Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 94 ~ Di Villa Frisca ~


__ADS_3

Zefran memasang kembali cincin pernikahan mereka di jari manis Allena. Wanita itu menerimanya dengan mata yang berkaca-kaca. Mengecup cincin di jari manisnya itu sambil memejamkan mata. Zefran kembali membuktikan ucapan Patrick bahwa apa pun yang pernah diberikan Zefran, meski itu karena terpaksa atau bahkan dibuangnya, semua itu tetap berharga bagi Allena.


Laki-laki itu terharu dan langsung mengecup bibir Allena dan memeluknya. Zefran memeluk istrinya begitu lama hingga mereka saling berbagi kehangatan. Setelah puas berpelukan mereka tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitas mereka hari ini.


Allena berencana bekerja setengah hari karena siangnya akan menjenguk Frisca yang melakukan kemoterapi pertamanya dan seperti yang telah dijanjikan mereka para sahabat bertemu di rumah sakit.


"Apa kabarnya ini pengantin baru?" tanya Allena pada Dokter Shinta yang baru datang.


Dokter cantik itu tersipu dan langsung memeluk Allena saat mereka bertemu di rumah sakit. Dan tak ayal lagi Zefano langsung jadi sasaran Dokter Shinta.


"Anak ganteng, adeknya nggak dibawa ya?" tanya Shinta.


"Nggak boleh lah Auntie Shin, 'kan masih kecil bener," jawab Zefano.


"Auntie kangen banget sama Zeno," ucap Shinta sambil memeluk anak itu dan menggoyang-goyangkan tubuh Zefano.


"Zeno mau main sama Keisya di taman?" tanya Shinta setelah itu.


"Ya, Auntie Shin," jawab Zefano.


"Hati-hati dan jangan kemana-mana ya, mainnya di taman aja," ucap Shinta sambil meminta seorang suster Hani untuk mengawasi Zefano dan Keisya.


Suster yang telah mengenal Zefano itu tentu saja dengan senang hati memenuhi permintaan Dokter Shinta.


Zefano memberi hormat, Dokter Shinta tersenyum. Zefano dan Keisya langsung berlari menuju taman rumah sakit. Tak lama kemudian Altop datang bersama seorang gadis. Allena menepuk keningnya.


"Kak, lama-lama memory-ku penuh cuma buat mengingat wajah dan nama pacar-pacar Kak Altop," ucap Allena.


"Yang lama-lama di hapus, yang ini saja yang di save," ucap Altop langsung.


"Perasaan kemarin ngomongnya juga gitu deh," balas Allena.


Zefran tertawa, dan semua yang ada di situ juga ikut tertawa, tak terkecuali pacar baru Altop. Beberapa saat kemudian Ronald pun datang dengan seorang gadis yang terlihat masih sangat muda.


"Setiap bertemu selalu bawa pacar baru. Nanti kita janji ketemuan lagi apa datang dengan yang baru lagi?" tanya Allena.


"Maklum masih proses seleksi," jawab Ronald yang langsung berpelukan dengan semua fraternity dan pasangannya.


"Seleksi melulu," ucap Shinta.


"Terbukti 'kan sayang, cuma aku yang setia," ucap Zefran pada Allena.


Valendino langsung berdehem, semua tertawa. Mereka pun berbincang sambil menunggu Frisca yang sedang menjalani kemoterapi di ruangan khusus. Frisca yang datang dengan kursi roda, sangat terkejut saat kembali ke ruang rawat inapnya karena melihat sahabat-sahabatnya yang telah berkumpul dan menunggu di ruangan itu.


Mereka berpelukan dan saling menanyakan kabar, Frisca terharu menyaksikan para sahabatnya yang benar-benar datang untuk menjenguknya. Wanita itu bahkan menitikkan air mata.


Frisca memberi nasehat pada Altop dan Ronald untuk menjalani hidup yang lebih bertanggung jawab. Pergaulan bebas dengan berganti-ganti pasangan hanya akan memberikan efek buruk di kemudian hari.


"Sebelum terlambat dan sebelum kalian bertambah tua, tetapkanlah hati kalian. Jangan sampai setua ini masih berpindah-pindah dari satu gadis ke gadis yang lain. Aku takut kalian kehabisan waktu. Saat itu terjadi kalian merasa tak bisa menemukan yang terbaik lagi karena yang terbaik itu ternyata telah berlalu dari hadapan kalian. Sementara kalian menerima efek yang tidak baik setelah itu. Aku mengatakan ini sebagai orang yang telah melaluinya, awalnya semua terasa menyenangkan. Hidup tanpa batasan seperti melampaui kodrat kita. Tapi kita tidak sadar sebenarnya kita semakin mendekati batas itu dan saat menyentuhnya kita tak bisa lagi menghindar dari hal-hal buruk yang akan menimpa hidup kita," jelas Frisca menasehati sahabat-sahabatnya.


Mendengar itu Altop dan Ronald tertunduk.


"Maafkan aku, bukan maksudku menggurui kalian. Kalian semua sudah aku anggap sebagai saudaraku. Aku sayang kalian dan tak ingin apa yang terjadi padaku terjadi pada kalian. Terutama untuk kalian para gadis yang belum kukenal ini," ucap Frisca menoleh pada dua gadis pasangan Ronald dan Altop.


Kedua gadis itu pun ikut tertunduk.


"Beruntunglah kalian-kalian yang mengagungkan cinta sejati, hanya menyerahkan diri pada satu orang yang dicintai. Aku ingin menjalani kehidupan seperti itu, kalian lakukanlah sebelum terlambat," ucap Frisca lagi.


"Jika kita bisa berjanji dan menepati untuk datang ke sini. Artinya kita juga bisa berjanji untuk hidup lebih jujur dan lebih peduli melebihi hari ini," ucap Shinta.


Mereka semua mengangguk setuju, saling memandang dan tersenyum. Rivaldo mengusap lengan istrinya begitu juga Dokter Shinta yang bersandar pada suaminya. Kedua pasangan Altop dan Ronald terlihat canggung bersikap mesra lagi. Sementara Zefran langsung merangkul istrinya.


Suasana pertemuan mereka hari ini tak hanya pernah canda tapi berbagi nasehat dan keluh kesah.


"Kita bisa lanjutkan pertemuan kita ini saat berlibur di Villa-ku nanti," ucap Frisca.


"Yey, asyik," ucap Shinta.


Semua kembali tertawa.


"Aku harap pasangan yang akan kalian bawa nanti adalah pasangan yang sejati untuk selamanya," ucap Frisca pada Altop dan Ronald.


"Siapakah orangnya?" tanya Allena.


"Masih rahasia," ucap Altop.


"Aah, ternyata masih rahasia berarti aku tak perlu save lagi yang sekarang ini," ucap Allena seolah-olah menyesali.


Zefran dan yang lain tertawa.


"Oh ya, aku pernah berjanji akan mentraktir kalian semua makan nasi goreng sederhanaku. Dalam kesempatan ini aku ingin mengumumkan grand opening pembukaan cafe dan restoran milik Frisca yang dipercayakan pengelolaannya padaku …,"


"Tidak sayang, itu milikmu …," 


"Tapi …,"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu milik kalian berdua," ucap Altop ingin mengakhiri perdebatan itu.


Semua mengangguk membenarkan.


"Semua milik bersama jika telah menjadi suami istri," sahut Shinta.


"Betul," ucap Ronald langsung.


Semua menoleh pada Ronald dan tertawa karena orang pertama yang menyetujui ucapan Shinta justru adalah orang yang belum menikah bahkan belum jelas siapa pasangannya.


"Nikah dulu! Baru boleh ngomong seperti itu," saran Altop yang merasa tahu diri.


Semua tersenyum.


"Jadi sebelum grand opening kita soft opening dulu dengan makan nasi goreng buatanku …,"


"Yey asyik kita makan nasi goreng Om Valdo lagi," teriak Zefano yang tiba-tiba muncul.


"Sudah kembali sayang?" tanya Shinta yang langsung menyambar tubuh Zefano dan menggendongnya.


"Sebenarnya ibunya Zeno ini siapa? Kok malah Shinta yang berlagak jadi ibunya," ucap Ronald.


"Nggak apa-apa Kak, selama di sini tak apa-apa Kak Shinta jadi ibunya Zeno," jawab Allena.


"Ya baiklah, anggap saja buat latihan kalau nanti dikaruniai anak,"  ucap Ronald dan semua menganggu sambil tersenyum.


"Keisya sini sayang," ajak Allena yang melihat gadis kecil yang cantik itu menggenggam tangan ayahnya.


Gadis kecil itu langsung mendekat.


"Katanya mau sering-sering ke rumah Zeno, mana? Tante tungguin kok nggak datang-datang? Adek Zara udah gede lho, udah bisa duduk tapi masih senderan," jelas Allena sambil mengajak anak itu duduk di pangkuannya.


"Beneran Tante?" tanya Keisya.


"Iya, kalau Zara bisa ngomong pasti nanya Kakak Keisya mana kok nggak kesini lagi?" ucap Allena menirukan suara anak kecil. 


Keisya tertawa, Zefran juga ikut tersenyum. Kagum pada kelembutan hati istrinya. Melihat Zefano yang langsung disambut oleh Dokter Shinta, Keisya hanya diam memandangi. Allena langsung memanggil gadis kecil itu agar anak itu juga merasa diperhatikan dan dirindukan.


"Keisya kapan mau daftar sekolah? Mau sekolah bareng Zeno?" tanya Allena.


"Mau," jawab gadis kecil yang cantik itu.


"Wah, enak bener bisa main bersama, bisa belajar bersama, nanti sering-sering nginap di rumah ya biar Zeno bisa belajar sama gadis pintar ini," ucap Allena.


"Zeno juga pintar Tante," jawab Keisya.


Gadis kecil yang cantik itu langsung mengangguk.


"Nanti kalau adek Zara mau belajar sama Kakak Keisya, Kakak Keisya mau ajarin adek Zara nggak?" tanya Allena lagi.


"Mau," jawab Keisya.


"Wah, Kakak Keisya ini, pintar, baik dan cantik ya," ucap Allena.


Anak itu kembali tersenyum dan memeluk Allena, wanita itu pun balas memeluk dan mencium pipinya. Semua diam memandang ikut terbuai mendengar percakapan mereka.


Seminggu kemudian mereka berkumpul di Villa Frisca. Setelan menjalani sesi pertama kemoterapi, Frisca akan beristirahat di Villa ditemani oleh sahabat-sahabatnya.


Villa di pinggir danau itu sangat indah dengan pemandangan pengunungan disekitarnya. Siang itu mereka berkumpul untuk makan siang bersama. Terlihat Allena yang menggendong Zifara dan berbincang-bincang bersama Zefano dan Keisya. Sementara Zefran membantu para pria lain untuk menyiapkan meja makan mereka.


Dokter Shinta dan dua orang gadis pasangan Altop dan Ronald membantu menyiapkan makan siang.


"Mama mau bantu Auntie Shin dulu ya sayang," ucap Allena pada Zefano.


"Ya Ma," ucap Zefano.


"Zeno dan Keisya jangan pergi ke mana-mana, mainnya di sini aja ya," ucap Allena yang dibalas anggukan oleh kedua anak itu.


Allena melangkah ke meja makan yang sudah mulai terhidang bermacam-macam masakan.


"Wah, sudah hampir siap, apa ada yang bisa dibantu?" tanya Allena.


"Udah Kak, biar kami yang siapkan makan siangnya. Kasihan si kecil," ucap gadis itu.


"Makanannya udah jadi kok Kak, cuma di panaskan aja," ucap gadis yang lain.


"Oh, baiklah kalau gitu," ucap Allena yang hanya berdiri sambil menggendong Zifara.


Memandangi kedua gadis itu dan Dokter Shinta yang menyiapkan makan siang untuk mereka.


Mereka pun menikmati makan siang bersama, Frisca merasa bahagia mendapat dukungan dan penghiburan dari teman-temannya. Sambil makan siang bersama mereka bercanda dengan akrabnya. 


Setelah makan siang pun mereka lanjut berbincang-bincang. Kadang Allena pamit menidurkan putrinya di kamar yang tersedia. Zefran menghampiri istrinya dan rebah di samping Allena yang menyusui bayinya.


"Kakak kenapa di sini? Bukannya ngobrol sama teman-teman Kakak," ucap Allena.

__ADS_1


"Aku lebih suka bergabung dengan dua wanita cantikku," jawab Zefran.


"Tapi ini kesempatan Kakak berkumpul dengan teman-teman," sahut Allena lagi.


"Ya, sejak menikah denganmu, aku semakin jarang berkumpul dengan teman-teman. Tapi sebenarnya aku juga tidak suka terlalu sering berkumpul hingga larut malam. Dulu, aku suka menghabiskan waktu bersama mereka untuk menghindar dari Mommy yang selalu menuntut memiliki cucu. Tapi setelah menikahimu aku jadi jarang berkumpul dengan mereka. Bahkan saat kamu di Paris aku justru bersembunyi di rumah. Tapi tidak apa-apa, memang sudah saatnya. Aku harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan Keluarga," jelas Zefran panjang lebar.


"Tapi kalau mereka cari Kakak gimana?" tanya Allena.


"Ada keperluan apa mereka mencariku? Nanti aku akan kembali ke sana tapi sekarang aku ingin bersama istriku dulu," jawab Zefran sambil mengusap rambut halus Zifara.


"Padahal kalau di rumah kita selalu bersama. Ngapain ikut datang ke sini kalau akhirnya kita kumpul sendiri sama seperti di rumah?" tanya Allena.


"Tapi memang aku suka dekat denganmu, aku lebih suka berkumpul denganmu. Kalau bisa 24 jam aku di sampingmu," balas Zefran.


"Bohong, 24 jam? Kalau di kantor apa Kakak masih ingin dekat denganku?" tanya Allena.


"Kamu nggak percaya meski di kantor aku selalu ingat kamu dan ingin cepat-cepat pulang? Paling suka kalau seharian di bawah selimut bersama kamu," ucap Zefran menggoda. 


Allena tertawa dan tawa itulah yang membuat hati Zefran tak bisa lepas lagi dari wanita itu. Karena terus menatap Allena matanya lelah dan akhirnya laki-laki itu tertidur. Begitu juga dengan Allena dan bayinya.


Di malam harinya, mereka berkumpul di ruang tengah dan duduk bersama di atas karpet tebal. Allena duduk di samping suaminya dan bersandar di sofa di mana Zifara di taruh. Mereka makan makanan ringan dan minum bermacam-macam minuman.


Altop dan Ronald memilih minuman anggur karena mereka tidak mengemudi dan ingin bersenang-senang. Namun Zefran hanya ingin minuman ringan. Mereka bermain segala macam permainan, mulai dari tebak-tebakan, ular tangga, monopoli hingga scrabble.


Tak ada yang ingin tidur lebih cepat, mereka seperti tak ingin melewatkan kesempatan untuk bermain bersama. Namun Allena memilih untuk tidur lebih cepat dari yang lainnya dan mengajak Zefano dan Keisya tidur bersama.


Tinggal Zefran yang melambaikan tangan pada orang-orang terkasihnya yang ingin tidur lebih cepat. Mereka kembali melanjutkan obrolan yang hanya menyisakan para pria, keempat fraternity ditambah dengan Rivaldo.


Beralih duduk di beranda belakang Villa agar mereka bebas berbincang tanpa mengganggu para wanita yang sedang beristirahat.


"Lalu bagaimana dengan yang ini, apa sudah pasti?" tanya Zefran pada Altop.


"Mendengar ucapan Frisca aku jadi tersentuh. Apa yang dikatakannya adalah rasa prihatinnya pada kehidupan kami yang belum jelas. Frisca berharap aku membawa pasangan yang sejati ke Villa ini, gadis itulah yang terpikirkan olehku. Aku berniat serius kali ini tapi entahlah bagaimana hasilnya," jelas Altop.


"Gimana denganmu Nald?" tanya Zefran pada Ronald.


"Sebenarnya aku trauma melihat pernikahan kalian. Saat melihatmu begitu frustasi dengan pernikahanmu, aku bertekad tidak akan menikah tapi saat melihat kalian bahagia aku merasa mungkin aku juga bisa melewatinya," tutur Ronald.


"Cerita kehidupan setiap manusia itu berbeda. Apa yang terjadi padaku belum terjadi pada kalian. Jangan karena melihat kehidupan pernikahan kami kalian jadi takut mengambil keputusan untuk menikah. Kami tidak akan memaksa jika kalian memang belum siap tapi mulai sekarang hindarilah bergonta-ganti pasangan. Itu saja saran dari kami," ucap Zefran sambil menoleh ke arah Valendino.


Laki-laki itu mengangguk setuju dengan ucapan Zefran.


"Yang pasti kita akan selalu saling dukung. Jika ada masalah jangan segan-segan untuk bicara. Sebuah pembelajaran bagi kita, menyimpan rahasia justru membuat persahabatan kita jadi retak," ucap Valendino.


"Ya betul, jika aku mengundang kalian saat pernikahanku dengan Allena, mungkin aku dan Valen tidak akan bersaing lagi bukan? Meski aku tahu Valen menyukai Allena tapi aku tetap merahasiakannya. Keadaan justru semakin rumit. Aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu tapi anggap ini sebagai pembelajaran bagi kita. Sikap terbuka lebih memudahkan hidup kita," tutur Zefran.


"Aku orang baru di sini, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi tapi aku dengar kalian telah bersahabat sejak lama. Jadi demi persahabatan di masa yang akan datang sebaiknya ikhlaskan kejadian masa lalu. Bukan melupakannya karena mungkin tak akan bisa dilupakan tapi jadikan hikmah demi terjaganya persahabatan di masa yang akan datang," tutur Rivaldo.


Zefran dan Valendino mengangguk. Zefran menepuk sebelah kiri lengan Rivaldo, Valendino ikut menepuk lengan sebelah kanan Rivaldo. Rivaldo menoleh ke kiri dan ke kanan lalu mereka tertawa bersama.


"Bagaimana kalau bersulang dulu, kita cari minuman yang paling mahal di sini. Tunggu sebentar ya!" seru Altop.


Laki-laki itu langsung melangkah menuju mini bar dan memilih minuman yang berjejer tersusun rapi di rak kaca itu. Setelah memperhatikan dari atas hingga bawah, akhirnya laki-laki itu memilih satu satu minuman dan kembali ke beranda belakang.


"Bagaimana kalau ini?" tanya Altop meminta pendapat tentang minuman yang dipilihnya pada para sahabat.


"Apa saja Top, kami ikut pilihanmu," ucap Zefran.


"Baiklah! Aku ambil gelas dulu ya," ucap Altop.


"Aku bantu!" seru Ronald yang langsung berdiri mengikuti langkah Altop.


"Mereka yang masih tetap eksis di Night Club," ucap Valendino.


"Kalau Altop itu wajar, karena Night Club itu memang miliknya. Kalau kita, lebih baik kita sesekali berkumpul seperti ini. Tetapkan tempat berkumpul secara bergantian, itu lebih baik dari pada berkumpul di Night Club," usul Zefran


"Betul juga, kalau kita berkumpul di rumah seperti ini kita bisa membawa istri dan anak hingga mereka pun bisa menjadi lebih akrab, bagaimana Valdo?" tanya Valendino.


"Kalau aku setuju saja, itu usul yang bagus. Tapi aku bukan anggota apa pendapatku diperlukan juga?" tanya Rivaldo.


"Untuk itu kita bersulang, untuk fraternity baru kita," sela Altop yang membawa beberapa gelas dibantu oleh Ronald.


"Dengarkan kata-kata raja pesta itu. Aku rasa dia orang terbanyak yang mengajak orang bersulang," ucap Zefran sambil tersenyum.


Semua tertawa. Altop mengisi lima gelas itu dengan minuman yang baru di bukanya. Menyerahkan satu per satu pada sahabat-sahabatnya termasuk Rivaldo.


"Untuk the new fraternity kita, Rivaldo dan untuk sukses selamanya ," ucap Altop sambil mengangkat gelas berisi minuman di tangannya.


Zefran, Ronald, Valendino dan Rivaldo mengikuti.


"Fraternity forever!" seru Altop


"Fraternity forever!" seru serentak Zefran, Valendino, Ronald dan Rivaldo yang telah mengangkat gelasnya lalu meneguk minuman mahal itu bersamaan.


Kemudian mereka tertawa bersama, Altop kembali duduk di hadapan teman-temannya dan kembali menuangkan minuman mahal itu.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


 


__ADS_2