
Zefran, Frisca, Allena dan Zefano bersama-sama berangkat ke rumah sakit. Sesampai di sana langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis genetika. Mereka pun diminta memberikan sampel untuk dilakukan pengujian.
"Kami akan mengirimkan sampel biologis ini ke laboratorium untuk dianalisis. Hasil tes DNA akan kami serahkan sekitar dua sampai empat minggu. Kami akan menghubungi jika hasilnya telah kami dapatkan," ucap Dokter Spesialis Genetika itu.
Setelah proses pengambilan sampel itu selesai, Zefran dan keluarganya pun berangkat pulang. Laki-laki itu berjalan menuju parkiran mobil dengan menggendong Zefano.
Zefran terlihat begitu sayang pada anak itu, apa dia tidak peduli dengan asal usul anak itu? Apa dia yakin anak itu adalah anaknya? batin Frisca.
Sepanjang jalan Zefran berjalan sambil bercanda dengan anaknya. Allena tersenyum melihat keakraban mereka. Zefran terlihat begitu menyayangi Zefano. Hanya Frisca yang menampilkan wajah tak senang dengan kedekatan ayah dan anak itu.
Sesampai di rumah Frisca langsung melapor pada Shinta bahwa Allena, Zefran dan Zefano telah menyerahkan sampel biologis mereka ke rumah sakit. Shinta pun berjanji akan segera memprosesnya.
"Dokter itu mengatakan hasil akan kami dapatkan dalam waktu dua sampai empat minggu, apa tidak bisa dipercepat?" tanya Frisca melalui sambungan telepon.
"Hasil bisa didapat dalam waktu satu hingga dua minggu tapi itu untuk kondisi darurat," jelas Shinta.
"Begitu hasilnya keluar tolong beritahu aku. Aku yang akan melihat hasilnya lebih dulu," ucap Frisca.
"Untuk apa?" tanya Shinta.
"Pokoknya, kebahagiaanku dan masa depanku tergantung dari tes itu. Kamu harus bantu aku. Berjanjilah akan membantuku," ucap Frisca dengan nada memaksa.
Shinta memiliki firasat buruk pada permintaan Frisca tapi sebagai sahabatnya gadis itu hanya bisa mengikuti keinginannya.
Sementara itu Allena masuk ke kamarnya, menyusui bayinya hingga tertidur lalu menyiapkan travel bag dan pakaian-pakaiannya sambil sesekali menghapus air matanya yang mengalir. Tes DNA telah dilakukan seperti keinginan keluarga itu. Meski Zefran memohon untuk tetap tinggal bersamanya tapi Allena telah memutuskan akan meninggalkan rumah itu apa pun hasil tes DNA itu nanti.
"Kamu sedang apa sayang?" tanya Zefran tiba-tiba muncul di kamarnya.
"Bersiap-siap untuk pergi dari sini. Bukankah Kakak tahu aku sudah memutuskan itu," ucap Allena sambil menghapus air matanya dengan kasar.
"Tidak, aku tidak mengizinkanmu meninggalkan rumah ini!" teriak Zefran.
Laki-laki itu mengambil semua pakaian yang telah disusun Allena dalam travel bag-nya dan meletakkan kembali ke atas rak dengan sembarangan. Melihat itu Allena terduduk di lantai, hati dan tubuhnya terasa sangat lelah. Sama sekali tidak ada kekuatan untuk berdebat dengan laki-laki itu.
"Aku sudah bilang padamu, aku tidak peduli hasil tes itu. Aku ingin kamu tetap bersamaku!" jerit Zefran.
"Apa Kakak bisa hidup seperti itu? Hidup bersama gadis yang diragukan kesetiaannya? Anak yang diragukan asal usulnya. Bagaimana dia akan hidup di sini? Di tengah-tengah orang yang pernah meragukannya? Bagaimana cara kami hidup di sini? Di tengah-tengah orang-orang yang ingin mengusir kami?" teriak Allena.
"Siapa yang mengusirmu? Siapa yang menginginkanmu pergi? Allena, meski anak itu bukan anakku, aku akan tetap menerimanya," ucap Zefran.
"Ucapan Kakak merendahkan aku. Kakak masih tetap berpikir kalau aku berselingkuh!" jerit Allena sambil berdiri dan mengumpulkan kembali pakaiannya.
Zefran memeluk Allena, gadis itu meronta sambil menangis.
"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Allena!" ucap Zefran sambil memeluk erat istrinya.
Allena berhenti meronta namun tetap menangis.
"Bagaimana cara aku memperbaiki semua ini? Aku menutup mata hatiku terhadap foto-foto itu. Hatiku sakit melihatnya tapi membayangkan seumur hidupku tidak melihatmu lagi, aku tidak sanggup Allena," ucap Zefran masih memeluk erat istrinya.
"Biarkan aku pergi Kak, mungkin memang seperti ini jalan hidup kita. Kakak carilah penggantiku yang bisa Kakak percaya, yang bisa melahirkan anak untuk Kakak. Aku tetap harus pergi, demi anakku," ucap Allena pelan.
"Kamu datang dalam hidupku dan membuat aku jatuh cinta padamu lalu sekarang kamu meninggalkan aku? Kamu kejam Allena, kamu sangat kejam!" ucap Zefran lalu melepas pelukannya.
Allena menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis sesenggukan. Zefran berjalan mendekati ranjang bayi. Menggendong Zefano yang sedang tertidur dan membawanya keluar. Allena yang baru menyadari Zefran membawa bayinya langsung mengejar.
"Kak, Zefano mau dibawa kemana? Kak, berikan dia padaku! Kak!" teriak Allena.
__ADS_1
Zefran menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Allena.
"Kalau kamu ingin pergi, pergilah! Aku tidak bisa lagi melarangmu tapi jangan bawa anakku," ucap Zefran.
"Ada apa ini?" tanya Mahlika.
"Allena ingin pergi dari rumah ini sekarang. Dia ingin membawa anakku pergi," ucap Zefran mengadu pada ibunya.
"Apa benar Allena? Bukankah hasil tes itu baru diketahui dua minggu lagi? Bagaimana jika benar Zefano adalah anak kandung Zefran? Kamu ingin memisahkan dia dari ayahnya? Apa kamu tega? Aku tahu kamu marah karena kami meragukan kamu dan anakmu. Tapi coba lihat dari sisi kami, seorang anak sangat berarti bagi kami. Dan kamu ingin membawa satu-satunya keturunan kami?" tanya Mahlika panjang lebar.
"Bukankah Mommy tidak percaya kalau Zefano adalah cucu Mommy? Lalu untuk apa dia masih berada di sini?" ucap Allena menjawab ucapan Ny. Mahlika.
"YA, AKU MERAGUKANNYA! Tapi ulah siapa aku meragukannya? Karena kamu yang begitu dekat dengan Valen. Aku kasihan melihat Zefran, aku yakin dalam hatinya dia sedih melihat kedekatanmu dengan sahabatnya. Tapi demi cintanya padamu dan pada anak itu dia melupakan kenyataan yang dilihatnya," ucap Mahlika bernada keras.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Kak Valen hanya aku anggap sebagai kakak laki-laki bagiku," jelas Allena sambil terisak.
"Bagimu sebagai Kakak tapi bagi dia? Dia menyukaimu sebagai seorang wanita dan dia selalu berusaha membuat kamu jatuh cinta padanya. Pikirkan perasaan Zefran, seorang laki-laki selalu berada di sekitar istrinya, apa kamu bisa membayangkan itu? Apa tidak wajar kami meragukan kamu? Jika ternyata anak itu memang anak Zefran artinya kami salah karena meragukan kamu dan kami akan meminta maaf padamu. Apa kamu tidak mau memaafkan kami? Karena itu kamu ingin membawa Zefano untuk menghukum kami? Kami tidak boleh bersalah sedikit pun padamu? Kami tidak boleh sedikit pun curiga padamu? Kamu sakit hati karena dituduh tapi Zefran juga sakit hati karena kedekatan kalian, apa Zefran harus memisahkan kamu dari anakmu untuk menghukummu? Tunggulah hasil tes DNA itu, jika memang bukan cucuku, aku juga tidak akan melarangmu pergi."
"Mom," ucap Zefran.
"Kita tidak bisa menahan orang jika tidak ingin bersama kita lagi Zefran. Kurang baik apa kita selama ini padanya? Aku selalu memperlakukannya dengan baik selama ini. Tidak ada perbedaan antara kedua menantuku bahkan aku sangat berharap padanya. Dan kamu, meski awalnya Zefran menolakmu tapi akhirnya dia bisa menerimamu dan bahkan mencintaimu," jelas Mahlika pada Zefran dan Allena bergantian.
"Allena?" tanya Zefran.
"Jangan karena sakit hati dan harga diri, kamu membiarkan anakmu tidak mengenal ayahnya. Pikirkan juga perasaan kami dan harga diri kami jika seandainya perselingkuhan itu memang ada, kamu anggap apa kami ini? Keluarga bodoh yang bisa ditipu?" tanya Mahlika.
Allena diam tertunduk, Frisca yang mendengar semua pembicaraan itu dari balik dinding lantai atas merasa kesal karena anak dan ibu itu sedang menghalangi Allena pergi.
Hasil tes itu harus negatif, bagaimanapun juga hasil tes itu harus negatif. Mommy akan membiarkan perempuan itu pergi jika hasilnya negatif. Sebesar apa pun cinta Zefran padanya, Mommy tidak akan mengizinkan perempuan itu tetap di sini jika telah menginjak harga diri keluarga ini, jerit hati Frisca.
Ucapan Ny. Mahlika yang panjang lebar membuat Allena batal meninggalkan rumah itu. Ny. Mahlika sudah membuka pikirannya. Allena hanya berpikir dari sudut pandangnya sendiri dan menuduh keluarga itu kejam karena meragukannya.
Perlahan Allena melupakan kesedihannya karena dituduh berselingkuh. Allena juga belum mulai bekerja hingga selalu berada di rumah. Tak ada foto kebersamaannya bersama Valendino yang bisa dimanfaatkan Frisca untuk menghasut keluarga itu lagi.
"Ayo kita bikin adik untuk Zefano," bisik Zefran sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Zefano itu masih bayi, masa mau punya adik?" jawab Allena sambil membalik badan.
"Karena berhasil membuatmu hamil aku jadi begitu semangat ingin membuatmu hamil lagi. Aku ingin punya anak yang banyak darimu," ucap Zefran sambil menggendong istrinya dan merebahkan di ranjang.
Memeluk dan menyatukan bibir mereka, Allena pasrah saat Zefran melepas satu per satu apa yang melekat di tubuhnya. Melemparnya begitu saja ke lantai kemudian memulai aksi bercintanya. Berusaha memberi kepuasan pada istrinya. Di saat Allena tidak bisa menahan desahnya Zefran akan tersenyum sambil membisikkan kata-kata cintanya.
Kata-kata Zefran membuat hati Allena melayang. Zefran menjadi lebih memanjakan Allena, setiap hari mengirim bunga seolah-olah untuk membayar kesedihan yang pernah Allena rasakan. Apa pun Zefran lakukan untuk membuat istrinya itu semakin mencintainya.
Sementara itu Frisca semakin kesal dibuatnya. Meski Zefran bersikap adil padanya. Semalam bersama Allena, malam berikutnya bersamanya. Mengirim bunga untuk Allena, Zefran juga mengirim bunga untuknya. Memberi hadiah untuk Allena, Zefran tak lupa memberi hadiah untuk istri pertamanya.
Tapi tetap saja tak bisa membuat hati Frisca tenang karena pada dasarnya Frisca hanya ingin Zefran untuknya. Semua untuknya, cinta Zefran, perhatian Zefran, kasih sayang Zefran, tubuh Zefran hanya ingin untuk dirinya sendiri. Sementara suaminya itu sudah tidak bisa berpaling lagi dari istri keduanya.
Frisca berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Menunggu hasil tes DNA itu terasa begitu menyiksa baginya. Detik demi detik, menit demi menit terasa begitu lama baginya. Hingga malam itu Shinta menelponnya, Frisca buru-buru mengunci pintu kamar. Langsung menerima panggilan telepon yang ditunggu-tunggunya itu.
"Hasilnya sudah ada, seperti yang kamu inginkan aku memberitahumu lebih dulu. Besok hasil tes ini bisa diserahkan pada keluargamu," ujar Shinta.
"Bisakah kamu scan dan kirimkan padaku sekarang?" tanya Frisca.
"Baiklah, tunggu sebentar," jawab Shinta.
Frisca sabar menunggu, tinggal hitungan menit dia akan melihat hasil tes DNA itu. Hal yang ditunggu-tunggunya segera terpampang di depan matanya. Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar.
__ADS_1
Segera Frisca membuka dokumen yang baru dikirimkan sahabatnya. Perlahan melihat dan membaca isinya. Lembaran-lembaran yang tidak dimengertinya di abaikan begitu saja hingga akhirnya wanita itu membaca lembar keputusannya.
...HASIL IDENTIFIKASI DNA...
Bukti ilmiah yang diperoleh mengacu pada sampel yang diperiksa menunjukkan bahwa tiga belas alel Loci marka STR yang dianalisis dari terduga ayah, Zefran Dimitrios cocok dengan alel paternal anak, Zefano Dimitrios.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Zefran Dimitrios sebagai ayah biologis dari Zefano Dimitrios adalah >99.99 %. Oleh karena itu Zefran Dimitrios sebagai terduga ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis dari Zefano Dimitrios.
Frisca terduduk di lantai bahkan ponselnya terbanting begitu saja. Harapan bahwa Zefran tidak memiliki anak selain darinya telah punah. Zefran tidak bermasalah dan memang berhasil menghamili Allena. Dugaan Frisca bahwa Allena mengandung anak laki-laki lain demi tetap menjadi keluarga itu buyar sudah. Ada banyak kesedihan tumbuh di hati Frisca.
Bukti bahwa dia yang tak bisa menghadirkan keturunan bagi keluarga itu semakin jelas. Zefran akan semakin mencintai istri keduanya itu. Usahanya yang ingin menyingkirkan Allena gagal dan pandangan keluarga itu yang akan melihatnya sebagai seorang penghasut akan segera dirasakannya. Frisca meneteskan air mata, tubuhnya gemetar.
Shinta harus mau merubah hasil tes itu, dia harus mau menolongku, batin Frisca.
Dengan gemetar melihat ke kanan dan ke kiri seperti orang yang kebingungan. Hingga akhirnya menemukan ponselnya.
Aku harus menghubungi Shinta, aku harus bertemu dengannya, batin Frisca.
Frisca merangkak dengan gemetar mengambil ponsel itu.
"APA? Bertemu malam ini? Aku baru saja pulang, lagi pula ini sudah malam. Besok kalian bisa mendapatkan dokumen aslinya. Besok saja kita bertemu," usul Shinta.
"Tidak bisa! Aku harus bertemu denganmu sekarang! HARUS SEKARANG. HARUS SEKARANG!!" teriak Frisca.
Shinta kaget mendengar teriakan histeris Frisca, tak lama kemudian terdengar wanita itu menangis meminta untuk bertemu. Shinta yang baru saja sampai dan ingin beristirahat di apartemennya, menghela nafas berat.
"Baiklah kita bertemu malam ini," jawab Shinta.
Mereka sepakat bertemu di sebuah cafe. Frisca telah datang lebih dulu dengan ekspresi yang tak sabar dan panik. Shinta duduk di hadapannya dan meletakkan dokumen hasil tes di atas meja.
"Aku hanya bisa memperlihatkannya, nanti akan aku bawa lagi. Besok bisa diambil di rumah sakit," ujar Shinta.
"Aku tidak butuh itu, aku ingin kamu membuatkan hasil tes yang baru," sahut Frisca.
"Apa? Hasil yang baru? Apa maksudmu, mana ada hasil yang baru," ujar Shinta.
"Kamu harus buatkan dokumen yang palsu untuk diserahkan pada keluargaku," ucap Frisca dengan tubuh yang gemetar menahan emosi, panik dan sedih.
"Aku tidak bisa melakukan itu, memanipulasi dokumen dan seolah-seolah dokumen itu benar dan asli itu menyalahi hukum. Itu sama saja melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen, hukumannya bisa mencapai enam tahun, apa kamu sudah gila?" bisik Frisca.
"Itu jika ketahuan, dalam hal ini siapa yang akan menyangka dokumen itu sudah dipalsukan. Tolonglah kamu bisa memakai data lain dan mencantumkan nama Zefran dan bayi itu di halaman keputusan itu. Tidak ada yang peduli isinya, keluargaku hanya akan peduli halaman keputusan itu," jelas Frisca.
"Aku takut Frisca, jika ketahuan dan ada yang merasa dirugikan mereka bisa memperoses hukum atas dugaan pemalsuan dokumen. Aku bisa di penjara," bisik Shinta.
"Kamu berkata seperti itu, seolah-olah ini baru pertama kalinya kamu melakukan pemalsuan?" ancam Frisca.
"Apa?"
"Kamu lupa tapi aku selalu ingat, bagaimana kamu meminta bantuanku untuk membuatkan transkrip nilai palsu untuk mendapatkan beasiswamu. Apa sekarang sudah tidak takut ketahuan lagi?" ucap Frisca dengan mata yang membesar.
Shinta tercenung, kembali teringat saat panik IPK-nya tidak mencukupi untuk mendapatkan beasiswa. Shinta datang menangis pada Frisca untuk meminta bantuan. Bukan masalah uang yang menjadi masalah baginya.
Ayahnya yang terkenal tegas tidak terima jika prestasi putri yang di banggakannya itu menurun. Beasiswa yang diberikan untuk mendukung studi para pelajar Indonesia yang menimba ilmu di luar negeri itu terancam melayang.
Ayah Shinta merasa sangat bangga saat putrinya dinyatakan berprestasi dan mendapat kesempatan menerima beasiswa di antara ribuan pelajar yang mendaftar untuk mendapatkannya. Sebuah kebanggaan baginya hingga tidak akan bisa menerima kenyataan bahwa kali itu Shinta tidak bisa mendapatkan lagi karena nilainya yang merosot cukup jauh.
"Aku tidak ingin mengancam kamu tapi sepertinya hingga saat ini Daddy-mu masih belum tahu kalau putrinya pernah melakukan pemalsuan dokumen demi dirinya. Aku tunggu kabar baik darimu besok," sambung Frisca.
__ADS_1
Shinta menatap wajah Frisca dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah berkata seperti itu Frisca melangkah keluar cafe, meninggalkan Shinta yang termenung seorang diri.
...~ Bersambung ~...