Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 29 ~ Di Rumah Sakit ~


__ADS_3

Frisca mengajak Zefran pulang namun laki-laki itu menolak. Ucapan Zefran pun membuat Frisca marah dan memutuskan untuk berpisah. Tentu saja Zefran menolaknya. Bagi Zefran, Frisca tetap istri yang dicintainya.


Allena keluar dari ruangannya karena mendengar pertengkaran Zefran dan Frisca. Gadis itu ingin Zefran mengikuti keinginan istrinya untuk pulang bersamanya. Allena tidak ingin menjadi orang yang menyebabkan pertengkaran suami istri itu.


"Lihatlah, kamu tidak bolehk sedetik pun bersamaku hingga keluar meski sedang sakit untuk memanggilmu. Sekarang terserah padamu pilih aku atau dia," ucap Frisca melihat ke arah pintu kamar rawat inap Allena.


Zefran menoleh dan melihat Allena yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil memegang tiang infus. Zefran tidak tega meninggalkan Allena seorang diri tapi juga takut dengan ancaman Frisca yang akan pulang ke rumah orang tuanya jika Zefran tidak ikut pulang bersamanya.


Allena melihat Zefran yang bimbang. Gadis itu tersenyum dan berseru.


"Kakak pulang saja, istirahatlah di rumah. Sebentar lagi aku akan tidur. Untuk apa juga kakak di sini?" ucap Allena sambil tersenyum.


Mendengar itu Zefran menghampiri Allena dan memeluknya, membelai rambut gadis itu dan mengecup pipinya.


"Besok aku ke sini lagi, tidur yang nyenyak ya. Istirahat yang cukup agar kamu bisa segera sembuh, mengerti?" ucap Zefran sambil menangkup wajah Allena.


Zefran mengecup bibir gadis itu, Frisca memalingkan wajah saat melihat adegan itu. Rasa kesal kembali menyelimuti hati wanita itu, dia tak sabar mengajak Zefran untuk pergi. Allena mengangguk dan membiarkan Zefran pulang. Frisca menarik tangan Zefran dan mengajaknya pulang. Sesekali laki-laki itu menoleh ke belakang. Allena masih berdiri di sana dengan senyumnya yang manis sambil melambaikan tangan.


Memiringkan kepalanya seperti yang pernah Zefran lakukan. Laki-laki itu tertawa, melihat tingkah gadis cantik itu. Wajahnya yang tadi murung saat bergandengan tangan dengan Frisca telah hilang berganti senyuman.


Frisca menelpon Ny. Mahlika meminta agar mertuanya itu pulang lebih dulu karena dirinya akan pulang bersama suaminya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Frisca membuka suara.


"Kamu mencintainya bukan? Kamu telah jatuh cinta pada Allena, benar bukan?" ucap Frisca.


Zefran hanya diam menyibukkan diri mengemudikan mobilnya.


"KAMU SUDAH JATUH CINTA PADANYA BUKAN?" teriak Frisca.


Mengagetkan Zefran namun laki-laki itu tetap diam.


"Bukankah kamu janji tidak akan mencintai wanita lain selain aku? Bukankah kamu janji tidak akan mengkhianatiku? Kenapa kamu lakukan, pertama kali kamu menidurinya karena ramuan dan sekarang apa alasanmu? Kamu benar-benar menginginkan dia bukan? Kamu benar-benar ingin dia menjadi istrimu bukan? Kamu mencintainya bukan?" tanya Frisca bertubi-tubi.


Mendapat pertanyaan seperti itu akhirnya Zefran terusik, laki-laki itu akhirnya menjawab pertanyaan Frisca dengan kesal.


"Ya, ya, ya, semua yang kamu katakan itu iya. Aku ingkar janji, aku mengkhianatimu. Aku menidurinya karena ramuan juga karena keinginanku sendiri. Aku ingin dia menjadi istriku, aku mencintainya. Ya! Aku mencintainya," ucap Zefran dengan suara yang keras. Merasa kesal karena terus didesak.


Mendengar itu Frisca terdiam, Zefran menghentikan mobilnya dan turun. Dadanya turun naik karena nafasnya yang tersengal. Udara di dalam mobil terasa menghilang tiba-tiba. Laki-laki itu keluar dari mobilnya. Sementara Frisca menangis di dalam mobil.


"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu Frisca. Tapi aku juga tidak bisa mengendalikan hatiku untuk tidak jatuh cinta padanya. Aku mencoba mengelak dari perasaanku tapi semakin menghindar aku semakin menginginkannya," ungkap Zefran.


Terdengar suara tangis Frisca semakin menjadi di dalam mobil. Wanita itu hingga menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya pun berguncang.


"Karena itu aku menolak untuk menikah lagi. Aku takut ini akan terjadi. Tidak ada orang yang bisa mengendalikan hatinya. Jika rasa itu datang maka tidak ada yang bisa menghalangi. Tapi mencintainya bukan berarti cintaku berkurang padamu," tutur Zefran.


Laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan memeluk istrinya.


"Percayalah, aku telah mencoba untuk menolak perasaanku sendiri. Sekuat tenaga menghindar dari perasaanku. Tapi semakin ingin menjauh aku semakin ingin mengejarnya. Aku mohon sayang, satu-satunya cara agar kita tetap bahagia bersama adalah menerima kenyataan ini. Menjalaninya bersama dengan hati yang terbuka. Kamu tidak perlu merasa iri padanya, kamu tetap sangat berarti bagiku," bujuk Zefran.


Laki-laki itu memeluk erat istri tercintanya, Frisca mengangkat wajah menatap suaminya.


"Berjanjilah Zefran, cintamu padaku tidak akan berkurang. Apa pun yang aku lakukan kamu akan selalu mendukungku. Aku tidak ingin ditinggal sendiri. Jangan menyingkirkan aku. Aku tidak ingin merasa tersisihkan," pinta Frisca.


"Tentu sayang, tidak ada yang akan menyingkirkan kamu. Bahkan Allena sangat menghargaimu. Dia selalu menimbang perasaanmu. Dia sadar kamu yang paling berhak atas diriku," ujar Zefran.


Frisca mengangguk, Zefran mencium puncak rambut wanita yang dicintainya itu. Melihat hati Frisca yang telah tenang, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pulang. Sejak itu Zefran terus memanjakan istrinya. Membuat wanita itu merasa nyaman, bahagia dan kembali merasa dicintai.


Zefran bahkan membiarkan Frisca mengambil kendali dalam sesi bercinta mereka setelah Frisca memohon pada Ny. Mahlika untuk memberikan ramuan yang pernah dimintanya dulu. Frisca bahagia, dia melupakan kekecewaannya pada Zefran.


Melupakan rasa kesalnya pada Allena dan hanya ingin menikmati sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya bersama Zefran. Hasrat menggebu dari suaminya itu tak mampu ditandinginya hingga akhirnya membuat Frisca tertidur karena kelelahan.


Frisca tertidur lelap namun Zefran tak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Pikirannya masih terus melayang pada istri mudanya.


Dan kini Zefran telah berada di parkir basement rumah sakit dan segera berlari di lorong yang telah sepi itu. Ke kanan ke kiri, ruang rawat demi ruang inap di lewatinya Hingga akhirnya sampai di ruang rawat inap di mana wanita yang dirindukannya itu menjalani perawatan.


Zefran mendorong pelan pintu yang tak terkunci itu. Terkejut menatap ranjang rumah sakit yang telah kosong. Zefran mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tersenyum. Allena sedang berdiri di depan jendela memandang langit malam.


"Kenapa belum tidur sayang?" tanya Zefran sambil memeluk gadis itu dari belakang.


"Kak, kenapa kesini lagi. Bukannya besok kakak ke sini?" tanya Allena.


"Aku tak sabar menunggu besok untuk melihatmu. Kamu sendiri kenapa masih belum tidur? Bukannya tadi aku menyuruhmu tidur yang nyenyak. Istirahat yang cukup agar kamu bisa cepat sembuh? Kamu tidak mau patuh pada suamimu?" ujar Zefran.


Allena tertawa lalu menoleh ke arah Zefran yang menempelkan dagunya di bahu Allena.

__ADS_1


"Aku patuh pada suamiku, aku mencoba untuk tidur tapi sepertinya tadi aku tidur terlalu lama hingga sekarang sama sekali tidak mengantuk," jawab gadis itu.


"Aku tiduri apa bisa membuatmu tidur," bisik Zefran.


"Apa?" tanya Allena kurang yakin dengan ucapan Zefran.


Laki-laki itu langsung mengulum bibir Allena, pengaruh ramuan tadi membuatnya ingin melakukannya lagi. Frisca telah dibuatnya tidur dan sekarang giliran istri mudanya yang masih sulit untuk tidur.


Mengunci pintu ruang rawat inap itu dan menggeser tirainya. Zefran segera membawa istrinya ke ranjang rumah sakit itu. Melepas kancing baju pasien itu sambil terus membenamkan bibirnya. Allena hingga terengah-engah menikmati permainan cinta Zefran.


"Aku mencintaimu Allena, aku tak bisa tidur memikirkanmu," bisik Zefran.


"Maafkan aku Kak, aku bohong," ucap Allena.


"Apa?" tanya laki-laki itu terkejut dan langsung menatap wanita yang masih berada di bawahnya itu.


"Aku bilang tidak bisa tidur karena kebanyakan tidur di siang hari. Itu aku bohong, aku tidak bisa tidur karena merindukanmu," ucap Allena polos.


Zefran tertawa, langsung membenamkan bibirnya dan memainkan lidahnya dalam rongga mulut gadis itu.


"Aah… sakit!" teriak Allena yang merasakan lidahnya digigit.


"Itu hukuman untukmu karena membuat aku terkejut," ucap Zefran sambil menciumi leher Allena.


Allena tersenyum.


"Kak, berapa lama boleh mengunci pintu? Kalau dokter ingin periksa bagaimana?" tanya Allena.


"Tidak ada kunjungan dokter tengah malam sayang. Malam saatnya pasien istirahat, dokter dan perawatnya pun juga istirahat bergantian kalau mereka jaga malam" jelas Zefran.


"Oh, aku takut, rasanya aneh berbuat di sini. Kamar ini sering keluar masuk perawat. Aku jadi takut kalau tiba-tiba ada perawat yang ingin masuk," ucap Allena.


"Kita ajak gabung saja," ucap Zefran sambil tersenyum.


"Apa? Masih belum puas dengan dua istri?" tanya Allena pura-pura merajuk.


"Aku puas bersamamu. Aku tidak butuh yang lain lagi," bisik Zefran.


Allena tersenyum manis, Zefran langsung mencium bibir yang manis itu. Kembali memainkan lidahnya. Tak lama kemudian terdengar desah keduanya. Zefran mempercepat ritme permainannya hingga akhirnya laki-laki itu mengucapkan nama wanita yang dicintainya itu.


Zefran berbaring di samping Allena sambil mengatur nafas.


"Tidurlah sayang, besok menjelang pagi aku akan pulang!" ujar laki-laki itu, terdengar nafasnya yang masih terengah-engah.


Zefran berbaring miring menghadap wanita yang dicintainya itu. Allena juga ikut berbaring menghadap suaminya dan tersenyum. Zefran mencium bibir istrinya. Hal yang selalu ingin dilakukannya setiap kali menatap bibir yang tersenyum manis itu. Zefran menarik tubuh Allena ke dalam pelukannya.


"Besok, jika tidak ada jadwal penting aku akan ke sini lagi. Kamu harus patuh pada anjuran dokter, makan dan minum obat yang teratur agar cepat sembuh, mengerti?" pesan Zefran.


"Baik dokter sayang," balas Allena.


"Jangan katakan itu pada dokter yang asli besok," ucap Zefran sambil mencubit hidung Allena.


"Khusus untuk nasehat dari dokter Zefran saja," ucap Allena setelah menggelengkan kepala.


Zefran tertawa kembali mengecup puncak rambut istrinya.


Aku bahagia Allena, aku bahagia ditakdirkan menikah denganmu, bisik hati Zefran.


Seperti yang diucapkan Zefran, sebelum pagi menjelang laki-laki itu telah bergegas meninggalkan ruang rawat inap Allena. Setelah bolak balik memberi nasehat pada wanita itu. Zefran berharap hari ini tidak sibuk dengan tugas kantornya. Hingga laki-laki itu bisa kembali mengunjungi istrinya yang sedang butuh perhatian dan dukungannya itu.


Sepeninggal Zefran, Allena memang mengikuti saran suaminya. Makan dan minum obat sesuai dengan aturan. Sarapan meski masih terasa mual namun gadis itu mencoba tetap menelan sarapannya.


Tenang ya sayang, mama lagi makan nak. Mama ingin cepat sembuh, bisik hati Allena sambil mengusap perutnya.


Gadis itu meminum obat anti mual satu jam sebelum makan. Selain itu Allena juga meminum suplemen dan vitamin. Allena sangat ingin cepat keluar dari rumah sakit itu. Hingga betul-betul mengikuti arahan dokter.


Intensitas rasa mualnya pun jauh berkurang, semua itu karena ketekunannya mengikuti anjuran dokter demi keinginannya untuk segera kembali ke rumah.


Di sini rasanya sepi, seperti hidup terpisah dari keluarga dan suami. Aku harus cepat sembuh. Saat Dokter memeriksaku nanti kondisiku harus lebih sehat, tekad Allena.


Baik saat kunjungan pagi atau pun siang, dokter menyatakan kondisi Allena sudah jauh membaik. Wanita itu pun tidak lagi di infus. Cairan infus kristaloid yang mengandung air, elektrolit, dan glukosa yang digunakan dokter untuk mengatasi kondisi dehidrasi Allena, siang ini sudah tidak digunakan lagi.


Sebelum makan siang tak lupa meminum obat anti mual. Dengan semangat melahap hidangan rumah sakit yang tersedia di overbed table. Tekadnya untuk sembuh agar segera diizinkan pulang membuat gadis itu semakin merasa kesepian.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk, Allena segera menoleh ke arah pintu. Seseorang membawa buket bunga besar, begitu besarnya hingga menutupi wajah orang yang membawanya. Tamu itu berjalan perlahan dan tiba-tiba melongok dari balik buket bunga. Tersenyum pada Allena yang duduk di atas ranjang rumah sakit itu.


"Kak Valen?" sapa Allena.


Valendino langsung menyerahkan buket bunga besar itu pada Allena.


"Apa kabar pasien tercantik di dunia?" tanya Valendino.


Allena tertawa, mendengar ucapan Valendino yang terasa begitu berlebihan baginya.


"Tidak mungkin tercantik di dunia, itu terlalu berlebihan," protes Allena.


"Siapa bilang berlebihan? Di sepanjang jalan aku bertemu dengan banyak pasien. Aku tidak melihat ada yang lebih cantik darimu," ucap Valendino lagi.


"Tapi pasti ada pasien di dunia ini yang lebih cantik dariku," sahut Allena.


"Adakah?" tanya Valendino tidak percaya.


Allena mengangguk.


"Aku tidak percaya karena aku tidak melihatnya. Satu-satunya pasien tercantik yang aku lihat cuma di sini, di depan mataku ini," ucap Valendino.


Allena tertunduk sipu.


"Bagaimana kakak bisa tahu aku ada di sini?" tanya Allena.


Dia tidak tahu kalau aku yang membawanya ke rumah sakit. Zefran juga tidak memberitahunya, batin Valendino.


"Zefran," jawab Valendino.


"Benarkah?" tanya Allena tidak percaya.


Valendino hanya diam, dia tidak ingin menambah kebohongannya.


Apa benar Kak Zefran yang memberitahunya. Bukannya Kak Zefran tidak suka jika kami bertemu? Kenapa justru Kak Zefran yang memberitahu Kak Valen? bisik hati Allena yang bertanya-tanya.


Allena pun hanya diam, dia juga tak mungkin menanyakan hal itu.


"Sudah baikan? Apa sudah boleh pulang?" tanya Valendino yang ikut duduk di atas ranjang rumah sakit itu.


"Jika sampai nanti malam kondisiku masih tetap membaik, besok siang aku sudah boleh pulang," jelas Allena.


"Syukurlah!" ucap Valendino.


Laki-laki itu mengambil buket bunga di tangan Allena dan meletakkannya di atas nakas.


"Kamu suka bunganya? Tapi itu bukan bunga liar. Mawar putih seperti yang biasa aku beli di tokomu," jelas Valendino.


"Tentu suka, ini buket bunga mawar pertama yang aku terima," ucap Allena berbinar-binar.


"Zefran tidak pernah memberimu buket bunga?" tanya Valendino.


Allena tercenung, tidak perlu mengingat-ingat karena jelas Zefran tidak pernah memberinya buket bunga sekali pun. Namun Allena berkilah bahwa Zefran tentu saja pernah memberi sebuah buket bunga untuknya.


Walau itu hanya sebuah boutonnieres yang dilemparkan Zefran padanya sesaat setelah akad nikah. Rangkaian bunga yang terselip di saku jas hitamnya itu dilempar Zefran tepat dihadapannya lalu pergi meninggalkan acara akad nikah mereka. Dada Allena kembali terasa perih saat mengingat kejadian itu. Saat itu Zefran begitu membencinya, jika mengingat itu mata Allena akan berkaca-kaca.


Tapi sudahlah jangan diingat lagi, Kak Zefran telah berubah, dia sangat mencintaiku sekarang, jerit hati Allena.


Valendino mengagetkan Allena yang tiba-tiba melamun. Gadis itu langsung tersenyum, Valendino tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Namun, selama mengunjungi Allena, laki-laki itu selalu menghiburnya.


Allena pun merasa terhibur, rasa sepinya sedikit terlupakan. Saat ingin pulang Valendino memberi banyak nasehat padanya. Allena mengangguk menyatakan patuh pada nasehat Valendino.


Tapi melangkah sedikit laki-laki itu kembali lagi memberi nasehat yang lain. Allena pun mengangguk lagi. Bolak balik memberi nasehat pada gadis itu bahkan saat berjalan hingga ke di depan pintu. Allena tertawa lalu mendorong laki-laki yang sejak tadi pamit pulang namun tak kunjung pergi itu. Tiba-tiba Valendino membalik badan dan langsung mengecup bibir Allena. Gadis itu tercenung.


"Baiklah sekarang aku pulang, semoga lekas sembuh ya sayang!" ucap Valendino dan langsung pergi sambil tersenyum.


Tinggal Allena yang termenung, gadis itu merasa berdosa pada pernikahannya karena membiarkan laki-laki itu mengecupnya. Allena berjalan dan berdiri di depan jendela. Merasa syok dengan sikap Valendino yang masih saja terlihat mengharapkannya. Allena kembali dikagetkan dengan tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mencium pipinya.


"Kak Valen apa lagi … "


"Valen? Apa dia kesini? Apa dia melakukan ini padamu?" tanya Zefran dengan raut wajah yang marah.


Allena kaget namun lebih terperangah saat mengetahui yang memeluknya dari belakang bukan Valendino tapi suaminya sendiri.

__ADS_1


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2