Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 70 ~ Menyusul Zefano ~


__ADS_3

Frisca kesakitan, Zefano dan Keisya menangis menjerit memanggil nama wanita itu. Frisca dibawa ke ruangan intensif. Zefano mengejar, Allena langsung menahan tubuh anaknya.


Zefano yang berusaha melepaskan diri dan mengucapkan kata-kata yang membuat Allena syok. Wanita itu melepaskan tubuh Zefano dan jatuh terduduk lalu menangis terisak. Allena merasa mimpinya sekarang telah menjadi nyata.


"ZENO!" teriak Zefran.


Teriakan laki-laki itu membuat langkah Zefano terhenti, anak itu langsung menoleh ke belakang dan melihat ibunya yang terduduk di lantai sambil menangis tertunduk. Zefano berlari menghampiri, langsung duduk di pangkuan wanita itu dan menatap wajah ibunya dari dekat.


"Mama kenapa? Kenapa Mama nangis?" tanya Zefano polos.


Zefran datang menghampiri mereka.


"Mama baru saja melahirkan adik bayi, harusnya saat ini Mama istirahat tapi karena sangat ingin bertemu Zeno, Mama melakukan perjalanan jauh ke rumah sakit daerah itu lalu ke rumah sakit ini. Sekarang Mama sangat sedih karena ternyata Zeno tidak sayang lagi sama Mama," tutur Zefran.


"Nggak! Zeno sayang sama Mama, Zeno sangat sayang sama Mama" ucap anak itu langsung memeluk ibunya.


Zefran tersenyum.


"Apa Mama orang yang jahat?" tanya Allena dengan suara yang serak.


Zefano merenggangkan pelukannya dan menatap Allena. Tangan anak itu menghapus air mata ibunya.


"Mama orang yang baik, Mama sangat baik. Zeno sayang sama Mama," ucap Zefano.


Allena menatap wajah anak yang dirindukannya itu. Zefano pun menatap wajah ibunya dengan air mata yang terus mengalir.


"Maafin Zeno ya Ma?" ucap Zefano dengan bibir yang bertaut dan matanya yang berkaca-kaca.


Allena mengangguk, Zefano langsung mencium pipi Allena dengan lembut dan lama. Air mata wanita itu kembali mengalir, Allena menangkup wajah anaknya dan mencium kedua pipi anak tercintanya itu lalu memeluknya lama.


"Tapi gimana dengan Tante Frisca? Dia sedang sakit Ma?" tanya Zefano yang teringat pada Frisca.


Zefran menatap pada Allena, laki-laki itu menyerahkan keputusan pada Allena.


"Ayo kita lihat Tante Frisca," ucap Allena.


Suster Nofi langsung mendorong kursi roda mendekati Allena. Wanita itu mengernyitkan wajahnya menunjukkan dia tidak ingin menggunakannya.


"Jangan sampai terjadi hal yang buruk di belakang hari. Kamu harus tetap sehat untuk kedua anakmu," ucap Shinta.


Mendengar itu Allena akhirnya duduk di kursi roda, Suster Nofi bersiap mendorongnya. Zefano tersenyum pada Suster yang sangat dikenalnya itu. Anak itu ikut berjalan di samping kursi roda ibunya. Allena tak lepas-lepasnya memegangi tangan anaknya.


Allena dan yang lainnya tiba di ruang Intensive Care Unit atau ICU. Menatap wanita yang sudah tidak merintih kesakitan lagi namun terlihat sangat lemah. Frisca mengangkat tangannya ingin menggapai tangan Allena.


"Maafkan aku Allena, aku berdosa padamu. Sangat banyak, dosaku padamu sangat banyak. Aku takut tidak sempat meminta maaf padamu. Maafkan aku, maafkan aku Allena. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu," ucap Frisca sambil menggenggam tangan Allena dan menangis.

__ADS_1


Allena mengangguk, air matanya ikut mengalir. Meski hatinya terasa sangat sakit tapi mengingat wanita itu telah bersungguh-sungguh meminta maaf akhirnya Allena memaafkan.


"Aku juga meminta maaf pada Nyonya karena kehadiranku sudah mengusik rumah tanggamu Nyonya," jelas Allena.


"Sebenarnya itu juga bukan salahmu, aku yang mengizinkanmu masuk ke dalam rumah tanggaku. Aku yang berniat jahat menghadirkanmu dalam rumah tanggaku demi keutuhan rumah tangga kami. Allena kamu tidak bersalah, bukan salahmu jika akhirnya Zefran mencintaimu karena seorang suami memang harus mencintai istrinya. Aku yang salah memaksanya meminta tidak mencintaimu. Maafkan aku Allena karena aku merasa mungkin hanya ini kesempatanku. Aku merasa hidupku tidak akan lama lagi..,"


"Jangan berkata seperti itu Frisca," ucap Rivaldo langsung memotong.


"Kamu tidak boleh putus asa. Kita akan melakukan yang terbaik untuk pengobatanmu. Kamu pasti bisa sembuh, dokter memberitahu jalan untuk kesembuhanmu. Aku akan mengusahakannya, yang dibutuhkan darimu hanyalah tekadmu untuk sembuh," lanjut Rivaldo.


Frisca menoleh ke arah laki-laki yang berdiri di samping ranjang rumah sakitnya itu.


"Tidak Valdo, jangan lakukan itu. Aku tidak pantas mendapatkan pengorbananmu yang terlalu besar. Aku tidak layak menerimanya," ucap Frisca sambil menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang mengalir deras.


"Aku harus lakukan itu, aku tidak bisa membiarkanmu pasrah menerima keadaan. Kita harus berusaha, aku akan mendukungmu. Aku akan lakukan apa pun untuk kesembuhanmu, tunggulah aku pergi sebentar. Aku akan segera kembali, aku akan mendapatkan biaya pengobatan itu,"


"Jangan ragu mengenai biaya pengobatan. Aku akan membiayai pengobatanmu sepenuhnya, Nyonya," ucap Allena.


"Terima kasih tapi ini tanggung jawabku. Aku telah berjanji untuk membiayainya maka aku akan menepati janjiku," jawab Rivaldo.


"Tapi..,"


Zefran langsung menyentuh bahu istrinya dan menggelengkan kepalanya. Meminta Allena membiarkan laki-laki itu melakukan apa yang ingin dilakukannya untuk Frisca.


"Keisya, tunggu Papa di sini sebentar ya nak, Papa pulang dulu. Papa akan segera kembali, Keisya main sama Zeno dulu ya sayang," pesan Rivaldo pada putrinya.


"Bagaimana cara dia mendapatkan biaya pengobatannya?" tanya Allena pada Frisca.


Frisca menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis. Allena menyentuh bahu wanita itu. Frisca berusaha menenangkan hatinya agar bisa menjawab pertanyaan Allena.


"Dia akan menjual rumahnya untuk biaya pengobatanku. Aku telah menolaknya tapi dia tetap memaksa. Kasihan putrinya, mereka akan tinggal di mana? Demi pengobatan ku dia bisa membuat putrinya hidup sengsara," jawab Frisca sambil terisak-isak.


Frisca menatap Keisya yang duduk di kursi pengunjung di temani Zefano. Hatinya kembali merasa sedih melihat kedua anak itu.


"Aku menyayanginya Keisya, aku juga menyayangi Zefano tapi aku justru membuat mereka menderita," ucap Frisca masih tersedu-sedu.


"Kak Zefran melarangku membantu biaya pengobatanmu, ternyata ini maksudnya. Memang sedih melihat pengorbanan ayah Keisya tapi juga bahagia karena terlihat jelas dia sangat mencintaimu. Nyonya berbahagialah karena menemukan orang yang begitu mencintaimu. Hargailah pengorbanannya dengan kesungguhan tekadmu untuk sembuh demi dirinya," ucap Allena mencoba menasehati Frisca.


"Tapi aku tidak pantas Allena," ucap Frisca.


"Bukan Nyonya yang menentukannya, pantas atau tidak pengorbanannya. Bagi dia Nyonya lebih berharga dari segala yang dimilikinya harusnya Nyonya bahagia mendapatkan cinta yang begitu besar darinya. Benar 'kan Kak?" tanya Allena pada Zefran.


Laki-laki itu mengangguk, Zefran memang tidak ingin Allena menghalangi Rivaldo menunjukkan rasa cintanya pada Frisca dengan memberi bantuan pengobatan pada Frisca.


"Zefran, aku juga maaf padamu atas segala kesalahanku. Mungkin kamu tidak menyadarinya dan merasa aku adalah istri yang setia padamu. Setelah mengetahui kenyataan itu, aku pasti sangat melukai hatimu. Maafkan aku Zefran, maafkan karena aku telah memisahkanmu dengan putramu sekian lama. Membuat dia tidak merasakan kasih sayang darimu..,"

__ADS_1


Frisca menghapus air matanya yang mengalir deras. Allena menyentuh bahu wanita itu untuk membuatnya tenang.


"Kamu tahu, aku rasa aku telah mendapat karma atas perbuatanku. Beberapa saat bersama Zeno membuatku sangat ingin memiliki seorang anak. Tapi justru menghadapi kenyataan tak bisa lagi memiliki seorang anak pun. Karena dosa-dosaku yang telah membunuh mereka, membunuh bayimu Zefran. Mengingat itu rasanya aku memang pantas mati..,"


"Jangan berkata seperti itu Nyonya, Nyonya tidak boleh putus asa. Lihatlah anak-anak ini sangat menyayangi Nyonya. Mereka juga mengharapkan kasih sayang dari Nyonya," ucap Allena sambil menghapus air matanya.


Frisca tertawa kecil masih dengan air mata yang mengalir.


"Kamu baik sekali Allena, aku tidak menyangka ada orang yang memiliki hati sepertimu. Sejak dulu aku selalu menindasmu tapi kamu justru memberi dukungan padaku. Segala yang baik memang pantas menjadi milikmu. Suami yang baik, anak yang baik..,"


"Mungkin juga teman yang baik. Lagi pula, aku juga tidak sebaik itu, jika bukan Zeno yang membukakan pikiranku. Aku juga akan membencimu Nyonya. Zeno bisa menyayangimu padahal Nyonya telah menculiknya lalu kenapa aku tidak bisa memaafkanmu?" ucap Allena.


"Anak itu.., entahlah kamu tahu Allena padahal aku sudah membuatnya menangis. Aku sudah membuatnya sangat sedih dan takut. Tapi malam itu saat aku kesakitan dia seperti melupakan perbuatan jahatku begitu saja. Saat itulah aku merasa ingin memiliki seseorang anak yang bisa menghiburku, menemaniku di saat aku sakit," jelas Frisca.


Allena mengangguk mengerti, Dokter Shinta datang mendekati kedua orang itu dan meminta agar Allena segera kembali ke ruang rawat inapnya.


"Sekarang waktunya pulang Allena, kamu harus istirahat," ucap Shinta


"Baiklah tapi Zeno ikut pulang 'kan?" tanya Allena.


"Kita tanyakan dia, apa dia ingin pulang sekarang atau di jemput nanti," ucap Zefran.


"Tapi..,"


"Biarkan dia menemani Keisya sayang, setelah ayahnya datang kita jemput Zeno," ucap Zefran.


"Jangan khawatir Allena, aku akan tetap di sini menjaga Zeno, Frisca dan Keisya. Begitu Papanya Keisya datang aku akan mengajak Zeno pulang bersamaku," ucap Shinta melihat Allena yang masih ragu meninggalkan Zefano.


Allena sangat takut meninggalkan Zefano sendirian dan nyatanya wanita itu masih belum melepas rindu pada putranya. Tapi akhirnya Allena pasrah pada ucapan suaminya dan juga Dokter Shinta. Allena membiarkan Zefano tetap menemani sahabatnya dan sedikit lega karena Dokter Shinta mau menjaganya.


Allena memeluk Zefano dan berpamitan, dengan berat hati Allena meninggalkan anaknya di situ tapi ucapan Zefano membuatnya tenang.


"Zeno pulang sebentar lagi ya Ma, setelah ini giliran Zeno jagain Mama," ucap anak itu menghibur ibunya.


Allena tersenyum.


"Jangan lama-lama ya, begitu Papa Keisya pulang, Zeno juga harus segera pulang ya nak?" pinta Allena.


Zefano mengangguk kuat lalu mencium kedua pipi ibunya. Zefran juga berpamitan pada Zefano.


"Baiklah, di sini satu-satunya laki-laki cuma Zeno. Zeno harus jaga mereka baik-baik ya. Kalau laki-laki lain itu sudah datang giliran Zeno yang pulang. Ok!" ucap Zefran.


"Ok!" jawab anak itu cepat membuat Dokter Shinta dan Frisca tersenyum.


Allena pun pulang bersama suaminya dan Suster Nofi. Mereka kembali ke ruang rawat inapnya agar Allena bisa beristirahat. Sementara Zefano tinggal bersama Dokter Shinta untuk menjaga Frisca dan Keisya.

__ADS_1


...~~~  Bersambung  ~~...


__ADS_2