
Sebelum pemotretan Rivaldo dan Frisca di rias ala bangsawan Eropa pertengahan abad kesebelas. Rivaldo terlihat seperti seorang pria bangsawan yang tampan dan wibawa sementara Frisca terlihat seperti putri bangsawan yang sangat cantik dan elegan.
Allena tersenyum bahagia karena Frisca dan Rivaldo mendapat kesempatan mengambil foto prewedding yang begitu elegan. Difoto oleh seorang fotografer yang dikenalnya sangat handal.
Namun senyum Allena perlahan menghilang. Saat melihat suaminya yang begitu terpana menatap mantan istrinya saat pengambilan foto-foto dengan pose-pose romantis itu.
Dada Allena terasa sesak, air matanya mengalir. Namun, Zefran masih saja menatap ke arah calon pengantin itu. Sementara istrinya menatap ke arahnya memohon dalam hati agar Zefran berhenti terpesona pada kecantikan wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.
Allena masih menatap suaminya yang terpaku ke arah lokasi pemotretan. Saat laki-laki menghembuskan nafasnya dengan kuat, Allena berpaling dan segera menghapus air matanya.
"Allena ..," panggil Zefran yang masih menatap lurus ke depan.
"Ya," jawab Allena sambil kembali menoleh pada Zefran.
Terlihat Zefran yang tak sedetik pun mengalihkan pandangannya pada Allena meski laki-laki itu sedang memanggil istrinya. Masih tetap fokus menatap ke depan.
Kak Zefran tak berkedip memandang ke arah sana bahkan tak mau mengalihkan pandangannya padaku sedetik saja, bisik hati Allena.
"Kita, tidak punya foto prewedding bukan?" tanya Zefran.
"Ya," jawab Allena pelan.
Tentu saja tidak ada foto prewedding, karena pernikahan mereka adalah pernikahan yang terpaksa. Zefran hanya melakukan satu foto pernikahan yaitu saat mengucapkan akad nikah. Setelah itu dia berlalu dari ruangan itu tanpa ada pengambilan foto bersama dengan buku nikah. Apalagi foto mencium kening istri seperti yang biasa dilakukan pasangan pengantin yang baru menikah.
"Aku iri pada mereka, aku ingin kita di foto prewedding juga. Kamu pasti sangat cantik di setiap foto prewedding itu," ucap Zefran.
"APA?" tanya Allena dengan suara yang keras karena kaget.
Apa karena itu Kak Zefran terpana menatap ke arah mereka. Apa karena dia ingin memiliki foto prewedding bersamaku? Kak Zefran bilang aku akan cantik di setiap foto? Apa Kak Zefran memikirkanku? Batin Allena.
Air mata Allena yang tadinya telah mengering kini justru tertumpah, gadis itu bahkan terisak. Zefran langsung menoleh ke arah Allena.
"Sayang! Kamu kenapa? Kok malah nangis?" tanya Zefran panik melihat istrinya yang tiba-tiba menangis tertunduk.
Zefran segera memeluk istrinya dan mengusap lengan wanita itu.
"Apa kamu tidak suka aku mengajakmu mengambil foto prewedding?" tanya Zefran.
"Bukan itu" jawab Allena.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu nangis?" tanya Zefran lagi.
"Aku pikir Kakak terpesona pada kecantikan Kak Frisca. Mata kakak tak mau beralih sekejap pun darinya," ucap Allena pelan di dada Zefran.
"Ya ampun Allena, aku justru membayangkan kamu yang berada di sana. Mengenakan gaun mewah dan riasan yang cantik itu. Aku tidak peduli pada Frisca!" ucap Zefran sambil menangkup wajah istrinya.
"Benarkah? Kakak tidak bohong?" tanya Allena.
"Kenapa harus bohong sayang? Aku bahkan telah berencana dalam otakku. Setelah pengambilan foto mereka, aku akan menemui fotografer itu untuk meminta kesediaannya mengambil foto prewedding kita," jelas Zefran.
"Tapi itu untuk mereka yang akan menikah. Sedangkan kita sudah menikah," ucap Allena.
"Tapi kita belum mengadakan resepsi pernikahan kita 'kan? Aku ingin foto prewedding sekaligus mengadakan resepsi pernikahan. Aku ingin semua orang tahu kalau kamu adalah istriku. Kamu ingat? Saat aku di tengah meeting kamu datang ke kantor dan meminta cerai? Semua yang hadir di meeting itu saling memandang dan heran dengan pernyataanmu. Mereka heran karena ternyata kamu adalah istriku, tak ada yang tahu kalau kamu adalah istriku, istriku yang sebenarnya. Setahu mereka istriku itu masih Frisca padahal aku sudah bercerai dengannya. Sejak saat itu aku sangat ingin mengadakan resepsi untuk pernikahan kita," ucap Zefran sambil mengangkat dagu Allena.
Menatap wajah yang masih mengalirkan air mata itu.
"Aku ingin mengundang semua karyawan di kantorku dari tingkat yang paling bawah, kalau perlu dari office boy atau cleaning service hingga ke level top management. Semuanya ingin aku undang agar mereka tahu kamulah istriku. Kemarin aku bahkan tidak mengundang semua sahabatku. Meski sekarang mereka telah tahu kalau kamu adalah istriku. Tapi tanpa resepsi, rasanya belum lengkap," ucap Zefran dengan jari tangannya menghapus air mata Allena.
"Allena, aku mencintaimu. Frisca adalah masa lalu, dia sudah lama terhapus dari dalam hatiku. Kamu pikir aku terpesona pada kecantikan Frisca? Frisca memang cantik tapi kamu jauh lebih cantik. Cantikmu itu luar dan dalam, maksudnya, wajah dan hatimu ya sayang, bukan cantik dengan baju dan tanpa baju," ucap Zefran sambil tersenyum.
Allena mencubit pinggang suaminya, laki-laki itu meringis geli. Zefran langsung menangkup wajah Allena dan membenamkan bibirnya ke bibir istrinya. Zefran tidak peduli, di ruangan itu hanya ada mereka berlima. Dan mereka semua ingin menunjukkan keromantisan mereka.
__ADS_1
Rivaldo memberi kode pada Adit, fotografer itu membalik badan, langsung tersenyum dan mengarahkan kameranya pada Zefran dan Allena. Sesi pemotretan itu tertunda demi menyaksikan keromantisan mereka. Rivaldo merangkul calon istrinya, berdua mereka tersenyum menyaksikan tingkah pasangan romantis itu.
Zefran melepaskan ciumannya lalu mengecup kening istrinya.
"Aku ingin menciummu lebih lama tapi aku takut lupa kalau di sini bukan kamar kita. Mumpung masih ingat kita tunda dulu ya daripada muncul adegan berbahaya di ruangan ini," ucap Zefran.
Allena tersenyum malu hingga menunduk. Laki-laki itu meraih tubuh istrinya dan merangkulnya. Tertegun saat melihat Rivaldo, Frisca dan Adit yang menatap ke arah mereka. Adit mengacungkan jari jempolnya. Lalu membalik badan dan melanjutkan sesi pemotretan yang tertunda. Allena dan Zefran saling berpandangan heran.
"Mereka sudah selesai atau bagaimana? Kok malah nonton kita?" tanya Zefran.
"Kakak sih pakai adegan cium segala jadi terganggu konsentrasi mereka," ucap Allena.
"Berarti mereka model dan fotografer yang tidak profesional. Baru diganggu adegan ciuman saja konsentrasinya sudah langsung buyar bagaimana kalau adegan ranjang," ucap Zefran.
"Iih, Kakak ngomong gitu, malu!" ucap Allena.
"Kan yang dengar cuma kita," ucap Zefran langsung pandangannya mengitari ruangan.
"Zeno dan Keisya belum kembali? Apa mungkin anak-anak itu tersesat?" tanya Zefran masih merangkul istrinya.
"Nggak Kak, mereka sedang dikerubuti sama gadis-gadis model dan karyawan perusahaan ini. Mereka sedang dilatih bergaya ala model, barusan ada yang mengirimkan foto mereka lewat pesan. Mereka aman Kak," jawab Allena.
"Syukurlah, awas kalau diculik lagi. Kalau diculik sama model sih masih enak tapi …,"
"Dasar mata keranjang," timpal Allena sambil pura-pura merajuk.
"Kalau mata keranjang, pacarku pasti sudah banyak," balas Zefran. Allena tertawa.
"Tapi Kakak serius dengan foto prewedding itu? Kalau gitu cari fotografer lain saja, Adit itu sulit, dia orang sibuk. Ini kebetulan saja dia ada di sini biasanya dia di luar negeri terus. Bayarannya juga mahal, dia level selebriti atau pejabat," jelas Allena.
"Masa sih? Kok penampilannya biasa saja?" tanya Zefran.
"Dia memang seperti itu, nggak mau ribet. Penampilannya memang santai tapi kelasnya tinggi, sekelas orang-orang terkenal," lanjut Allena.
"Haa, apa iya tawarannya sampai segitu?" tanya Allena.
"Iya, serius!" ucap Zefran. Allena tersenyum tak percaya.
Dan benar saja, saat pengambilan foto prewedding Frisca selesai, Zefran langsung menemui fotografer nyentrik itu. Frisca dan Rivaldo melangkah ke ruang ganti. Terlihat Zefran yang dengan serius mengajukan permintaannya. Adit menoleh pada Allena lalu menggelengkan kepalanya.
Allena tersenyum di tempatnya sambil pura-pura tak melihat dengan berpaling ke arah lain. Saat Zefran kembali menghampirinya Allena langsung bertanya.
"Bagaimana? Apa dia mau setengah saham Kakak?" tanya Allena menyindir sambil tersenyum.
Zefran menggelengkan kepalanya.
"Dia mau semuanya, semua sahamku," ucap Zefran.
"Haa, Kakak benar-benar menawarkan itu?" tanya Allena mendadak serius.
"Ya! Dan dia bilang, dia tidak mau setengahnya. Dia mau semuanya atau tidak sama sekali. Untuk Kak Allena dia mau mengerjakannya dengan gratis," jawab Zefran.
"Benarkah? Benarkah? Tapi kalau tidak dibayar nanti dia tergoda dengan job lain," ucap Allena yang sudah mulai terpancing.
"Tenang saja! Dia bilang demi Kak Allena, job dari anak sultan pun akan ditolak olehnya. Sampai segitunya, jangan-jangan dia suka padamu. Aku jadi cemburu," ucap Zefran sambil memandang Adit yang sedang mengamati hasil jepretannya di kamera.
Allena langsung, menangkup wajah Zefran dan mengalihkan ke arahnya.
"Jangan coba-coba meragukanku," ucap Allena.
"Ya baiklah! Aku percaya padamu tapi aku harus waspada dengan ancaman dari luar. Adit, Robert Daniel …,"
__ADS_1
"Sudah, sudah, ancaman apa itu?" tanya Allena sambil tersenyum.
Zefran pun ikut tersenyum lalu mengucek rambut istrinya. Tak lama kemudian, Rivaldo dan Frisca muncul. Mereka langsung senyum-senyum ke arah Allena dan Zefran.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Allena.
"Nggak apa-apa, happy saja melihat pasangan yang selalu mesra ini," jawab Frisca. Allena tersipu.
"Kak, kalau gaunnya sudah pas dan tidak ada yang perlu dirombak lagi. Berarti udah beres kan?" tanya Allena. Frisca menggeleng.
"Gaun itu perfect dan sangat nyaman," jawab Frisca.
Rivaldo mengangguk setuju dengan ucapan Frisca.
"Syukurlah kalau begitu, nanti aku suruh seseorang mengantar ke rumah Kakak. Kalau begitu kami permisi ya Kak," ucap Allena ingin pamit.
"Allena!" panggil Frisca.
Allena menghentikan langkahnya dan menoleh. Frisca langsung memeluk Allena.
"Terima kasih untuk segalanya, aku pikir aku tidak akan pernah merasa bahagia lagi. Tapi berkat ketulusanmu, aku bisa mendapatkan segala-galanya. Mendapatkan suami dan putri yang cantik serta sahabat-sahabat yang selalu mendukungku," ucap Frisca.
"Apa hubungannya denganku? Itu semua berkat dirimu sendiri Kak," jawab Allena.
Frisca menggeleng.
"Semua berkat hatimu yang terbuka untuk memaafkanku, jika tidak, mungkin saat ini aku telah di penjara atau bahkan telah mati karena penyakitku. Ketulusan dan keikhlasanmu mengganti karma ku dengan semua berkah yang aku dapatkan sekarang ini. Semoga kalian juga selalu mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan," ucap Frisca lalu merenggangkan pelukannya.
"Terima kasih doanya Kak," ucap Allena.
Frisca mengangguk dengan air mata haru. Mereka pun saling berpamitan dan kembali pada urusan masing-masing. Allena dan Zefran juga berpamitan dengan Adit.
"Ini kartu namaku Kak, kalau sudah tahu tanggal pastinya. Hubungi saja aku," ucap Adit pada Zefran.
"Serius Dit, ini tidak mengganggu kesibukanmu?" tanya Allena meyakinkan.
"Tenang aja Kak, tak ada kesibukan yang lebih penting daripada acara Kak Allena. Pokoknya semua urusan dokumentasi serahkan padaku. Foto dan video aku yang tanggung jawab," ucap Adit.
"Apa? Ada video juga?" tanya Allena.
"Ya, Kak Zefran ingin mengadakan resepsi pernikahan 'kan? Tentu harus ada videonya, saya akan buatkan yang terbaik," ucap Adit.
"Kakak jadi nggak enak hati Dit, tadi telah membantu teman Kakak sekarang giliran Kakak yang nyusahin kamu," ucap Allena.
"Nggak nyusahin sedikit pun Kak. Malah saya senang bisa memberi sesuatu untuk Kakak. Ini kesempatan saya untuk membalas kebaikan Kakak selama ini pada saya," ucap Adit.
Allena tersenyum, Zefran pun menepuk bahu Adit untuk berpamitan. Laki-laki bergaya santai itu mengangguk. Allena dan Zefran mencari Zefano dan Keisya.
Tak lama kemudian terlihat Zefano dan Keisya yang berpose bersama Robert Daniel. Seorang fotografer mengambil gambar ketiga orang itu. Melihat Allena dan Zefran datang, Robert Daniel langsung menghentikan kegiatan berfotonya.
Model tampan itu langsung menghampiri. Menyapa Zefran dengan memeluk laki-laki itu.
Pakai peluk-peluk segala seperti kawan baik saja, batin Zefran.
Robert Daniel beralih pada Allena.
"Halo sayang!" seru laki-laki itu lalu memeluk dan mencium pipi Allena.
Ya ampun kenapa aku tidak bisa bersikap wajar pada laki-laki satu ini. Padahal Allena sudah mengatakan padaku kalau mereka hanya berteman saja, batin Zefran semakin panas.
"Bagaimana? Kita jadi ke Paris? Mereka setuju aku memilihmu," ucap Robert Daniel dengan santai.
__ADS_1
Mendengar itu, kepala Zefran langsung terasa panas. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Allena mengintip suaminya dari balik tubuh Robert Daniel. Terlihat laki-laki itu sedang menatap Robert Daniel yang sedang membelakanginya dengan tatapan mata yang tajam.
...~ Bersambung ~...