
Menjelang tidur Zefran memeriksa surat-surat yang menumpuk di meja kerjanya. Laki-laki itu memeriksa satu per satu sambil duduk di tepian meja. Hingga sebuah surat membuatnya begitu penasaran. Karena surat itu ternyata ditujukan untuk istrinya.
Rasa penasaran yang tak bisa ditahan membuat Zefran ingin membaca surat itu. Perlahan laki-laki itu membuka surat yang membuatnya begitu penasaran dan terkejut saat membaca baris pertama dalam surat itu.
Kepada Sayangku, Allena
Zefran tak sanggup melanjutkannya lagi, cukup membaca satu baris itu saja kepala Zefran sudah langsung berdenyut. Zefran merasa malam ini tak akan bisa tidur dengan nyenyak. Dan benar saja, sekejap pun Zefran tak bisa memejamkan matanya.
Siapa lagi ini? Siapa laki-laki itu? Apa hubungannya dengan Allena? Kenapa begitu banyak Allena berhubungan dengan laki-laki? Apa yang harus kulakukan? Langsung bertanya padanya? Atau menunggu dan membiarkan dia bicara sendiri? Apa yang akan kulakukan pada surat ini? Apa yang harus aku katakan? Maaf aku telah membacanya? Bagaimana cara bertanya pada Allena tanpa membuatnya depresi? Bagaimana agar tidak terkesan seperti menuduhnya berselingkuh? Bagaimana kalau akhirnya aku yang emosi. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Aku harus tenang, aku harus tenang, sebaiknya aku tidur, batin Zefran.
Laki-laki itu kembali mencoba untuk memejamkan matanya. Berkali-kali mencoba namun akhirnya tetap tak bisa. Laki-laki itu membalik badan ke arah istrinya. Menatap Allena yang lelap dengan damai.
Tidurmu nyaman seperti tidak terjadi apa-apa? Tapi sekarang aku yang merasakan bebannya. Allena, siapa lagi yang menginginkanmu? Jangan hiraukan mereka ya sayang. Kamu hanya milikku, batin Zefran.
Laki-laki itu kembali membalik badan membelakangi Allena.
"Kak."
Zefran langsung menoleh mendengar Allena bersuara.
"Kakak nggak bisa tidur?" tanya wanita itu.
Zefran hanya bisa mengangguk. Allena menggeser tubuhnya dan memeluk suaminya. Zefran akhirnya membalik badan dan membalas pelukan Allena. Wanita itu mengusap punggung suaminya seperti sedang menidurkan anak kecil. Zefran tersenyum.
"Kenapa susah tidur?" tanya Allena dengan matanya yang masih terpejam.
"Banyak pikiran," ucap Zefran.
"Hmm, kalau banyak kenapa tidak dibagi-bagi?" tanya Allena yang masih memejamkan matanya.
Zefran kembali tersenyum bahkan hampir tertawa.
"Kamu ini mengigau atau bagaimana? Kalau masih mengantuk tidur saja," bisik Zefran.
"Tapi Kakak gerak-gerak terus, aku jadi terbangun," ucap Allena pelan.
"Maaf ya sayang, kalau begitu aku pindah ke kamar lain atau di walk in closet," ucap Zefran.
Allena menggeleng pelan.
"Jangan ambil singgasanaku,"
"Apa?" tanya Zefran kaget namun kemudian tersenyum.
"Sofa di walk in closet itu milikku tidak ada yang boleh tidur di situ," ucap Allena.
"Kamu sebenarnya lagi tidur atau nggak sih?" tanya Zefran.
"Otakku sudah bangun tapi mataku masih berat," ucap Allena.
Wanita itu akhirnya membuka matanya. Lalu duduk sambil mengusap dada Zefran.
"Kenapa Kakak tidak bisa tidur? Ada masalah apa?" tanya Allena.
Zefran mengangguk ragu-ragu.
"Apa itu? Urusan pekerjaan?" tanya Allena.
Zefran menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa aku bisa bantu?" tanya Allena.
Zefran akhirnya duduk lalu menoleh ke arah Allena.
"Aku berbuat kesalahan," ucap Zefran. Allena kaget.
"Kesalahan apa?" tanya Allena semakin penasaran.
Zefran menunduk, Allena menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
"Maafkan aku ya?" ucap laki-laki itu lagi. Allena makin penasaran.
"Kesalahan apa? Ayo bilang? Apa Kakak selingkuh?" tanya Allena.
"Haa, ya nggak lah sayang!" seru Zefran.
"Terus apa dong?" tanya Allena.
Zefran bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah meja bundar di mana laki-laki itu menaruh surat untuk Allena.
"Aku tidak sengaja membaca surat untukmu," ucap Zefran sambil menunduk dengan surat Allena di genggamnya.
__ADS_1
"Surat? Untukku? Dari siapa?" tanya Allena bertubi-tubi.
Wanita itu langsung menghampiri Zefran dan mengambil surat yang diulurkan laki-laki itu. Allena mulai membuka dan membacanya. Zefran hanya diam menatap ekspresi istrinya.
"Radian Putra?" tanya Allena lalu berpikir sendiri.
"Oh, rupanya Kak Radian? Di New York? Apa? Mau ke sini? Mau balik ke Indonesia?" tanya Allena sendiri sambil terus membaca surat itu tanpa pedulikan suaminya.
Zefran terus menatap Allena, berharap wanita itu akan memberi penjelasan terhadap isi surat itu padanya. Namun, Allena tak kunjung menoleh ke arahnya membuat laki-laki itu penasaran. Setelah Allena selesai membaca surat itu barulah Zefran bisa berharap wanita itu akan memberinya penjelasan.
Allena menatap Zefran dengan mata yang menyipit seperti sedang menyelidik.
"Tidak sengaja membaca suratku?" tanya Allena.
Zefran hanya menunduk.
"Itu ditaruhnya di atas meja kerjaku, salah sendiri kenapa ditaruh di situ. Aku pikir surat untukku," jawab Zefran mengelak.
"Tidak sengaja baca sampai bagian mana?" tanya Allena lagi.
"Sampai habis," ucap Zefran sambil menahan senyum sendiri.
"Makanya tak bisa tidur karena baca surat ini, ya 'kan!" seru Allena.
Zefran mengangguk.
"Makanya jangan baca surat orang," sambung Allena.
"Hey, kita ini suami istri, harusnya tak ada rahasia. Ingat kan, ucapanku waktu itu? Tidak ada barang pribadi, punyaku adalah milikmu, punyamu adalah milikku. Lalu sekarang, kenapa kamu melarangku membaca suratmu?" tanya Zefran.
"Siapa yang melarang membaca suratku?" tanya Allena.
"Barusan, kamu bilang, 'makanya jangan baca surat orang'. Itu katamu," ucap Zefran gusar, mengulang ucapan Allena.
"Aku bilang jangan baca surat orang, kalau baca surat istri nggak apa-apa," ucap Allena sambil menahan senyum.
Zefran menjambak rambutnya sendiri lalu memandang ke arah Allena. Wanita itu hanya senyum-senyum memandangnya sambil menggigit-gigit bibirnya.
Melihat itu Zefran langsung menyeruduk istrinya hingga jatuh ke ranjang. Allena menjerit, Zefran langsung menyumpal bibir wanita cantik itu dengan bibirnya. Zefran membenamkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu sedalam-dalamnya. Begitu bernafsunya hingga membuat Allena sulit bernafas bernafas.
Zefran beralih ke leher Allena dan itu membuat wanita cantik itu merasa geli. Melihat itu Zefran tak kuasa menahan hasratnya. Laki-laki itu akhirnya melepas hasratnya dengan penuh nafsu. Yang terdengar bukan lagi sekedar desah mereka. Allena bahkan menjerit namun setelah itu mereka tertawa.
Zefran dan Allena kelelahan, laki-laki itu memeluk istrinya lalu mengecup kening wanita itu. Zefran tertidur sambil memeluk tubuh polos Allena dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Allena tahu, masih ada rasa penasaran dalam diri suaminya tentang surat itu. Namun Allena berhasil mengalihkan pikiran Zefran hingga membuat laki-laki itu akhirnya kelelahan dan tertidur.
Keesokan harinya, Zefran bersiap-siap berangkat ke kantor. Sementara laki-laki itu membersihkan diri, Allena menyiapkan setelan yang akan dikenakan suaminya. Memilih setelan jas, dasi, kaos kaki, sepatu yang akan dikenakan suaminya.
Allena masih bingung memilih jam tangan yang akan dipakai suaminya. Mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri lalu memutuskan mengambil sebuah jam tangan kinetic berwarna biru tua.
Allena kaget tiba-tiba dipeluk Zefran dari belakang. Kemudian tersenyum dan menunjuk jam tangan yang dipilihnya, Zefran mengangguk.
"Aku akan pakai semua yang disiapkan istriku karena aku percaya semua pilihanmu adalah yang paling tepat," jawab Zefran.
Allena menatap laki-laki yang hanya mengenakan kimono handuk itu. Lalu mendekat dan menyatukan bibir mereka. Allena tersentuh oleh ucapan suaminya dan itu membuat Allena tak bisa menahan dirinya. Wanita itu menarik tali pengikat kimono itu dan mendorong kimono itu jatuh ke lantai.
Membuat Zefran berdiri tanpa mengenakan apa pun. Tubuh atletis laki-laki itu terpampang jelas. Diperlakukan seperti itu Zefran tidak tinggal diam, laki-laki itu membalas perlakuan istrinya. Satu persatu melepaskan apa yang melekat di tubuh wanita cantik itu.
"Aku pinjam singgasanamu yang sayang," ucap Zefran sambil mendorong istrinya pelan dan rebah di sofa dalam walk in closet itu.
Kembali mereka mengulang apa yang mereka rasakan tadi malam. Sekilas terbayang saat Zefran jatuh menimpa tubuh Allena di sofa itu. Namun, sekarang dengan perasaan yang berbeda. Tak ada rasa benci, terpaksa atau rasa marah, yang ada hanya perasaan cinta yang tak bisa tertahankan. Zefran kembali berusaha memuaskan diri mereka.
"Maaf ya Kak, aku sudah mengganggu kesibukan Kakak," ucap Allena setengah berbisik.
Saat mereka masih mengatur nafas, Zefran tertawa tanpa suara. Harusnya Zefran telah bersiap untuk berangkat kerja. Namun Allena justru menggodanya.
"Allena, bagiku tidak ada yang lebih penting daripada kamu. Aku bisa melepaskan semuanya demi kamu. Aku justru takut, aku tidak bisa memuaskanmu. Aku justru takut kamu menginginkan yang lain, sesuatu yang tidak aku miliki," ucap Zefran.
"Yang tidak Kakak miliki cuma satu, kesabaran. Kakak terlalu cepat menilai sesuatu. Sayangnya penilaian Kakak selalu buruk padaku. Seakan-akan aku selalu mengkhianatimu. Kapan Kakak bisa mempercayaiku hingga Kakak bisa bebas dari prasangka buruk pada orang-orang disekitarku?" tanya Allena sambil menghembuskan nafas panjang.
"Maafkan aku Allena," ucap Zefran lalu memejamkan matanya.
"Kakak sekarang pasti sedang curiga padaku 'kan? Pasti penasaran dengan pengirim surat itu bukan? Hingga Kakak tidak bisa tidur semalam," ucap Allena.
Zefran mengangguk.
"Kakak takut tidak bisa memuaskanku? Ya, ini yang tidak memuaskanku, semua rela Kakak lepaskan demi aku. Semua bisa Kakak berikan untukku, tak ada yang lebih penting dariku tapi satu hal yang penting justru tak bisa Kakak berikan padaku," ucap Allena.
Allena duduk dengan wajah sedih, Zefran ikut duduk disamping wanita itu.
"Rasa percaya, Kakak tidak bisa mempercayaiku. Entah apa kesalahanku, entah apa dosaku, entah pengkhianat apa yang aku lakukan hingga Kakak tak bisa percaya padaku," ucap Allena akhirnya dengan air mata yang mengalir.
__ADS_1
Zefran langsung memeluk wanita yang dicintainya itu. Mencium pangkal leher istri yang sangat disayanginya itu.
"Aku janji Allena, beri aku waktu. Aku berusaha untuk memenuhi semua keinginanmu. Aku akan belajar untuk mempercayaimu. Rasa takut kehilanganmu yang membuat aku seperti ini. Aku telah kehilanganmu sekali, bukan karena pengkhianatmu tapi karena kesalahanku sendiri yang tidak mempercayaimu. Aku takut kehilangan kamu lagi Allena," tutur Zefran.
"Kakak kehilangan aku karena Kakak tidak percaya padaku, menuduh aku berselingkuh dengan Kak Valen. Tapi Kakak tidak mau merubah itu. Jika seperti ini terus suatu saat datang tuduhan lagi padaku, lalu kita akan berpisah lagi," ucap Allena.
"Tidak! Tidak! Tidak! Tolong Allena! Jangan katakan itu, aku takut mendengarnya. Tidak sayang, aku akan berubah, aku janji aku akan berubah. Aku akan mempercayaimu. Sepenuh hati aku akan mempercayaimu," ucap Zefran lalu memeluk tubuh polos itu erat-erat.
Zefran memejamkan mata sambil memeluk istrinya.
Aku tidak mau kehilanganmu Allena, jika bisa aku ingin seperti ini saja. Memelukmu erat, memelukmu selamanya, batin Zefran.
Memeluk Allena begitu lama, membuat nafas Allena terasa sesak.
"Kak, Kakak tidak jadi ke kantor?" tanya Allena.
Zefran menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau ke kantor, aku hanya ingin memelukmu, aku tidak mau kehilanganmu," ucap Zefran yang membuat Allena tertawa.
Zefran seperti anak kecil yang tak ingin dijauhkan dari mainannya. Memeluk Allena seperti mainan yang harus selalu dipeluknya.
"Kak! Ayo siap-siap ke kantor!" seru Allena lagi.
"Nggak mau, hari ini mau dirumah saja, ada Patrick yang mengurus semua. Kalau ada apa-apa dia bisa menelponku. Lagi pula aku kurang tidur, aku mau santai di rumah sama kamu," ucap Zefran.
"Padahal aku sudah siapkan setelan jas Kakak. Kalau tahu gitu, ngapain disiapin tadi" ucap Allena merengut.
"Salahmu sendiri kenapa menggodaku, aku sudah mandi dan siap berangkat kerja. Tapi malah kamu goda," ucap Zefran balik menyalahkan Allena.
"Maafkan yaaa," ucap Allena.
Zefran mengangguk tapi masih tetap memeluk wanita itu.
"Udah Kak, aku pegel!" seru Allena.
Zefran merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istrinya. Lalu tersenyum kemudian mengecup bibir mungil itu. Zefran melepas pelukannya dan beralih menggendong Allena. Mereka bersama-sama membersihkan diri di kamar mandi.
Zefran urung berangkat kerja dan memilih bermain bersama anak-anaknya. Sesekali menoleh pada Allena yang sedang mengajari Zefano pelajaran di sekolah. Dalam waktu dekat tahun ajaran baru akan segera dimulai. Allena ingin mendaftarkan Zefano di sekolah yang baru.
Wanita itu ingin putranya tetap bisa naik kelas yang seharusnya meski Zefano tak masuk sekolah sekian lama. Saat di tes kemampuannya nanti Zefano harus bisa membuktikan bahwa dia mampu menempati kelas tersebut.
Terdengar ketukan pintu di ruang bermain anak-anak itu. Zefran mempersilahkan masuk, seorang pelayan menyampai kalau ada tamu yang mencari Allena.
"Tamuku?" tanya Allena heran.
Sekian lama tinggal di rumah itu baru kali ini ada yang mencarinya. Allena berpikir siapa kira-kira yang akan datang. Dalam hatinya terpikir Dokter Shinta yang rindu pada Zefano. Zefran mengajak istrinya menemui tamu itu. Setelah berpesan pada baby sitter mereka meninggalkan ruang bermain anak-anak itu untuk menyambut tamu yang datang.
Ternyata seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, Allena berpikir siapa kira-kira laki-laki itu. Karena dia berdiri membelakangi sambil melihat-lihat lukisan besar di dinding ruang tamu yang megah itu.
Zefran berdehem, tamu itu langsung membalik badan. Allena berpikir sejenak, lalu tersenyum setelah berhasil mengingat siapa tamu yang mencarinya itu.
"Kak Radian?" tanya Allena memastikan.
Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum. Segera laki-laki itu mengulurkan tangannya, Allena menyambut jabat tangan itu. Allena teringat pada Zefran dan segera mengenalkan suaminya itu pada Radian. Kedua pria tampan bertubuh tinggi itu saling berjabat tangan. Zefran mempersilahkan tamu mereka itu untuk duduk.
"Surprise sekali Kak, bisa bertemu lagi dengan Kak Radian, sudah lama sekali ya? Terakhir ketemu waktu perpisahan angkatan Kakak. Oh ya baru tadi malam aku baca surat dari Kakak. Aku tidak menyangka kalau justru datang hari ini," ucap Allena.
"Aku mengirim surat itu dua atau tiga bulan yang lalu," jawab Radian.
"Oh ya, ampun, aku tidak memperhatikan tanggal suratnya," ucap Allena.
"Maafkan kami, surat itu terselip di tumpukan surat tagihan kartu kredit," sela Zefran.
"Ya, lagi pula saat itu kami jarang di rumah, kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit," terang Allena.
"Kamu sakit?" tanya Radian langsung dengan wajah yang cemas.
"Bukan! Putraku yang sakit, tak lama kemudian aku yang dirawat karena melahirkan. Mungkin surat itu datang saat kami menginap di rumah sakit. Jadi pelayan menaruh di ruang kerja suamiku bersama surat-surat tagihan," jawab Allena.
"Apa putramu sudah sehat?" tanya Radian.
"Ya, sudah sehat sepenuhnya hanya perlu cek berkala saja," jawab Allena.
Radian mengangguk lega. Zefran merasa Radian tidak hanya sebentar bertamu di rumahnya. Laki-laki itu mengajak Radian duduk di beranda belakang sambil menikmati taman dan udara yang segar.
"Sudah lama sekali ya kak?" tanya Allena memecah kesunyian.
"Ya, sejak malam perpisahan itu," ucap Radian.
Zefran mendengar nada sedih dari ucapan laki-laki itu. Zefran juga melihat kesedihan di raut wajah Radian. Zefran merasa ada hubungan khusus antara tamu dihadapannya itu dengan istrinya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...