Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 77 ~ Saling Memaafkan ~


__ADS_3

Hari itu dihabiskan Allena bermain-main dengan kedua anaknya dan Keisya. Di ruangan khusus bermain yang disediakan keluarga itu mereka mencoba berbagai macam permainan edukasi. Keisya kadang-kadang menoleh ke arah Zifara dan menyapanya. Setiap kali teringat bayi itu, Keisya akan mendatanginya.


"Halo dedek Zara, lagi ngapain?" tanya Keisya untuk menyapa.


Tak perlu menunggu jawaban apa pun, setelah menyapa seperti itu, Keisya langsung bermain lagi bersama Zefano. Allena tersenyum melihat tingkah laku anak itu. Setiap kali teringat pada Zifara, secara bergantian mereka akan menyapa bayi itu.


"Dedek cepet gede ya, biar bisa main sama Kakak Zeno dan Kakak Keisya," ucap Keisya sambil mengusap kepala Zifara.


Allena mendekati anak itu.


"Keisya, senang tinggal di sini?" tanya Allena.


"Senang Tante," jawab Keisya.


"Kalau begitu selama Papa menginap di rumah sakit, Keisya menginapnya di sini saja. Besok kita ke rumah sakit lagi jenguk Tante Frisca dan Papa Keisya ya," ucap Allena.


"Besok ya Tante?" tanya Keisya.


"Ya Nak, hari ini kita istirahat dulu di rumah. Besok baru ke rumah sakit lagi. Lagi pula Keisya tidak boleh sering-sering datang ke rumah sakit Nak. Karena belum berumur dua belas tahun. Anak di bawah dua belas tahun masih rentan terkena penyakit. Keisya tahu 'kan rumah sakit itu banyak orang yang sakit datang ke sana?" jelas Allena.


Keisya mengangguk mengerti, anak itu patuh mengikuti apa yang dikatakan Allena. Apalagi Keisya merasa senang bermain bersama Zefano dan Zifara. Ditemani oleh Allena yang menurutnya adalah seorang yang sangat baik.


Kadang Allena meninggalkan mereka untuk mengambil sesuatu. Allena meminta Keisya menjaga Zifara saat wanita itu ingin ke lantai bawah. Anak itu kembali mengangguk lalu duduk di samping Zifara. 


"Allena! Mommy berangkat dulu ya, mau menemui orang tua Frisca," ucap Mahlika saat melihat Allena turun dari lantai atas.


Allena yang tadinya ingin membawakan cemilan dan susu untuk anak-anak yang sedang bermain di lantai atas kediaman Dimitrios itu akhirnya menghampiri ibu mertuanya.


"Terima kasih Mommy, maaf permintaan saya sudah membuat Mommy repot," ucap Allena.


"Tidak apa-apa sayang, lagi pula hanya ini yang bisa Mommy lakukan untuk menolong Frisca. Demi masa lalu, bagaimanapun juga kami dulu pernah merasakan hidup bersama dan pernah menjadi keluarga yang bahagia," jelas Mahlika.


"Ya Mommy karena itu saya ingin berterima kasih sama Mommy," ucap Allena lalu mengecup pipi ibu mertuanya.


Ny. Mahlika tersenyum lalu menepuk pipi menantunya. Allena mengantar nyonya kaya itu hingga ke teras. Di sana telah menunggu sopir dan pengawal Ny. Mahlika. Mereka berangkat dan Allena melambaikan tangannya.


Menatap iringan mobil yang membawa Nyonya kalangan atas itu keluar dari gerbang hingga menghilang di balik tikungan. Allena bergegas ke dapur dan mencari roti, biskuit dan susu untuk dibawa ke lantai atas.


"Biar saya yang bawa Nyonya," ucap seorang pelayan menawarkan diri.

__ADS_1


Allena dibantu membawakan nampan berisi makanan itu ke lantai atas. Terpikirkan olehnya untuk mampir ke kamar dan mengambil perlengkapan untuk mendesign fashion-nya lalu dibawa ke ruang bermain anak-anak.


Sambil menunggui anak-anak bermain, aku bisa mulai merancang gaun pengantin untuk Kak Shinta, batin Allena.


Wanita itu mulai membuat guratan-guratan sketsa design gaun pengantin di kertas putih itu. Sesekali tersenyum saat melihat pelayan itu yang masih menggoda Zifara. Allena berterima kasih pada pelayan yang telah membantunya itu.


"Zara lucu sekali ya Nyonya, bayi yang sangat cantik," ucap pelayan itu.


"Oh ya? Bukannya wajah bayi itu terlihat sama?" tanya Allena hanya ingin mencari bahan obrolan karena terlihat pelayan itu masih ingin bermain dengan Zifara.


"Nggak lah Nyonya, Zifara sudah terlihat cantik dari bayi. Kalau udah gede bakalan cantik seperti Nyonya," sambung pelayan yang masih terbilang cukup muda itu.


"Kamu sudah menikah?" tanya Allena iseng.


"Dulu Nyonya, waktu itu saya masih sangat muda. Jadi nggak bisa bertahan lama, begitu ada masalah, rumah tangga langsung bubar," tutur pelayan itu.


"Kenapa? Oh, maaf kenapa saya jadi ingin tahu?" tanya Allena lalu tersenyum.


"Nggak apa-apa Nyonya, waktu itu saya baru tamat SMA. Saya dilamar sama pacar dan langsung setuju tanpa pikir panjang padahal belum punya penghasilan tetap. Saat nekat menikah, orang tua memutuskan tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga saya. Akhirnya kami mengalami kesulitan ekonomi. Dia memilih menjadi simpanan tante-tante kaya. Saya protes, lebih baik tidak makan daripada melihat suami memeluk wanita lain. Rasanya saya tidak sanggup menjalani hidup seperti itu. Akhirnya saya memilih bercerai daripada hidup bersama suami yang berbagi cinta. Lalu mencari kerja di kota ini hingga akhirnya diterima bekerja di rumah ini," jelas pelayan itu sambil terus mengayunkan tangan Zifara.


Allena tercenung mendengar cerita pelayan itu. Matanya menatap kosong ke arah sketsa design fashion yang belum jadi. Tanpa disadari mata Allena berkaca-kaca teringat dirinya yang pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga suaminya.


"Nyonya! Maaf bukan maksudku.., saya.., maaf Nyonya. Apa yang terjadi dengan saya sama sekali tidak sama dengan situasi, aduh.., maaf Nyonya, saya tidak bermaksud..,"


"Tidak apa-apa, seperti yang kamu bilang, situasi rumah tanggaku dan rumah tanggamu tidak sama," ucap Allena.


Wanita itu mengelak seolah-olah tidak terpengaruh dengan cerita pelayan itu. Meski dalam hatinya dia merasa tersindir.


Pelayan itu bergegas meminta diri untuk kembali ke lantai bawah. Sambil menuruni anak tangga, pelayan itu memukul keningnya berkali-kali, menyesali tindakannya yang ceroboh bercerita tentang masalah rumah tangganya pada nyonya mudanya yang notabene pernah menjadi istri kedua.


Allena termenung, lalu menarik dan menghembuskan napas panjang. Menenangkan hatinya dengan mencoba merancang sebuah gaun. Namun, sebentar saja wanita itu langsung meremas coretan sketsanya itu lalu memegang keningnya dengan kedua tangannya.


Sementara itu Ny. Mahlika dan kedua orang tua Frisca datang menjenguk wanita itu di rumah sakit. Saat melihat orang tuanya datang Frisca langsung menangis dalam pelukan ibunya. Sang ayah hanya bisa tertunduk menahan kesedihan melihat penderitaan putri satu-satunya.


"Maafkan Frisca, Mommy," ucap wanita itu sambil memeluk ibunya.


Kedua orang tua itu menyesali tindakan mereka yang terlalu keras menghukum anaknya. Hingga tega membiarkan Frisca hidup sendiri tanpa peduli bagaimana cara putrinya melanjutkan hidupnya.


Ny. Mahlika dan Rivaldo hanya bisa menatap haru pada anak dan orang tua yang saling mengungkapkan penyesalannya. Hikmah dari semua itu akhirnya mereka saling memaafkan dan berjanji akan menjadi orang yang lebih baik.

__ADS_1


Frisca teringat pada Ny. Mahlika yang telah membantu menjelaskan pada kedua orang tua itu hingga akhirnya mereka datang menemuinya.


"Mommy, maafkan Frisca ya? Frisca menantu yang durhaka. Diam-diam menentang keinginan Mommy untuk memiliki keturunan.  Dalam hati selalu berpikir, Mommy tidak punya hak memaksaku melahirkan anak yang akhirnya akan menjadi tanggung jawabku untuk mengurusnya. Mommy, aku telah mendapat hukuman atas dosa-dosaku, saat aku ingin memiliki anak aku justru tidak bisa lagi mendapatkannya. Mommy maafkan aku," ucapnya menangis lalu merentangkan tangannya dengan ragu-ragu.


Ny. Mahlika akhirnya memeluk Frisca. Melihat penderitaan wanita itu, hati Ny. Mahlika ikut terenyuh. Tadinya Ny. Mahlika hanya berniat memenuhi permintaan putra dan menantunya. Namun, saat melihat sendiri keadaan mantan menantunya itu hatinya ikut sedih dan akhirnya tulus memaafkan wanita yang pernah membuatnya sangat marah itu.


Ny. Widya membelai rambut putrinya sambil mengajaknya pulang ke rumah mereka.


"Setelah sembuh nanti, pulanglah ke rumah. Kita akan berkumpul lagi di rumah ya Nak!" seru Ibunda Frisca.


"Daddy akan mengembalikan posisi Direktur Bisnis padamu. Tidak ada yang lebih pantas menduduki jabatan itu selain kamu Nak," sambung Tn. Adams.


"Benarkah Daddy? Mom? Aku boleh kembali ke rumah? Dan aku akan kembali bekerja di perusahaan Daddy?" tanya Frisca begitu bersemangat.


Kedua orang tua itu mengangguk, Ny. Mahlika ikut senang mendengar keputusan ayah dan ibu Frisca. Namun keputusan itu justru membuat Rivaldo tertunduk. 


Ternyata dia putri seorang pengusaha yang sukses. Seharusnya aku bisa mengira dari pergaulannya yang berteman dengan orang-orang kaya. Wajahnya yang cantik dengan sikapnya yang terlihat angkuh menunjukkan dia benar-benar berasal dari keluarga kaya. Ternyata hidupnya yang terlunta-lunta karena terjadi konflik dengan orang tuanya. Hingga membuatnya keluar dari rumahnya. Frisca, aku tidak ada artinya bagimu. Aku tidak pantas untukmu, aku dan Keisya seharusnya tidak berharap padamu, jerit hati Rivaldo.


Laki-laki itu memandang sayu pada Frisca. Rivaldo, sejak tadi seolah terlupakan oleh Frisca yang baru saja mendapatkan kembali kebahagiaannya, mendapatkan kembali kehidupan mewahnya. Hingga melupakan laki-laki yang telah berhari-hari menemaninya.


Laki-laki itu bergerak mundur, memutuskan untuk pergi dari kehidupan Frisca dengan dada yang terasa perih.


"Valdo! Mau kemana?" tanya Frisca.


Wanita itu teringat pada Rivaldo saat melihat laki-laki itu ingin meninggalkan ruangan. Rivaldo membalikkan badan dan tersenyum.


"Kemarilah! Kenalkan ini orang tuaku!" seru Frisca segera.


"Siapa dia Frisca?" tanya Tn. Adams.


"Dia calon suamiku Daddy," ucap Frisca sambil mengajak Rivaldo berkenalan dengan ayah dan ibunya.


"APA?" teriak keduanya.


"Jangan lagi Frisca! Baru saja kamu tertipu laki-laki hingga hidupmu menderita. Sekarang kamu akan mengenalkan laki-laki lain pada kami. Apa kamu tidak pernah jera dimanfaatkan oleh laki-laki? Kenapa kamu begitu mudah jatuh cinta dan begitu mudah mempercayai orang? Apa pekerjaannya? Jika dia tidak mapan dan hanya ingin memanfaatkanmu lagi sebaiknya putuskan saja hubungan kalian!" ucap Tn. Adams dengan nada tinggi.


Mendengar ucapan Tn. Adams, Rivaldo langsung pergi meninggalkan ruangan. Ny. Mahlika terkejut melihat kejadian ini, begitu juga dengan Frisca yang tak menyangka ayah ibunya tega mengeluarkan kata-kata yang merendahkan laki-laki yang dicintainya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2