Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 120 ~ Memilih ~


__ADS_3

Acara soft opening cafe itu berjalan dengan lancar, Rivaldo sukses menggelar acara itu berkat bantuan teman-temannya. Bantuan Allena yang sangat besar pada acara itu akan selalu dikenang oleh Rivaldo dan Frisca.


Allena mengirimkan karangan bunga sekaligus menjadi penanggung jawab dekorasi bunga-bunga segar di ruangan itu. Tentu saja menggunakan jasa toko bunga tempat dia bekerja dulu.


"Kak, kalau ingin nasi goreng spesial ini bagaimana caranya? Masa harus memaksa pemilik cafe turun tangan masuk ke dapur?" tanya Allena.


"Tenang saja Allena, koki restoran ini telah aku bagi resep rahasianya jadi tanpa aku turun tangan pun rasanya akan tetap sama. Tapi kalau untuk kamu, aku akan terjun langsung ke dapur," jawab Rivaldo.


"Wah tak adil, masa cuma untuk Allena saja di bikin khusus oleh pemilik cafe?" tanya Ronald sewot.


"Maksudku untuk kita semua saudara-saudaraku. Aku juga tidak mau mengecewakan saudaraku dan ponakanku yang terlanjur menyukai nasi goreng spesialku," jawab Rivaldo langsung sambil tertawa.


"Nah itu baru adil," jawab Ronald.


Dan semua tertawa mendengar obrolan mereka. Dion juga ikut tertawa, Zefran memperkenalkan Dion pada semua teman-temannya. Mahasiswa yang sebentar lagi akan di wisuda itu kagum dengan pergaulan para CEO itu yang terlihat arogan dan pemilih dalam mencari teman. Namun, kenyataannya semua anggota kelompok persaudaraan itu sama sekali tak mempedulikan strata sosial dalam bergaul.


Sekilas orang-orang mungkin tak akan berani mendekati kelompok itu karena menilai mereka adalah kelompok orang-orang yang tak akan menerima orang-orang dari kalangan bawah.


Setelah menceritakan kejadian yang menimpa Dion saat menolong Allena keempat keturunan kaya raya itu pun berlomba menawarkan Dion posisi di perusahaan mereka. Dion menjadi bingung untuk berkata-kata.


"Saya tak menyangka Kak, kelompok persaudaraan yang terlihat begitu arogan ini ternyata bisa menerima orang dari kalangan bawah seperti saya," ucap Dion saat bersantai setelah makan siang.


"Kakak juga tidak menyangka Dion, mungkin sejak bergaul dengan Kakak. Mereka jadi terbiasa menerima orang-orang miskin seperti kita," jawab Allena sambil tersenyum.


"Bukan menerima lagi, tapi mereka sayang dan menyanjung Kak Allena. Terlebih lagi Kak Zefran, sepertinya gadis dari keturunan bangsawan, putri kerajaan, gadis dari keluarga crazy rich atau bahkan Miss Universe pun tetap tak bisa mengalahkan Kak Allena di hatinya," ucap Dion.


"Kamu berlebihan," jawab Allena lagi sambil menatap suaminya yang bercanda dan berkumpul di sebuah meja bundar bersama fraternity-nya.


"Tidak berlebihan Kak, saking cintanya, Kak Zefran sampai overprotektif sama Kak Allena. Laki-laki di sekitar Kak Allena harus tahu kalau Kak Allena adalah miliknya, itu yang aku lihat," ucap Dion.


"Kamu ini lulusan IT atau Psikologi?" tanya Allena yang tak perlukan jawaban.


Mereka tertawa bersama-sama.


Mungkin rasa sukaku pada Kak Allena berawal dari rasa kasihan terhadap hidupnya yang dulu susah. Rasa tak rela jika gadis secantik dan sebaik Kak Allena jatuh ke tangan rentenir tua itu tapi Kak Allena memang mengagumkan bisa menguasai hati orang-orang kalangan atas itu hingga mereka menaruh rasa hormat dan sayang padanya. Kak Allena memang hebat, batin Dion saat menatap Allena.


Zefran tertegun, senyum di wajahnya pun langsung memudar saat melihat Dion menatap Allena.


Tidak! Biarkan saja, bukan salah Allena jika anak itu menyukainya. Itu adalah haknya menyukai siapa pun yang ingin disukainya, yang penting Allena tetap mencintaiku, tetap memilihku. Tak peduli berapa banyak laki-laki yang menginginkannya, batin Zefran lalu kembali tenggelam dalam obrolan dengan teman-temannya.


Dion ingin mengambil minum dan menawarkan untuk mengambilkan minum untuk Allena.


"Sebenarnya aku ingin anakku, kemana mereka?" tanya Allena sambil melihat sekeliling.

__ADS_1


"Kalau Zeno, bermain bersama gadis kecil itu. Kalau Zara tadi masih bersama kakak-kakak cantik itu," jawab Dion.


"Oh, kamu melihatnya?" tanya Allena.


"Ya, Zara di oper sana sini. Anak itu mudah sekali tertawa jadi kakak-kakak itu suka bermain dengannya. Kak Allena mau saya ambilkan minum?" tanya Dion.


"Boleh, terima kasih Dion," jawab Allena.


Zefran melirik Dion yang bergerak mengambilkan minuman untuk Allena. Rasanya ingin menghampiri istrinya dan kembali menguasainya. Tapi Zefran merasa itu sikap kekanak-kanakan. Meninggalkan teman-temannya dan mendekati istrinya hanya untuk mengusir Dion dari sisi Allena.


Zefran pasrah menahan diri, semua itu tak luput dari pandangan Valendino.


"Zefran!" panggil Valendino.


Zefran langsung menoleh ke arahnya.


"Apa kamu sungguh-sungguh menawarkan anak itu bekerja di perusahaanmu?" tanya Valendino.


"Ya, tentu saja. Aku berhutang budi padanya," ucap Zefran lalu meneguk minumannya.


"Kamu tahan mempekerjakan laki-laki yang jelas-jelas menyukai istrimu?" tanya Valendino.


"Apa masalahnya?" tanya Zefran.


"Aku tidak akan seperti itu," sanggah Zefran.


"Aku ragu, dari tadi kamu sebentar-bentar melirik ke arahnya seakan-akan takut kalau Allena akan dibawa lari olehnya," ucap Altop sambil tertawa.


"Sudahlah Zefran biarkan dia bekerja padaku, daripada bekerja padamu. Kamu bisa stress setiap kali melihatnya kamu bisa mencekiknya tanpa kamu sadari," ucap Valendino.


Semua tertawa mendengar ucapan Valendino tapi mereka mengakui ucapan laki-laki itu ada benarnya. Akhirnya Zefran mengangguk setuju.


"Siapa pun dari kita yang ingin membalas kebaikannya itu sama saja, Allena sudah seperti adik kami, tidak harus suaminya 'kan yang membalas budi," tambah Ronald.


"Betul, kalau dia mau di manajemen Night Club juga boleh," ucap Altop menawarkan.


"Ya, biar dia berpesta terus," ucap Ronald.


"Hey, aku menawarinya di bagian manajemen Night Club bukan di Night Club-nya," sanggah Altop.


"Memangnya bagian manajemenmu orangnya tidak suka berpesta? Pekerja perusahaan lain saja datang ke sana untuk bersenang-senang. Apalagi bagian dari Night Club ya pasti mainnya di situ juga. Janganlah! Anak itu sepertinya anak baik-baik," ucap Ronald.


"Jadi kamu pikir tempat itu untuk anak jahat-jahat? Kita ini semua lulusan sana," ucap Altop lagi.

__ADS_1


Semua tertawa mendengar sanggahan Altop. Seolah-olah mereka tidak hobi berkumpul di Night Club-nya itu. Akhirnya Zefran menyetujui untuk membiarkan Dion memilih di mana dia ingin bekerja.


Tak jauh dari pembicaraan kelompok itu, Allena juga bertanya keputusan Dion ingin bekerja di mana.


"Kamu sudah memutuskan bekerja di mana? Sepertinya kakak-kakak itu sangat berharap Dion mau bekerja dengan mereka," tanya Allena.


"Ya Kak, ini luar biasa. Aku tak menyangka bisa mendapatkan kemudahan seperti ini. Masalahnya aku tidak enak hati pada Kak Zefran yang pertama kali menawarkan pekerjaan itu. Bagaimana aku harus memilih yang lain?" tanya Dion.


"Kamu tidak ingin bekerja dengan Kak Zefran?" Kenapa?" tanya Allena.


Bagaimana aku bisa bekerja padanya Kak? Jika tatapannya selalu curiga padaku. Kak Zefran mungkin tulus ingin membalas budi tapi aku yakin dia sendiri merasa tak leluasa jika melihatku di sekitarnya. Tidak! Sebenarnya aku yang tidak leluasa, membayangkan atasanku setiap hari memeluk wanita yang aku sukai, batin Dion.


Laki-laki itu tak bisa menjawab pertanyaan Allena. Hingga wanita itu tak bisa lagi memaksa Dion menerima tawaran pekerjaan dari suaminya.


"Sebenarnya jika kamu tidak ingin menerima tawaran Kak Zefran juga tidak apa-apa. Asalkan jangan menolak semuanya, mencari pekerjaan di jaman sekarang ini susah jika terlanjur menolak, Kakak takut kamu akan menyesal," ungkap Allena akhirnya.


"Tidak apa-apa Kak? Sungguh tak apa-apa jika aku menerima tawaran dari Kakak yang lain?" tanya Dion.


"Tentu saja kamu bebas memilih, Kakak-kakak itu semua orang-orang baik. Mereka tulus menawarkan pekerjaan untukmu. Kamu pilih saja, siapa pun yang kamu pilih tidak masalah," jelas Allena.


"Baiklah Kak, kalau tidak keberatan aku pilih perusahaan Adelard saja. Kak Valen itu sepertinya juga sayang sama Kak Allena. Eh ... maaf Kak, sebenarnya semua sayang sama Kak Allena. Tapi aku merasa lebih suka sama Kak Valen saja," jelas Dion agak bingung cara menjelaskannya.


Tak mungkin mengatakan kalau dia tak ingin bekerja pada suami Allena yang pencemburu itu.


Allena mengangguk dan merasa lega. Akhirnya Dion mau menerima bekerja di salah satu perusahaan sahabat suaminya. Dion pun merasa lega karena Allena tak keberatan dia menolak memilih perusahaan suaminya.


Saat perjalanan pulang Zefran menanyakan apa saja yang dibicarakan istrinya dengan Dion.


"Aku penasaran Kak, di perusahaan siapa Dion ingin bekerja. Jadi aku tanyakan itu, awalnya dia merasa tak enak hati karena Kak Zefran yang menawarkan lebih dulu sementara dia ingin bekerja di perusahaan Adelard," jelas Allena.


Syukurlah, rupanya dia tahu diri. Aku tidak keberatan jika dia memilih perusahaanku tapi apa dia sanggup melihat laki-laki yang jadi atasannya adalah suami dari wanita yang disukainya, batin Zefran sambil tetap fokus menyetir.


"Kakak tidak keberatan 'kan kalau dia memilih perusahaan Kak Valen?" tanya Allena.


"Oh tidak apa-apa sayang, itu sama saja. Mau dia pilih di perusahaan mana pun di antara kami tidak masalah, kami semua sama-sama ingin membalas kebaikannya karena menolongmu," jelas Zefran.


Allena mengangguk.


Syukurlah, tidak ada masalah yang timbul hari ini. Padahal aku sudah panik saat melihat Dion datang ke sana hari ini, batin Allena.


Tiba-tiba tangan Zefran menggenggam tangan Allena. Lalu mencium punggung tangan wanita yang dicintainya itu lama dan dalam. Allena ingin bertanya tapi hanya tenggelam di dalam hatinya. Allena memutuskan membiarkan laki-laki itu menunjukkan rasa cintanya pada Allena.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2