Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 61 ~ Menjelaskan ~


__ADS_3

Dokter Shinta membuka amplop dan menatap satu per satu lembaran dari dalam amplop itu. Menoleh ke arah Allena dan Valendino secara bergantian. Kemudian berlari meninggalkan ruangan, beberapa lembaran itu terjatuh. Melihat foto-foto yang terjatuh itu Allena dan Zefran sudah mengerti siapa yang menjadi pengirimannya.


Hanya Valendino yang terlihat kaget mendapati foto-fotonya bersama Allena begitu banyak dengan berbagai situasi dan arah yang berbeda-beda.


"Apa ini? Kenapa bisa ada yang mengambil gambar ini?" tanya Valendino yang heran bercampur panik.


"Itu kerjaan Frisca, kami sudah melihat semuanya beberapa bulan setelah Zeno lahir," jelas Zefran.


"Shinta bisa salah paham!" ucap Valendino.


"Memang itu tujuannya Kak, biar aku yang menjelaskan pada Dokter Shinta. Aku rasa jika Kak Valen yang menjelaskan terkesan bohong dan hanya mencari alasan," ucap Allena.


"Aku ikut sayang, aku juga bantu menjelaskan padanya. Karena kamu juga masuk dalam foto itu. Kalau cuma kamu yang menjelaskan sama saja seperti mencari alasan," jelas Zefran.


Allena mengangguk, hatinya lega Zefran mau membantunya menjelaskan pada Dokter Shinta. Padahal tadinya Allena merasa khawatir saat melihat kembali foto-foto yang pernah membuat Zefran sangat murka beberapa tahun yang lalu itu.


Zefran menggandeng tangan istrinya mengangguk sambil tersenyum. Menunjukkan laki-laki itu tidak lagi mempermasalahkan tentang foto-foto itu.


"Baiklah, kalau begitu aku di sini bersama Zeno. Biasanya kalau tidak di taman dia ada di lab-nya," ucap Valendino.


"Baiklah kami pergi dulu Kak, Zeno sama Uncle Val dulu ya!" ucap Allena yang dibalas oleh anggukan oleh Zefano.


Berdua suaminya Allena mencari Dokter Shinta. Seperti yang diucapkan Valendino, dokter itu terlihat duduk di taman sambil menunduk. Sesekali menatap kembali foto yang dipegangnya lalu menghapus air matanya.


"Itu perbuatan Nyonya Frisca," ucap Allena lalu duduk di samping Dokter Shinta.


Dokter Shinta segera menghapus air matanya.


"Foto-foto itu juga yang digunakannya untuk menghasutku lima tahun yang lalu. Membuat aku meragukan pernikahan kami dan menuduh Allena dan Valendino berselingkuh," ucap Zefran yang kemudian duduk di samping kiri Dokter Shinta.


Mendengar ucapan Zefran, Dokter itu terperangah.


"Dengan foto-foto itu Frisca menggiring pemikiran kami untuk melakukan tes DNA. Setelah itu kamu tahu maksud dan tujuan Frisca 'kan?" tanya Zefran.


Dokter memandang tak percaya pada Zefran.


"Dia menyiapkan segala sesuatu untuk mencapai tujuannya. Membuat hubungan kami hancur dan sekarang ingin merusak hubungan kalian," lanjut laki-laki itu.


"Nyonya Frisca sepertinya telah menganggap kita semua ini musuhnya," ucap Allena.


"Mungkin karena kamu membantu kami mengungkap kebenaran tes DNA itu," lanjut Zefran.


Dokter Shinta menunduk, alasan yang masuk akal jika Frisca saat ini menaruh dendam padanya. Hingga berusaha merusak hubungannya dengan Valendino.


Tapi bagaimana dengan foto-foto ini, mereka bahkan terlihat yang begitu akrab dan mesra, batin Shinta.


"Seperti apa hubungan kalian? Bagaimana Frisca mendapatkan foto-foto seperti ini? Apa Valen menyukaimu?" tanya Shinta.


"Frisca menyewa beberapa photografer untuk mendapatkan gambar-gambar yang diinginkannya. Diambil dalam jangka waktu yang sangat lama," jelas Zefran.


"Sedangkan hubunganku dengan Kak Valen hanya sebatas kakak dan adik. Kak Valen menyayangiku seperti seorang kakak yang sayang terhadap adik perempuannya," ucap Allena.


Dokter Shinta kembali memandang foto-foto di hadapannya.


"Tapi.., aku tidak ingin berbohong padamu. Aku memang pernah menyukainya," ucap Allena.


Dokter Shinta langsung menoleh lagi pada Allena. Menatap gadis itu lekat-lekat, pandangan Dokter Shinta dianggap sebagai rasa ingin tahu bagi Allena dan gadis itu tidak ingin Dokter Shinta mengetahui perasaannya terhadap Valendino dari orang lain.


"Aku mengenal Kak Valen sebelum aku dan Kak Zefran menikah. Saat itu aku menyukai dan mengaguminya. Tapi aku tidak berani menyukai lebih dari itu karena aku hanya gadis miskin yang tidak ada artinya bagi orang-orang seperti mereka," jelas Allena menunduk.


Dokter Shinta menatap wajah gadis yang menunduk itu. Seolah-olah ingin mencari ketulusan dan kebenaran ceritanya.


"Hingga takdir membuatku menikah dengan Kak Zefran. Pernikahan tanpa cinta itu membuatku semakin dekat dengan Kak Valen, aku mulai pun menyukainya, begitu juga dengan Kak Valen," ucap Allena memberanikan diri menatap Dokter Shinta.


Dokter itu terkejut, lalu menoleh pada Zefran yang tersenyum simpul padanya.


"Jadi kalian pernah saling menyukai?" tanya Dokter Shinta kaget.

__ADS_1


"Ya, tapi seiring berjalannya waktu aku mulai mencintai suamiku. Mulai sejak itu aku hanya menganggapnya sebagai kakakku dan aku juga ingin dia menganggapku sebagai adiknya. Percayalah Dokter, semuanya hanya masa lalu. Dituduh berselingkuh bahkan harus menjalani tes DNA semua itu adalah usaha Nyonya Frisca untuk memisahkan aku dengan suamiku. Hubunganku dan Kak Valen tidak sejauh itu, dia hanya korban. Dia sendiri bahkan terkejut saat melihat foto-foto itu," jelas Allena.


"Apa tidak ada sedikit pun rasa cinta lagi padanya?" tanya Shinta.


Allena menggeleng.


"Aku hanya mencintai suamiku, Kak Valen pun tahu itu," jawab Allena.


"Kamu berkata seperti itu karena ada suamimu di sini," gerutu Shinta.


"Kalau begitu ayo kita ke sebelah sana dan tanyakan lagi," ucap Allena sambil tersenyum.


Dokter Shinta dan Zefran tertawa.


"Tapi apa Valen sungguh-sungguh melupakan cintanya padamu?" tanya Shinta.


"Untuk lebih pasti, sebaiknya dokter tanyakan langsung padanya. Kalau menurutku, perasaan dan penglihatanku. Kak Valen benar-benar telah menganggapku seperti adiknya sendiri," jawab Allena.


Dokter Shinta menatap mata Allena lekat-lekat mencari kebenaran ucapan gadis itu dari tatapan matanya lalu beralih ke arah Zefran. Laki-laki itu pun mengangguk sambil tersenyum.


"Aku tidak akan se tenang ini jika mereka memiliki hubungan khusus. Aku mempercayai istriku dan itu membuatku merasa lega. Aku merasa bebas dari prasangka yang menyiksa batinku. Aku harap Dokter Shinta juga seperti itu," saran Zefran.


Allena mengangguk.


"Anggaplah aku sebagai saudarimu maka dokter tidak akan mencurigaiku lagi," ucap Allena.


"Benarkah seperti itu caranya?" tanya Shinta.


"Oh, aku juga tidak tahu, setidaknya itu salah satu usaha mempercayai seseorang yang baru di kenal?" ucap Allena ragu-ragu.


Dokter Shinta tersenyum memandang Allena.


"Aku sudah menganggapmu seperti adikku karena aku menyayangi anakmu. Apalagi kamu adalah gadis baik yang telah memaafkanku meski dosaku begitu besar padamu. Tapi apa yang kulihat tadi sungguh membuat hatiku terguncang. Allena, jika kamu bilang tidak ada hubungan khusus di antara kalian maka aku akan percaya karena…, aku percaya padamu," ucap Shinta yang langsung memeluk Allena.


"Terima kasih Dokter Shinta," ucap Allena.


Allena menggeleng.


"Terima kasih karena percaya padaku dan terima kasih karena kembali mau membuat Kakakku bahagia," ucap Allena.


"Apa?" 


"Kakakku saat ini pasti sedang khawatir menunggumu. Aku takut anakku kewalahan membujuknya," ucap Allena sambil tersenyum.


Dokter Shinta juga tersenyum, Allena meminta dokter itu menemui Valendino sedangkan Allena dan Zefran menunggu di bangku taman di bawah pohon itu. Allena menikmati angin yang berhembus sambil bersandar di bahu suaminya.


"Dokter Shinta itu terlihat sangat lugu, aku rasa baru kali ini dia pacaran," ucap Allena.


"Ya, tidak seperti kamu yang sangat ahli, kamu itu seorang gadis penakluk laki-laki," ucap Zefran.


"Apa maksudnya itu?" tanya Allena cemberut sambil bangun dari sandarannya.


"Apa kamu tidak sadar? Oh berarti itu bakat alami. Tanpa belajar, tanpa usaha kamu dengan mudah menaklukkan hati laki-laki," ucap Zefran sambil tersenyum.


"Tanpa belajar tanpa usaha? Aku bahkan berkorban, menangis darah, melalui hari-hari yang menyedihkan hanya untuk menaklukan hati satu orang laki-laki. Dari mana datangnya pikiran aku penakluk hati laki-laki?" tanya Allena dengan tatapan yang tajam.


"Kamu tidak tahu, sebenarnya aku telah lama takluk padamu. Dalam waktu singkat kamu telah memiliki hatiku, hanya saja situasi yang membuat kita berpisah dan aku tidak bisa menunjukkan perasaanku padamu," bisik Zefran 


Allena tersenyum menatap suaminya.


"Karena berhasil menaklukkan satu laki-laki ini, aku langsung di cap penakluk hati laki-laki?" tanya Allena.


"Ya, satu laki-laki ini yang memberimu gelar kehormatan itu," ucap Zefran yang langsung membuat Allena tertawa.


"Apa mereka telah selesai? Kapan kita bisa kembali ke kamar?" tanya Zefran.


"Kakak capek? Kakak mengantuk?" tanya Allena.

__ADS_1


"Ya, semalam aku begadang karena diperebutkan dua orang wanita. Padahal aku sudah memberikan kepuasan pada salah satu wanita itu," ucap Zefran sambil memejamkan mata.


Allena mencubit pinggang suaminya, otomatis mata Zefran terbuka.


"Aku mengantuk," ucapnya memelas.


"Mengantuk tapi bisa-bisanya bicara seperti itu," ucap Allena sambil menarik bahu suaminya agar berbaring di pangkuannya.


"Tentu bisa, yang mengantuk itu mataku bukan mulutku," ucap Zefran yang memejamkan mata di pangkuan istrinya.


"Sudah Kak diam, tidur saja yang nyenyak," ucap Allena sambil menyisir helaian rambut Zefran dengan jari-jarinya.


Laki-laki itu pun diam, rebah di bangku di bawah pohon rindang. Dihembus angin-angin yang bertiup lembut membuat dalam sekejap Zefran tertidur.


Kasihan sekali, gara-gara kedatangan Frisca yang membuat keributan, Kak Zefran jadi kurang tidur, batin Allena.


Allena membelai rambut laki-laki yang dicintainya itu. Tak lama kemudian gadis itu pun bersandar di bangku memejamkan mata. Allena ikut mengantuk, tak mampu menahan hembusan angin yang bertiup lembut di matanya. Membuat gadis itu pun mengantuk dan akhirnya tertidur.


Tak lama kemudian terdengar teriakan.


"Bangun Pak, bangun Buk! Anaknya hilang! Anaknya hilang!"


Sontak Zefran dan Allena terbangun, teriakan itu membuat jantung mereka berdebar kencang. Mata Allena membulat, rahang Zefran mengencang. Zefran langsung mengejar anak yang membuat mereka terbangun dengan kaget.


"Anak kami hilang? Kalau begitu kita tangkap dulu tuyul usil ini," ucap Zefran sambil mengejar Zefano.


Anak itu berlari, Zefran mengejar. Allena mengurut dada dan menghembuskan nafas panjang.


"Ayo mengaku di mana sembunyikan anakku!" ucap Zefran sambil mengangkat tubuh Zefano tinggi-tinggi.


Zefran membenamkan wajahnya di perut Zefano yang terbuka membuat anak itu tertawa kegelian.


"Ampun Pak, ampun Pak!" ucap Zefano sambil tertawa tak tahan geli.


"Sudah, sudah ayo ke sini!" panggil Allena.


Zefran menggendong Zefano di pundaknya, nafas mereka masih terengah-engah karena berlari. Zefran menurunkan Zefano duduk di samping ibunya.


"Kenapa Zeno ke sini? Mana Dokter Shinta dan Uncle Val?" tanya Allena heran melihat putranya keluar dari ruang rawat inapnya.


"Uncle Val mau sayang Dokter Shinta. Zeno disuruh tutup mata jadi Zeno kabur aja," ucap Zefano setelah duduk di bangku taman.


Zefran dan Allena tertawa.


"Dulu waktu di taman bermain juga gitu, Uncle Val suruh Zeno tutup mata. Kalau waktu itu bukan naik bianglala Zeno pasti sudah kabur juga," cerita Zefano sambil tertawa.


Zefran dan Allena kembali tertawa.


"Pasti waktu itu mereka mulai pacaran," jelas Allena pada Zefran.


"Berapa lama kita harus menunggu di sini?" tanya Zefran.


"Tunggu sebentar lagi, setelah itu kita kembali ke kamar, ya sayang," ucap Allena pada Zefano.


Anak itu mengangguk.


"Kalau kelamaan biar Zeno intip aja," usul Zefano.


"Jangan..,  tak boleh! Anak kecil tak boleh ngintip orang pacaran!" ucap Allena sambil tersenyum.


"Tapi kalau Zeno sayang sama suster, Zeno nggak suruh suster lain tutup mata," ucap Zefano.


Allena tertawa, gadis itu tetap melarang Zefano mendekati ruang rawat inapnya. Zefran menatap istri dan putra mereka bergantian. Tersenyum mendengar pembicaraan mereka yang saling tidak mau kalah.


Sekian lama hidup di lingkungan rumah sakit membuat Zefano merasa rumah sakit itu seperti rumahnya sendiri. Berkumpul dengan para dokter dan suster membuatnya berpikiran kritis, selalu bertanya dan berdebat dengan siapa pun.


Zefano menjadi anak yang mudah bergaul dan  disayangi semua tenaga kesehatan yang mengenalnya. Zefran membiarkan Zefano sepuas-puasnya bergaul dengan para dokter dan suster itu dan berharap saat kesehatannya pulih nanti Zefano akan selalu sehat dan tak kembali lagi ke rumah sakit itu.

__ADS_1


...~  Bersambung ~...


__ADS_2