Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 39 ~ Keputusan ~


__ADS_3

Frisca melangkah keluar Cafe meninggalkan Shinta yang termenung seorang diri. Gadis itu menitikkan air mata saat mengingat seorang wanita yang berjalan sambil menggendong anaknya.


Berjalan sedih mengikuti Zefran dan Frisca yang melangkah di depannya. Shinta bersembunyi di balik tiang saat melihat mereka berjalan di selasar rumah sakit.


Itu rupanya istri muda Zefran dan bayi itu adalah anak mereka. Wajahnya tidak terlihat seperti perempuan pengganggu rumah tangga orang. Tidak seperti perempuan yang suka menguasai ataupun suka mencari perhatian suami orang. Tapi sangat cantik dan lebih muda. Mungkin itu yang membuat Frisca iri, batin Shinta.


Shinta yang tadinya ingin menemui seniornya seorang dokter spesialis genetika. Akhirnya memilih bersembunyi mengamati keluarga itu.


Dia berjalan sendiri di belakang, sementara Frisca menggandeng suaminya. Kenapa Frisca merasa terancam oleh wanita yang terlihat mengalah itu? bisik hati Shinta.


Pertanyaan yang tak bisa di jawabnya, bertanya pada Frisca pun tidak akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Karena pikiran sahabatnya itu telah diselimuti rasa cemburu.


Shinta menarik nafas berat dan menitikkan air matanya. Analis Laboratorium DNA Forensik itu mengeluarkan lembaran hasil tes itu dan menatapnya. Pikirannya berkecamuk antara mengikuti permintaan Frisca dan rasa takutnya akan ancaman wanita itu. 


Shinta teringat obrolannya bersama Frisca. Sahabatnya itu terlihat sangat panik namun masih bersikap kejam.


"Aku tidak bisa Frisca, kasihan anak itu dia bisa terpisah dari ayah kandungnya. Dia bisa kehilangan kasih sayang ayah kandungnya. Apa kamu tega berbuat seperti itu? Zefran bisa mengusir istri dan anaknya jika hasilnya dimanipulasi," ucap Shinta pada Frisca.


Wanita itu memohon agar Frisca tidak memintanya melakukan perbuatan kejam itu.


"Siapa yang menjadi temanmu, aku atau perempuan itu. Kenapa kamu lebih memikirkan dia daripada nasibku?" tanya Frisca semakin panik.


"Tapi--"


"Jika kamu melakukan permintaanku, selamanya kamu belum tentu di penjara tapi jika tidak mengikuti keinginanku. Aku pastikan ayahmu sendiri yang akan menyeret kamu ke kantor polisi," ancam Frisca.


Air mata Shinta mengalir mengingat ancaman Frisca. Menatap kembali lembaran keputusan itu dengan mata yang berlinang. Shinta yang tadinya ingin beristirahat di rumah justru menghabiskan waktunya berjam-jam termenung di Cafe.


Probabilitas Zefran Dimitrios sebagai ayah biologis dari Zefano Dimitrios adalah >99.99 %.


Zefano, Zefano, bayi itu bernama Zefano, bayi Zefran bernama Zefano, batin Shinta tertunduk dengan air mata yang terus mengalir.


Keesokan harinya saat sarapan pagi bersama, Zefran mendapati ponselnya bergetar. Segera menerima panggilan telepon itu dan bersemangat menyetujui.


"Hasil tes itu sudah keluar, aku akan menjemputnya ke rumah sakit pagi ini," ucap Zefran semangat sambil tersenyum pada Allena.


Gadis itu membalas senyum suaminya. Seperti yang dikatakan Zefran setelah sarapan laki-laki itu langsung berangkat ke rumah sakit. Ny. Mahlika dan Frisca berharap-harap cemas, dengan harapan mereka yang berbeda. Ny. Mahlika ingin hasil tes itu menunjukkan Zefano benar anak biologis Zefran sementara Frisca jelas-jelas inginkan hasil yang sebaliknya.


Apa yang akan terjadi? Apa hasil akan tetap seperti semula atau akan berubah sesuai dengan keinginanku? batin Frisca.


Tak lama kemudian Zefran kembali, dengan penuh semangat memberikan amplop berlogo rumah sakit itu pada ibunya. Mereka berkumpul di ruang tengah untuk menyaksikan bersama-sama hasil tes pembuktian asal usul bayi Allena.


"Sebenarnya Dokter ingin menjelaskan di rumah sakit tapi saya ingin Mommy yang pertama kali mengetahui hasilnya. Dokter berkata ada lembaran yang hanya bisa dijelaskan oleh Dokter tapi kita bisa mengetahui sendiri hasilnya di lembaran keputusan," jelas Zefran.


Laki-laki itu membantu sang ibu membuka amplop itu lalu menyerahkan pada ibunya. Ny. Mahlika menerima sambil tersenyum dan mulai mengeluarkan berkas dokumen berisi informasi genetika itu. Dengan serius Ny. Mahlika membaca hingga akhirnya menatap pada Zefran. Dengan tangan yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Dia menipu kita," ucap Mahlika yang terhuyung ke belakang dan langsung ditahan oleh Zefran.


Allena kaget dan panik melihat respon Ny. Mahlika setelah membaca lembaran kertas itu. Zefran menyandarkan ibunya pelan di sofa. Langsung mengambil kertas yang dibaca ibunya kemudian menatap Allena. Frisca yang tak sabar ingin mengetahui hasil tes DNA itu langsung merampas dokumen itu dan membacanya


...HASIL IDENTIFIKASI DNA...


Pembuktian profil DNA yang dilakukan dengan metode standar terhadap sampel darah atas nama Zefran Dimitrios sebagai terduga ayah dan sampel usapan selaput lendir pipi atas nama Zefano Dimitrios sebagai anak.


Bukti ilmiah yang diperoleh dengan mengacu pada sampel yang diperiksa menunjukkan bahwa enam dari dua puluh satu alel Loci marka STR yang dianalisis dari terduga ayah, Zefran Dimitrios tidak cocok dengan alel paternal dari anak, Zefano Dimitrios.


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Zefran Dimitrios sebagai ayah biologis dari Zefano Dimitrios adalah 0 %.


Oleh karena itu Zefran Dimitrios sebagai terduga ayah dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis dari Zefano Dimitrios.


Frisca tertawa dan langsung menyerahkannya pada Allena. Gadis itu langsung membaca dan terperangah, menutup mulutnya dengan tangannya. Air matanya langsung mengalir. Kembali membaca sekali lagi untuk memastikan apa yang dibacanya.


"Ini tidak mungkin, pasti ada kesalahan. Hasil ini tidak benar, Zefano benar-benar anak Kak Zefran. Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki lain. Pasti ada kesalahan, Nyonya Frisca tolong katakan kalau ini adalah perbuatanmu," ucap Allena memohon.


"Apa katamu?" tanya Frisca dan langsung melayangkan tamparan ke wajah Allena hingga membuat gadis itu terjatuh.


Rasa panas di wajahnya tak dihiraukannya lagi. Allena terus menyatakan bahwa hasil pemeriksaan itu adalah salah.


"Nyonya, Kakak, Mommy ini pasti ada kesalahan. Hasil pemeriksaan ini salah, Zefano benar-benar anak kak Zefran. Percayalah Mommy, Kakak," ucap Allena menatap ke arah mereka secara bergantian sambil terisak.


Zefran tertunduk kemudian mengajak ibunya istirahat di kamar. Ny. Mahlika terlihat syok membaca hasil tes DNA itu. Setelah mengantar ibunya ke kamar, laki-laki itu pun langsung masuk ke kamarnya.


Tak lama kemudian terdengar suara barang-barang yang pecah berantakan di lantai. Allena kaget dan langsung menatap ke lantai atas dengan air mata yang mengalir deras. Duduk di lantai sambil menepuk dadanya yang terasa sakit.


"Apa lagi yang kamu tunggu? Kamu ingin aku MENENDANGMU KELUAR DARI RUMAH INI!" teriak Frisca.

__ADS_1


Allena berdiri perlahan dengan mata yang kabur dipenuhi air mata. Berjalan perlahan menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarnya. Mengumpulkan semua pakaiannya dan menyusun di dalam travel bag yang membawa pakaiannya saat pertama kali datang ke rumah itu.


Menatap sekeliling ruangan itu dengan air mata yang berlinang. Mengusap jas hitam Zefran yang tergantung di walk in closet sambil menghapus air matanya. Meletakkan kartu kredit dan ATM di atas meja rias berdampingan dengan buku tabungannya. Terakhir gadis itu ingin melepas cincin pernikahannya namun urung. Menatap cincin pernikahan itu dengan air mata yang terus mengalir hingga akhirnya memutuskan untuk membiarkannya tetap di jari manisnya.


Dengan terisak Allena menggendong Zefano lalu keluar dari kamar. Langkahnya terhenti di depan kamar Frisca yang berhadapan dengan kamarnya.


"Kakak, aku pamit," ucap Allena di depan pintu kamar Frisca.


Allena menunggu, tapi tak ada jawaban dari Zefran, gadis itu menyentuh daun pintu.


"Jaga kesehatanmu Kak, jangan pulang larut malam dan maafkan aku karena selama ini menjadi istri yang tidak sempurna bagimu. Maafkan aku, maafkan aku Kak," ucap Allena perlahan sambil terisak lalu menoleh pada Zefano yang terlelap di gendongannya.


"Aku pergi Kakak, selamat tinggal," ucap Allena dengan suara serak, menunggu sekilas lalu mulai melangkah menuruni tangga.


Mengucap hal yang sama di depan pintu kamar ibu mertuanya kemudian melangkah ke ruang tamu.


"Nyonya Allena!!" 


Allena berbalik ke arah suara terlihat Rahma yang menangis terisak sambil menggenggam travel bag-nya.


"Saya ikut Nyonya ya?" pinta Rahma dengan tatapan yang memohon.


Gadis pelayan yang sejak pertama kali Allena datang ke rumah itu selalu merasa iba pada Allena. Rahma sangat menyayangi Zefano dan merasa tidak sanggup berpisah dengan keduanya.


"Aku tidak bisa membayar gajimu, Rahma," ucap Allena.


"Tidak perlu Nyonya, beri aku makan tiga kali sehari saja, tidak.., dua kali sehari saja sudah cukup. Biarkan saya tetap mengasuh Zefano, saya tidak ingin berpisah dengan Zefano, Nyonya," pinta Rahma sambil menangis sesenggukan.


Allena mengangguk dan meminta gadis itu berpamitan dengan semua majikannya. Gadis itu mematuhi ucapan Allena. Berpamitan dengan pemilik rumah itu. Dan dengan senyum yang diiringi air matanya, gadis itu meraih travel bag di tangan Allena dan melangkah keluar.


Bersama mereka meninggalkan rumah megah itu. Berjalan pelan dengan pandangan kosong. Allena masih belum tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apalagi saat ini ada Rahma bersamanya, Allena masih belum bisa menentukan apa yang harus dilakukannya.


Allena tidak ingin pulang ke rumah ibunya, gadis itu tidak ingin memberi kesedihan pada ibunya yang telah tua karena pernikahannya yang telah hancur. Allena duduk di bangku taman di bawah pohon rindang sambil termenung sampai berjam-jam. Hingga tidak menyadari Rahma yang menggantikannya menggendong Zefano.


"Nyonya, den Zefano haus, dia harus disusui," ucap Rahma saat Zefano mulai menangis.


Allena tersentak dari lamunannya, sama sekali tidak terpikirkan olehnya harus menyusui bayinya, Allena kebingungan.


"Ayo kita cari kontrakan Rahma," ucap Allena akhirnya.


"Kamu tidak keberatan?" tanya Allena.


Rahma menggeleng sambil tersenyum, mereka pun akhirnya mencari sebuah kamar kost. Allena segera mengganti popok bayi itu dan menyusuinya. Setelah Zefano tertidur Allena kembali melamun, duduk di depan jendela tanpa melakukan apa pun.


Rahma memandang sedih majikannya, sangat tidak ingin Allena larut dalam kesedihannya. Sesekali terlihat Allena yang terisak tanpa tahu apa sebabnya. Rahma bahkan memikirkan sendiri apa yang harus dilakukannya. Memandikan Zefano, mengganti popoknya bahkan menidurkannya. Allena tersadar saat mendengar suara dari perut Rahma.


"Kamu lapar Rahma?" tanya Allena yang dijawab dengan kepala Rahma yang tertunduk.


Allena mengambil dompetnya dan mengeluarkan semua isinya.


"Ini pegang semua olehmu, tolong belikan keperluan kita ya," ucap Allena meminta tolong.


Allena memberikan semua uang yang dia punya kepada Rahma. Gadis itu mematuhi Allena, membelikan makanan dan air mineral untuk mereka. Setelah makan dengan lauk seadanya Allena akan kembali duduk termenung di depan kaca jendela dengan tatapan yang kosong sambil meneteskan air mata.


Rahma menatap pemandangan seperti itu setiap hari hingga suatu saat Allena merasa heran karena Rahma hanya membeli satu bungkus makanan.


"Mana makananmu Rahma?" tanya Allena heran.


Rahma menunduk tak ingin menjawab.


"Uangnya habis?" tanya Allena.


Rahma mengangguk, Allena langsung menangis tersedu-sedu. Menyesal karena apa yang dilakukannya telah menyusahkan gadis yang begitu baik padanya itu.


"Maaf Rahma, maafkan aku. Aku hanya peduli pada diriku sendiri. Maafkan aku," ucap Allena terisak-isak.


Rahma juga ikut menangis melihat majikannya yang begitu sedih.


"Nyonya, aku tidak apa-apa. Sekarang Nyonya makanlah!" ucap Rahma.


Allena menggeleng. "Untukmu saja Rahma, aku yang bersalah karena tidak memikirkan hidup kita selanjutnya. Kamu makanlah," ucap Allena dengan tersedu-sedu.


"Saya tidak akan makan jika Nyonya tidak makan. Nyonya sedang menyusui, kasihan Zefano, Nyonya," ucap Rahma juga ikut terisak.


Allena menangis tertunduk. "Sebaiknya aku kembali bekerja besok, sekarang makanannya kita bagi dua ya, kamu tidak keberatan?" tanya Allena sambil menghapus kasar air matanya.

__ADS_1


Rahma mengangguk kuat, tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. Segera gadis itu mengambil piring dan membagi makanan mereka. Menyantapnya dengan tersenyum namun masih menitikkan air mata.


Seperti yang dijanjikan Allena keesokan harinya Allena kembali meminta izin untuk bekerja.


"Kamu serius masih mau bekerja? Aku pikir kamu tidak bekerja lagi setelah melahirkan," ucap Tiara.


"Tidak Kak, aku harus kembali bekerja. Aku butuh uang untuk biaya hidup," jawab Allena.


"Apa? Kenapa? Bagaimana dengan suamimu?" tanya Tiara.


Allena hanya menunduk. Meski berusaha menahan namun air matanya kembali mengalir. Gadis itu kembali menangis terisak. Tiara langsung memeluk karyawan kesayangannya itu. Tiara meminta Allena menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangganya.


Awalnya Allena tidak ingin menceritakannya tapi setelah Tiara menasehati agar Allena mengurangi sifatnya yang suka memendam kesedihannya sendiri, akhirnya gadis itu menceritakan perpisahannya dengan suaminya.


Tiara sangat terkejut mendengar cerita Allena, tercengang hingga menutup mulutnya. Pemilik toko bunga itu akhirnya kembali mempekerjakan Allena sekaligus meminjamkan uang untuk biaya hidup Allena hingga saat gadis itu menerima gaji.


Mendapat dukungan dan nasehat-nasehat dari Tiara membuat Allena kembali tegar. Gadis itu harus memikirkan hidupnya sendiri dan anaknya. Tak lupa memikirkan Rahma yang ikut dengannya dan sekarang telah dianggapnya seperti adik perempuannya sendiri. Allena bertekad untuk melupakan kesedihannya dan kembali bekerja dengan giat.


"Allena, sebuah wedding organizer bekerja sama dengan kita untuk supply bunga-bunga segar di setiap acara yang menjadi tanggung jawabnya," ucap Tiara.


"Oh, benarkah? Bagus sekali Kak," ucap Allena.


"Ya dan kita yang bertanggung jawab untuk merangkai bunga-bunga itu sebagai dekorasi. Kamu bersedia kan mengerjakannya?" tanya Tiara.


"Tentu Kak, aku senang sekali jika diberi tugas itu," ucap Allena sambil tersenyum.


Tiara senang, Allena bersedia menjalankan tugas itu dan lebih senang karena melihat Allena sudah mulai melupakan kesedihannya.


Pada suatu acara pesta pernikahan, Allena mulai mendekorasi bunga di ruangan itu. Allena merangkai di sebuah kursi panjang dengan untaian bunga yang dipasang di kursi dan di dinding.


"Bunga-bunganya segar sekali, ruangan ini menjadi sangat harum," ucap pengantin itu menoleh pada Allena.


Sang penata rias langsung mengarahkan kembali wajah pengantin itu padanya. Allena tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tersenyum sesekali saat melirik pengantin wanita yang tak sabar saat didandani itu.  Pengantin wanita itu terlihat begitu muda dan lincah, selalu berbicara dan menoleh ke sana kemari. Membuat penata riasnya kewalahan karena pengantin itu selalu bergerak-gerak.


Allena tidak tahan untuk melirik dan mengagumi gaun pengantin yang indah dan pasti sangat mahal itu. Tersenyum bahkan tertawa tertunduk saat melihat pengantin yang terlihat begitu riang dan cenderung ceroboh itu. Pengantin itu juga tersenyum pada Allena, dia tidak sabar ingin melenggang-lenggok layaknya model catwalk yang ingin memperagakan gaun pengantinnya.


"Aduh kenapa ini?" tanya sang pengantin saat ingin beranjak dari kursi riasnya.


Langkahnya tertahan karena gaunnya yang tersangkut sesuatu.


"Tunggu, aku lihat dulu" ucap seorang penata rias.


Namun pengantin yang tak sabar itu telah buru-buru menarik gaunnya.


"Oh.. YA AMPUN, GAUNNYA ROBEK," teriaknya menggema mengagetkan Allena yang masih meneruskan pekerjaannya mendekorasi ruangan itu.


Para penata rias langsung panik, gadis pengantin itu pun menangis. Mereka bahkan saling menyalahkan. Allena menatap gaun yang telah terbelah hingga ke paha itu. Para penata rias menyalahkan sang pengantin karena tidak sabar hingga akhirnya merusak gaunnya. Gadis pengantin itu menangis meraung, tak mungkin mencari gaun yang sesuai dengan ukuran tubuhnya dalam waktu singkat.


"BATALKAN SAJA PERNIKAHAN INI! TIDAK MUNGKIN MENGENAKAN GAUN ROBEK INI APALAGI MENCARI GAUN YANG BARU," teriak pengantin yang terlihat sangat manja dan berasal dari keluarga kaya raya itu.


Para penata rias terlihat semakin bingung, Allena menatap pengantin yang menangis dan sudah memutuskan untuk lari itu.


"TUNGGU! Kita coba lakukan sesuatu," ucap Allena sambil meraih kedua ujung gaun yang telah terbelah itu.


Dengan sigap Allena mengikat kedua ujung gaun yang terbelah itu hingga berkali-kali. Menggunakan cemit-cemitii kecil yang tersedia di situ. Allena membentuk lipatan-lipatan menjadi sebuah bunga besar berwarna putih. Pengantin itu terperangah melihat hasilnya, gaun pengantinnya yang telah berubah bentuk membuat matanya terbelalak.


"KEREN! Lihatlah betis jenjangku jadi terlihat," ucapnya langsung berlenggang seperti model catwalk.


Belahan gaun itu seperti dibuat dengan sengaja, dengan bunga besar yang menempel di bagian paha sebagai hiasannya. Gadis pengantin itu langsung memeluk Allena dan berterima kasih. Dengan percaya diri mulai membuka pintu dan mempersilahkan teman-temannya yang telah menunggu untuk masuk ke ruangan itu. Mereka berfoto-foto ceria di kursi panjang hasil dekorasi Allena.


Allena diundang sebagai tamu di acara pesta itu sebagian tanda terima kasih dari sang pengantin karena telah menyelamatkan hari pernikahannya. Saat pamit pulang seseorang memanggilnya.


"Aku telah mendengar apa yang terjadi di ruang rias," ucap seorang ibu.


Allena sempat melihat gadis pengantin itu bercerita dengan semangatnya pada ibu itu.


"Aku ingin memberimu beasiswa untuk belajar Fashion Design di luar negeri. Sambil kuliah kamu bisa mengikuti program magang di perusahaan fashion, majalah fashion atau desainer ternama sambil membangun koneksimu," tutur ibu itu sambil meraih tangan Allena.


"Tapi Nyonya aku tidak berbakat," ucap Allena dengan raut bimbang.


"Kamu tidak menyadarinya tapi aku bisa melihatnya dengan jelas, kamu kreatif dan berpikir cepat. Hasilnya juga terlihat sangat elegan, aku tidak boleh melewatkan calon designer hebat sepertimu," ucap ibu itu.


Allena bimbang, ibu yang terlihat sangat cantik di usia yang tidak muda lagi itu menawarkannya kuliah di luar negeri. Cara berpakaiannya yang sangat elegan dan mewah menunjukkan ibu itu bukanlah orang yang sembarangan. Namun begitu Allena masih ragu dan meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran ibu itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2