
Zefran melangkah meninggalkan parkiran setelah menekan tombol kunci mobilnya. Segera laki-laki itu memasuki lift menuju lantai kedua teratas gedung itu.
"Hallo Zefran," ucap seorang wanita yang berdiri di depan pintu lift yang hampir tertutup.
Zefran segera menahan pintu lift dengan menekan tombol open. Wanita itu pun berjalan masuk ke dalam lift dengan anggunnya. Zefran hanya tersenyum sekilas, sama sekali tak peduli apakah wanita itu mengenalnya. Laki-laki itu hanya ingin fokus pada pekerjaannya.
"Sombong sekali," ucap wanita itu sambil menoleh pada Zefran.
Zefran yang dikatakan seperti itu langsung menoleh dengan tatapan yang heran. Seperti berusaha untuk mengingat-ingat.
"Itulah kenapa aku bilang kamu sombong. Aku ingat padamu tapi kamu lupa padaku," sambung wanita elegan itu.
"Maaf, apa aku mengenalmu?" tanya Zefran.
Wanita itu tertawa dengan anggunnya.
"Maaf, aku benar-benar lupa," ucap Zefran lagi sambil kembali menatap ke arah depan.
"Kamu masih tetap tampan Zefran. Beruntung sekali wanita yang memilikimu," ucap wanita itu.
Zefran menoleh perlahan ke arah wanita itu dengan serius, kembali mencoba mengingat-ingat karena terlihat wanita itu begitu mengenalnya.
"Bella?" tanya Zefran yang teringat ucap Devan.
Wanita itu mengangguk senang karena laki-laki itu ternyata masih mengingatnya. Padahal Zefran tak mengingat wanita itu sama sekali. Zefran bahkan tak pernah hafal wajahnya. Hanya karena belum lama ini Devan membicarakan tentang gadis di masa lalu mereka yang bernama Bella. Hanya itu yang menjadi pegangan Zefran menebak nama wanita di hadapannya itu.
"Oh ternyata kamu masih ingat? Aku tidak menyangka, kamu yang dulu terkenal sangat dingin terhadap gadis-gadis ternyata masih ingat namaku?" tanya wanita itu.
"Maaf sebenarnya aku sama sekali tidak ingat padamu, baik wajah mau pun namamu. Hanya saja belum lama ini aku bertemu dengan teman lama dan dia bercerita tentang wanita bernama Bella. Jadi aku pikir itu mungkin kamu jadi aku tebak saja dan ternyata benar," jelas Zefran.
"Oh, ternyata kamu masih tetap dingin seperti dulu," ucap wanita itu.
Zefran tak peduli, laki-laki itu kembali menatap lurus ke depan. Sementara wanita itu berkali-kali melirik pada Zefran. Sebenarnya Zefran bukannya tidak tahu itu, karena sekeliling mereka yang berbahan cermin. Zefran tak ambil peduli karena memang seperti itu karakter Zefran yang tak peduli pada wanita-wanita di sekelilingnya.
"Zefran, sebenarnya aku ke sini untuk mencarimu," ucap wanita itu akhirnya.
"Oh, ada keperluan apa?" tanya Zefran.
Wanita itu terlihat bingung, tapi akhirnya meminta waktu untuk bicara dengan Zefran. Laki-laki itu akhirnya mengajak Bella bicara di kantin kantor.
"Ada apa mencariku, silakan bicara?" tanya Zefran.
Didesak seperti itu wanita itu menjadi bingung untuk memulai.
"Aku ingin menuntaskan rasa penasaran yang selama ini mengganggu pikiranku," ucap Bella.
"Apa itu?" tanya Zefran yang akhirnya ikut penasaran.
"Dulu ada yang berkata kalau kamu menyukaiku. Apa itu benar?" tanya Bella.
"Jika terjadi dulu … hanya jika, tapi kenapa baru sekarang kamu tanyakan?" tanya Zefran.
"Jadi itu benar?"
"Aku bilang jika … kenapa baru ditanyakan sekarang?" tanya Zefran untuk kedua kalinya.
"Karena dulu aku menjaga image-ku sebagai gadis yang jadi incaran banyak cowok. Aku ingin menunggumu bicara duluan tapi ternyata kita keburu tamat dan berpisah begitu saja," ujar Bella.
"Baiklah ternyata itu sebabnya. Sekarang aku akan jawab pertanyaanmu, aku tidak pernah menyukaimu. Aku tidak tahu dari mana isu itu muncul tapi seperti yang pernah aku katakan dari awal, aku tidak mengingatmu juga tidak mengingat namamu. Bagaimana seseorang yang memiliki rasa suka tidak mengetahui nama dari orang yang disukai? Itu tidak mungkin bukan? Aku tidak pernah sekali pun menyukai seorang gadis hingga menginjakkan kaki di universitas. Itu adalah cinta pertamaku. Dan sekarang aku telah memiliki keluarga, aku sangat mencintai anak-anak dan istriku. Jadi aku harap rasa penasaranmu terhadap masa lalu telah hilang. Aku tidak pernah menyukaimu sama sekali," jelas Zefran tegas.
Mendengar ucapan itu Bella tercenung dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa kamu tidak merasa ucapanmu terlalu kejam?" tanya Bella.
"Aku tidak ingin bertele-tele," jawab Zefran.
"Apa kamu tahu kalau kehidupan rumah tanggaku telah hancur? Aku tidak pernah yakin mencintai suamiku karena selalu merasa seharusnya aku bersamamu? Bersama dengan orang yang pernah dikatakan menyukaiku. Aku tak pernah tulus mencintai suamiku karena merasa yang seharusnya menjadi suamiku adalah kamu," ucap Bella.
"Kenapa bisa berpikiran seperti itu? Harusnya kamu berkomitmen saat memutuskan menikahi seseorang. Lagi pula menggantungkan perasaan pada seseorang yang sama sekali tidak tahu menahu? Itu terlalu bodoh menurutku. Maaf, aku tidak bermaksud tidak sopan tapi apa yang kamu lakukan telah menyia-nyiakan kebaikan suamimu dan menyia-nyiakan waktumu sendiri," jelas Zefran.
__ADS_1
"Ya, itulah sebabnya aku datang hari ini. Aku ingin tahu isi hatimu yang sebenarnya agar aku tidak memiliki ganjalan lagi dalam hidupku. Apa kamu tahu? Begitu cintanya aku padamu, aku bahkan menyebarkan isu kalau aku akan bunuh diri jika tidak mendapatkan cintamu. Aku rasa itu sebabnya orang-orang mengatakan kamu menyukaiku untuk menghalangiku berbuat nekat. Aku jadi sungguh-sungguh percaya dengan perkataan orang-orang itu," ucap Bella dengan raut sedih.
Zefran hanya diam tak ingin mengomentari penjelasan Bella.
"Bolehkah aku berkenalan dengan keluargamu?" tanya Bella.
"Untuk apa?" tanya Zefran merasa khawatir.
"Aku ingin tahu seperti apa wanita yang sudah memenangkan hatimu. Jangan khawatir aku tidak akan melakukan hal yang jahat padanya," ucap Bella.
"Tolong, kamu tidak perlu berbuat seperti itu. Tidak ada gunanya. Aku mencintainya itu butuh proses yang panjang. Kami tidak bertemu dan langsung saling menyukai. Kami harus melewati ujian cinta dan aku tidak ingin membuatnya lelah dengan cerita dari masa laluku. Kamu tidak perlu menemuinya, cukup itu saja dariku. Maaf, aku harus kembali ke kantorku," ucap Zefran langsung meninggalkan wanita yang termangu itu seorang diri.
Zefran kembali ke kantornya, dengan wajah risau laki-laki itu langsung menelpon istrinya.
"Ada apa Kak? Masih pagi begini sudah menelepon? Apa Kakak sakit?" tanya Allena.
"Tidak apa-apa sayang, aku cuma kangen sama kamu," ucap Zefran.
"Oh, baru bertemu tadi pagi sekarang sudah kangen? Kalau begitu apa aku perlu ke sana?" tanya Allena.
"Tidak perlu sayang, cukup mendengar suaramu saja sudah cukup. Aku bahagia mendengarmu dan kamu terdengar baik-baik saja," ucap Zefran.
"Ya, kami baik-baik saja. Sebentar lagi aku ingin ke sekolah Zeno. Aku ingin menunggunya pulang sekolah, Kakak ingin sesuatu? Aku bisa belikan sekalian?" tanya Allena.
"Aku cuma ingin kamu, Allena," ucap Zefran dengan serius namun dibalas dengan tawa oleh Allena.
Wanita itu menganggap Zefran sedang bercanda. Mereka pun mengakhiri pembicaraan lewat telepon itu dan Allena segera bersiap-siap menjemput Zefano pulang sekolah.
Saat menunggu anaknya itu Allena sempat berbincang-bincang dengan ibu-ibu wali murid. Ada yang mengenalinya sebagai perancang busana yang kebetulan menyukai koleksi Allena. Dalam waktu singkat para ibu wali murid itu telah tahu kalau Allena adalah seorang designer.
"Aku suka rancanganmu," ucap seorang wanita tiba-tiba.
"Terima kasih," jawab Allena.
Allena tersenyum namun kembali menoleh ke dalam gerbang batas penjemputan anak.
"Baru kelas satu sekolah dasar," jawab Allena seadanya.
Wanita itu mengangguk dan mengenalkan diri sebagai Bella. Tak lama kemudian bel berbunyi, kelas pun bubar. Anak-anak mulai berlarian mencari orang yang menjemput mereka. Ada yang dijemput ibunya, kakaknya atau orang yang ditugaskan untuk menjemput.
"Mama!" seru seorang anak laki-laki tampan dan langsung memeluk Allena.
"Sudah keluar ya sayang? Ayo kita pulang!" ajak Allena.
"Nanti Ma, tunggu Sabilla, kasihan. Mommy-nya belum datang," ucap Zefano.
"Oh, baiklah kalau gitu kita tunggu di sana ya," ajak Allena menunggu di deretan bangku tunggu.
Mereka pun menunggu, namun orang tua Sabilla masih belum terlihat.
"Sabilla, biasanya dijemput jam berapa?" tanya Allena.
Anak itu menggelengkan kepala tak tahu.
"Nggak tentu Ma, kadang cepat kadang telat. Kadang Sabilla cuma tinggal sendirian di sini," cerita Zefano.
"Oh, kasihan sekali, baiklah kita tunggu sebentar lagi ya!" tanya Allena yang mulai tak sabar menunggu.
"Kalau Tante antar Sabilla pulang gimana?" tanya Allena saat melihat anak itu sudah mulai letih menunggu.
Anak ini hanya mengangguk. Allena pun mengajak kedua anak itu menuju parkir mobil setelah Allena mencatat alamat Sabilla yang tertulis di buku-buku latihannya. Allena meminta izin pada guru untuk mengantar Sabilla pulang. Guru wali kelas yang juga kasihan melihat Sabilla yang mulai letih menunggu akhirnya mengizinkan.
Sabilla baru saja naik ke atas mobilnya ketika tiba-tiba seorang ibu-ibu mendorong Allena hingga tubuhnya terbanting ke mobil di sebelahnya.
"KAMU MAU MENCULIK ANAK SAYA YA! TOLONG! PENCULIK ANAK! PENCULIK ANAK!" teriak ibu itu dan langsung menarik tangan Sabilla keluar dari dalam mobil Allena.
Beberapa orang langsung berdatangan, ibu itu terus meneriaki Allena dengan tuduhan menculik anak. Zefano hingga menangis mendengar tuduhan itu.
"Nggak! Nggak! Tante Allena nggak menculik Billa, Tante Allena cuma mau anter Billa pulang!" teriak Sabilla.
__ADS_1
"Tahu apa kamu! Niat orang tidak ada yang tahu! Kalau sudah diculik baru tahu rasa kamu!" bentak ibu itu pada Sabilla.
Orang-orang berdatangan, Allena di ajak kembali ke sekolah. Meski Allena telah menyatakan dirinya tidak bermaksud menculik Sabilla namun orang-orang itu tidak percaya. Beruntung wali kelas Zefano dan Sabilla langsung datang.
"Ini Bu Allena, ibunya Zefano, Bu Allena tidak menculik tapi bermaksud baik mengantarkan Sabilla pulang. Anak ini sudah kelelahan menunggu. Wajahnya juga sudah kelihatan pucat mungkin kurang enak badan. Bu Allena telah meminta izin pada saya untuk mengantar Sabilla pulang," ucap wali kelas Zefano dan Sabilla itu menjelaskan.
Orang-orang yang mengerubuti Allena akhirnya tahu dan menoleh pada ibu-ibu yang asal tuduh tadi. Mereka hampir saja bertindak anarkis pada Allena. Ada keraguan di hati mereka melihat penampilan Allena yang tak terlihat seperti seorang penculik namun karena teriakan dan provokasi ibu itu membuat orang-orang terpengaruh untuk ikut menuduhnya.
Sementara Allena segera memeluk Zefano yang menangis melihat ibunya di seret orang ramai.
"Tidak apa-apa sayang, Mama baik-baik saja," ucap Allena menghapus air mata Zefano.
"Mommy-nya Sabilla jahat, Zeno nggak mau temenan sama Sabilla lagi!" teriak Zefano.
"Jangan begitu sayang, ini namanya salah paham. Sabilla nggak salah, Zeno nggak boleh marah padanya," ucap Allena.
Namun Zefano tetap menangis sambil menggelengkan kepalanya. Allena memeluk putranya yang gemetaran.
"Ibu! Lihatlah Zeno jadi trauma, apa-apa itu bisa dibicarakan dengan baik-baik Bu. Lihat dulu siapa yang dituduh. Bu Allena itu designer terkenal untuk apa menculik anak ibu?" ucap seorang wali murid yang kebetulan mengenal Allena.
"Maaf Bu, aku panik saat melihat anak saya masuk ke dalam mobilnya," ucap Mommy Sabilla.
"Ibu bisa dituduh mencemarkan nama baik, ibu bisa dipenjarakan," ucap ibu yang lain.
"Sudah Bu, sudah! Sekarang sudah jelas kan Bu? Bu Allena ini tidak bersalah. Saya sarankan ibu tepat waktu menjemput putri ibu, atau jika tidak bisa, utus seseorang yang bisa dipercaya untuk menjemputnya yang dikonfirmasikan ke kami terlebih dahulu. Kasihan Sabilla Bu jika selalu terlambat dijemput," ucap wali kelas itu.
"Iih, anaknya mau diantar pulang malah khawatir, biarin anaknya menunggu sendirian tak khawatir, aneh!" seru ibu yang lain.
Ibu Sabilla tertunduk, merasa bersalah.
"Mama, Zeno nggak mau temenan sama Sabilla lagi Ma." Ulang Zefano sambil melirik ibunya Sabilla.
Sementara Sabilla langsung tertunduk sedih.
"Kenapa? Sabilla 'kan anak yang baik," ucap Allena.
"Tapi Mommy-nya jahat," bisik Zefano.
"Kalau gitu Mama juga nggak temenan sama Zara. Karena Zara jahat suka acak mainan Zeno yang susah-susah Zeno susun," ucap Allena.
"Jangan Ma! Zara itu nggak salah, Zara itu masih kecil," ucap Zefano.
"Kalau gitu Sabilla juga sama seperti Zara, Sabilla itu juga masih kecil dibandingkan ibunya. Sabilla tak bisa melawan ibunya. Jadi bukan salah Sabilla 'kan? Kenapa Zeno tidak mau temenan sama Sabilla? Kasihan kalau Sabilla kehilangan teman yang baik seperti Zeno. Sabilla bisa benci sama Mommy-nya," jelas Allena.
"Ya udah Zeno temenan lagi," ucap Zefano akhirnya.
"Nah gitu dong, lagi pula Mommy Sabilla seperti itu artinya Mommy Sabilla sayang sekali sama anaknya. Ibu itu khawatir anaknya diculik. Sekarang Zeno sudah mengerti 'kan kenapa ibu Sabilla bersikap seperti itu?" tanya Allena.
Zefano mengangguk cepat lalu menoleh pada Sabilla. Ibunya Sabilla pun mendekat ke arah Allena dan Zefano. Ibu itu meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada keduanya. Bahkan meminta nomor telepon Allena untuk berjaga-jaga jika dirinya telat lagi menjemput anaknya.
Allena memaafkan ibu itu dan memberikan nomor teleponnya. Allena berterima kasih pada guru wali kelas yang telah membantunya menjernihkan kesalahpahaman itu. Ibu wali kelas itu justru merasa tidak enak hati dengan kejadian itu.
Allena pun mohon diri untuk pulang, berdua Allena dan Zefano bergandeng tangan.
"Mama tadi nggak takut, kalau Mama di penjara?" tanya Zefano sambil menoleh ke arahnya.
"Kenapa kita harus takut? Kita tidak salah sayang. Kalau kita benar, kita tidak boleh takut. Zeno lihat sendiri 'kan kalau kita benar banyak yang akan membela kita," ucap Allena.
Zefano mengangguk lalu mereka berjalan menuju parkiran mobil Allena. Dalam hati Allena tetap ada rasa takut di hatinya namun demi menghilangkan trauma di hati Zefano, Allena harus terlihat biasa dan berusaha untuk bersikap wajar.
Namun tak jauh dari situ seseorang melihat mereka dengan tatapan yang sendu.
Istri Zefran memang istimewa, mana mungkin dia mau meninggalkan istri yang bijak seperti itu. Kamu pasti akan mati-matian mempertahankannya. Dan putramu? Ayah mana yang sanggup meninggalkan anak semanis itu. Keluargamu sempurna Zefran, aku tak punya harapan sedikit pun bersamamu. Wajar sikapmu tak acuh padaku, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita itu, batin Bella sambil menghela napas berat.
Teringat kembali suaminya yang selalu sabar menghadapinya yang selalu merasa tidak puas dengan pernikahannya dan selalu membanding-bandingkan suaminya dengan cinta di SMA nya itu.
Bella menyesal telah mengabaikan suaminya yang menerima dirinya apa adanya. Suami yang selalu mengalah dan selalu memaafkan meski sikapnya sangat tidak pantas dengan tetap menyimpan rasa cinta pada laki-laki lain. Kini tinggal penyesalan di hatinya karena bersikukuh meminta cerai saat mendengar Zefran yang juga telah bercerai
...~ Bersambung ~...
__ADS_1