Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 64 ~ Menunggu Kabar ~


__ADS_3

Di layar monitor terlihat Zefano yang digandeng tangannya oleh seorang perempuan bertopi dengan rambut panjang yang diikat. Zefran serius mengamati, mencoba untuk mengenali siapa yang membawa Zefano.


Zefran merasa sama sekali tidak pernah mengenal wanita dengan penampilan seperti itu. Mengenakan celana jeans ketat berwarna hitam dengan jaket yang juga berwarna senada. 


Saat mendengar Zefano dibawa oleh seorang perempuan. Allena reflek berdiri di belakang suaminya karena rasa penasaran ingin mengetahui siapa yang telah membawa putranya. Namun tak berani terlalu mendekat karena Zefran memintanya untuk duduk di belakang beristirahat.


Zefran terus mengamati, sesaat setelah Zefano menoleh, perempuan itu pun menoleh ke arah Zefano, saat itulah Zefran langsung mengenalinya.  Karena terkejut dengan lantang Zefran menyebut nama Frisca. 


Allena terhuyung, mendengar Zefran menyebut nama Frisca, Allena langsung panik. Sangat jelas Frisca tidak pernah berlaku baik padanya, Frisca sangat membencinya. Allena bahkan berpikir Frisca pasti bermaksud buruk pada putranya. Allena merasa terguncang karena putra kesayangannya justru berada di tangan orang yang sangat membencinya.


Zefran yang mendengar kursi bergeser langsung menoleh dan menyambut tubuh istrinya yang telah jatuh pingsan. Dokter Shinta langsung memanggil petugas medis untuk membantu menangani Allena. Wanita yang sedang hamil besar itu akhirnya harus istirahat di sebuah ruang rawat inap.


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Zefran saat melihat Allena siuman dari pingsannya.


Allena memandang ke sekeliling ruangan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Allena bersedih, baru saja ingin meninggalkan ruang rawat inap itu namun sekarang justru terbaring di dalam ruangan yang sudah sangat ingin ditinggalkannya.


"Bagaimana Zeno Kak? Apa anakku bisa ditemukan?" tanya Allena dengan air mata yang langsung mengalir.


"Valen sedang menjelaskan kronologi hilangnya Zeno pada Polisi, kita juga telah mengetahui siapa yang membawa Zeno. Saat ini Frisca telah masuk dalam daftar pencarian orang. Kamu jangan khawatir ya sayang, kita pasti segera menemukan Zeno," ucap Zefran menghibur istrinya.


"Bagaimana aku tidak khawatir Kak? Nyonya Frisca itu dendam padaku. Aku takut karena sakit hati pada kita dia melampiaskannya pada Zeno. Aku takut dia akan menyakiti Zeno kita," ucap Allena kembali menangis.


Dokter Shinta menyentuh tangan Allena, wanita itu langsung menoleh pada Dokter Shinta yang berdiri di samping ranjang rumah sakitnya.


"Kamu harus tenang Allena, jangan berpikiran buruk. Ingat kamu sedang hamil, suasana hatimu berpengaruh pada bayimu. Ibu yang menangis juga dirasakan oleh janinnya, jika terlalu sering menangis atau merasa emosi selama kehamilan bisa mempengaruhi perkembangan janin hingga meningkatkan risiko kelahiran prematur. Kita tidak ingin itu terjadi 'kan?" jelas Shinta.


Zefran bersyukur Dokter Shinta menasehati istrinya agar tidak terlalu khawatir pada Zefano.


"Percayalah, Frisca tidak akan menyakiti Zeno," ucap Zefran ikut meyakinkan Allena.


Meski dalam hatinya sendiri merasa ragu, hubungan mereka yang buruk ditambah Allena yang menolak kehadirannya dalam rumah tangga mereka bisa saja membuat Frisca menjadi dendam terhadap mereka.


Dokter Shinta menunduk dan terlihat ingin menceritakan sesuatu namun ragu-ragu.


"Ada apa Dokter Shinta? Ada yang ingin dokter tanyakan pada kami?" tanya Zefran.


Dokter Shinta menggeleng.


"Sebenarnya Frisca menemuiku beberapa bulan yang lalu. Seperti yang pernah aku ceritakan padamu kalau aku sudah memutuskan hubungan pertemanan dengannya tapi tiba-tiba dia muncul di kantorku. Dia bercerita kalau kehidupannya sangat sulit setelah bercerai denganmu. Dia memutuskan menikah dengan Bobby tapi keluarganya menentang hingga akhirnya Frisca hengkang dari perusahaannya dan pergi bersama Bobby, tapi ternyata…,"


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Zefran penasaran.

__ADS_1


"Ternyata Bobby juga tidak bekerja lagi karena harus menyembunyikan diri dari polisi yang mencarinya gara-gara kasus penusukanmu di Night Club waktu itu," cerita Shinta.


"Lalu?" tanya Allena.


"Mereka hidup dalam pelarian dan persembunyian, lama-lama mereka kehabisan uang. Frisca bahkan dipaksa melayani pria hidung belang demi biaya hidup mereka," jelas Shinta sambil menunduk.


Allena terperangah hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sangat terkejut mendengar nasib Frisca yang menyedihkan.


"Frisca tidak tahan hidup seperti itu hingga akhirnya menggugat cerai Bobby, mereka pun berpisah. Frisca ingin kembali ke keluarganya namun sayang orang tuanya terlanjur kecewa dan telah menyerahkan posisi Direktur Bisnis di perusahaan mereka pada sepupunya. Frisca hidup terlunta-lunta dan semakin sulit," lanjut Shinta.


"Saat dia mengirimkan foto-foto padamu dulu dia baru saja menginap di rumah kami. Saat itu dia berkata kalau bayinya meninggal menjelang dilahirkan. Apa itu benar?" tanya Allena.


"Itu tidak benar, saat Zefran menceraikannya dia sedang hamil muda karena terlalu dipaksakan melayani laki-laki akhirnya dia keguguran. Sejak itu Frisca menolak melayani dengan alasan sedang hamil dan menganggap bayinya meninggal menjelang dilahirkan," jelas Shinta.


"Kasihan sekali nyonya Frisca, aku bersalah padanya Kak. Aku sudah berkata kasar padanya padahal hidupnya sedang sulit harusnya aku tidak mengucapkan kata-kata kejam itu padanya. Dia sedang mencari tempat bernaung dan aku menghinanya. Aku merasa bersalah Kak, aku merasa berdosa padanya," ucap Allena kembali menangis.


Dokter Shinta menyentuh tangan Allena.


"Allena jangan bersedih, aku menceritakan ini agar kita bersiap-siap jika tiba-tiba dia meminta tebusan demi mendapatkan uang," jelas Shinta.


"Jika dia meminta uang tebusan justru itu lebih baik, kita bisa segera tahu apa keinginannya daripada menunggu tanpa kejelasan seperti saat ini," ucap Zefran.


Zefran memeluk istrinya yang menangis, dalam hatinya merasa khawatir Frisca gelap mata dan melakukan hal yang buruk terhadap putra mereka. Entah menjualnya pada orang lain atau putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan mengajak Zefano.


Zefran menitikkan air mata sambil memeluk istrinya, laki-laki itu juga merasa menyesal telah berlaku dan berkata kasar pada Frisca.


Ditempat lain, di sebuah kamar kost, Frisca duduk sambil menatap anak kecil yang baru saja diajak bersamanya. Sebagian hatinya merasa senang membawa Zefano karena pasti akan membuat kedua orang tuanya sangat khawatir. Sebagian lagi merasa menyesal mengajak Zefano karena dia sendiri tidak tahu apa tujuannya membawa anak itu.


"Kita tunggu Papa di sini ya Tante?" tanya Zefano dengan suara kecilnya memecah kesunyian.


"Ya,"


Zefano tersenyum, Frisca merasa senang berhasil membawa putra kesayangan mantan suaminya itu. Bermodal foto mesra mereka yang masih tersimpan di ponselnya, Frisca mengaku teman baik Papanya dan mengaku disuruh Zefran untuk menjemput Zefano.


"Papa sayang sama Tante ya? Apa Tante ini pacar Papa?" tanya Zefano.


"Apa? Kenapa kamu berpikir seperti itu. Bukannya Tante bilang kalau Tante ini temannya Papamu?" ucap Frisca.


"Abisnya di foto itu Papa peluk Tante, berarti Papa sayang sama Tante. Kalau sayang boleh jadi pacar, kalau jadi pacar boleh dipeluk," jelas Zefano.


Frisca tertegun, ucapan polos Zefano mengingatkannya masa-masa di saat Zefran masih menyayangi dan mencintainya. Tapi dia justru tidak menghargai perasaan cinta yang tulus dari Zefran dan justru mengkhianatinya di belakang laki-laki itu.

__ADS_1


"Kamu lapar Zefano?" tanya Frisca.


"Nggak, Zeno tadi habis makan siang," jawab Zefano.


Frisca kembali diam menatap Zefano, wanita itu masih belum tahu apa yang akan dilakukannya terhadap Zefano.


Anak ini mirip sekali dengan Zefran, jika saat ini menuduhnya bukan anak biologis Zefran rasanya tidak ada yang akan percaya padaku, bisik hati Frisca.


Wanita itu kembali bernostalgia saat berpacaran dengan Zefran. Setiap kali melihat senyum Zefano yang mirip dengan senyum Zefran atau setiap kali melihat gerak laku anak itu. Setiap kali tersenyum Zefano akan memejamkan sekilas kedua matanya. Hal yang dulu membuat Frisca terpesona pada ayah dari anak itu.


Tapi Frisca menguatkan hatinya, dia merasa tidak boleh lemah karena melihat manisnya sikap Zefano. Setiap kali menoleh ke arah lain, anak itu akan tersenyum pada Frisca seolah-olah merasa malu karena sikapnya yang ingin tahu terlihat oleh Frisca.


Zefran dan perempuan itu pasti merasa khawatir pada anak ini, apa aku minta uang tebusan saja ya? Aah.., baiklah, mungkin nanti setelah aku puas melihat mereka khawatir dan putus asa karena tak kunjung menemukan anak mereka, batin Frisca.


"Kapan Papa datang jemput Zeno Tante?" tanya Zefano akhirnya.


Tanyakan sendiri pada Papamu, batin Frisca.


"Zeno mengantuk Tante, Zeno boleh bobok di sini dulu nggak? Nanti kalau Papa datang bangunin Zeno ya Tante," ucap Zefano.


Frisca belum menjawab namun anak itu telah merebahkan dirinya di kursi tamu. Sementara itu Frisca termenung menatap bocah yang sekarang tertidur lelap dengan damai tanpa ada sedikit pun ekspresi takut. 


Anak ini benar-benar percaya kalau Papanya akan datang untuk menjemputnya. Tidak, anak ini percaya padaku, percaya kalau aku adalah orang yang disayang Papanya hingga dia percaya ucapanku. Apa yang kulakukan ini? Membiayai hidupku sendiri saja sudah sulit sekarang malah membawa tanggungan. Kalau tidak mendapat uang dari Shinta aku bahkan tidak tahu harus tidur di mana? Hah, jerit hati Frisca.


Melepas topinya dan melempar sembarangan lalu menggaruk-garuk kepalanya. Pikirannya bertambah kusut.


Coba waktu itu aku tidak membakar gaun-gaun rancangan perebut suami orang itu, aku bisa menjualnya, ratusan juta bisa aku dapatkan. Uuuh.., sial, sial, pakaian mahalku juga telah habis terjual. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak ada lagi yang bisa dijual, apa aku jual saja anak ini? jerit hati Frisca.


Baru saja berpikir seperti itu, terdengar gedoran pintu, Frisca terkejut. Suara gedor pintu itu sangat keras bahkan hingga membangunkan Zefano.


"Itu Papa ya Tante?" tanya Zefano.


"Tidak tahu, diam saja dulu," ucap Frisca sambil menyilangkan jari telunjuknya di bibir.


Kembali terdengar gedoran pintu, suaranya semakin keras, tiba-tiba Frisca berpikir.


Apa jangan-jangan polisi yang mengetahui kalau aku yang telah menculik anak ini, jerit hati Frisca.


Gedoran pintu terdengar lagi, Frisca segera mendekap Zefano di depannya. Bersiap-siap mengancam dan akan menjadikan Zefano sebagai sandera.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2