
Allena hanya bisa mengikuti langkah Zefran tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Menoleh sekilas pada Zacko dengan wajah murung. Laki-laki itu merasa bersalah sambil terus menatap Zefran yang mengajak paksa istrinya pulang.
Sama seperti perbuatanku pada Cindy dulu, batin Zacko.
Teringat saat dirinya menyeret istrinya yang terlihat sedang makan siang berdua dengan seorang pria di cafe. Hari itu juga Zacko menyuruh istrinya berhenti bekerja. Zacko bahkan langsung memecat baby sitter mereka agar istrinya tak bisa keluar rumah lagi.
"Huufh, seperti ini rasanya dicemburui, rasanya ingin berteriak mengatakan kalau kami tidak melakukan apa-apa. Tapi apa Zefran akan percaya kalau aku berteriak?" ucap Zacko bicara sendiri seperti orang gila.
Setelah memberi tahu pada baby sitter Zifara, Zacko pun mengajak putrinya pulang. Sampai di rumah Zacko termenung, meski berusaha mengabaikan, namun ingatannya akan kejadian tadi masih terbayang-bayang.
Zacko duduk di ruang keluarga termenung menatap lurus ke depan. Ruangan di mana dulu dia dan Cindy selalu menonton tayangan televisi bersama-sama. Cindy akan rebah di dadanya sambil menikmati pop corn-nya. Kakinya naik keatas meja yang tergeletak bermacam-macam makanan ringan hingga sisa bungkus makanan ringan yang telah habis dimakannya.
Menatap meja yang kini selalu bersih tak ada apa pun di situ. Jika dulu meja itu penuh dengan bungkus makanan ringan, sekarang Zacko bahkan bisa melihat album foto yang tersusun di bawah meja kaca itu. Zacko yang sudah mulai terbiasa dengan hidup sendirinya, kini kembali merasa sepi.
Entah apa yang menggerakkan tangannya hingga akhirnya Zacko mengambil salah satu album foto di bawah meja itu. Tanpa sengaja justru mengambil album foto yang berisikan kenangan mereka saat awal-awal perkenalan.
Saat itu pertama kalinya Zacko dan Cindy dijadikan satu kelompok dalam praktek pelajaran IPA di laboratorium. Zacko yang pendiam hanya duduk di bagian paling pinggir sementara Cindy duduk disebelahnya dengan dua orang anggota kelompok lainnya di sebelah Cindy.
"Kita kebagian bedah apa?" tanya Cindy yang tak ikut memperhatikan saat vote hewan-hewan yang ingin di bedah.
"Kodok!" jawab teman kelompok yang lain.
"Haa, bukannya dapat ikan? Kemarin kamu teriak dapat ikan," jawab Cindy yang waktu itu hanya melirik sekilas karena sibuk mengerjakan tugasnya yang terbengkalai.
"Itu cewek gue yang dapat ikan, di depan sana tuh mereka," jawab teman kelompok Cindy.
"Iih, aku nggak mau dapat kodok, aku pengennya ikan," jawab Cindy.
"Sudah nasibmu dapat kelompok ini. Lagian enakkan kodok dari ikan, amis," jawab teman di sebelahnya.
"Tapi kalau kodok jijik, kalau ikan sudah biasa di bedah, kalau merpati kasihan banget, makhluk cute seperti itu masa mau dibedah," ucap Cindy menggerutu.
Zacko hanya diam tersenyum dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Tapi Cindy akhirnya pasrah, mereka memulai praktek IPA yang mempelajari sistem organ pada tubuh hewan, sistem pencernaan, pernapasan, dan reproduksi.
Zacko siap dengan lembaran kerja siswa sedangkan Cindy masih sibuk mempersiapkan diri untuk menghilangkan rasa jijiknya pada kodok itu.
"Kamu yakin kodoknya udah mati? Atau pingsan?" tanya Cindy.
"Ya, masa dari tadi di bekap dalam kaleng nggak pingsan-pingsan," jawab teman di samping sana.
__ADS_1
Cindy bersiap-siap dengan pisau bedahnya. Menggenggam kuat pisau itu sambil mengatur nafas.
"Kamu mau apa? Kayak matador nunggu banteng," ucap teman Cindy yang melihatnya begitu serius menatap ke arah kaleng yang akan segera dibuka.
"Kalau matador itu pegang kain merah kalau aku pegang pisau," jawab Cindy tanpa dipikir.
"Kalau gitu kayak pembunuh berdarah dingin," jawab teman sebelahnya.
Semua tertawa, termasuk Zacko yang dari tadi hanya diam, meski tawanya hanyalah tawa yang tertahan. Cindy tak peduli, dia tetap serius menunggu katak yang akan dikeluarkan dari kaleng. Dalam hatinya berpikir katak itu telah mati minimal pingsan. Dia hanya perlu menyiapkan diri untuk segera membedahnya.
Tutup kaleng itupun dibuka. Seekor katak langsung melompat membuat Cindy kaget. Gadis itu reflek berlindung pada Zacko yang duduk disampingnya. Cindy memeluk erat Zacko karena takut, gadis itu tak mau sedikit pun melepaskan pelukannya atau hanya sekedar menoleh. Seolah-olah jika menoleh katak itu akan kembali melayang ke arahnya.
Seisi kelas langsung riuh melihat Cindy yang memeluk Zacko erat.
"Wah ada kisah cinta monyet," teriak seorang gadis kelompok lain.
"Bukan cinta monyet, tapi cinta kodok," jawab teman satu kelompok Cindy.
"Cinta kodok … cinta kodok … cinta kodok," semua bertepuk tangan sambil mendendangkan kata-kata cinta kodok yang diulang-ulang.
Sejak itu mereka selalu di panggil cinta kodok. Entah itu memanggil Cindy ataupun memanggil Zacko. Zacko tersenyum sendiri mengingat kejadian itu lalu beralih membalik halaman foto yang lain.
Entah sudah berapa orang cowok yang telah patah hati karena ditolak cintanya. Dari mulai junior hingga senior namun saat dituduh berpacaran dengan Zacko tak ada penolakan dari gadis itu.
"Cidok, Cindy jatuh tuh. Kakinya berdarah," seru seorang teman sekelasnya.
Zacko baru saja akan melakukan jump shot ketika teman sekelasnya itu memanggil. Zacko menoleh ke arah yang ditunjuk. Terlihat di bagian lain di lapangan sekolah itu, Cindy yang duduk sambil mengamati lututnya. Zacko segera menggulirkan bola basket di tangannya pada teman sekelasnya tadi.
Laki-laki itu langsung berlari menghampiri Cindy dan duduk membelakangi gadis itu. Tapi Cindy tak kunjung naik ke punggungnya. Dia justru hanya terbengong-bengong.
"Naiklah, aku antar kamu ke UKS," ucap Zacko.
"Apa?"
"Cepatlah! Atau aku gendong depan." Mendengar itu Cindy langsung menubruk punggung laki-laki itu.
Zacko berdiri sambil mengangkat tubuh Cindy. Tubuh Zacko yang tinggi membuat remaja laki-laki itu seperti sedang menggendong anak kecil. Sepanjang jalan ke UKS siswa-siswi yang melihat mereka bertepuk tangan.
"Jangan ke UKS, langsung ke KUA saja." Lalu terdengar tawa mereka yang menyaksikan Zacko menggendong Cindy.
__ADS_1
Bermacam-macam teriakan bersahut-sahutan terdengar dari siswa-siswi yang sedang dalam mata pelajaran PJOK itu. Cindy menunduk menyembunyikan wajahnya hingga menyentuh pundak Zacko.
"Maaf ya!" ucap Zacko.
"Untuk apa?" tanya Cindy kembali menyembulkan wajahnya.
"Mereka begitu usil, jangan dengarkan mereka," jawab Zacko.
"Aku yang harusnya minta maaf, gara-gara kejadian di lab waktu itu. Mereka jadi menjodohkan kita," jawab Cindy.
"Kalau aku tidak masalah."
"Haaa."
Zacko tersenyum, memunculkan lesung pipinya. Cindy terpesona menatap senyum Zacko yang hanya bisa dilihatnya dari samping belakang. Sesampai di UKS lutut Cindy dibersihkan lukanya oleh perawat sekolah itu.
"Waktu itu kamu yang terluka sekarang ini yang terluka. Kalau bermain jangan bar bar, kalian itu bukan anak SD lagi," ucap perawat itu.
Cindy tercengang dan menoleh pada Zacko. Laki-laki itu hanya tersenyum. Memang kejadian di laboratorium itu tak hanya sekedar momen Cindy memeluk Zacko hingga meresmikan mereka sebagai pasangan cinta kodok. Tapi pisau di tangan Cindy benar-benar memakan korban.
Gadis itu sangat menyesal dan menemani Zacko ke UKS. Saat itu Cindy menyalahkan Zacko yang tidak buru-buru mendorong tubuhnya menjauh tapi justru menahan sakit dan membiarkan tangannya yang tergores pisau mengeluarkan darah cukup banyak.
Saat itu, entah kekuatan apa yang membuat Zacko berani membalas ucapan Cindy.
"Pelukanmu membuat lukaku tak terasa sakit," jawab Zacko.
"Cie … cie … cie." Terdengar suara siswi-siswi dari balik jendela.
Mereka tertawa dan berlari saat Cindy keluar ruangan UKS untuk mengejar siswi-siswi yang bersorak itu. Mereka berhenti lalu kembali menyoraki Cindy. Perawat UKS itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Semoga langgeng ya, sampai ke KUA." Lalu mereka kembali bersorak dan berlari saat Cindy berpura-pura mengejar mereka.
Sunggingan senyum terulas dibibirnya. Sejak saat itu mereka seperti telah diresmikan berpacaran. Dan sekarang giliran Cindy yang ditemani Zacko. Gadis itu berjalan tertatih saat perawat sudah membersihkan dan merawat lukanya.
"Ayo naik lagi, aku gendong kamu sampai ke kelas." Cindy ingin menolak tapi Zacko telah kembali berjongkok.
Gadis itu tak mau mengecewakan Zacko, naik kembali ke punggung remaja tampan itu. Sesampai di kelas mereka langsung disambut dengan alunan nada pernikahan. Sebagian dari mereka menyiramkan sobekan-sobekan kertas kecil di sepanjang Zacko berjalan.
Mereka tak menyangka jika ucapan siswi-siswi itu menjadi kenyataan. Cinta mereka langgeng hingga ke pernikahan.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...