Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 24 ~ Terlanjur ~


__ADS_3

Allena menatap suaminya dengan tatapan sayu. Hatinya bahagia setiap kali mendapat perlakuan manis dari laki-laki itu. Namun, rasa ragu kembali timbul saat teringat tujuan pernikahan mereka hanya untuk menghadirkan keturunan bagi keluarga itu.


Allena tidak ingin berharap lagi, tak ingin terlena dengan harapannya dicintai oleh laki-laki yang sedang tertidur lelap itu. Allena duduk perlahan di samping Zefran. Menyentuh lengan laki-laki itu untuk membangunkannya.


Zefran membuka mata dan tersenyum, laki-laki itu duduk di hadapan Allena. Perlahan mengecup bibir Allena lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Zefran turun dari lantai atas dengan setelan jas yang sangat rapi. Allena reflek menatap laki-laki yang melangkah menuju meja makan itu. Saat Zefran menoleh ke arah Allena, gadis itu buru-buru menunduk. Zefran tersenyum lalu menyapa ibunya. Ny. Mahlika mengajak putra semata wayangnya itu sarapan bersama, Zefran mengangguk setuju.


Mereka sarapan dengan suasana yang canggung, sesekali melirik Zefran dan tertunduk saat laki-laki itu menoleh ke arahnya. Frisca turun dari lantai atas dan langsung mengecup bibir suaminya. Frisca bertingkah manja untuk menghindari kemarahan suaminya yang menyaksikannya pulang malam dan dalam keadaan mabuk.


"Tidurmu nyenyak sayang? Kamu terlihat segar pagi ini," tanya Frisca.


Zefran melirik Allena, kembali teringat kejadian tadi malam saat dirinya tidak bisa tidur dan akhirnya pindah ke kamar Allena. Di kamar Allena, Zefran memang bisa tertidur nyenyak. Allena dan Zefran merasa seperti sedang berselingkuh, bercinta diam-diam tanpa diketahui oleh istri Zefran.


Setelah sarapan, seperti biasa Zefran dan Frisca diantar ke teras oleh Allena. Seperti biasa juga Frisca dan Zefran berciuman di teras lalu berpisah dan masuk ke mobil masing-masing. Allena menatap adegan itu setiap hari. Gadis itu hanya bisa menunduk. Pernah berangkat lebih pagi demi menghindari pemandangan seperti itu.


Suami istri berciuman saat berangkat kerja hanya berlaku bagi mereka yang menikah karena saling cinta. Tidak seperti dirinya, Allena tidak bisa berharap mendapat perlakuan seperti itu. Gadis itu tertunduk menggigit bibirnya untuk menahan tangis, kembali merasa dirinya bukan siapa-siapa di mata Zefran.


Sakit, perih di dada. Entah bagaimana caranya agar tidak berputus asa dengan pernikahannya. Ingin berlari ke arah laki-laki yang mengharapkannya. Namun, Allena terlanjur terikat oleh pernikahan tanpa cinta itu.


Zefran melangkah ke mobilnya, terdiam sesaat di dalam mobilnya itu. Menyalakan mesin mobil dan mulai melaju perlahan. Zefran menatap mobil Frisca yang telah keluar dari gerbang. Menoleh, menatap Allena yang masih tertunduk di teras. Zefran telah melewati Allena namun tiba-tiba laki-laki itu menghentikan mobilnya.


Zefran merasa tidak akan bisa tenang menjalani harinya jika dia tidak melakukannya. Laki-laki itu turun dari mobil berjalan ke arah gadis yang tertunduk itu. Memeluknya lalu membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu.


Allena terpaku hingga akhirnya sadar saat Zefran berbisik padanya.


"Aku berangkat dulu," ucap laki-laki itu lirih kembali mengecup bibir Allena sekilas kemudian melangkah ke mobilnya dengan pasti.


Allena menatap mobil yang melaju melewati gerbang tinggi menuju jalan raya itu lalu menyentuh bibirnya kemudian tersenyum. Zefran menatap Allena melalui kaca spion dan juga tersenyum.


Allena berangkat ke toko bunga dengan wajah yang berseri-seri. Menjalani harinya dengan banyak tersenyum. Melamunkan kejadian tadi pagi lalu kembali tersenyum.


"Ceria sekali hari ini."


Allena tersentak kaget lalu menoleh ke arah laki-laki yang menyapanya itu. Lamunan Allena bahkan membuatnya tidak mendengar bel pintu berbunyi.


"Oh Kak Valen, aku tidak dengar bel pintu berbunyi. Kakak menembus pintu kaca ya?" ucap Allena sambil tersenyum.


"Cantik sekali senyummu, jangan berikan senyum itu selain untukku ya!" ucap Valendino menatap Allena dari jarak dekat.


Allena kembali tersenyum sambil menunduk.


Beruntung sekali Zefran memilikimu. Aku harap laki-laki itu segera melepasmu. Aku akan menunggumu Allena, aku rela menunggumu sampai Zefran menceraikanmu, jerit hati Valendino.


Valendino mengulurkan kalung dengan liontin cincin di telapak tangannya. Allena termangu menatap liontin itu lalu beralih menatap Valendino.


"Aku mengerahkan seluruh karyawan perusahaanku untuk mencarinya. Kami mencarinya bersama-sama, aku bahkan memberikan bonus bagi karyawan yang bisa menemukannya. Meski mereka ikhlas melakukannya tapi tetap saja aku harus memberikan penghargaan bagi usaha mereka," jelas Valendino.


Menatap kalung berliontin cincin itu sedangkan Allena hanya diam membisu. Seingat Allena kalung beserta ponselnya telah dibuang jauh dari balkon gedung tinggi itu.


"Aku meliburkan seluruh karyawan setelah berhasil menemukannya agar mereka bisa beristirahat di rumah dan sebagai bentuk terima kasihku pada mereka. Sebenarnya sangat mudah bagiku membeli cincin yang serupa tapi hatiku menolak. Aku merasa seperti seorang penipu jika melakukan itu." cerita Valendino, lalu beralih menatap Allena.


"Perusahaan mengalami kerugian hingga puluhan milyar. Semua itu karena kebodohanku, harga sebuah kebodohan itu memang mahal, bukan?" ucap Valendino bertanya yang tak memerlukan jawaban.


"Kakak tidak perlu melakukan itu, harusnya kakak tidak perlu mencarinya lagi. Bukankah kakak tidak akan mengambil lagi apa yang sudah kakak buang?" tanya Allena.


"Benar, demi kamu aku menentang prinsipku. Demi kamu aku akan menentang prinsip apa pun. Allena, aku akan menunggumu hingga kamu bebas dari Zefran," ucap Valendino sambil mengalungkan kembali cincin ikatan mereka.

__ADS_1


Valendino berharap Allena bisa segera menuntaskan janji pernikahannya dan segera bebas dari Zefran. Valendino telah jatuh cinta pada Allena dan ingin segera menikahinya.


"Kak, aku tidak bisa. Aku tidak ingin berjanji, aku takut tidak bisa menepati. Aku tidak ingin kakak menungguku, cobalah membuka hati untuk gadis lain. Jika memang kita ditakdirkan bersama maka kita pasti akan bersatu," ucap Allena lalu melepas kalung berliontin cincin itu dan menyerahkannya kembali pada Valendino.


Valendino menggelengkan kepala, laki-laki itu bahkan menitikkan air mata. Merasa menyesal, hari itu Allena menerima pemberiannya, Allena membiarkan Valendino menunggunya. Tapi kini Allena tidak mau lagi menerima pemberian laki-laki itu bahkan memintanya untuk tidak menunggu.


Valendino merasa apa yang dilakukan Allena adalah bentuk penolakan yang nyata baginya.


"Tidak Allena aku mohon jangan lakukan itu, jangan melarangku menunggumu. Jangan mendorongku untuk menerima gadis lain. Tidak, aku hanya ingin dirimu. Aku akan tetap menunggumu. Maafkan aku, maafkan jika aku memaksamu tapi aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu membenci perlakuanku padamu tapi aku akan membayarnya. Aku akan menggunakan seluruh hidupku untuk membayar kesalahanku. Aku…" 


"Bukan seperti itu kak, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak mau terbuai mimpi indah hidup bahagia bersama lagi. Apa pun bisa terjadi, Kak Valen bisa menemukan yang lebih baik dariku dan memang harusnya begitu. Kakak terlalu baik untukku. Aku tidak pantas untuk kakak. Cinta kakak menjadi beban berat bagiku. Berjanjilah untuk membuka hati pada gadis lain, kakak pasti mendapatkan yang lebih baik dariku." ucap Allena sambil menghapus air matanya.


"Tidak, aku tidak bisa berjanji. Aku akan tetap menunggumu, aku hanya ingin kamu. Dan kamu harus tahu kalau aku akan tetap menunggumu," ucap Valendino.


Laki-laki itu menitikkan air mata penyesalan. Menangkup wajah Allena lalu membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu. Valendino tidak peduli dengan semua permintaan gadis itu. Dia hanya inginkan Allena dan dia rela menunggunya. Valendino melepaskan ciumannya dan memeluk Allena erat.


Setelah puas memeluknya laki-laki itu meletakkan kalung cincin itu di atas etalase dan melangkah keluar dari toko. Valendino menghapus air matanya dan masuk ke dalam mobil. Duduk termenung sambil menekan dadanya.


Jangan lakukan itu Allena, jangan menolakku. Maafkan kesalahanku, aku akan membayar kesalahanku seumur hidupku. Aku akan lakukan apa pun untuk membahagiakanmu, jerit hati Valendino.


Allena memandang mobil Valendino yang tak kunjung pergi. Dari balik kaca tokonya Allena menatap dengan air mata yang masih mengalir. Allena tahu Valendino masih mencoba menenangkan dirinya.


Kita telah mencoba Kak dan tidak berhasil. Kakak membenciku, mengabaikanku, mencampakkanku dan sekarang kakak masih bisa memastikan tetap akan mencintaiku? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, aku tidak sanggup menghadapi kebencianmu lagi, aku tidak sanggup, jerit hati Allena dengan air mata yang mengalir pelan.


Di sore hari Allena pulang dengan wajah murung, naik ke lantai atas dengan langkah pelan. Membuka pintu kamarnya dan terkejut. Zefran berdiri dari kursi dan menghampirinya. Laki-laki itu langsung membenamkan bibirnya ke bibir Allena.


Aku merindukanmu sepanjang hari, Allena. Akhirnya kamu pulang juga, batin Zefran sambil melepas kemejanya.


Zefran mendorong gadis itu hingga jatuh ke ranjang. Menciumi leher gadis itu begitu bernafsu.


"Baiklah ... aku akan memandikanmu. Kamu tunggu di sini" ucap Zefran lalu bangkit ke kamar mandi.


Laki-laki itu menyiapkan jacuzzi whirlpool bath dengan minyak esensial aromatik yang ditambahkannya kedalam kolam air hangat itu. Aromaterapi itu tidak hanya mampu menenangkan tubuh dan relaksasi otot namun juga bisa meningkatkan gairah seksual.


Zefran tersenyum dan melangkah kembali ke kamar. Allena yang berdiri menunggu tidak mengerti apa yang akan dilakukan Zefran. Laki-laki itu berjalan mendekat lalu perlahan melucuti pakaian Allena. Gadis itu memegang tangan Zefran untuk menghentikannya.


"Biar aku lepas sendiri, aku mandi dulu tuan," ucap Allena sambil melangkah ke kamar mandi.


Zefran menghentikan langkah Allena, memeluk gadis itu dari belakang.


"Kita mandi sama-sama," bisik Zefran.


Kembali melepas kancing baju gadis itu, Allena berdiri terpaku. Perlahan Zefran melepas semuanya. Sikap Allena yang terlihat canggung dan malu membuat Zefran tersenyum.


"Kamu malu? Bukankah aku sudah melihat semuanya?" ucap laki-laki itu sambil menggendong Allena ke kamar mandi.


Jacuzzi Whirlpool bath telah siap sedia, Zefran meletakkan tubuh Allena di dalamnya. Sambil menatap Allena, Zefran melepas semua yang melekat di tubuhnya. Allena memalingkan wajahnya saat suaminya mendekat masuk ke dalam kolam air hangat itu. Zefran menangkup wajah Allena dan mulai mencumbunya, memeluk, mengusap, membelai dan membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu.


Allena hanya bisa pasrah mengikuti permainan cinta suaminya. Minyak esensial aromatik yang ditambahkan Zefran kedalam kolam air hangat itu meningkatkan gairah seksual mereka. Allena bahkan berani memeluk Zefran dan membalas ciuman laki-laki itu.


Zefran tersenyum menatap istrinya yang juga telah bernafsu. Menggendong Allena kembali ke kamar dan bergumul dengannya. Kali ini tidak hanya desah nafas Zefran yang terdengar, Allena pun tidak bisa menahannya.


"Aku suka mendengar desahmu Allena. Keluarkanlah jangan ditahan." bisik Zefran.


Meski Allena ingin menahannya namun tetap tak bisa, permainan Zefran membuat gadis itu tidak bisa menahan desahannya. Zefran menatap gadis yang memejamkan matanya itu dan tersenyum.


Aku akan buktikan kalau aku tidak mandul, aku akan membuatmu hamil Allena, aku akan membuatmu mengandung anakku, bisik hati Zefran.

__ADS_1


Kembali membenamkan bibirnya dan memainkan lidahnya di rongga mulut gadis itu hingga akhirnya terdengar desah nafas Zefran yang begitu memburu. Mempercepat irama bercintanya hingga akhirnya mencapai puncak. Zefran terkulai lemas di atas tubuh Allena.


Sekian lama mereka memejamkan mata dan mengatur nafas mereka. Zefran bangun dan tersenyum menatap istrinya, bergerak mengecup kening gadis itu lalu turun ke bibirnya. Allena memejamkan mata menikmati lembutnya ciuman Zefran.


Terima kasih sayang, bisik hati Zefran.


Zefran sudah tidak peduli lagi akan kemarahan Frisca. Tidak peduli istrinya itu pulang jam berapa, mabuk atau tidak. Zefran hanya ingin berada di samping Allena. Tidur sambil memeluk tubuh gadis yang telah memberikan kepuasan baginya itu.


Esok harinya Allena terbangun dan mendapati tubuhnya masih dalam pelukan Zefran. Perlahan mengangkat wajahnya untuk memandang wajah yang begitu dekat dengannya itu.


Tampan sekali, aku belum pernah melihat wajah laki-laki setampan ini, Tuan Zefran lebih cocok jadi model daripada jadi pengusaha, batin Allena.


Tiba-tiba tangan Zefran menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Memeluk lebih erat lagi tanpa sehelai benangpun membatasi mereka. Allena diam, begitu eratnya membuat gadis itu sulit bernafas.


"Mau aku mandikan lagi?" bisik Zefran tersenyum dan masih memejamkan mata.


"Apa?" ucap Allena langsung teringat kejadian semalam.


Allena kelelahan hingga tertidur sampai besok harinya.


"Ya ampun, aku melewatkan kerja ku di Night Club," ucap Allena spontan.


"Jangan takut, aku akan bicara dengan Altop. Manager-mu tidak akan berani memarahimu" ucap Zefran.


Allena duduk sambil meraih kain putih untuk menutupi tubuhnya tapi Zefran justru menarik kain putih itu dan tersenyum.


"Ayo, kita harus berangkat kerja," ucap Zefran bangun dan langsung menggendong Allena.


Meletakkan gadis itu ke dalam kolam air hangat dan membiarkan Allena menikmati kolam dengan lubang-lubang kecil yang terus mengalirkan air dengan tekanan hingga tubuh bisa merasakan pijatan-pijatan yang memberikan efek rileks itu.


Allena menyandarkan kepalanya ke pinggir kolam sambil menatap wajah yang sedang memandanginya itu.


"Aku benci padamu," ucap Zefran.


"A-apa?" ucap Allena tidak percaya.


Setelah melewati malam yang penuh gairah, laki-laki itu justru mengungkapkan kata-kata seperti itu. Mata Allena langsung berkaca-kaca, teringat kembali sikap Zefran yang selalu mempermainkannya. Dada Allena terasa sesak, gadis itu langsung duduk, hendak beranjak dari tempat itu.


Namun, Zefran mencegahnya, laki-laki itu memeluknya dari belakang dan menempelkan dagunya di bahu Allena. Duduk di dalam kolam itu sambil memeluk erat tubuh istrinya.


"Aku benci padamu karena kamu telah membuatku mengkhianati istriku," ucap Zefran lirih.


Allena menoleh ke arah suaminya, Zefran juga menoleh ke arahnya. Laki-laki itu langsung menyatukan bibir mereka. Zefran tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya. Sejak pertama kali meniduri gadis itu, Zefran tidak bisa melepaskan pikirannya dari Allena.


Bersikap dingin untuk menutupi perasaannya bahkan berkata kejam untuk menahan rasa cemburunya. Tapi kali ini Zefran tidak peduli lagi, Allena adalah istrinya dan dia berhak atas diri gadis itu. Sekuat tenaga menahan cemburu saat melihat Allena dimanjakan Valendino.


Sekuat hati menahan diri dan menjauh dari gadis itu. Sementara Allena butuh kasih sayang darinya, Allena butuh cintanya.


Untuk apa aku menahan lagi, aku tidak ingin menahannya lagi. Aku mencintaimu Allena...


"Aku mencintaimu sayang." 


Akhirnya kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Zefran sendiri bahkan merasa kaget. Kata-kata yang selama ini hanya terucap di dalam hatinya tiba-tiba mencuat dan didengar Allena.


Zefran memeluk gadis di hadapannya itu. Kata-kata itu telah terlanjur terucap dan Allena memang berhak mendapatkan cintanya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2