Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 113 ~ Dokter Cintaku ~


__ADS_3

Seseorang memuji bayi Allena yang cantik. Allena menoleh pada orang yang berdiri di sampingnya. Seorang pria tampan dan Allena merasa tak mengenalnya.


"Kenalkan aku Dr. Devan, aku Dokter spesialis anak. Aku diminta Ny. Marilyn untuk mengawasi kesehatan anak-anak di peragaan busana ini," ucap dokter itu sambil mengulurkan tangannya.


Allena menyambut perkenalan itu, dia dan dokter muda yang tampan itu pun asyik membicarakan bayi-bayi yang sehat dan cantik-cantik itu. Kadang tertawa melihat tingkah lucu mereka. Saat seorang bayi menangisi dokter itu pun segera memeriksanya. Ibu dari bayi itu pun diberi saran untuk segera menyusui bayinya di ruangan yang disediakan.


"Ternyata hanya lapar," ucap Devan sambil tertawa pada Allena.


"Kenal dengan Ny. Marilyn di mana?" tanya Allena.


"Sebenarnya saya ini keponakannya, Tante agak khawatir karena ini menyangkut anak-anak takut terjadi apa-apa karena itu mengutusku untuk mengawasi kesehatan mereka," ucapnya kembali tersenyum.


"Oh ya? Kalau begitu kenal dengan Kak Robert dan Nona Astrid?" tanya Allena.


"Nona Astrid? Kalau Nyonya Astrid aku tahu, aku Kakaknya. Dan Robert tentu aku juga tahu dia putra tanteku," ucap Devan sambil tertawa.


"Oh, ternyata Nyonya Astrid itu adiknya Dr. Devan?" tanya Allena.


"Jangan panggil Nyonya, sejak dulu dia tidak suka dipanggil Nyonya cukup namanya saja," jelas Devan.


"Ya baiklah, aku jadi ingat ucapannya dulu saat-saat pertama berkenalan dengannya. Dia protes pada Mommy yang memanggilnya Nyonya. Ngomong-ngomong apa kabarnya sekarang? Dulu dia janji akan menjadi pelanggan pertamaku tapi hingga sekarang dia tak pernah terlihat," ucap Allena.


"Dia diboyong ke Amerika oleh suaminya. Sangat jarang pulang ke Indonesia. Ya, begitulah anak gadis, di sayang, di manja begitu menjadi milik suaminya dia lupa pada keluarganya," ucap Devan sambil tersenyum.


"Ya, begitulah hidup. Tapi dokter jangan salahkan suami yang membawa Astrid pergi. Bagaimana dengan dokter sendiri yang membawa pergi anak gadis keluarga lain?" tanya Allena sambil tersenyum.


"Aku? Aku tidak membawa anak gadis siapa pun?" jawab Devan lalu tertawa kecil.


"Ya?" tanya Allena tak mengerti.


"Belum ada anak gadis yang mau ikut denganku," ucap Devan terlihat malu-malu.


"Oh, serius? Jadi dokter belum berkeluarga?" tanya Allena.


Dokter tampan itu mengangguk sambil tersenyum. Tak lama kemudian Allena meminta izin untuk menyusui bayinya, dokter itu pun mengangguk. Acara peragaan busana untuk para bayi itu pun selesai. Sebagian orang tua dan bayi mereka telah meminta izin pulang.


Sementara Dr. Devan masih belum melihat Allena. Laki-laki itu memutuskan untuk menunggu. Ruangan itu pun telah sepi, tinggal Dr. Devan seorang diri. Allena berlari untuk menemuinya lalu tersenyum pada dokter itu.


"Aku pikir dokter sudah pergi, jadi aku ingin langsung pulang. Tapi aku dengar dari obrolan orang tua bayi, dokter masih di sini. Kenapa belum pulang Dokter?" tanya Allena.


"Aku menunggumu," ucap Devan.


"Apa? Kenapa?" tanya Allena.


Dokter itu berjalan sambil memegang topi bayi Zifara lalu memberikannya pada Allena.


"Oh, dokter bisa menitipkannya pada resepsionis di sini. Jadi merepotkan dokter saja, membuat dokter menunggu cuma karena topi bayi ini," ucap Allena tak enak hati menerima topi lucu itu.


"Bukan hanya itu," ucap Devan lagi.


"Oh ada lagi?" tanya Allena.


"Ngomong-ngomong di mana bayi mu?" tanya Devan melihat Allena yang tak menggendong bayinya.


"Oh, sedang di gendong Vivi dan yang lainnya di depan. Kalau begitu ada apa lagi dokter? Selain topi, apa lagi yang menghalangi dokter segera pulang?" tanya Allena.


"Aku ingin meminjam ponselmu." Pinta Devan.


Allena tak tahu apa alasan dokter itu meminjam ponselnya. Allena hanya berpikiran mungkin ponsel Dr. Devan sedang habis baterai. Wanita itu pun meminjamkan ponselnya. Dr. Devan segera menekan tombol dan menelpon. Menunggu sesaat lalu menyerahkan ponsel Allena kembali pada pemiliknya.


"Tidak diangkat," ucap Devan.


"Oh, apa dokter ingin mencoba lagi?" tanya Allena sambil menyerahkan kembali ponselnya.

__ADS_1


"Pasti tidak diangkat lagi," ucap Devan.


"Kenapa? Kenapa tidak mencoba lagi? Kenapa begitu yakin tidak diangkat lagi?" tanya Allena bertubi-tubi.


"Karena aku tidak mengangkatnya, aku menelpon diriku sendiri dan tidak berminat menerima panggilan itu. Aku hanya ingin menyimpan nomor ponsel yang menelponku," ucap Devan sambil tersenyum.


Allena mengangguk-angguk, baru mengerti maksud ucapan dokter itu lalu tersenyum.


"Kenapa tidak minta nomor saja langsung?" tanya Allena sambil tertawa dan mengajak dokter itu berbincang sambil berjalan keluar.


"Aku tidak pernah meminta nomor, paling sulit bagiku meminta nomor seorang wanita. Lihatlah tak banyak nomor telepon wanita di sini. Aku takut mereka menolak memberikannya, aku bisa malu," ucapnya lagi.


"Tidak mungkin ada yang menolak memberi nomor ponsel pada dokter tampan seperti dokter Devan ini," ucap Allena dengan terbuka.


"Kamu terlalu terbuka memuji orang, hati-hati itu bisa membuat orang melayang dan jadi suka padamu," ucap Devan sambil menatap ke depan.


"Bukannya bagus jika disukai daripada dibenci?" tanya Allena.


"Baiklah kalau begitu, karena kamu senang disukai maka tidak masalah jika aku katakan padamu kalau aku menyukaimu," ucap Devan.


"Apa?"


"Aku menyukaimu," ucap Devan lagi.


"Oh … Oh ya, makasih," ucap Allena berusaha tersenyum meski terlihat canggung.


Dr. Devan tersenyum dan mereka pun berpisah di lobi perusahaan. Vivi menyerahkan Zifara dan memasangkan topi bayinya.


"Kapan ke sini lagi Kak?" tanya Vivi.


"Siapa? Aku atau Zara?" tanya Allena menegaskan. Vivi tersenyum.


"Kak Allena dan Zara, nggak mungkin Zara ke sini sendirian ya kan sayang?" ucap Vivi.


"Kita lihat hasil peragaan kali ini, booming atau nggak?" ucap Allena.


Allena tertawa dan pamit pulang pada Vivi dan semua pekerja di situ. Allena meletakkan Zifara di kursi bayi di mobilnya kemudian mulai mengendarai mobilnya menuju kediaman Dimitrios.


"Sudah pulang sayang," sambut Zefran saat melihat istri dan putrinya pulang.


"Kakak pulang cepat?" tanya Allena.


"Ya, aku kangen sama kamu. Lagi pula di kantor tidak ada kegiatan yang berarti. Sampai di rumah ternyata kalian masih belum pulang. Rasanya ingin menyusul ke studio tapi takut aku mengganggu kalian jadinya aku menunggu dengan tidak sabar di rumah," jelas Zefran panjang lebar.


"Aku ingin mandi dulu ya Kak, rasanya gerah sekali," ucap Allena sambil mengambil Zifara dari kursi bayi dan meminta baby sitter-nya untuk memandikannya bayi itu.


"Aku temani ya sayang," ucap Zefran.


Allena mengangguk, Zefran menyiapkan jacuzzi whirlpool bath untuk istrinya. Tak lupa laki-laki itu menambahkan essential aromatik yang memberikan ketenangan dan meningkatkan gairah seksual pasangan suami istri itu.


Allena bersandar di dada suaminya, Zefran memeluk istrinya dari belakang. Berdua mereka menikmati kenyamanan berendam di air hangat itu. Tak lupa Zefran memberikan kecupan-kecupan di puncak rambut istrinya itu.


Setelah menikmati mandi air hangat tubuh mereka terasa segar. Allena dan Zefran pun bersiap untuk menikmati makan malam mereka. Setelah itu berkumpul di ruang keluarga bersama Ny. Mahlika dan anak-anaknya. Mereka asyik melihat Zifara yang sudah sangat lancar berjalan ke sana kemari tertawa mengikuti Zefano.


"Zara sudah besar, sudah bisa sepertinya punya adik lagi," pancing Mahlika.


"Ah Mommy, Zara masih bayi Mommy kasihan sekecil itu sudah punya adik. Ini saja aku merasa kasih sayangku masih kurang untuknya. Kalau punya adik lagi bisa-bisa dia terabaikan lagi," ucap Allena.


"Mumpung kamu masih muda, banyak-banyak lahirkan anak. Putra Mommy cuma suamimu, putri ibumu ya cuma kamu. Pada siapa lagi kami berharap cucu kalau bukan pada kalian?" tutur Mahlika.


"Ya, Mommy baiklah tapi jangan sekarang ya Mommy. Rasanya belum hilang rasa pegal hamil, aku nyantai sebentar dulu ya Mommy," ucap Allena sambil tersenyum merayu.


"Hmm … kamu ini banyak alasan. Tapi terima kasih ya sayang, dulu rasanya mustahil melihat anak-anak berlarian di ruangan ini. Karena kamu impian Mommy terwujud," jelas Mahlika.

__ADS_1


Tiba-tiba seorang pelayan datang menyela pembicaraan mereka.


"Maaf Nyonya Allena tadi saya menaruh pakaian di kamar, ponsel Nyonya bergetar terus," ucap seorang pelayan.


"Oh ya, makasih ya," ucap Allena pada pelayan itu.


"Biar aku ambilkan sayang," ucap Zefran langsung berdiri hendak mengambilkan di lantai atas.


Allena menyambar tangan suaminya.


"Sudah biarkan saja, nanti saja aku cek," ucap Allena tak ingin suaminya capek-capek mengambilkan ponselnya.


"Tidak apa-apa sayang, mana tahu ada telepon penting," ucap Zefran.


Allena akhirnya membiarkan suaminya naik ke lantai atas untuk mengambilkan ponselnya. Dan benar saja, ponsel itu sedang berbunyi menunjukan panggilan telepon yang masuk. Yang paling membuat Zefran terkejut adalah nama dari kontak penelpon yang tampil di layar ponsel.


Dokter Cintaku? batin Zefran dan segera berlari ke ruang keluarga dan berdiri di hadapan Allena.


"Siapa dokter cintaku? Siapa dokter cintaku itu?" tanya Zefran langsung.


"Apa? Dokterku … siapa?" tanya Allena tak mengerti.


"Lihat saja sendiri dia sudah menelponmu hingga puluhan kali, siapa dia? Kenapa kamu memberi nama kontaknya seperti ini?" tanya Zefran bertubi-tubi.


Allena mengambil ponselnya dari tangan suaminya. Dan menerima panggilan telepon yang sedang masuk. Allena menyapa dan baru menyadari bahwa yang menelponnya adalah Dr. Devan.


"Maaf dokter, kenapa dokter memberi nama kontak di ponsel ku seperti itu?" tanya Allena sambil melirik suaminya yang diam menatapnya.


"Maaf Allena aku pikir nanti kamu bisa mengganti sesuai dengan keinginanmu nanti," ucap Devan dari seberang sana.


"Tapi sekarang suamiku jadi salah paham," ucap Allena.


"Oh ya, kalau begitu biarkan aku bicara dengannya," ucap Devan.


"APA?" tanya Allena tak yakin.


"Berikan ponsel itu padanya," ucap Devan mengulang permintaannya.


Allena pun menyerahkan ponselnya pada suaminya. Zefran yang sudah merasa kesal tak menyangka justru diajak bicara. Zefran merasa ditantang oleh penggoda istrinya itu.


"Halo, ada apa ingin bicara denganku?" tanya Zefran dengan nada tidak bersahabat.


Allena merasa takut hingga tubuhnya gemetar. Paling takut jika Zefran kesal dan melampiaskan kekesalan padanya.


"Halo Zefran, apa kabar?" tanya Devan.


Zefran langsung menatap ponsel yang digenggamnya seakan-akan tak percaya kalau yang sedang dipegangnya sekarang ini adalah ponsel milik Allena.


"Siapa ini?" tanya Zefran penasaran.


"Kembaranmu," ucap Devan.


"Kembaran? Jangan bercanda aku tidak punya kembaran. Cepat katakan siapa ini dan apa maumu," ucap Zefran yang sontak juga membuat Allena kaget.


"Kamu sudah melihat nama kontak yang menelepon di ponsel itu 'kan? Kamu ingin tahu apa mauku?" tanya Devan.


"Jangan main-main, cepat katakan apa maumu?" tanya Zefran semakin tak sabar.


"Aku mau istrimu," ucap di seberang sana.


"APA?" tanya Zefran semakin kesal.


"ISTRIMU! Aku sudah bilang padanya kalau aku menyukainya," ucap Devan lalu tertawa.

__ADS_1


Zefran menoleh pada istrinya dan raut wajah kesal. Allena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Meminta ponsel itu untuk melanjutkan bicara dengan dokter itu. Zefran pasti sangat keberatan, Allena pasrah karena dia sendiri tidak tahu apa yang Devan dan Zefran bicarakan.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2