tidak ingin terlalu menuntut hingga membuat istrinya depresi. Bersikap seolah-olah pasrah menerima kenyataan istrinya masih belum memberinya keturunan. Seolah-olah tidak masalah jika Frisca masih belum bisa memberi seorang anak untuknya. Semua itu ditahannya demi menjaga perasaan Frisca.
Zefran kecewa setelah mendengar sendiri ucapan istrinya yang tersirat tidak menginginkan lahirnya keturunan bagi mereka. Frisca merasa terpojok, isi hatinya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Baiklah, mungkin aku salah dalam memilih kata-kata. Tapi bukankah sekarang kalian puas mendapatkan bayi yang bukan darah daging kalian?" tanya Frisca mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Apa maksudmu Frisca?" tanya Mahlika.
"Bayi yang Mommy banggakan itu bukanlah darah daging kalian. Aku punya banyak bukti yang mendukung rasa tidak percayaku pada status bayi itu," ucap Frisca.
"Nyonya apa maksud Nyonya? Bukti apa? Apa hubungannya dengan bayiku?" tanya Allena yang tiba-tiba merasa bayinya di permasalahkan.
Frisca berlari ke lantai atas, di kamarnya wanita itu mengambil amplop besar dan membawanya kembali ke hadapan Zefran, Ny. Mahlika dan Allena. Membuka dan mengeluarkan semua isi amplop itu dan menebarnya di atas meja.
"Ini buktinya, bagaimana Valen dengan begitu telaten mengantarmu ke dokter kandungan. Apa mungkin dia mau melakukan itu, jika bayi yang kamu kandung itu bukan anaknya. Struk pembayaran belanja vitamin dan susu ibu hamil dengan kartu kredit atas nama Valendino. Lihatlah ... kamu yang merasa ayah kandung anak itu bahkan tidak melakukan apa-apa untuknya. Lihatlah Valen melakukan tugasnya sebagai ayah yang bertanggung jawab " jelas Frisca lalu tertawa.
Ny. Mahlika dan Zefran menatap foto-foto yang telah dicetak oleh Frisca. Foto-foto yang belum pernah Zefran lihat sebelumnya. Allena dan Valendino duduk di ruang tunggu rumah sakit. Allena yang masuk ke dalam mobil Valendino. Allena yang dibimbing oleh Valendino berjalan karena kandungannya yang telah besar.
Banyak lagi tampilan Valendino dan Allena yang berhasil diabadikan oleh para fotografer suruhan Frisca. Wanita itu bahkan berhasil mendapatkan struk pembayaran dengan kartu kredit itu saat seorang pelayan ingin membuang kantong plastik yang berisi vitamin-vitamin dan susu khusus untuk ibu hamil itu.
Wanita itu tersenyum saat melihat nama yang tertera pada struk itu dan langsung menyimpannya. Hingga akhirnya dikeluarkan dan dibeberkan di depan Zefran dan ibunya.
Zefran menoleh pada Allena, Frisca langsung tersenyum miring.
"Apa maksudnya ini Allena? Aku pikir kamu belanja semua itu dengan uang dan kartu yang aku berikan padamu. Dan foto-foto ini kenapa bisa seperti ini? Kamu menolak setiap kali aku ingin mengantarmu periksa kandungan ternyata demi laki-laki ini. Kamu ingin dia yang mengantarmu?" tanya Zefran dengan wajah yang kecewa.
"Bukan begitu Kak, aku sama sekali tidak minta diantar olehnya. Dia tiba-tiba muncul di rumah sakit. Aku mencoba menyuruhnya pergi dan tidak lagi menemaniku tapi dia tetap melakukannya," ucap Allena dengan mata yang berkaca-kaca.
Ny. Mahlika pun angkat bicara. "Harusnya kamu tahu, Valen menemanimu karena dia tidak melihat Zefran bersamamu. Harusnya kamu pergi bersama Zefran, harusnya kamu minta di temani suamimu hingga laki-laki itu tidak muncul untuk menggantikan Zefran," ucap Mahlika menyesal.
"Bukan itu point-nya Mommy. Bukan sekedar menggantikan Zefran menemani perempuan itu. Tapi perhatian Valen terhadap Allena dan bayi dalam kandungannya itu yang menunjukkan sikap seseorang yang bertanggung jawab terhadap bayi yang dikandung Allena," teriak Frisca.
"Itu tidak benar, bayi ini bukan anak Kak Valen," jawab Allena langsung ke inti masalahnya.
"Kalau begitu buktikan? Lakukan tes DNA!" perintah Frisca.
"Kak, Kakak percaya kan kalau Zefano adalah putra kandung Kakak?" tanya Allena pada Zefran yang menunduk.
"Lakukan saja tes DNA itu!" ucap Mahlika pelan sambil berdiri dari sofanya.
"TIDAK, jika Mommy dan Kak Zefran memintaku melakukan tes DNA pada Zefano artinya kalian berdua meragukanku. Aku bukanlah perempuan yang bisa tidur dengan laki-laki lain. Meragukan Zefano sama saja dengan menuduhku berbuat dengan laki-laki lain. Lebih baik aku pergi dari sini, dari hadapan kalian yang sudah menuduhku melakukan perbuatan rendah," teriak Allena juga berdiri dari sofanya.
"Enak saja kamu pergi, kamu takut ketahuan? Kamu mengancam akan pergi jika dilakukan tes DNA, lalu berharap Zefran akan menghentikanmu dan memilih tidak melakukan tes DNA itu? Zefran, dia menggertakmu karena dia tahu kamu sangat mencintainya dan tidak ingin dia pergi. Dia berharap kamu akan memilih mempercayainya dan membatalkan tes DNA itu," tutur Frisca.
"Lakukan tes DNA!" perintah Zefran singkat.
"Aku akan pergi, apa pun hasilnya, aku akan keluar dari rumah ini," ucap Allena yang sakit hati karena suaminya meragukan kesetiaannya.
Zefran hanya diam, begitu juga dengan Ny. Mahlika. Allena menangis sambil memeluk putranya. Zefran telah memutuskan untuk melakukan tes DNA meski Allena mengancam akan meninggalkannya karena telah meragukannya.
__ADS_1
Laki-laki itu tidak tahan hidup dalam keraguan pada anak yang telah menguasai hatinya itu. Zefran pernah berharap Allena akan berkata jujur padanya dan tidak akan peduli dengan status biologis anak itu. Tapi pengakuan Allena tidak kunjung datang hingga akhirnya Frisca mengungkit kembali status anak itu.
...~ Bersambung ~...