Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 86 ~ Kesempatan ~


__ADS_3

Allena dan keluarganya mengunjungi toko bunga Tiara. Melihat Zefano yang telah besar membuat Tiara bernostalgia saat menunggu kelahiran bayi Allena.


"Kalau panik itu ternyata membuat kita tidak ingat apa-apa ya? Saat menunggu kelahiran bayimu, saat menggendong Zeno, rasanya tak ingat apa-apa dan tak ingin melakukan apa-apa lagi. Maunya menggendong terus sampai lupa waktu. Kalau tidak ingat toko yang ditinggal tanpa ada yang bisa menggantikan Allena rasanya bisa seharian menggendong bayinya. Sampai di toko perutku terasa perih karena belum diisi padahal saat di rumah sakit tidak merasakan apa-apa," jelas Tiara.


Mereka tertawa, mendengar cerita Tiara yang bernostalgia mengenang saat kelahiran Zefano. Hati Zefran lega, ganjalan di hatinya selama ini telah lepas. Zefran sangat berterima kasih pada Tiara yang telah ikut membantu dan menemani Allena saat menjelang kelahiran Zefano.


"Jangan sungkan Tuan, kalau untuk anak tampan ini. Apa pun akan ku lakukan," jawab Tiara sambil mencubit pipi Zefano.


Zefano tersenyum, anak itu merasa semua orang baik padanya dan ibunya.


"Terima kasih Tante," jawab Zefano.


"Duh, gemasnya, anakmu ini bisa jadi model cilik lho Allena. Kamu tinggal bikin rancangan buat anakmu trus suruh jalan di catwalk, sebentar aja bisa langsung terkenal ini," ucap Tiara.


Allena terperangah mendengar usul Tiara, mulutnya hingga menganga. Zefano tertawa melihat ekspresi ibunya.


"Zeno jadi model? Oh tidak, tidak, tidak, kalau Zeno jadi terkenal, jadi kaya raya trus malu mengakui ibunya yang sudah tua. Nanti judulnya bukan Malin Kundang Anak Durhaka tapi Zeno Anak Durhaka," ucap Allena bercanda.


"Nggak lah, kan ibunya Zeno cantik, kenapa Zeno harus malu?" ucap anak itu protes.


Tiara, Zefran dan Allena tertawa mendengar protes anak itu.


"Tapi lama-lama jadi tua, kalau sudah tua, nggak cantik lagi," lanjut Allena.


"Salah! Tetap cantik! Jadinya ibu tua yang cantik!" seru Zefano.


Allena, Tiara dan Zefran kembali tertawa.


"Ya ampun Allena, Zeno ini lucu dan cerdas. Sudah, jangan dilawan lagi. Zeno ini tidak akan terkalahkan!" seru Tiara.


Sambil melakukan hi five dengan Zefano, anak itu langsung mendekat dan memeluk Tiara. Wanita itu membungkuk untuk membalas pelukan Zefano.


"Uuh, belum terkenal aja sudah nempel sana nempel sini. Gimana kalau udah terkenal? Sibuk nempel-nempel jadi lupa sama ibunya," ucap Allena.


"Nggak lah, nempel sana nempel sini nya sebentar aja, kalau sama Mama nempelnya lama," ucap Zefano sambil beralih memeluk ibunya.


Allena tersenyum pada putranya dan mengecup puncak rambut anak itu. Allena menyudahi bercandanya dengan Zefano. Sekarang giliran Allena menanyakan rencana menggunakan dekorasi bunga untuk pesta pernikahan Frisca.


Zefran mengajak Zefano melihat-lihat sekeliling toko. Sementara Allena membicarakan tema pernikahan Frisca. Tiara menyanggupi, Allena berterima kasih pada mantan atasannya yang telah dianggap seperti keluarga itu. Tiara berjanji secepatnya akan meninjau lokasi pesta. Setelah setuju Allena pun pamit menuju perusahaan fashion Ny. Marilyn.


Saat sampai di sana Frisca sedang dalam fitting room. Allena, Zefran dan Zefano menunggu di sebuah ruangan, Rivaldo muncul mengenakan jas pengantin. Saat melihat ketiga orang itu, Rivaldo langsung menghampiri.


"Allena, apa ini tidak terlalu berlebihan?  Aku tidak percaya diri mengenakannya," ucap Rivaldo sambil menunduk memperhatikan setelan yang dikenakannya.


"Kenapa Kak Valdo tak percaya diri? Apa Kak Valdo tidak suka? Apa terlalu jelek?" tanya Allena bertubi-tubi.


"Bukan Allena, justru ini terlalu bagus. Ini pernikahan kedua kami, apa perlu seserius ini?" tanya Rivaldo.


"Pernikahan kedua? Apa dulu kalian sudah pernah menikah?" tanya Allena menggoda Rivaldo.


"Bukan begitu? Maksudnya, kami masing-masing sudah pernah menikah. Kami ini bukan gadis dan perjaka lagi," ucap Rivaldo malu-malu.


"Tapi tetap saja ini pertama bagi kalian dan tetap akan jadi kenangan. Jika mampu, kenapa tidak menciptakan kenangan terbaik dan berharap ini akan menjadi kenangan pernikahan untuk yang terakhir dan untuk selamanya," jelas Allena.


"Tapi …,"


"Sudahlah Valdo, terima saja niat baik Allena. Lagi pula terlihat sangat pantas untukmu. Kamu jadi tambah ganteng," ucap Zefran.


"Terima kasih Zefran, saya benar-benar tidak enak sudah merepotkan kalian. Rasanya luar biasa, baru kali ini mengenakan setelan rancangan designer terkenal," ucap Rivaldo.


"Jangan berlebihan Kak, aku ini designer biasa saja," ucap Allena.

__ADS_1


"Padi semakin berisi memang semakin menunduk, benar 'kan Zefran?" tanya Rivaldo yang dibalas anggukan oleh Zefran.


Tak lama kemudian tirai besar terbuka dengan perlahan. Terlihat Frisca dan Keisya yang langsung tersenyum pada Allena, Zefran dan Zefano. Allena langsung menghampiri dan melihat sekeliling gaun hasil rancangannya.


"Gimana Kak, apa ada yang tidak pas? Atau tidak nyaman?" tanya Allena yang sibuk merapikan gaun pengantin indah berwarna putih itu.


Zefran menatap Allena yang terlihat begitu serius bertanya pada Frisca. Kadang mereka tertawa, kadang Allena terlihat menutup mulut menahan tawanya. Zefran menatap istrinya yang tak terlihat menyimpan dendam pada Frisca.


Kamu begitu tulus pada Frisca, padahal baru saja merasa cemburu padanya. Allena, begitu suci hatimu hingga debu pun enggan menempel di situ, batin Zefran.


Laki-laki itu semakin kagum akan kebaikan hati istrinya. Membalas senyum Allena yang menoleh ke arahnya. Wanita itu kembali sibuk memberi arahan pada seorang gadis yang berdiri di samping Frisca.


"Allena terima kasih untuk semua ini, gaun ini indah sekali. Aku merasa ini seperti pernikahan pertamaku," ucap Frisca.


"Pemikiran Kak Frisca sama persis dengan Kak Valdo. Kalian memang benar-benar sehati. Aku sudah bilang sama Kak Valdo. Kalau ini memang pernikahan pertama bagi kalian berdua. Pernikahan sebelumnya itu pernikahan bersama yang lain," ucap Allena sambil tersenyum.


"Ya benar Allena, ini pernikahan pertama kami. Sebelum pernikahanku bersama Zefran dan Valdo bersama istrinya," ucap Frisca.


Calon pengantin itu tersenyum namun tak menyadari senyum Allena langsung menghilang mendengar ucapan itu. Allena langsung berusaha mengatasi perasaannya.


Dia tidak bermaksud apa-apa, benar, benar, dia hanya menyebutkan kenyataan. Bukan berarti Kak Frisca masih menyimpan perasaan pada Kak Zefran. Tapi kenapa dia harus menyebutkan itu di depanku. Aku juga tahu pernikahan pertamamu bersama Kak Zefran. Perlukah Kak Frisca mengingatkanku? Apa agar aku sadar kalau Kak Zefran pernah menjadi miliknya? Aku ….


"Allena … Allena …,"


"Ya …,"


"Apa yang kamu pikirkan? Maaf, jika ucapanku menyinggung perasaanmu tapi sungguh aku hanya ingin mengucapkan kenyataan. Dan aku mengucapkan itu tanpa perasaan apa-apa. Aku benar-benar telah bebas Allena. Aku telah bebas dari perasaanku kepada Zefran. Aku tak memiliki perasaan apa pun lagi padanya," jelas Frisca.


"Benarkah?" tanya Allena ragu. 


Frisca menggenggam tangan Allena dan mengangguk.


"Tapi bagaimana dengan Kak Zefran sendiri? Aku bisa mencintainya dengan tulus tapi apa bisa Kak Zefran mencintaiku dengan tulus jika dihatinya masih ada Kak Frisca?" tanya Allena.


"Aku yakin, namaku sudah terhapus lama di hatinya. Sejak dia jatuh cinta padamu, perlahan posisiku bergeser dari hatinya dan sekarang telah benar-benar punah dari hatinya, aku yakin itu," tutur Frisca sambil mempererat genggaman tangannya.


Allena tersenyum meski ragu-ragu. Sementara mereka berbincang, Zefran dan Rivaldo juga berbincang-bincang. Allena menoleh pada Zefano dan Keisya, wanita itu tersenyum menatap kedekatan kedua anak itu.


"Bu Allena! Apa teman ibu mau mengambil foto prewedding? Kebetulan ada Adit di depan, waktu aku bilang teman Bu Allena sedang fitting gaun pengantin, dia menawarkan diri mengambil foto prewedding. Kalau teman Bu Allena mau, saya bilang padanya sekarang," ucap seorang gadis pekerja di perusahaan fashion itu.


"Di depan ada Adit? Apa dia tidak sibuk?" tanya Allena.


"Sepertinya dia ada waktu, Bu. Jika tidak mana mungkin dia mau menawarkan diri," ucap gadis itu.


"Benar juga, aku merasa tidak enak hati kalau mengganggu kesibukannya," ucap Allena.


Sementara Allena berbicara dengan gadis itu, Frisca hanya mendengarkan. Allena segera menanyakan kesediaan Frisca di ambil foto prewedding-nya.


"Ayolah Kak, dia itu fotografer terbaik kami, dia biasa mengambil gambar prewedding keluarga  orang-orang terkenal bahkan selebriti dunia. Bagaimana Kak, Kak Frisca bersedia?" tanya Allena.


"Tapi Allena, aku sudah bilang, apa ini tidak berlebihan? Sampai memakai fotografer kenamaan segala?" tanya Frisca.


"Kak, Adit sendiri yang menawarkan diri. Ini kesempatan langka Kak. Dia sangat sibuk keliling dunia, kebetulan ada di sini dan menawarkan diri. Kakak sangat beruntung," bujuk Allena.


Frisca masih terlihat bingung.


"Nggak apa-apa nyonya, seperti yang dibilang Bu Allena, ini kesempatan langka nyonya. Kalau bukan karena nyonya adalah teman Bu Allena, dia tidak akan peduli," ucap gadis itu lagi.


Allena tersenyum sambil mengangguk.


"Aduh, lama begini memutuskannya apa tidak apa-apa? Dia sekarang mungkin tidak berminat lagi menawarkan dirinya," ucap Frisca tak enak hati.

__ADS_1


"Nggak kok Nyonya, tadi dia masih makan siang karena baru pulang. Kalau mau saya lapor sekarang nyonya, biar segera di siapkan setting-nya. Seperti apa konsep yang nyonya inginkan?" tanya gadis itu.


Frisca terlihat bingung karena tak pernah memikirkan sebelumnya.


"Konsep apa saja yang bisa dipilih dengan situasi mendadak seperti ini?" tanya Allena.


"Boleh apa saja Bu, outdoor atau indoor, di studio kalau ingin indoor, kalau outdoor bisa kita lakukan di taman samping tau kalau mau konsep pantai dan gunung bisa menggunakan editan Bu," jelas gadis itu.


"Aku tidak punya ide Allena. Ini sama sekali tidak ada dalam rencanaku," ucap Frisca.


"Kalau begitu kita biarkan Adit saja yang menentukannya karena kita tidak mau merepotkannya," ucap Allena.


Wanita itu menoleh pada Frisca meminta pendapatnya. Frisca mengangguk setuju. Akhirnya mereka meminta Adit yang memutuskan konsep foto prewedding untuk Frisca. Saat diberi tahu soal itu, Rivaldo kaget.


"Aduh, apa saya bisa ya, dulu nggak pernah pakai foto-foto prewedding segala. Apa tidak menyusahkan nantinya?" tanya Rivaldo.


"Nggak Kak, tenang saja. Ini keinginan fotografer itu sendiri kok menawarkan diri," ucap Allena.


Akhirnya kedua calon pengantin itu memutuskan bersedia mengambil foto prewedding. Dan sang fotografer memutuskan untuk memilih konsep indoor.


Mereka pun memulai dengan merias Frisca dan Rivaldo. Allena dan Zefran ikut menyaksikan proses pengambilan gambar prewedding itu. Adit yang sangat menghormati Allena memutuskan mengambil gambar Zefano dan Keisya sementara Frisca dan Rivaldo di rias.


"Maaf ya Dit, Kakak jadi merepotkan Adit," ucap Allena tak enak hati.


"Kok jadi sungkan gitu sih Kak. Kak Allena itu banyak jasanya sama Adit," ucap fotografer handal itu.


"Cuma memberi semangat dan saran saja dibilang berjasa. Ada-ada aja kamu Dit," ucap Allena.


"Kak, kalau hari itu nggak ada yang mendukungku. Aku udah mundur Kak," ucap Adit sambil terus mengarahkan kameranya pada Zefano dan Keisya.


Allena cuma tersenyum lalu menoleh pada suaminya yang sibuk melihat Zefano dan Keisya berpose.


"Putra dan putri Kak Allena cantik dan ganteng, kalau minat, bisa jadi model cilik," ucap Adit. Allena tertawa.


"Kok ketawa sih, udah ada yang bilang ya?" tanya Adit. Allena mengangguk.


"Nanti cetaknya aku kirimkan ya Kak, sisanya aku kirim ke rumah produksi mana tau bisa jadi artis," ucap Adit.


"Jangan coba-coba ya!" ucap Allena mengancam Adit sambil bercanda.


"Suami Kakak juga ganteng banget, apa nggak jadi incaran sama itu?" tanya Adit memberi kode pada Allena.


Allena yang mengerti maksud Adit langsung menjawab sementara Zefran tak mengerti.


"Oh, Kak Zefran tidak tertarik jadi model, ya kan Kak?" tanya Allena yang dibalas anggukan oleh Zefran.


Mendapat jawaban itu, Adit langsung tertawa sambil mengangguk-angguk. Tak lama kemudian Frisca dan Rivaldo telah selesai berhias. Adit mengajak mereka ke sebuah ruangan dengan berbagai macam studio yang beragam latar belakangnya.


Adit memilih latar belakang dengan gaya arsitektur romanesque yang menampilkan nuansa artistik Eropa sekitar pertengahan abad ke sebelas pada perancangan interiornya. Sangat selaras dengan gaun dan setelan yang dikenakan oleh Frisca dan Rivaldo.


Rivaldo terlihat seperti seorang pria bangsawan yang tampan dan wibawa sementara Frisca terlihat seperti putri bangsawan yang sangat cantik dan elegan. Allena sangat takjub dengan pemilihan setting studio dan pemilihan pakaiannya.


Pemotretan pun dimulai, Adit sibuk mengarahkan. Rivaldo yang kikuk saat di foto namun akhirnya dapat diarahkan dengan baik oleh Adit. Allena tersenyum bahagia karena Frisca dan Rivaldo mendapat kesempatan mengambil foto prewedding yang begitu elegan.


Wanita itu menoleh pada suaminya, senyum Allena yang tadinya mengembang perlahan menghilang. Zefran terlihat begitu terpana dengan pengambilan foto-foto romantis Frisca dan Rivaldo. Mata Allena menatap suaminya kemudian beralih ke arah Frisca.


Kak Zefran terpana melihat Kak Frisca, matanya tak berkedip menatap mantan istrinya itu. Apa Kak Zefran menyesal sekarang? Apa dia tidak rela Kak Frisca dipersunting oleh Kak Valdo, batin Allena.


Dada Allena terasa sesak, tanpa disadari Zefran, air mata wanita itu mengalir. Zefran masih saja menatap ke arah calon pengantin itu. Sementara istrinya menatap ke arahnya memohon dalam hati agar Zefran berhenti terpesona pada kecantikan wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2