
Seorang mahasiswa mengatakan kalau Allena adalah nama dari gadis pujaan Dion. Zefran terbelalak dan langsung menoleh pada Allena. Allena sendiri juga terperangah, Allena hanya bisa tertunduk, tak mampu menahan tatapan mata Zefran yang tajam mengarah padanya.
"Maksudnya Allena yang ini? tanya Zefran to the point pada Dion.
Tentu saja setelah teman-teman mahasiswa itu pulang. Dion kelabakan namun dengan cepat menguasai perasaannya.
"Ya, em … Begini, salah satu dari temanku tadi adalah teman sekelas waktu di SMP. Tanpa sengaja dia mengetahui cinta pertamaku lalu menyebarkannya di sekolah. Sebagian besar dari orang-orang yang mengenalku jadi tahu nama Kak Allena," ucapnya dengan malu-malu dan tak lupa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Oh, cinta pertama? Allena adalah cinta pertamamu?" tanya Zefran memastikan.
"Ya, maaf Kak. Namanya juga anak SMP masih rada aneh. Suka sama yang lebih dewasa itu terasa lebih keren," jawab Dion.
Zefran tertawa sambil mengangguk-angguk. Bukan hal yang aneh baginya. Masa-masa SMP adalah masa pubertas. Rasanya sudah sangat siap untuk jatuh cinta. Terserah kepada siapa panah cinta itu akan menancap. Zefran bahkan memiliki seorang teman yang jatuh cinta pada guru bahasa Inggrisnya hanya karena dia ingin bisa berbicara dengan bahasa asing itu.
Allena tertegun, hanya diam memperhatikan pembicaraan kedua orang itu. Awalnya Allena mengira Zefran akan mengamuk menunjukkan rasa cemburunya yang membabi buta. Berlalu meninggalkan ruangan itu atau memaki Allena seolah-olah itu adalah kesalahannya.
Tapi apa yang dilihatnya justru berbeda. Zefran justru asyik berbincang dengan pemuda yang jelas-jelas mengakui Allena sebagai cinta pertamanya.
"Apanya yang kamu suka darinya?" tanya Zefran sambil menoleh ke arah istrinya.
"Semuanya, senyumannya yang paling utama," jawab Dion semakin terpancing dengan pertanyaan Zefran.
Suami Allena itu mengangguk-angguk.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang aku suka darinya. Dia muncul dalam hidupku dan mengacaukannya. Dia dengan kepolosannya menyerahkan dirinya padaku. Kamu tahu kenapa? Karena dia butuh uang dan keluargaku memberikan bantuan padanya hingga dia rela menyerahkan dirinya padaku. Dia …"
"Kak …," ucap Allena dengan mata yang berkaca-kaca.
Allena tak menyangka Zefran akan menceritakan masa lalunya pada Dion. Belum lagi pemuda itu melihat mata Allena yang berlinang air mata. Mahasiswa itu telah tercenung mendengarkan cerita Zefran yang terkesan merendahkan istrinya.
__ADS_1
Dion menyesal menceritakan apa yang dirasakannya pada Allena. Barulah dia mengerti kalau ternyata Zefran merasa kesal dengan ceritanya. Allena hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Namun Zefran langsung mencekal tangan wanita itu.
"Kenapa pergi? Kita bercerita tentang masa lalu di sini," ucap Zefran sambil tersenyum pada Allena.
"Aku tidak punya cerita lain lagi Kak, hanya itu," ucap Dion ingin mengakhiri cerita tentang kisah cintanya itu.
"Tapi masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu," ucap Zefran.
Allena tak sanggup lagi mendengar ucapan Zefran. Air matanya yang telah menumpuk di pelupuk mata wanita itu akhirnya mengalir.
"Kenapa menangis sayang?" tanya Zefran sambil mengusap air mata wanita cantik itu.
Allena tak ingin lagi mendengarnya, baru sampai di situ cerita Zefran. Allena telah merasakan dadanya yang terasa perih. Wanita itu takut, Zefran akan menceritakan pada Dion betapa buruk awal pernikahan mereka.
"Hey, kenapa sedih sih?" tanya Zefran sambil memeluk Allena.
"Aku ingin pulang Kak," ucap Allena dengan tatapan memohon.
Dion mengangguk, dalam hatinya tak tega melihat Allena yang menangis memohon untuk pulang. Sepasang suami istri itu pun keluar dari ruang rawat inap mewah itu.
Dingin sekali suaminya, aku sampai merinding melihatnya. Tak aku sangka ternyata dia kesal dengan ceritaku. Tadinya aku pikir dia benar-benar ingin mendengar kisah cintaku. Ternyata dia hanya ingin memancingku bercerita hingga dia sendiri merasa kesal, batin Dion.
Sementara itu Allena berjalan cepat ke parkiran. Wanita itu bahkan tidak peduli kalau Zefran tertinggal di belakangnya. Allena ingin segera sampai di mobil dan menangis sepuasnya di sana.
Mereka masuk ke dalam lift. Zefran menatap wanita yang dicintainya itu namun Allena justru memalingkan wajahnya.
"Kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba jadi marah?" tanya Zefran.
"Kenapa Kakak menceritakan tentang itu padanya. Kakak kejam, membuat aku seperti wanita hina di hadapan anak itu. Aku capek, aku tidak mau lagi menjadi tumbal kemarahanmu. Kakak kesal padanya dan melampiaskannya padaku. Apa salahku, kenapa Kakak tega menceritakan itu padanya. Agar dia tahu seperti apa aku? Seperti apa wanita yang menjadi cinta pertamanya? Aku sudah cukup Kak, aku capek," ucap Allena sambil menghapus air matanya dengan kasar.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku memang ke kanak-kanakan. Maafkan aku Allena," ucap Zefran baru menyadari kesalahannya.
"Aku tidak memaafkanmu," ucap Allena pelan namun seperti petir yang menggelegar tepat dihadapan Zefran.
"Allena jangan seperti itu, aku tidak bermaksud merendahkanmu. Aku hanya ingin menceritakan bagaimana kita bertemu. Aku …"
"Tidak! Bukan itu, Kakak ingin menunjukkan pada Dion kalau wanita yang diam-diam dicintainya itu hanya seorang wanita murahan yang menyerahkan dirinya demi uang. Kakak ingin menyadarkan anak itu bahwa wanita yang diam-diam dicintainya tak lebih dari seorang wanita yang bisa dibeli dengan uang. Dan Kakak ingin membanggakan diri sebagai orang yang berhasil membeliku. Kakak tidak pernah mencintaiku, Kakak hanya hidup bersama dengan barang yang sudah Kakak beli. Kakak …"
"Tidak aku tidak seperti itu, kamu salah. Aku mencintaimu, aku memang kesal mendengar ceritanya. Dia bercerita tentang cintanya pada istriku, coba kamu bayangkan?" tanya.
"Kenapa aku harus membayangkannya? Jelas-jelas Kakak sengaja memancingnya untuk bercerita lalu kakak merasa kesal sendiri," ucap Allena membalas tatapan mata Zefran.
"Tidak! Aku tidak memaafkanmu!" ucap Allena lalu keluar dari pintu lift yang telah terbuka.
Zefran tercenung, tak menyangka jawaban Allena akan seperti itu. Saat pintu lift akan tertutup barulah laki-laki itu tersadar dan segera mengejar istrinya. Zefran mengira Allena akan pergi ke mobilnya namun ternyata wanita itu keluar gedung hanya dengan berjalan kaki. Allena tak sanggup lagi menghadapi kecemburuan Zefran.
Laki-laki itu segera mengejar istrinya. Zefran benar-benar menyadari kesalahannya. Laki-laki itu telah terbiasa berbuat salah lalu dimaafkan oleh Allena.
"Kembalilah sayang, ayo kita pulang sama-sama," ucap Zefran menghadang langkah Allena.
Namun Allena berjalan melewati Zefran. Laki-laki itu tak menyangka, niatnya mengunjungi Dion untuk berterima kasih padanya justru berakhir dengan pertengkaran dengan istrinya.
Allena langsung menyetop taksi dan pergi meninggalkan Zefran yang termangu. Zefran menjambak rambutnya sendiri karena menyesal. Sesampai di rumah Allena segera mengajak Zefano dan menggendong Zifara. Langsung pergi begitu saja hingga membuat para pelayan yang melihatnya merasa heran.
Allena meminta putranya masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana Ma?" tanya Zefano heran.
Allena tersenyum, dan memintanya melihat sendiri ke mana mereka akan pergi. Zefran yang baru sampai di rumah langsung ke kamar mencari Allena namun tak menemukan siapa pun. Zefran langsung ke ruang bermain anak-anak. Namun Allena dan anak-anaknya tak ditemukan di situ. Zefran mulai panik dan bertanya pada para pelayannya.
__ADS_1
Mereka bercerita kalau Allena telah pergi sambil membawa anak-anaknya. Zefran terduduk di kursi sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Zefran merasakan penyesalan yang sangat dalam atas perbuatannya yang telah membuat Allena letih menghadapinya.
...~ Bersambung ~...