
Hari yang nanti-nantikan tiba, soft opening cafe dan restoran milik Rivaldo dan Frisca di selenggarakan. Zefran dan keluarga datang, mereka langsung disambut oleh para sahabat yang telah lebih dulu datang. Seperti biasa Zefano langsung asyik berbincang bersama Keisya sementara Zifara digendong oleh ayahnya.
"Ini cafe dan restoran sederhananya Kak? Kalau seperti ini sederhana yang mewahnya seperti apa?" tanya Allena tertawa sambil memeluk dan mencium kedua pipi Frisca.
Wanita yang pernah menjadi istri pertama suaminya itu tertawa. Terlihat bahagia dengan kedatangan para sahabat yang ikut meramaikan acara pembukaan usaha baru mereka. Dihadiri oleh para sahabat yang merupakan para CEO di perusahaan milik keluarga mereka masing-masing.
Para sahabat itu tak segan-segan menyapa para hadirin yang merupakan orang-orang yang berasal dari kalangan tidak mampu. Allena bahkan ikut serta melayani para hadirin yang datang silih berganti. Tak tega melihat Rivaldo dan para karyawan cafe yang sibuk melayani.
Zefran dan kawan-kawan pun menolong sebisa mereka namun karena Zefran menggendong Zifara laki-laki itu hanya bisa sebatas doorman yang bertugas menyapa pengunjung yang datang.
"Dion?" sapa Zefran heran melihat laki-laki muda yang baru saja masuk.
"Eh, Kak Zefran, ternyata benar ada di sini? Aku melihat karangan bunga Allen-Rose. Aku tahu itu adalah nama Kak Allena di dunia fashion. Aku pikir Kak Zefran sekeluarga tidak bisa datang. Aku pikir ada cafe kenalan Kak Allena yang baru dibuka jadi aku mampir," jelas Dion panjang lebar.
"Ya, ini cafe sahabat kami," jawab Zefran.
"Halo Zara, makin cantik aja kamu. Murah senyum lagi," sapa Dion pada Zifara.
"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zefran heran.
"Ya Kak, sehari setelah Kakak berdua datang ke rumah sakit. Kak Allena datang bersama Zeno dan Zara. Aku kenal Zara waktu itu, Kata Kak Allena, Kak Zefran lagi tidak enak badan jadi tidak bisa datang," jawab Dion.
"Oh ya?" tanya Zefran mengingat-ingat.
"Ya, dua hari setelah Kak Allena suruh saya istirahat di ruang VVIP itu. Saya diizinkan pulang dan Kak Allena datang untuk membayar tagihannya," jelas Dion.
Oh ya, hari itu, hari saat Allena marah dan meninggalkan rumah bersama anak-anak. Ternyata dia mengunjungi Dion. Kenapa tidak terpikirkan olehku dia akan kembali ke sana untuk membayar tagihannya. Aku justru mencarinya ke mana-mana sampai stress dan kecelakaan, batin Zefran.
"Maafkan aku ya Dion," ucap Zefran tiba-tiba.
"Ya? Ada salah apa Kak?" tanya Dion heran.
"Hari itu aku bersikap tidak sepantasnya di depanmu. Tidak seharusnya aku berkata-kata seperti itu tentang istriku padamu, aku benar-benar kacau. Kamu pasti mengira kalau aku ini suami yang aneh," ucap Zefran menunduk dengan wajah yang menyesal.
"Nggak aneh kok Kak, menurutku Kak Zefran bukan suami yang aneh tapi suami yang pencemburu," ucap laki-laki muda itu lalu tertawa.
Zefran juga tertawa kecil.
"Tapi wajar kok, punya istri secantik Kak Allena, suami mana yang tidak khawatir kehilangannya. Kak Allena itu cantik luar dalam, kecantikan hatinya terpancar dari senyuman tulusnya. Kak Allena tidak segan-segan menolong atau pun memberi meski dia sendiri sedang kesusahan. Itu yang membuat aku kagum padanya," tutur Dion.
"Kamu sangat mengenalnya?" tanya Zefran.
"Tidak begitu kenal Kak, cuma dengar cerita dari bapak-bapak yang meronda. Kak Allena itu jika punya rezeki sedikit langsung berbagi sama bapak-bapak yang berjaga di pos ronda saat pulang kerja dari Night Club. Kadang memberi rokok bahkan makanan untuk mereka. Sebenarnya bapak-bapak itu tidak mengharapkan apa-apa dari Kak Allena karena mereka tahu kehidupan Kak Allena sendiri sangat sulit. Kak Allena hampir saja dipersunting untuk dijadikan istri kelima oleh rentenir yang memberi hutang keluarganya. Aku bersyukur akhirnya Kak Allena bebas dari hutang itu. Jika tidak, aku berencana menggalang dana untuk membayar hutang itu biar Kak Allena tak jatuh ke tangan aki-aki hidung belang itu. Maklum kak pemikiran anak SMP, bisa apa?" jelas Dion sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Apa? Dia terancam menikah dengan rentenir?" tanya Zefran heran.
__ADS_1
"Ya Kak, warga di perumahan itu semua menyayangkan jika Kak Allena jadi menikahi rentenir itu. Karena semua merasa Kak Allena tak pantas jadi istri kelima bapak tua hidung belang itu. Tapi untung ternyata menikah dengan Kak Zefran yang baik dan tampan jadi Kak Allena selamat dari keempat istri bar bar rentenir itu," jelas Dion lagi.
Pantas saja Allena menangis saat aku bercerita pernikahan kami yang terjadi karena uang. Allena pasti merasa sangat sedih mengingat dirinya yang hampir saja jatuh ke dalam pelukan rentenir itu hanya karena uang. Seakan-akan uang yang terlihat remeh bagiku itu bisa membelinya sementara baginya itu adalah sebuah pertolongan yang sangat berarti. Dan Dion adalah warga perumahan yang tahu pasti tentang masalah itu, batin Zefran yang tercenung.
Zefran menoleh ke arah istrinya yang sibuk melayani para pengunjung cafe dan restoran itu. Senyum tulus wanita itu selalu mengembang meski yang dihadapinya adalah orang-orang tidak mampu yang hanya makan gratis sebagai bentuk syukur Rivaldo dan Frisca atas kesembuhan Frisca.
Allena bukan manusia biasa, dia malaikat yang menyamar turun ke dunia untuk menjadi istriku, batin Zefran dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kak, sepertinya Kak Allena kerepotan dengan pengunjung yang bertambah banyak. Aku menolongnya boleh? Bantu-bantu angkat piring kotor saja?" tanya Dion.
"Oh maaf Dion, kamu jadi ikut repot," ucap Zefran tak merasa enak hati pada anak itu.
"Nggak repot Kak, sebisanya aja," ucap Dion yang terlihat tulus ingin membantu.
Zefran akhirnya mengangguk membiarkan laki-laki muda yang tampan itu membantu. Allena kaget saat Dion datang menyapanya. Wanita itu langsung menoleh pada suaminya. Zefran langsung tersenyum sambil melambaikan tangan Zifara menunjukkan dia tak masalah jika Dion datang membantu Allena.
Allena tersenyum dengan ragu-ragu, merasa was-was dengan apa yang akan terjadi. Zefran terlihat baik-baik saja saat ini, tapi entah setelah ini. Allena meski berusaha bersikap wajar namun dihatinya merasa sangat risau dengan kehadiran Dion di situ.
Terlebih Dion adalah penyebab pertengkaran mereka terakhir kali. Yang menyebabkan Allena memutuskan pergi dari rumah membawa anak-anaknya hingga akhirnya Zefran stress dan mengalami kecelakaan. Tapi Allena merasa itu bukan kesalahan Dion dan karena itu Allena berusaha untuk bersikap sewajar mungkin pada anak itu.
Perlahan-lahan pengunjung cafe itu berangsur berkurang hingga akhirnya menyisakan beberapa orang saja. Para relawan yang membantu melayani tamu makan gratis itu pun akhirnya bisa beristirahat.
"Terima kasih Dion, kamu sudah banyak membantu Kakak," ucap Allena tulus pada anak muda itu.
"Ah cuma bantu sedikit saja kok Kak," ucap Dion merendah.
Dion pun tertawa mendengar pujian Allena.
"Apa capek sekali sayang?" tanya Zefran menghampiri mereka.
"Ya Kak, sedikit," ucap Allena tersenyum dengan senyumnya yang canggung.
Zefran mengerti ketidaknyamanan hubungan mereka. Namun Zefran berusaha untuk bersikap bijaksana, menganggap bahwa kejadian yang lalu itu telah berlalu. Beruntung Rivaldo datang menghampiri mereka hingga suasana canggung ketiga orang itu menjadi buyar.
"Ayo semuanya sekarang giliran kita makan, aku sudah siapkan nasi goreng spesialnya, ayo Allena, Zefran, ayo mari dek," ajak Rivaldo pada mereka bertiga untuk bergabung dengan relawan yang lain.
Di sebuah meja makan besar mereka bergabung, untuk menikmati makan istimewa bikinan Rivaldo. Allena tersenyum melihat Zefano dan Keisya yang telah standby di posisi mereka. Dion dipersilahkan duduk oleh Rivaldo, begitu juga dengan Allena. Otomatis mereka duduk bersebelahan, melihat situasi itu Allena meminta suaminya makan lebih dulu sementara dia yang akan menggendong Zifara.
"Kamu jangan pikirkan aku, kamulah yang harus segera makan. Kamu sudah bekerja cukup berat," ucap Zefran meminta istrinya duduk.
"Kakak duluan yang makan, aku belum begitu lapar," ucap Allena berdiri sambil meminta suaminya duduk di sebelah Dion.
"Ayo Kak Zefran, duduk di sini," ajak Dion sambil menepuk kursi di sebelah kirinya itu.
Ajakan tulus dari Dion membuat Zefran akhirnya duduk di samping Dion. Kesempatan itu dipergunakan Allena untuk berpindah ke sebelah Zefran. Hatinya lega, bisa menjauh dari hal-hal yang membuat Zefran berpikiran buruk pada Dion.
__ADS_1
Zefran tersenyum pada Dion yang segera menyodorkan lauk dan sayuran pada Zefran. Sementara Dr. Shinta datang dan langsung mengambil Zifara dari gendongan Allena.
"Aku sudah ngemil banyak dari tadi, kamu yang kerja harus segera makan daripada keburu pingsan," ucap Shinta lalu membawa Zifara berjalan-jalan mengelilingi cafe.
Allena tertawa melihat dokter cantik itu menunjuk macam-macam menu yang terpampang di di papan menu. Entah apa yang diucapkannya, Zifara tertawa-tawa melihat ekspresi Dr. Shinta. Rivaldo langsung menyuruh Allena duduk di sebelah Zefran.
Setelah menaruh dan menata semua makanan di atas meja. Laki-laki itu menghampiri Allena.
"Terima kasih banyak ya, kamu sudah susah payah membantuku, hanya ini yang bisa aku berikan untuk membalas kebaikanmu. Tidak seimbang memang tapi silahkan nikmati hidangannya. Mudah-mudahan bisa sesuai harapan untuk membayar rasa penasaranmu dengan nasi goreng spesial buatanku. Itu Zeno sudah makan duluan," ucap Rivaldo secara khusus berterima kasih pada Allena sambil menunjuk Zefano dan Keisya.
Allena tertawa melihat kedua anak itu yang terlihat asyik dan lahap menyantap nasi goreng di hadapan mereka. Allena kembali teringat Rivaldo yang masih berdiri di sampingnya.
"Tidak apa-apa Kak, tidak masalah. Kak Valdo terlalu resmi, terlalu berlebihan. Aku seperti mendengar pidato peresmian barusan," ucap Allena sambil tertawa, Rivaldo pun ikut tertawa.
"Mari makan sama-sama Kak," ajak Allena yang dibalas anggukan oleh Rivaldo.
Laki-laki itu pun segera duduk di samping Frisca dan mulai melayani istrinya. Mengambilkan sayur dan lauk bahkan menyuapi Frisca sambil tertawa. Allena tersenyum melihat kemesraan itu dan tersenyum. Hatinya lega, melihat Frisca yang menemukan kebahagiaan baru.
"Kok malah termenung? Ayo makan sayang," bisik Zefran yang tiba-tiba menyuapi istrinya brokoli.
"Apa ini?" tanya Allena.
"Brokoli kesukaanmu, aku suapi kamu karena aku tahu kamu suka brokoli," ucap Zefran sambil tersenyum.
"Bukan karena Kakak nggak suka brokoli makanya di kasih ke aku? Kakak ini persis Zeno. Begitu lihat brokoli langsung cari aku," ucap Allena pura-pura merajuk.
"Bukan begitu. Aku suka brokoli, demi kamu, aku suka makan brokoli," ucap Zefran.
"Bohong," jawab Allena sambil tersenyum.
Zefran menancapkan brokoli ke ujung garpunya dan langsung menyantapnya. Allena tertawa melihat suaminya yang berusaha menelan brokoli itu.
"Jangan dipaksakan Kak, jangan menyukai brokoli demi aku," ucap Allena sambil mengusap pipi suaminya.
"Aku tidak memaksakan diri, aku hanya berusaha menyukai apa yang kamu sukai karena aku baru tahu, aku baru sadar. Semua yang disukai malaikat sepertimu, itu pasti adalah sesuatu yang sangat baik," ucap Zefran pelan nyaris berbisik.
Allena terpaku mendengar ucapan suaminya, sebuah ucapan yang terdengar begitu manis baginya. Membuat wanita itu tersenyum. Zefran langsung mengecup bibir yang tersenyum sangat manis itu.
Semua yang melihat kejadian itu langsung bersorak.
"Wah, bapak ini nggak lihat-lihat tempat lagi kalau mau mesra-mesraan," teriak Ronald.
"Bukan tak lihat tempat, Nald. Tapi merasa semua tempat di dunia ini adalah kamarnya," sahut Altop.
Semua langsung tertawa, Zefran tersenyum malu menyembunyikan wajahnya di balik bahu Allena. Wanita cantik itu tertawa mendengar ledekan teman-teman suaminya lalu membelai rambut laki-laki yang cintainya itu.
__ADS_1
Allena menoleh tanpa sadar pada Dion yang duduk di samping suaminya. Laki-laki muda itu tersenyum dengan tulus, terlihat lega karena Allena mendapatkan suami yang begitu mencintainya.
...~ Bersambung ~...