
Menikmati makan malam yang romantis di restoran hotel bintang lima itu biasanya diiringi lantunan musik instrumental klasik. Namun, kali ini tamu restoran mendapat persembahan khusus dari seorang tamu.
Pembawa acara mempersilakan tamu yang ingin mempersembahkan sebuah lagu itu untuk naik ke atas panggung. Seorang pria tampan berdiri di atas sana sambil tersenyum malu.
"Selamat malam para tamu yang saya hormati. Maaf jika apa yang saya persembahkan ini tidak sesuai dengan harapan para tamu sekalian karena sebenarnya saya tidak terbiasa berada di atas panggung. Jika diminta melakukan presentasi bisnis mungkin saya bisa leluasa melakukannya. Namun, berbicara di atas panggung seperti ini, saya merasa seperti seorang komika yang tidak lucu" ucap tamu itu.
Semua tamu yang mendengar ucapan pria itu tertawa.
"Saya ingin bercerita sedikit tentang seseorang, seorang gadis yang tiba-tiba menjadi orang yang sangat berarti bagi saya. Pertama kali bertemu dengannya saya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Namun, suatu ketika kami dipertemukan kembali dalam situasi dan suasana yang berbeda. Saya langsung menyukainya dan saya pikir hanya rasa suka biasa tapi anehnya saya selalu ingin bertemu dengannya. Saya mencarinya namun tidak menemukannya lagi. Kembali mencarinya tapi tetap saja tidak menemukannya. Saya sangat Ingin melihatnya lagi, ingin melihat senyumnya lagi, mendengar tawa dan menatap mata indahnya," tutur laki-laki itu.
Semua tamu mendengar dengan serius bahkan ada yang menunda menyantap makan malamnya. Sementara Zefran dan Frisca seperti tidak peduli dengan pertunjukan itu.
"Sebelum meneruskan cerita saya ini, sebaiknya saya perkenalkan diri dulu. Saya sampai lupa karena terlalu bersemangat" ucap laki-laki itu sambil tersipu.
Tamu di restoran itu tertawa, mereka pun tidak menyadari kalau sejak tadi tamu yang berdiri di panggung itu belum memperkenalkan diri. Karena langsung penasaran dengan cerita yang disampaikannya.
"Perkenalkan, saya Valendino Adelard. Seorang CEO di perusahaan keluarga Adelard" jelas Valendino.
Mendengar itu sebagian besar tamu kaget dan langsung berbincang menyatakan kekaguman mereka atas kesuksesan perusahaan Adelard. Mereka mendengar dan bahkan menjadikan perusahaan keluarga itu sebagai contoh perusahaan yang sukses.
Namun, kagetnya mereka berbeda dengan kagetnya Zefran dan Frisca. Mereka langsung fokus menatap ke arah tamu yang sedang berdiri di panggung itu. Zefran mengepalkan tangannya, rahangnya mengencang. Baru tadi sore Zefran menyaksikan kemesraan sahabatnya itu dengan istrinya dan sekarang laki-laki itu ingin mempersembahkan sebuah pertunjukan untuk istri keduanya itu.
Frisca menatap ekspresi tegang di wajah Zefran. Jelas terlihat laki-laki itu telah terpengaruh oleh hubungan Allena dan Valendino. Frisca menyentuh tangan suaminya untuk meredakan amarahnya. Zefran menoleh pada wanita itu dan sadar dia tidak seharusnya menunjukkan wajah kesal itu di depan istrinya.
"Saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya yang akan diiringi dengan piano yang dimainkan oleh saya sendiri. Kalau dipikir-pikir harusnya saya dapat honor double kalau begini," ucap Valendino.
Ruang restoran itu kembali riuh karena tertawa.
"Saya belum pernah mendapat honor karena bernyanyi. Akan menjadikan catatan sejarah penting bagi saya jika itu terjadi tapi tidak usah. Diizinkan berdiri di sini saja, saya sudah sangat senang. Saya justru ingin berterima kasih pada hotel ini karena disinilah akhirnya saya bertemu lagi dengan gadis yang saya rindukan itu," ucap Valendino sambil tersenyum pada Allena yang duduk di meja makan tamu.
Para tamu bertepuk tangan, turut merasa senang mendengar kisah cinta Valendino. Hanya Allena yang menatapnya dengan hidung yang memerah dan mata yang berkaca-kaca. Jika bukan karena permintaan Valen, gadis itu tidak ingin hadir di acara makan malam romantis tamu-tamu hotel itu.
Zefran dan Frisca sudah tahu siapa yang di maksud Valendino. Saat Valendino meminta Allena berdiri untuk menyapa tamu restoran. Zefran dan Frisca reflek menoleh.
"Ya ampun, dia terlihat sangat berbeda. Apa yang dilakukan Valen padanya? Ini pasti perbuatannya," ucap Frisca yang terbelalak menatap Allena yang tampil seperti wanita kelas atas.
Para tamu memuji kecantikan Allena, mereka bertepuk tangan. Frisca menatap Allena dari bawah hingga ke atas. Sangat kaget melihat perubahan dandanan Allena.
"She's so beautiful," teriak seorang tamu memuji kecantikan Allena.
"Thank you," jawab Valendino melalui microphone.
"Not you," teriak tamu itu dan tamu lainnya tertawa.
"She'll be mine," balas Valendino menyatakan Allena akan segera menjadi miliknya dan dia merasa wajar berterima kasih karena telah memuji wanita miliknya.
Tamu-tamu hotel kembali tertawa dan bertepuk tangan. Valendino bersiap-siap untuk memulai permainan pianonya. Laki-laki itu hendak menyanyikan lagu dari penyanyi legendaris Elvis Presley berjudul Can't Help Falling in Love.
Allena kembali duduk, Valendino memulai permainan pianonya. Dengan merdu laki-laki itu menyanyikan lagu cinta itu. Semua mendengar alunan lagu itu sambil ikut melantunkannya pelan, memejamkan mata bahkan ada yang langsung berpelukan menjiwai lirik demi lirik lagu itu.
Pasangan-pasangan yang baru menikah, yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan dan tamu-tamu yang baru saja bertunangan semakin merasakan perasaan cinta diantara mereka.
Lagu persembahan Valendino membuat suasana makan malam romantis itu semakin terasa syahdu. Allena menitikkan air mata, rasanya ingin berlari dari tempat itu namun tidak tega meninggalkan Valendino yang telah melakukan segalanya demi penampilannya malam ini.
Para tamu berdiri sambil bertepuk tangan sebagai bentuk penghargaan dan kekaguman akan pertunjukan yang dipersembahkan saat laki-laki itu mengakhiri nyanyiannya.
Valendino segera berdiri di belakang microphone, membungkukkan badan serta mengucapkan terima kasih atas tepuk tangan yang meriah itu. Wajahnya terlihat ceria, senyumnya mengembang menyaksikan meriahnya tepuk tangan untuknya.
"Lagu ini tadinya saya persembahkan untuk Allena tapi karena semua menyukainya jadi saya persembahkan untuk anda semua," ucap Valendino.
Terdengar tepuk tangan dan tawa yang serentak dari para tamu.
"Tapi saat kami berdua, saya akan membisikkan padanya kalau sebenarnya persembahan tadi hanya untuk dirinya," ucap Valendino dengan suara seperti berbisik.
Tawa riuh kembali terdengar, acara yang ditampilkan Valendino tak ubah layaknya sebuah stand up comedy.
__ADS_1
"Saya menyukai semua lirik dalam lagu ini namun ada lirik yang memiliki kesan sangat dalam bagi saya.
Orang bijak berkata.
Hanya orang bodoh yang tergesa-gesa.
Tapi aku tidak bisa menahan untuk tidak jatuh cintamu" ucap Valendino sambil memandang wajah Allena.
"Pertemuan kita memang sangat singkat dan aku adalah orang bodoh yang tergesa-gesa. Tapi itu benar, aku memang tidak bisa menahan untuk tidak jatuh cinta padamu" ucap Valendino tertuju Allena.
Air mata Allena tak bisa ditahan lagi, gadis itu bahkan menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya. Seorang wanita paruh baya menepuk punggung Allena untuk menenangkannya. Gadis itu menoleh sambil tersenyum dengan air matanya yang masih mengalir.
Tubuh Zefran bergetar mendengar setiap ucapan Valendino. Frisca hanya bisa terpaku menatap suaminya, Frisca merasa hati suaminya telah terusik oleh kehadiran gadis itu.
"Beberapa hal memang sudah ditakdirkan" ucap Valendino masih menerjemahkan bagian lirik lagu tadi.
"Seperti pertemuan kita di hotel ini. Ini adalah takdirku, ini adalah kesempatanku untuk mengungkapkan isi hatiku" ucap Valendino turun dari panggung berjalan pasti menuju ke arah Allena.
Tubuh Allena gemetar. Allena berdiri ingin berlari namun kakinya terasa berat. Akhirnya Allena hanya diam mematung di sisi meja makan restoran itu. Valendino tiba dihadapannya dengan senyum manis yang mengembang diwajahnya. Dengan percaya diri meraih kedua tangan Allena dan berkata.
"Allena, aku…"
"Valen!" sapa Zefran yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Valendino langsung menoleh.
"Zefran? Kamu ada di sini?" tanya Valendino heran.
"Ya, kami menginap di sini," jawab Zefran.
"Kami?" tanya Valendino mengulang perkataan Zefran.
Ya, kami, aku dan kedua istriku, batin Zefran.
"Jika aku tahu kalian ada di sini aku juga akan mengundang kalian," ucap Valendino.
"Oh ya kenalkan ini Allena, sebenarnya kamu sudah mengenalnya. Dia adalah pelayan di Nigth Club Luxury yang kamu maki-maki waktu itu," ucap Valendino.
"Apa kalian bertiga sudah saling kenal?" ucap Frisca kaget.
"Ya, kami pertama kali bertemu di Luxury," ucap Valendino sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Allena.
Zefran menatap tajam ke arah tangan itu, rahangnya mengeras, Allena langsung ketakutan.
"Kak, aku ingin kembali ke kamar," ucap Allena pada Valendino.
"Tapi sayang?" ucap Valendino tidak setuju.
"Aku sakit kepala, aku ingin segera istirahat." dalih Allena
"Tapi…"
"Maaf kak," ucap Allena langsung berlari meninggalkan restoran itu.
Valendino hendak berlari mengejar.
"Valen, aku ingin bertanya padamu. Sejak kapan kalian bertemu lagi?" tanya Zefran mengalihkan perhatian Valendino yang ingin mengejar Allena.
"Maaf Zefran aku harus mengejarnya, dia bahkan belum makan malam," ucap Valendino memohon pengertian Zefran.
Laki-laki itu langsung berlari meninggalkan Zefran untuk mengejar Allena, gadis itu berjalan tergesa-gesa dengan air mata yang terus mengucur. Berkali-kali Allena menghapus air mata itu.
Kenapa? Kenapa Kak Valen mengungkapkannya? Kita tidak bisa bersama lagi. Kita bisa bersama jika hanya berteman. Sekarang tuan Zefran telah mengetahuinya, kita tidak bisa bertemu lagi, jerit hati Allena.
"Allena, tunggu! Aku minta maaf, aku minta maaf Allena," ucap Valendino yang tiba-tiba telah meraih kedua lengan Allena.
__ADS_1
Valendino menatap heran air mata Allena yang mengalir deras.
"Allena, ada apa? Jika aku membuatmu takut aku minta maaf. Aku tidak akan menuntut jawabanmu sekarang. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku padamu, itu saja," ucap Valendino sambil menatap sedih pada Allena.
Laki-laki itu segera memeluk Allena, dia berbohong. Tentu saja dia ingin segera mendapatkan jawaban dari Allena. Tentu saja dia ingin segera mendapatkan hati gadis itu. Tentu saja dia sangat ingin memiliki hati dan tubuh Allena.
Tapi melihat Allena yang terguncang membuat laki-laki itu mengalah. Membiarkan Allena tidak menjawab pernyataan cintanya. Meski Valendino tidak langsung mengungkapkannya. Tapi dari pertunjukannya tadi sudah jelas bahwa Valendino ingin menyatakan cintanya pada gadis itu.
Allena menangis dipelukan Valendino, gadis itu sangat ingin bicara. Namun, hatinya yang sakit, dadanya yang terasa terhimpit membuat gadis itu sukar untuk mengeluarkan kata-kata. Valendino tahu itu, dia berusaha menenangkan Allena. Perlahan membelai lembut rambut gadis itu membiarkan perasaannya menjadi lebih tenang.
Tangis Allena tidak terdengar lagi namun isaknya masih terasa, Valendino memeluk erat tubuh gadis yang dicintainya itu. Berharap Allena memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Kamu belum makan malam sayang, kita makan di tempat lain saja. Kamu pasti tidak ingin kembali ke restoran itu bukan?" tanya Valendino sambil menangkup wajah Allena.
"Aku ingin kembali ke kamar Kak," ucap Allena dengan suara serak.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu, aku hanya ingin kamu tahu. Aku akan melakukan apa pun untukmu. Jika kamu ingin aku menunggu maka aku akan menunggu. Tapi jangan memintaku untuk meninggalkanmu, aku tidak bisa Allena," ucap Valendino lalu mengecup kening Allena.
Zefran sabar menunggu, di balik dinding itu menatap Valendino yang mencoba menenangkan hati Allena. Setelah melihat Valendino pergi barulah laki-laki itu mengetuk pintu kamar Allena.
Allena mundur begitu melihat Zefran menerobos masuk dengan tatapan mata yang tajam lurus ke arahnya. Allena mencoba menatap mata dingin itu. Dengan air matanya yang kembali mengalir Allena berusaha bertahan menatap mata dingin suaminya itu.
"Bersiap-siaplah, kita pulang malam ini juga," ucap Zefran.
Frisca menerobos masuk dan berdiri di antara mereka.
"Apa? Lalu bagaimana denganku. Aku mengatakan pada Mommy kalau aku melakukan perjalanan bisnis selama enam hari. Harusnya kalian pulang besok lusa. Apa yang kulakukan disini sendirian?" teriak Frisca.
Wanita itu kesal dengan kedua orang dihadapannya itu. Zefran yang seenaknya mengajak pulang istri mudanya, sekaligus marah pada Allena yang mengacaukan liburannya.
"Kamu bisa pulang besok pagi. Aku akan pulang bersama Allena dengan pesawat terakhir malam ini" ucap Zefran lalu beranjak dari kamar itu.
"Tidak! Kalau kalian pulang malam ini. Aku juga akan pulang bersama kalian!" teriak Frisca.
Langkah Zefran terhenti, membalik badan menatap istrinya. Frisca tidak pernah tidak patuh padanya. Wanita itu selalu mengikuti perintahnya.
"Mommy akan curiga kalau kita pulang bersama," ucap Zefran.
Frisca menitikkan air mata.
"Aku bisa bilang kalau perjalanan bisnisku berakhir lebih cepat. Aku tidak mau ditinggal sendirian di sini," ucapnya memohon.
Jika telah menetapkan sesuatu maka laki-laki itu tidak akan merubahnya. Namun, Frisca juga tidak ingin melihat suaminya pulang bersama istri mudanya yang baru saja membuatnya cemburu. Frisca yakin kejadian di restoran tadi membuat Zefran cemburu. Hanya saja laki-laki itu tidak mau mengakuinya.
Melihat air mata istrinya hati Zefran luluh. Akhirnya memutuskan untuk pulang bersama. Frisca bersyukur, wanita itu tidak sanggup membayangkan suaminya duduk bersebelahan dengan Allena di pesawat. Frisca bertekad tidak akan membiarkan mereka berduaan.
Malam itu juga mereka pulang dengan pesawat yang sama namun saat di bandara Frisca diminta untuk pulang lebih dulu menggunakan taksi bandara. Awalnya wanita itu menolak namun Zefran menatap tajam pada istrinya itu. Menunjukkan toleransinya sudah cukup untuk wanita itu.
Akhirnya Frisca pulang dengan taksi, satu jam kemudian Zefran dan Allena melangkah ke parkir inap bandara. Mereka duduk di dalam mobil Zefran, namun laki-laki itu tidak buru-buru menyalakan mesin mobilnya. Allena yang sejak dari hotel selalu diam hingga saat ini masih tetap memilih diam.
"Kamu benar-benar menyukainya?" tanya Zefran memecah kesunyian.
Allena masih diam menatap lurus ke depan. Zefran menoleh ke arah Allena. Laki-laki itu tidak bisa menghilangkan ingatannya saat melihat Valendino dan Allena berciuman. Laki-laki itu bergerak mendekati Allena, Allena kaget. Matanya membesar menatap wajah Zefran yang begitu dekat dengannya.
Zefran mengarahkan bibirnya mendekati bibir Allena. Melihat itu Allena memalingkan wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zefran melihat Allena yang menghindar.
"Aku tidak akan memberikan bibirku pada tuan!" ucap Allena tegas.
"Apa?" tanya Zefran heran melihat keberanian Allena menolaknya.
"Apa tuan lupa? Hari itu tuan menghapus bekas bibirku. Tuan merasa jijik bukan? Sejak hari itu aku bertekad tidak akan memberikan bibirku pada tuan," ucap Allena tegas.
"Kamu tidak mau memberikan bibirmu? Itu terserah padamu tapi aku pasti mendapatkan apa yang aku inginkan," ucap Zefran.
__ADS_1
Laki-laki itu langsung membekap bibir Allena dengan bibirnya. Allena meronta, mendorong namun tenaganya tak cukup kuat melawan tubuh atletis itu. Semakin kuat Allena meronta semakin kuat Zefran memeluknya.
...~ Bersambung ~...