
Allena mengajak putra putrinya bermain di taman komplek. Ditemani oleh baby sitter yang mengasuh Zifara. Sesekali melirik ke arah anak-anaknya lalu kembali menggores pensil di kertas sketsanya. Sambil duduk di bangku taman di bawah pohon rindang.
Zefano kadang-kadang melambaikan tangan sambil tersenyum padanya saat anak itu ingin mencoba arena bermain anak-anak yang tersedia. Zefano bahkan berkenalan dengan anak-anak lain yang juga bermain di situ.
Seseorang meminta izin pada Allena untuk duduk di sebelahnya. Wanita itu mempersilahkan dan kembali melanjutkan melukis sketsa rancangan busananya.
"Wah, seorang designer?" tanya laki-laki itu.
Allena terkejut lalu menoleh ke kanan dan kirinya. Setelah berpikir kembali pertanyaan laki-laki itu barulah Allena sadar kalau pertanyaan itu ditujukan padanya. Laki-laki itu tersenyum melihat Allena yang bingung karena seseorang yang tak dikenal tiba-tiba bicara padanya.
Belum sempat menjawab pertanyaan laki-laki itu. Tangan laki-laki itu bergerak ke wajahnya. Reflek tubuh Allena condong mundur. Namun tangan itu masih bergerak mendekati. Allena hendak beranjak dari bangku itu tapi laki-laki itu tersenyum sambil mengacungkan sehelai daun di hadapan Allena.
"Dari tadi pandangan mataku terganggu oleh daun yang bertengger di rambutmu. Tidak apa-apa 'kan kalau aku bantu ambilkan," ucapnya sambil menyerahkan helaian daun itu pada Allena.
Wanita itu menadahkan tangannya. Laki-laki itu pun menyerahkan daun kecil berwarna ke kekuningan itu pada Allena.
"Wah bentuknya seperti hati ya? Aku baru tahu kalau daun pohon ini berbentuk hati?" tanya laki-laki itu menatap ke atas pohon.
Allena pun reflek menoleh ke atas pohon.
"Tapi sepertinya tidak ada yang berbentuk hati? Aneh cuma yang jatuh di rambutmu yang berbentuk hati. Kenapa ya?" tanya laki-laki itu sambil mengamati daun di telapak tangan Allena.
"Apa ini pertanda? Ada yang akan jatuh hati di sini?" tanya laki-laki itu.
Mendengar ucapan itu Allena menaruh daun itu di bangku dan meneruskan design sketsa rancangan busananya. Laki-laki itu tersenyum melihat sikap Allena yang seperti langsung tak peduli padanya. Tapi laki-laki itu justru mengulurkan tangannya hendak memperkenalkan diri.
"Aku Zacko, panggil aku Zack. Rasanya aneh 'kan bertetangga tapi tidak saling kenal," ucapnya memperkenalkan diri.
Allena menatap tangan yang terjulur ke arahnya. Ada keraguan untuk menerima perkenalan itu.
"Kamu pasti jarang bermain di sini. Aku kenal dengan semua ibu-ibu di sini. Itu namanya Yola, yang sedang menggendong putrinya itu namanya Mery, yang sedang mendorong ayunan itu namanya Puji, yang sedang berbincang berdua itu namanya Dince dan Anty, banyak lagi sebenarnya tapi hari ini tidak semuanya main ke sini. Mereka panggil aku Zack, si duda keren di komplek ini …"
Duda? Batin Allena.
Tangan Zacko yang tadinya diulurkan untuk berkenalan dengan Allena akhirnya digunakan untuk menunjuk-nunjuk dan untuk menyapa ibu-ibu yang melambaikan tangan padanya. Zacko merasa Allena tak mau menyambut uluran tangannya. Bahkan hingga kini Allena sama sekali tak bersuara.
"Apa kamu tidak bisa bicara? Sayang sekali cantik-cantik bisu," ucap Zacko sambil tersenyum menatap Allena.
Wanita itu hanya diam memandang sketsanya yang belum selesai.
"Tapi aku yakin kamu tidak tuli karena setiap kali aku menunjuk nama kamu ikut melihat. Aku bilang pohon ini tidak berdaun hati kamu juga ikut melihat ke atas. Kenapa tidak mau berkenalan denganku? Kamu ingin berhati-hati dengan orang asing? Padahal sebenarnya kamu yang asing di sini. Kami di sini semua saling mengenal karena aku dan ibu-ibu di sini hampir tiap hari menemani anak-anak bermain di sini," jelas Zacko tanpa diminta.
Allena melirik laki-laki yang sedang melambaikan tangannya pada seorang gadis kecil yang justru sedang bermain dengan Zefano.
"Apa kamu setuju dengan gelarku duda keren di komplek sini? Aku rasa aku memang cocok dengan gelar itu. Karena mungkin satu-satunya duda yang masih muda di komplek ini cuma aku. Selebihnya sudah kakek-kakek," ucap Zacko sambil tertawa.
Allena tetap diam, tiba-tiba Zefano dan gadis kecil itu berlari ke arah mereka. Zacko menyapa Zefano saat putrinya mengenalkannya pada Zefano.
"Uncle Zack?" tanya Zefano meminta persetujuan untuk memanggil Zacko.
Laki-laki itu tertawa sambil mengangguk menandakan setuju Zefano memanggilnya seperti itu. Sementara gadis kecil itu mengenalkan diri pada Allena.
"Zia," ucap gadis kecil itu pada Allena.
"Saya mamanya Zeno," ucap Allena tak tega mengabaikan gadis kecil yang cantik itu.
Zacko mengangguk-angguk, terlihat jelas Allena tak ingin laki-laki itu mengetahui namanya.
"Sebenarnya nama Zia itu Zefania tapi akhirnya disingkat sendiri olehnya," jelas Zacko.
__ADS_1
Laki-laki itu meski tak mendapat tanggapan dari Allena namun tetap bersikap biasa pada wanita itu. Percakapan itu terasa tidak seimbang namun beruntung Zefano mau menanggapi.
"Sama kayak Zeno, Uncle Zack. Nama Zeno sebenarnya Zefano tapi dari kecil panggil Zeno jadi panggilan Zefano jadi Zeno," ucap Zefano tertawa.
Mereka pun tertawa termasuk gadis kecil yang melirik dan tersenyum pada Allena itu. Wanita cantik itu tak sanggup mengabaikan senyum tulus gadis kecil itu. Allena membalas senyumannya.
"Oh ya? Jadi nama aslinya Zefano? Wah kenapa bisa kebetulan ya? Zefano dan Zefania sekarang jadi sahabat baik atau seperti kakak adik?" tanya Zacko.
"Kalau adik Zeno yang itu, uncle. Yang sedang di gendong sama Kak Santi," ucap Zefano.
"Oh ya, Zeno punya adik? Wah mama Zeno kelihatannya masih muda tapi sudah punya dua orang anak?" tanya Zacko.
"Ya, itu namanya Zifara panggilannya Zara tapi Zara belum bisa panggil namanya sendiri masih Mam-ma … Mam-ma," jelas Zefano.
Mereka tertawa, Zacko, Zefania dan Zefano sementara Allena hanya tersenyum.
"Kita semua berawalan Zi ya, Zack, Zia, Zeno, Zara, kalau begitu kita adalah Zi squad," ucap Zacko.
"Masih ada lagi Uncle Zack, Papa Zeno juga Zi namanya Zefran," ungkap Zefano.
"Oh rupanya Papa Zeno juga berawalan Zi? Apa kita ikutkan dalam Zi Squad juga?" tanya Zacko.
Zefano mengangguk, tak lama kemudian baby sitter yang menggendong Zifara datang.
"Apa sudah waktunya pulang Nyonya, ini sudah sangat sore?" tanya Santi.
Allena mengangguk, Zefano pun berpamitan dengan Zacko dan Zefania. Mereka pun melangkah pulang. Tak lupa Zefano melambaikan tangannya pada Zacko dan Zefania. Lalu terlihat Zefano yang bercerita pada ibunya.
Zacko menatap wanita cantik itu dengan tatapan yang sayu.
Kamu terlalu berhati-hati hingga bersikap seperti orang yang sombong. Apa sangat takut berkenalan dengan seorang duda? Apa aku keterlaluan menggodanya? Batin Zacko.
Pertanda ada yang akan jatuh hati? Dasar mulutku ini, jangan-jangan karena itu dia bersikap hati-hati. Tapi ibu-ibu yang lain bersikap biasa saja, jangankan aku yang menggoda mereka justru mereka yang menggoda aku duluan, batin Zacko.
Laki-laki itu menggenggam daun yang jatuh di atas rambut Allena tadi lalu kembali menatap Allena yang melangkah sambil menggandeng tangan Zefano.
Sampai sekarang tidak mau menyebutkan nama, bahkan berkenalan dengan Zia pun tidak menyebut nama. Kamu membuatku penasaran, batin Zacko.
Sementara itu Allena dan putra-putrinya telah sampai di rumah. Zefano langsung disuruh mandi sore begitu juga dengan Zifara. Baby sitter itu sudah menjadwal jam mandi Zifara hingga akhirnya mengajak mereka semua pulang dari tempat bermain komplek itu.
"Kamu sering mengajak Zifara bermain di taman bermain tadi, Santi?" tanya Allena saat Santi sedang memakaikan pakaian Zifara.
"Pernah beberapa kali Nyonya," jawab Santi.
"Pernah bertemu dengan Tuan tadi?" tanya Allena.
"Ya, tapi saya cuma bermain sebentar Nyonya jadi tidak kenal dengan Tuan itu. Tapi kalau saya dengar dia itu idolanya ibu-ibu komplek ini karena udah jadi duda lama tapi masih tetap setia melajang. Padahal orangnya ganteng dan banyak yang suka, gadis-gadis dari komplek sebelah aja sering main ke komplek sini demi ingin berkenalan dengan Tuan itu. Saya nggak begitu tahu Nyonya, cuma dengar-dengar obrolan ibu-ibu aja," jelas Santi.
Allena mengangguk, lalu pergi membersihkan diri menunggu suaminya yang segera pulang. Dan benar saja, Allena bahkan masih asyik menikmati air yang mengalir di tubuhnya saat tiba-tiba Zefran memeluknya dari belakang.
Allena kaget namun langsung tertawa. Wanita itu langsung membalik badan dan memeluk suaminya. Satu persatu melepas kemeja suaminya lalu melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu dan membenamkan bibirnya.
Air yang tercurah dari shower itu membuat mereka menikmati ciuman itu dengan mata yang terpejam dan berbasah-basahan. Allena tiba-tiba merasa begitu merindukan suaminya hingga membuat laki-laki itu merasa heran dengan sikap Allena yang begitu bernafsu.
Tentu saja hal itu tak dilewatkan begitu saja oleh Zefran. Laki-laki itu memenuhi semua keinginan istrinya. Melepas hasrat Allena yang telah menggebu-gebu.
Saat makan malam mereka berbincang-bincang. Allena yang dulunya duduk di hadapan Zefran telah berpindah di duduk di samping suaminya itu menempati kursi yang pernah diduduki Frisca. Sementara Ny. Mahlika tetap di posisi di bagian kepala meja makan besar itu.
"Hari ini kita main di taman bermain komplek Pa," cerita Zefano.
__ADS_1
"Oh ya? Sama siapa?" tanya Zefran.
"Sama Zara, Kak Santi dan Mama," jelas Zefano.
"Oh ya? Kamu juga ikut sayang?" tanya Zefran sambil menoleh pada Allena.
Wanita yang hendak menyuap makanannya itu urung menyuap dan mengangguk.
"Kami kenalan dengan Uncle Zack dan Zia. Kami juga bikin pasukan namanya Z Squad. Karena awalan nama kita yang Z semua. Papa juga boleh ikut karena awalan nama Papa juga Z ya 'kan?" tanya Zefano.
"Oh Papa juga boleh bergabung?" tanya Zefran sambil tersenyum.
Sementara Allena merasa getar getir mendengar cerita Zefano.
"Kasihan Zia lho Pa, Zia bilang Mamanya udah nggak ada. Udah tinggal sama orang lain, jadinya Zia tidak punya Mama lagi," jelas Zefano.
Zefano menjelaskan perkenalan mereka dan berjanji akan kembali bertemu dan bermain bersama besok sore.
"Siapa dia, kamu kenal sayang?" tanya Zefran pada Allena saat berada di kamar mereka.
"Tidak Kak! Aku tidak kenal," jawab Allena.
"Kalian berkumpul dan bermain bersama tapi tidak saling kenal?" tanya Zefran.
"Ya, aku tidak kenal dengannya cuma Zeno dan keluarga itu," jawab Allena.
Zefran menatap Allena lekat-lekat.
"Aku merasa aneh dengan sikapmu saat mandi tadi, ternyata telah terjadi sesuatu? Kamu mengkhayalkan laki-laki itu? Kamu membayangkan dia?" tanya Zefran.
"Apa maksud Kakak?" tanya Allena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dia seorang duda, apa kamu tertarik dengan seorang duda?" tanya Zefran.
"Kenapa Kakak berkata seperti itu?" tanya Allena mulai mengalirkan air mata mendengar tuduhan suaminya.
"Kenapa kamu tidak jujur? Kenapa tidak mengakui kalau berkenalan dengan seorang duda?" tanya Zefran.
"Aku memang tidak kenalan dengannya," jawab Allena.
"BOHONG!" ucap Zefran.
Zefran ingin keluar dari kamar itu namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
Apa aku serius menuduh Allena berbohong? Allena selalu menjadi wanita yang jujur dan menjaga dirinya selama ini, tapi kenapa dia tidak mengakuinya, kenapa kali ini dia berbohong? tanya Zefran dalam hati.
Lalu berbalik dan terkejut menatap Allena yang telah menangis tertunduk. Zefran mendekat dan memeluk wanita yang dicintainya itu.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud … aku, entah kenapa aku menjadi begitu pencemburu. Aku rasa karena aku begitu mencintaimu Allena, aku sangat mencintaimu sayang. Aku takut kehilanganmu," ucap Zefran memeluk sambil membelai rambut istrinya.
Zefran meminta maaf namun itu justru membuat tangis Allena semakin menjadi. Zefran sadar ucapannya telah menyakiti hati istrinya. Sekuat hati laki-laki itu menghibur wanita yang sangat dicintainya itu.
Hingga akhirnya Allena mengangkat tangannya memeluk suaminya. Zefran lega, karena Allena sudah mulai memaafkannya. Laki-laki itu bahagia lalu menghapus air mata Allena. Berkali-kali mengecup bibir wanita itu untuk menggodanya hingga membuat Allena tersenyum.
"Aku mencintaimu," ucap Zefran.
"Aku juga mencintai Kakak," jawab Allena.
Zefran tersenyum bahagia mendengar balasan ucapan cintanya dari Allena lalu kembali memeluk istrinya erat-erat.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...