Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 153 ~ Undangan ~


__ADS_3

Allena membantu menyiapkan makan malam keluarga itu saat tiba-tiba pelayan memberi tahu Frisca dan keluarganya datang. Sebuah kejutan baginya setelah sekian lama tak bertemu dengan mantan istri dari suaminya itu. Ny. Mahlika langsung mengajak keluarga itu makan malam bersama.


Saat menikmati makan malam bersama itu Frisca mengundang Zefran dan keluarganya untuk berlibur di Villa-nya setelah menjalani kemoterapi terakhirnya nanti.


"Kapan jadwal kemoterapinya Kak?" tanya Allena.


"Kalau jadwal kemoterapi masih tiga hari lagi tapi untuk liburan di Villa kami ingin menetapkannya saat ulang tahun Zeno," jawab Frisca.


"APA?" Semua yang sedang asyik menikmati makan malam itu serentak bertanya.


"Kok pas ulang tahun Zeno Tante?" tanya Zefano dengan polosnya.


"Karena kami bertiga sayang Zeno," jawab Frisca.


Anak itu langsung mengangkat kedua tangannya karena gembira. Anak itu terlihat bahagia karena ulang tahunnya akan di rayakan di Villa Frisca. Di mana Frisca mengundang seluruh sahabat-sahabatnya tak ketinggalan sahabat-sahabat Zefran, Allena dan Zefano.


"Sahabat Zeno juga? Kalau sahabat Zara di undang juga nggak?" tanya anak laki-laki tampan itu.


Tentu semua tertawa mendengar ucapan Zefano karena Zifara yang masih bayi masih belum memiliki sahabat.


"Ya, sahabat Zara juga ikut masa cuma sahabat Zeno aja yang diundang?" jawab Allena menggoda putranya.


"Memangnya Zara punya sahabat? Bayi kecil gitu? Ngomongnya aja nggak jelas," jawab Zefano tak mau kalah.


"Itu karena Zeno yang nggak mau belajar bahasa bayi. Kalau Mama bisa, Mama ngerti," jawab Allena sambil tersenyum.


Anak itu terperangah hingga mulutnya ternganga. Semua tertawa melihat ekspresi lucu anak tampan itu. Zefano menoleh ke sekeliling meja makan dengan heran.


"Siapa sahabat Zara?" tanya Zefano masih penasaran.


"Mama dong, sahabat Zara yang paling setia," jawab Allena.


"Iih, Mama itu bukan sahabat Zara tapi ibunya Zara," sanggah Zefano.


"Sahabat juga dong, memangnya sahabat itu apa artinya buat Zeno?" tanya Zefran ikut nimbrung.

__ADS_1


"Sahabat itu teman yang paling disayang," jawab Zefano.


"Apa yang Zeno lakukan bersama teman yang paling disayang itu?" tanya Zefran pada anak yang duduk diapit oleh Keisya dan Frisca itu.


Frisca berbisik pada Zefano, Keisya juga berbisik padanya. Anak itu mengangguk-angguk lalu menjawab.


"Belajar, ngobrol, cerita, bermain, pokoknya banyak deh," jawab Zefano.


"Nah, makanya Mama itu juga sahabat Zara. Mama belajar bahasa bayi sama Zara. Zara juga belajar berjalan sama Mama. Ngobrol, cerita juga bermain sama Mama–"


"Kalau gitu Zeno juga sahabat Mama," ucap Zefano.


"Nggak mau," jawab Allena sambil tersenyum.


Anak itu berlagak menangis, semua tertawa.


"Jangan khawatir orang tua adalah sahabat pertama bagi anak-anaknya meski tak diminta, walaupun tak diajak, orang tua pasti jadi sahabat setia buat anak-anaknya," jawab Mahlika.


Zefano bersorak begitu bahagia karena ternyata dia pun sahabat bagi ibunya. Zefano melambaikan jari telunjuknya pada ibunya karena telah menggodanya. Frisca tertawa lalu mengecup puncak rambut anak itu. Zefano dikuasai sepenuhnya oleh Frisca dan Keisya saat mereka bertemu di rumah itu. 


"Mommy tak menyangka kalau Frisca bisa berubah. Dia dulu seperti seorang yang tidak menyukai anak-anak tapi sekarang justru sangat menyayangi anak-anak," ucap Mahlika memecah keheningan setelah asyik memandangi Frisca, Keisya dan Zefano.


Allena mengangguk sambil tersenyum. Mengingat perubahan sikap Frisca tentu sangat dirasakan oleh Allena. Frisca bahkan melakukan segala cara hingga membuatnya terusir dari rumah itu. Begitu membencinya dan Zefano hingga memfitnah Zefano bukan darah daging Zefran. Frisca bahkan tak betah menggendong Zefano saat masih bayi. Kini justru sangat menyayangi Zefano.


"Apa yang kamu pikirkan Allena?" tanya Mahlika melihat Allena termangu menatap keakraban Frisca, Keisya dan Zefano.


"Tidak apa-apa Mommy, aku cuma teringat masa lalu saat Zeno masih bayi Kak Frisca begitu membenci kami hingga menuduh Zeno adalah anak hasil perselingkuhan. Tapi … setelah Kak Frisca menculiknya, Zeno justru lebih mengkhawatirkan Kak Frisca daripada mengkhawatirkan aku. Aku seperti tersisih olehnya entah bagaimana caranya Kak Frisca bisa membuat Zeno begitu menyayanginya," jelas Allena.


"Mommy mencium aroma cemburu di sini–"


"A-apa maksud Mommy?" tanya Allena.


Ny. Mahlika tersenyum menggoda, Allena tertunduk malu. Allena tiba-tiba seperti anak-anak yang berpikiran pendek. Wanita itu baru menyadari dan mengakui kalau dirinya memang merasa  cemburu. Allena merasa Zefano menyayanginya karena dia hanyalah seseorang yang ditakdirkan menjadi ibunya sementara rasa sayang Zefano pada Frisca benar-benar timbul dari hatinya.


"Jika disuruh memilih menurutmu siapa yang paling di sayang Zeno?" tanya Mahlika seperti ingin menguji kecemburuan Allena pada Frisca.

__ADS_1


"Zeno pernah membenciku Mommy, karena aku lalai menjaganya. Sementara rasa sayangnya pada Kak Frisca sangat tulus," ucap Allena.


Ny. Mahlika tersenyum, bahkan tertawa. "Dasar bodoh, mana ada anak yang lebih sayang pada orang lain daripada orang tuanya sendiri. Apalagi ibunya seperti kamu yang melakukan segala macam cara untuk melindungi anakmu. Menurutmu, kamu hanya menjalankan tugas sebagai seorang ibu. Menyayangi sewajarnya karena kamu adalah ibunya tapi bagi anakmu, kamu adalah segala-galanya. Tanpa perlu kamu ragukan itu karena dia bisa merasakan ketulusanmu kasih sayangmu," ucap Mahlika.


Allena memandang Ny. Mahlika dengan tatapan ragu-ragu.


"Benarkah itu Mommy?" tanya Allena.


"Mommy ini bukanlah ibu yang baik. Saat muda sangat sibuk dengan bermacam-macam organisasi wanita. Jika ditanya, apa yang Mommy lakukan untuk Zefran, selain hanya memberikan materi. Saat melihatmu mengasuh anak-anakmu, Mommy merasa Mommy sangat kurang mencurahkan kasih sayang pada Zefran. Tapi … lihatlah sekarang, meski Mommy tak memberikan apa-apa padanya, Zefran tetap menyayangi Mommy. Tetap patuh, berbakti dan tetap berusaha membahagiakan Mommy. Apa yang bisa membuat Mommy berhak mendapatkan semua itu? Karena Mommy adalah ibunya. Seseorang yang menjadi sandarannya, sejak pertama kali lahir ke dunia. Kamu juga begitu, meski Zeno bersikap biasa padamu. Tapi baginya kamu adalah sandaran pertamanya, segala-galanya bagi Zeno. Percayalah itu!" jelas Mahlika.


Allena tersenyum lalu mengangguk.


"Baiklah! Kalau begitu Mommy mau ke kamar dulu ya! Mommy mau  istirahat," ucap Mahlika.


Allena mengangguk dan ibu mertuanya itu pun beranjak pergi. Tak lama kemudian Zifara pun terlihat gelisah. Allena pun kembali ke kamarnya untuk menidurkan putrinya yang telah mengantuk. Allena menyusui bayinya di kamar hingga putrinya tertidur. Sementara dirinya sendiri pun ikut terlelap di samping Zifara.


Entah berapa lama Allena tertidur? Begitu terbangun, segera memindahkan putrinya yang telah lelap itu ke ranjang bayi. Mengambil botol susu yang telah terpakai untuk dibersihkan. Allena tersenyum ketika melintasi ruang bermain anak-anak. Terlihat Zefano menunjukkan mainan-mainannya pada Keisya dan Rivaldo.


Oh, Kak Zefran sudah selesai ngobrolnya dengan Kak Valdo? tanya Allena dalam hati.


Karena melihat yang bermain dengan Zefano sekarang adalah Rivaldo. Wanita itu tersenyum sekilas melihat Zefano yang begitu semangat menunjukkan cara bermain pada Rivaldo. Wanita itu melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, Allena segera berbalik dan tersandar di balik dinding. Matanya berkaca-kaca dan dadanya terasa berdenyut perih. Allena tak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Di dapur terlihat Zefran dan Frisca yang sedang berpelukan.


Ternyata mereka masih menyimpan rasa, batin Allena.


Dengan tangan yang gemetar mengusap air matanya yang mulai berjatuhan. Allena hendak beranjak pergi.


"Hidup Allena!" terdengar suara jeritan Frisca.


"Ya, selamanya Allena!" balas Zefran dan lalu tertawa bersama.


Allena tertegun, langkahnya terhenti mendengar namanya disebut. Allena tak mengerti mengapa kedua orang itu menyebut namanya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2