Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 59 ~ Berharap Dimaafkan ~


__ADS_3

Zefran turun ke lantai bawah, penerangan rumah sebagian telah dimatikan. Laki-laki itu melangkah pelan menuruni tangga hingga mencapai dapur bersih. Membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral.


Tak lupa Zefran mengambil gelas dari dalam kitchen set. Tiba-tiba laki-laki itu merasakan sentuhan di punggungnya. Usapan lembut itu bergerak pelan hingga ke dadanya.


"Hentikan Frisca!" ucap Zefran.


"Ternyata kamu tidak lupa dengan sentuhanku," bisik Frisca.


"Aku mengenalimu bukan karena itu tapi karena bau parfum bercampur alkohol yang selalu menjadi ciri khasmu," ucap Zefran lalu membalik tubuh setelah mengambil salah satu gelas.


Frisca menarik tangannya yang melingkar di dada Zefran. Laki-laki itu ingin langsung pergi namun Frisca menghalangi.


"Zefran maafkan aku, aku ingin kembali padamu. Aku akan berubah, aku akan menjadi istri yang berbakti padamu," ucap Frisca.


"Apa? Menjadi istri yang berbakti? Terlambat! Kamu bukan istriku lagi," ucap Zefran masih ingin pergi dari ruangan itu.


"Nikahi aku, aku rela menjadi istri keduamu," ucap Frisca merayu.


"Apa? Kamu benar-benar sudah gila. Kalau masih mabuk, tidur saja sana," ucap Zefran.


"Aku telah bercerai dari Bobby," 


"Bercerai? Aku tidak tahu kapan kamu menikah dengannya tahu-tahu sekarang telah bercerai. Sudahlah aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi," ucap Zefran sambil berjalan melewati Frisca.


Namun Frisca merebut botol mineral dari tangan Zefran. Laki-laki itu meminta, Frisca menyimpannya di balik punggungnya. Zefran kesal lalu membuka lemari pendingin. Frisca mendorong pintu lemari es itu hingga Zefran tak sempat mengambil.


Laki-laki itu akhirnya merebut botol di tangan Frisca. Wanita itu langsung merangkul leher Zefran dan membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Zefran terpaku bingung, sebelah tangannya memegang gelas dan sebelah lagi memegang botol air mineral.


Zefran berusaha melepaskan diri tapi Frisca memeluknya erat. Sementara itu Allena yang melihat kejadian itu langsung memilih kembali ke kamarnya. Menaiki tangga dengan penerangan yang samar-samar.


"Aah.."


Terburu-buru gadis itu menginjak gaun tidurnya dan membuat lututnya membentur tangga. Suara Allena mengagetkan Frisca, kesempatan itu dipergunakan Zefran melepaskan diri dari Frisca. Zefran pergi namun Frisca tersenyum, wanita itu yakin Allena telah melihat suaminya berciuman dengannya.


Di kamar Allena kebingungan, akhirnya memilih untuk tidur. Apa yang dilihatnya tadi menyakiti hatinya. Zefran mengaku tidak peduli lagi pada Frisca, tidak lagi mencintainya, tidak ingin kembali padanya. Tapi kenyataan di mata Allena, suaminya itu masih menyimpan cinta pada mantan istrinya. Hingga masih bernafsu berciuman dengan Frisca.


Pembohong! Katanya tidak peduli lagi tapi saat diajak berciuman tetap saja menikmati. Katakan saja kalau ingin kembali kenapa harus berciuman di belakangku, jerit hati Allena.


Gadis itu meraih selimut dan menutupi hingga ke bahu dan berpura-pura tidur.


Zefran masuk ke dalam kamar dan menaruh botol dan gelas di meja.


"Sayang ini minumnya, ayo minum dulu," ucap Zefran menyapa istrinya.


Allena bergeming sambil menggigit bibirnya.


"Hey, jangan pura-pura tidur. Aku tahu kamu tadi dari bawah, kamu cemburu melihat aku dan Frisca tadi ya?" tanya Zefran yang duduk di ranjang di sambil menepuk punggung Allena.


Mendengar ucapan yang Zefran yang begitu ringan membuat Allena kesal. Gadis itu membuka selimut dan langsung duduk di hadapan Zefran dengan tatapan tajam.


"Kakak jahat! Penipu! Pembohong! Menawarkan diri mengambil minum untukku ternyata ada maksud lain, Kakak sengaja melakukannya agar bisa bertemu dengannya diam-diam. Jika memang masih mencintainya kenapa menceraikannya? Kenapa berpura-pura di depanku? Kenapa berciuman di belakangku?" jerit Allena sambil memukuli dada Zefran dengan kedua tangannya.


Zefran menangkap kedua tangan gadis yang dicintainya itu. Allena berusaha menarik tangannya namun Zefran menggenggam erat tangan gadis itu. Allena diam, Zefran perlahan mengecup telapak tangan itu. Allena tidak rela dan berusaha menarik tangannya kembali. Namun, Zefran menahan tangan itu di atas kedua pahanya.


Laki-laki itu menatap sambil tersenyum begitu manis.

__ADS_1


Aku kesal, dia malah senyum manis begitu. Bagaimana caranya agar dia tahu aku tidak suka dengan kelakuannya itu, jerit hati Allena.


"Aku bahagia melihatmu cemburu. Rupanya seperti ini rasanya dicemburui oleh istri yang sangat dicintai," ucap Zefran.


"Apa?"


"Selama ini aku yang selalu cemburu padamu, setiap kali bersama Valen kamu selalu berhasil membuatku cemburu. Aku tidak menginginkan ciuman Frisca tapi karena itu aku jadi tahu rasanya dicemburui olehmu. Aku seperti merasakan istriku yang takut kehilanganku," ucap Zefran sambil tersenyum.


Tangan Allena yang ditahan Zefran di atas pahanya membuat tubuh gadis itu condong ke depan. Wajah Allena dan Zefran begitu dekat. Air mata Allena meleleh, rasa kesal akhirnya tumpah mengalir di pipinya.


"Jangan marah, percayalah padaku. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya. Aku tidak akan mempan lagi dirayu olehnya," jelas Zefran.


"Bohong!" ucap Allena.


"Aku tidak bohong, dia tiba-tiba memelukku aku tidak bisa menghindar atau mendorongnya. Ada gelas dan botol di tanganku. Lagipula aku tidak membalas ciumannya," tutur Zefran.


"Bohong!" ucap Allena.


"Aku tidak bohong, aku berkata jujur. Aku tidak peduli lagi padanya, satu-satunya wanita yang aku cintai hanyalah dirimu. Aku senang melihatmu cemburu tapi aku tidak suka jika ini membuatmu bersedih. Sayang, cemburu boleh tapi jangan marah apalagi bersedih, ya?" ucap Zefran.


Allena memalingkan wajahnya, Zefran meraih dagu Allena dan mengalihkan ke hadapannya. Perlahan laki-laki itu mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya. Namun, Allena menutup bibirnya dengan jari tangannya, Zefran langsung menunduk kecewa.


"Aku tidak mau mencium bekas wanita itu," ucap Allena.


"Itu juga bukti cintaku lebih besar dari pada cintamu," ucap Zefran.


"Apa?"


"Aku bersedia menciummu meski bekas ciuman Valen," ucap Zefran.


"Malam itu, di hotel saat bulan madu, aku melihat sendiri dia mengantarmu ke kamar dan menciummu. Malam itu juga kita pulang dan aku menciummu di bandara. Apa kamu lupa?" balas Zefran.


Sekarang giliran Zefran yang memalingkan wajahnya. Allena meraih dagu Zefran dan memaksa laki-laki itu menghadap ke arahnya.


"Aku tidak lupa tapi saat itu Kakak tidak menciumku. Kakak lakukan itu karena ingin menghinaku. Kakak lakukan itu hanya untuk merendahkanku. Aku masih ingat ucapan Kakak setelah itu, aku bahkan menangis di sepanjang perjalanan. Apa Kakak tidak tahu itu?" jerit Allena dengan air mata yang mengalir dan dada yang turun naik karena menahan emosi.


Zefran tercenung melihat respon yang begitu meledak-ledak dari Allena.


"Aku tahu, aku mengakui itu, aku juga melihatmu menangis. Tapi salah jika berpikir aku tidak menciummu. Aku lakukan itu karena aku memang ingin menciummu. Apa pun alasannya aku sungguh-sungguh ingin menciummu hanya saja aku tidak ingin perasaanku terlihat olehmu. Aku mengatakan itu untuk menutupi perasaanku kalau saat itu aku telah jatuh cinta padamu," ucap Zefran lalu menunduk.


Ada raut penyesalan yang tersirat di wajahnya karena perbuatannya di masa lalu. Zefran jadi menyesal mengungkit semua itu.


"Maafkan aku," ucap Zefran lirih.


Allena diam menatap wajah yang tertunduk menyesal itu. Hatinya luluh, perlahan gadis itu mengangkat dagu Zefran menghadap lurus ke arahnya.


"Aku memaafkanmu," ucap Allena lalu mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya.


Laki-laki itu tersenyum dan langsung menyambut hangat bibir manis beraroma vanilla itu. Membenamkan bibirnya sedalam-dalamnya. Zefran membaringkan istrinya, Allena pasrah menikmati ciuman lembut dari suaminya.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Zefran.


"Aku juga mencintaimu, suamiku," balas Allena.


Zefran tersenyum mendengar ucapan balasan dari istrinya, kata-kata yang tidak terlalu sering terdengar. Tak sesering ungkapan cintanya pada Allena. Namun, Zefran percaya Allena sungguh-sungguh dengan ucapannya. Zefran tertidur sambil memeluk erat istrinya.

__ADS_1


Keesokan harinya Allena tak di izinkan beranjak dari ranjang. Laki-laki itu masih ingin terus memeluk istrinya sambil memejamkan mata.


"Kak, kita harus sarapan bersama Mommy," ajak Allena.


"Nanti saja sayang, tadi malam kita begadang. Aku masih mengantuk," ucap Zefran masih memejamkan mata.


"Kakak tidak berangkat kerja hari ini?" tanya Allena.


Zefran menggelengkan kepala, Allena tersenyum. Akhirnya membiarkan laki-laki itu tetap tidur. Perlahan menggeser tangan suaminya agar bisa turun dari ranjang tanpa mengganggu tidur laki-laki itu.


Setelah membersihkan diri, Allena turun ke lantai bawah untuk menyapa mertuanya. Allena mendatangi wanita tua elegan yang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah itu.


"Selamat pagi Mommy," sapa Allena.


"Oh, sudah bangun? Selamat pagi sayang," balas Mahlika sambil mencium pipi Allena.


Allena duduk di sofa di hadapan ibu mertuanya.


"Tidurmu nyenyak?" tanya Mahlika.


Allena mengangguk tersenyum.


"Sepertinya tidak, matamu terlihat masih mengantuk. Zefran pasti mengganggumu semalaman," ucap Mahlika sambil tersenyum lalu beralih memandang majalahnya.


Allena tersenyum.


"Itu.., tadi malam Nyonya Frisca datang ke rumah ini," ucap Allena.


"APA? Mau apa lagi dia datang ke sini? Heh, tapi baiklah ini kesempatan kita memberi pelajaran padanya. Setelah diceraikan Zefran dia menghilang entah kemana. Kita bahkan belum sempat meminta perhitungan atas apa yang dilakukannya pada cucuku," ucap Mahlika emosi.


Allena menghela nafas, dalam hati tidak ingin membuat orang tua itu risau dengan kedatangan Frisca. Namun, Allena tetap harus memberitahunya daripada ibu itu mengetahui sendiri keberadaan Frisca di rumah ini.


"Di mana dia? Apa dia masih di kamar lamanya?" tanya Mahlika lalu berjalan menuju tangga.


Allena mengikuti namun dikagetkan oleh teriakan dari arah ruang makan.


"Mommy! Sarapannya sudah siap!" teriak Frisca.


Sontak Ny. Mahlika dan Allena menoleh ke arah ruang makan. Frisca berdiri di sana masih dengan mengenakan celemek. Tersenyum di samping meja yang telah tersedia hidangan untuk sarapan. Ny. Mahlika langsung menghampiri


"Kenapa kamu bisa berada di sini? Ini bukan rumahmu lagi, anakku sudah menceraikanmu, apa kamu lupa?" teriak Mahlika.


"Maafkan aku Mommy, aku menyesal. Aku tidak bisa pulang ke rumah. Mommy dan Daddy tidak membolehkanku pulang karena menentang larangan mereka yang tidak setuju dengan pernikahanku dengan Bobby," jelas Frisca.


"Aku tidak butuh kisah hidupmu, sekarang pergi dari rumah ini atau aku akan melaporkanmu atas tindakan kejahatan pemalsuan dokumen. Tidak hanya itu, kamu juga melanggar UU tentang hak asasi manusia di mana seorang anak berhak mengetahui keluarganya dan identitas dirinya. Kamu membuat Zefano kehilangan haknya untuk mengenal keluarganya, membuatnya anak itu tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Dosamu sudah terlalu banyak dan kami tidak akan menerimamu di sini meski tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang mau menerimamu," teriak Mahlika dengan nafas yang tersengal karena emosi.


"Mommy maafkan aku, Mommy," ucap Frisca menangis sambil duduk bersimpuh di kaki Ny. Mahlika.


Allena bergidik mendengar kemarahan Ny. Mahlika tapi juga khawatir jika mertuanya itu benar-benar akan melaporkan Frisca yang nanti akan berimbas pada Dokter Shinta.


Zefran bergegas turun dari lantai atas saat mendengar suara ribut di lantai bawah. Di anak tangga terbawah, Frisca langsung mendatangi.


"Zefran, tolong bilang sama Mommy kalau kamu memaafkanku dan menjadikan aku istri keduamu,"


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2