Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 143 ~ Selalu Ingin ~


__ADS_3

Zefran terpaku mendengar pembicaraan Santi dengan seseorang melalui sambungan telepon. Laki-laki itu urung masuk ke dalam ruang bermain anak-anak. Akhirnya kembali ke kamarnya, merebahkan diri di ranjang sambil menatap langit-langit kamar.


Wajar jika Allena panik, tinggal serumah dengan orang yang berniat buruk. Tapi Allena cukup tenang dalam mencari solusi, kalau aku mendengar kata-kata seperti itu mungkin akan langsung memakinya. Jika bukan karena rencana Allena yang ingin menjodohkannya dengan Devan, aku pasti sudah menyeretnya ke jalanan, batin Zefran.


Berpikir sendiri membuat Zefran mengantuk dan akhirnya tertidur. Entah berapa lama laki-laki itu terlelap hingga akhirnya terbangun saat Zefran merasakan bibirnya menyentuh sesuatu. Laki-laki itu membuka matanya dan langsung tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengusap lembut pipi istrinya.


"Tidak biasanya, jam segini Kakak sudah pulang," ucap Allena.


"Aku tidak kembali ke kantor setelah bertemu dengan Devan," jawab Zefran.


"Kakak bertemu dengannya? Untuk apa?" tanya Allena langsung cemas.


"Ada hal yang ingin kami bicarakan," jawab Zefran sambil duduk di samping Allena.


Allena tertunduk, mendengar nama Dr. Devan disebut hati wanita itu langsung risau. Melihat itu Zefran mengusap wajah wanita itu. Dia tidak ingin hati istrinya risau.


"Tidak ada apa-apa, kamu jangan khawatir. Kami hanya bernostalgia," ungkap Zefran.


"Aku takut Kakak masih curiga padaku dan Dr. Devan," ucap Allena.


Zefran mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir istrinya itu lalu tersenyum. Laki-laki itu meraih tubuh istrinya dan merebahkannya di ranjang. Zefran memeluk Allena dan mencium dalam pangkal leher wanita cantik itu.


"Terima kasih karena bersedia menjadi istriku," ucap Zefran.


Allena tertawa, mengingat sudah hampir delapan tahun pernikahan mereka, Zefran masih saja mengucapkan kata-kata itu.


"Kenapa Kak? Ada apa? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Allena.


"Aku bersyukur, kamu yang lebih dulu hadir di kehidupanku sebelum Santi--"


"Apa?"


"Jika Santi yang muncul duluan dan Mommy memaksaku menikah dengannya, aku jadi tak bisa bersamamu," ungkap Zefran.


Tersirat dari ucapannya kalau laki-laki itu telah percaya dengan ucapan Allena tentang perjodohan lain yang mungkin dilakukan Ny. Mahlika.


"Tapi kalau kejadiannya seperti itu, saat ini Kakak sudah jatuh cinta padanya dan memiliki dua anak darinya--"


"Tidak mau! Aku maunya sama kamu!" ucap Zefran langsung.


Allena tertawa, mengangguk dengan pasrah karena protes yang cukup keras dari Zefran. Wanita itu membelai wajah laki-laki tampan itu. Dalam hati, Allena juga bersyukur, Ny. Mahlika datang ke rumahnya dan memintanya untuk menikahi putranya yang tampan itu.


Zefran memeluk istrinya dan menyandarkan Allena di dadanya. Mereka pun sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba Allena teringat sesuatu.

__ADS_1


"Kak, Rahma dan Kak Patrick telah menentukan tanggal pernikahan mereka, bagaimana kalau kita bantu mereka menyiapkan pesta mereka?" tanya Allena.


Zefran tertawa, "Pestaku sendiri saja, Patrick yang mengurusnya. Bagaimana bisa aku yang menyiapkan pesta mereka. Kita biarkan mereka memilih konsepnya tapi kita yang jadi penyandang dananya, itu baru bisa," ucap Zefran.


"Apa Kak Patrick bersedia menerimanya?" tanya Allena.


"Kalau aku perintahkan dia untuk menerima, dia bisa apa?" tanya Zefran.


"Dasar pemaksa," ucap Allena sambil tersenyum.


"Ya, aku memang pemaksa, kalau malam itu aku tidak memaksamu. Kamu masih istri diatas kertas hingga saat ini," ucap Zefran.


Wajah Allena langsung bersemu merah, mengingat hal seperti itu membuatnya malu. Jantungnya langsung berdebar-debar karena Zefran sedang membicarakan tentang malam pertama mereka.


Tentu saja bukan hanya jantung Allena yang berdebar-debar. Jantung Zefran pun berdetak dengan kencang, ada desakan untuk melepaskan hasratnya. Laki-laki itu pun melancarkan kecupan-kecupan mesra yang lama kelamaan berubah menjadi ciuman yang panas. Zefran pun tak tahan untuk melepas hasratnya pada istri tercintanya.


Di malam harinya, Zefran menelpon Patrick.


"Pilih gedung, wedding organizer, konsep, pokoknya semua yang terbaik. Juga paket bulan madu yang diinginkan Rahma. Laporkan semua itu dalam dua hari atau paling lama satu minggu, dana untuk semua itu akan jadi tanggung jawabku," ucap Zefran.


Allena tersenyum, mendengar ucapan suaminya yang masih terkesan memerintah bawahannya. Zefran terdiam sesaat mendengar Patrick yang berbicara. Lalu mulai berbicara lagi.


"Coba saja kalau berani seperti itu, pokoknya aku tidak ingin adikku kecewa dengan pernikahannya. Kamu harus pilihkan yang terbaik atau aku suruh Allena menelponmu?" tanya Zefran.


Dari pembicaraan yang Allena dengar terkesan kalau Zefran sedikit memaksa Patrick untuk menerima tawarannya. Dada Allena terasa hangat saat ucapan Zefran yang terkesan menyayangi Rahma seperti adiknya sendiri. Seorang gadis yang tadinya hanya seorang pelayan di rumah itu. Pelayan yang tak ada artinya bagi penghuni rumah itu.


Namun karena perlakuan Allena yang begitu sayang pada gadis itu seperti sayangnya terhadap seorang adik. Seluruh penghuni rumah pun, yang tadinya adalah para majikannya kini menganggap Rahma benar-benar seperti adik perempuan Allena. Allena tersenyum mengingat itu, wanita itu kembali melihat Zefran yang diam sesaat mendengarkan Patrick bicara. Tak lama kemudian terdengar Zefran yang tertawa.


"Awas kalau protes lagi," ucap Zefran lagi.


Zefran menutup sambungan teleponnya dan membalik badan. Menoleh pada istrinya yang tersenyum menunggu penjelasannya. Allena  langsung menubruk tubuh Zefran untuk memeluknya. Zefran tersenyum, tak peduli apa alasan Allena melakukan itu tapi Zefran bahagia melihat sikap Allena yang terharu padanya.


"Akhirnya dia setuju. Setelah aku ancam kamu akan menelponnya, dia langsung setuju. Magic apa yang ada dalam dirimu sayang? Kenapa semua orang patuh padamu?" tanya Zefran.


"Mm, mungkin karena mereka sayang padaku jadi tak ingin mengecewakan aku. Tapi aku pikir tidak semua orang patuh padaku. Ada satu orang yang tidak bisa patuh padaku. Namanya Tn. Zefran Dimitrios. Mungkin karena tidak cukup sayang padaku," ucap Allena dan langsung melepas pelukannya berlari menjauh dari Zefran.


"Tidak cukup sayang? Tidak cukup sayang katamu? Kalau tidak cukup sayang, kenapa bisa lahir dua anak darimu!" teriak Zefran karena Allena yang berdiri menjauh darinya.


"Huuu, itu beda, itu efek dari hal lain, bukan karena sayang," ungkap Allena juga dengan sedikit berteriak.


"Enak saja mulutnya bicara, kalau bukan karena sayang mana ada hal lain itu," ujar Zefran sambil mengejar Allena.


Zefran menganggap hal lain yang dimaksud Allena adalah nafsu. Baginya nafsu timbul karena ada rasa sayang, jika tidak sayang maka tak akan ada timbul nafsu. Zefran telah merasakan rasa sayang pada Allena sejak kejadian di malam pertama mereka menikah. Darah Zefran berdesir, jantungnya berdebar kencang saat tanpa sengaja mereka terjatuh di sofa hingga membuat bibir mereka menyatu.

__ADS_1


Zefran terus berlari mengejar Allena, dan tentu saja dalam waktu singkat wanita itu berhasil ditangkapnya. Zefran menghempaskan tubuh Allena ke ranjang, wanita itu reflek menjerit. Zefran menyumpal mulut wanita itu dengan mulutnya. Semakin erat Zefran memeluk istrinya, laki-laki itu gemas mendengar ucapan istrinya yang tak mengakui rasa sayangnya. Laki-laki itu seakan-akan ingin membuktikan saat itu juga rasa sayangnya yang begitu besar pada Allena.


"Cabut ucapanmu atau aku akan menyekapmu di kamar ini," ungkap Zefran dengan nafas yang tersengal-sengal setelah puas bermain lidah di rongga mulut istrinya.


"Menyekapku di sini? Apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Allena.


"Lakukan apa saja untuk membuktikan rasa sayangku padamu," bisik Zefran.


"Bukan melakukan hal yang lain?" tanya Allena sambil tersenyum.


"Hal yang lain itu pasti, setiap hari aku menginginkanmu, tapi aku tidak setuju jika kamu menuduh hal yang lain itu adalah nafsu. Tentu harus ada nafsu di situ tapi tidak hanya itu, semua terjadi juga karena aku mencintaimu," bisik Zefran di telinga Allena membuat wanita itu meremang geli.


"Baiklah! Baiklah! Aku cabut ucapanku, Tn. Zefran Dimitrios adalah orang juga sayang padaku," ucap Allena setengah berbisik.


Zefran tersenyum, lalu mengangkat tubuhnya yang menimpa tubuh Allena. Zefran bergeser ke samping dan menarik tubuh Allena ke dalam pelukannya.


"Apa kamu tahu? Sejak jatuh cinta padamu, aku tidak terobsesi memiliki apa pun. Aku hanya perlu kamu dan kamar ini," ucap Zefran.


Allena tertawa,  tak menyangka seorang CEO perusahaan besar memiliki keinginan yang terlalu sederhana.


"Tak inginkan apa pun tapi tetap sibuk bekerja?" sindir Allena. Zefran tertawa.


"Aku serius, jika bukan karena rasa tak enak hati dengan Patrick dan seluruh karyawan. Aku tidak mau masuk kerja lagi. Aku hanya ingin memelukmu di kamar ini," ucap Zefran.


"Ooh, sekarang jadi pemalas. Ingin santai dan tidur-tiduran saja tapi uang tetap masuk. Jadi CEO yang bermalas-malasan di rumah," ucap Allena sambil tertawa.


"Ya benar! Benar sekali ucapanmu, aku jadi pemalas sejak jatuh cinta padamu. Begitu menginjakkan kaki di kantor aku langsung merindukanmu. Langsung ingin pulang untuk menatapmu, memelukmu, menciummu, me … sudahlah kamu tahu itu. Waktu berkumpul dengan teman-temanku jauh berkurang. Aku jadi kurang perhatian pada perusahaanku, pada karyawanku pada kolega-kolegaku, pada semuanya. Sekarang perhatianku cuma satu. Cuma untuk kamu, cuma untuk istriku ini, cuma untuk wanita cantik ini, cuma pada wanita yang bernama Allena. Cuma--"


"Itu banyak! Katanya cuma satu?" tanya Allena.


Zefran menoleh pada wanita itu, mengambil ancang-ancang untuk menggelitiknya lagi. Allena buru-buru minta ampun. Zefran tersenyum menatap istrinya yang begitu manis saat tertawa.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Zefran.


"Aku juga mencintaimu Kak," jawab Allena.


Zefran mengecup kening istrinya lama. Lalu turun ke bibirnya, lalu turun lagi ke lehernya. Laki-laki itu sudah siap untuk melancarkan aksi bercintanya untuk yang kedua kalinya hari ini. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Zefran tertunduk di dada Allena, wanita itu tertawa.


"Siapa yang berani menggangguku ini, benar-benar cari masalah," ungkap Zefran masih bertumpu di dada istrinya.


Allena tertawa, meminta Zefran untuk membukakan pintu. Wanita itu menjanjikan Zefran bisa melanjutkannya nanti saat urusannya telah selesai. Allena telah membuktikan sendiri ucapan Zefran, kalau laki-laki itu memang selalu menginginkannya.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2