
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menyatakan Zefran mengalami kelumpuhan. Mendengar itu Allena langsung ingin memeluk suaminya. Allena ingin memberikan dukungan bagi laki-laki itu namun Zefran justru mendorongnya hingga terhuyung ke belakang.
Air mata Allena langsung mengalir, wanita itu kembali teringat akan mimpinya. Zefran membencinya, menyalahkannya hingga akhirnya mengabaikannya. Dan kini Zefran menolak dipeluk olehnya.
Zefran masih menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dokter dan perawat meminta diri untuk meninggalkan ruangan. Allena hanya bisa berdiri di tempatnya tanpa berani lagi mendekat pada suaminya. Valendino mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Zefran, itu baru pemeriksaan awal. Saat ini kondisimu memang seperti itu tapi setelah melakukan pengobatan mungkin bisa sembuh seperti semula," ucap Valendino.
"Benar Zefran, jangan putus asa. Kita berusaha dengan melakukan metode pengobatan yang terbaik," sambung Altop.
"Kami akan selalu membantu dan mendukungmu," ucap Ronald tak tinggal diam.
Dr. Shinta mengangguk setuju dengan ucapan semua sahabat Zefran itu.
"Setelah melakukan usaha, setelah melakukan metoda pengobatan yang terbaik tapi hasilnya tetap seperti ini, bagaimana? Katakan padaku, bagaimana kalau aku tetap seperti ini?" tanya Zefran sambil menunduk menangis.
"Pasti ada jalan untuk menyembuhkanmu, kita …"
"BAGAIMANA KALAU TETAP SEPERTI INI? BAGAIMANA KALAU AKU TETAP SEPERTI INI?" teriak Zefran dengan kerasnya hingga membuat ruangan itu menggelegar.
Allena hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang gemetar. Sikap Zefran terlihat seperti kemarahan bercampur frustasi. Semua sahabat hanya bisa diam, mereka tak bisa menjawab pertanyaan Zefran. Air mata Allena mengalir dengan deras, wanita itu menyesal dengan apa yang menimpa suaminya.
Allena merasa apa yang terjadi pada Zefran adalah akibat dari perbuatannya yang meninggalkan laki-laki itu. Allena merasa tidak menjaga suaminya dengan benar hingga laki-laki itu tidak konsentrasi dalam berkendara.
"Kalian pergilah, tinggalkan aku sendiri," ucap Zefran pelan, nyaris berbisik.
Semua sahabat menoleh pada Allena seolah-olah berpamitan. Allena hanya bisa mengangguk. Para sahabat yang hadir di situ pun pergi meninggalkan ruang rawat inap itu.
__ADS_1
"Kamu juga ... pergilah!" ucap Zefran pelan.
Melihat Allena yang tidak beranjak dari posisinya, Zefran akhirnya berkata khusus pada Allena.
"Apa? Tidak! Aku tidak mau pergi," ucap Allena membangkang.
Zefran menoleh ke arah wanita yang dicintainya itu sambil menangis.
"Apa maumu sebenarnya? Aku memohon padamu untuk kembali tapi kamu tak mau kembali. Aku memintamu pergi tapi kamu tidak mau pergi. Apa kamu sengaja melakukan ini? Kamu sengaja membangkang. Kamu ingin menentangku? PERGI! KAMU PERGILAH JANGAN KEMBALI LAGI!" ucap Zefran begitu keras.
"Apa-apaan ini?" sela Mahlika yang baru saja datang.
"Aku tidak butuh dia, aku tidak ingin dia ada di sini," ucap Zefran.
"Ini keinginanmu? Kenapa? Berikan alasan kenapa kamu tak ingin dia ada di sini?" tanya Mahlika dengan kesal.
Ny. Mahlika yang mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa putranya langsung mengambil penerbangan pertama dari Seoul. Mertua Allena itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga putranya. Bahkan nyonya besar itu belum tahu tentang kelumpuhan yang dialami laki-laki itu.
"Aku bersalah Mommy, aku meninggalkan Kak Zefran dan membawa anak-anak pergi," jawab Allena.
Melihat Zefran yang tak menjawab pertanyaan ibunya akhirnya Allena mengakui apa yang terjadi dengan rumah tangga mereka. Zefran terkejut melihat Allena yang mengambil semua tanggung jawab atas apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
Allena sama sekali tidak menyalahkan Zefran yang memulai pertengkaran mereka. Membuat laki-laki itu tercenung dan semakin merasa bersalah.
"Aku lumpuh Mommy, itu alasannya kenapa aku tidak ingin dia ada di sini lagi," ucap Zefran pelan.
Laki-laki itu sadar, awal dari semua itu adalah kecemburuan yang tak pernah bisa diatasinya. Setiap ada seorang laki-laki ada di sisi Allena, Zefran akan merasa curiga pada istrinya. Zefran sadar hal kecil yang harusnya bisa ditahan olehnya menimbulkan masalah besar pada akhirnya.
__ADS_1
"Pergilah Allena! Semua ini adalah kesalahanku, aku tidak ingin menjadi bebanmu lagi," ucap Zefran pelan sambil memalingkan wajahnya tanpa mau melihat wajah istrinya sama sekali.
Zefran sekuat tenaga menahan perih di dadanya. Rasa tak percaya diri menjadi pendamping Allena timbul saat sadar akan kondisinya sekarang ini. Bu. Vina datang dan kaget mendengar pernyataan Zefran.
"Apa kamu ingin menceraikan istrimu?" tanya Vina kaget.
Allena menangis dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir deras, ucapan ibunya telah memperjelas maksud ucapan Zefran.
"Hati-hati Zefran jangan asal bicara, ucapanmu itu sama artinya kalau kamu tidak lagi ingin mempertahankan rumah tangga kalian," ucap Vina.
"Bukannya tidak ingin mempertahankan lagi Bu. Tapi aku tidak pantas lagi mendampingi Allena. Aku ini laki-laki yang cacat Bu, dan semua karena kesalahanku sendiri. Allena … Allena sudah cukup menderita hidup dengan laki-laki sepertiku. Aku tidak ingin dia lebih menderita lagi," ungkap Zefran akhirnya.
"Benar apa yang dikatakan mertuamu, jangan asal bicara Zefran. Kamu akan semakin menyesal. Dari apa yang Mommy lihat kalian masih saling mencintai, kalian saling membela. Masing-masing memilih menyalahkan diri sendiri, tak ingin orang yang kalian cintai disalahkan. Pikiranlah dengan matang, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kita juga masih bisa berusaha untuk kesembuhanmu Zefran," jelas Mahlika.
"Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa disembuhkan Mommy? Bagaimana kalau selamanya aku menjadi laki-laki yang cacat?" tanya Zefran menghiba.
"Kita akan berusaha untuk kesembuhanmu Kak. Aku akan selalu ada untuk membantumu. Tolong biarkan aku tetap di sisimu Kak," ucap Allena dengan derai air mata.
Allena akan merasa bersalah meninggalkan Zefran dalam keadaan seperti itu. Allena menatap suaminya dengan tatapan yang memohon, Ny. Mahlika dan Bu Vina pun menunggu jawaban dari Zefran dengan tatapan yang memohon. Kedua ibu itu berharap Zefran tak terburu-buru hingga salah dalam mengambil keputusan.
"Kamu akan menyesal Allena, memiliki suami cacat sepertiku," jawab Zefran dengan air mata dan tatapan yang sayu.
Melihat Zefran seperti itu Allena langsung duduk di ranjang rumah sakit itu dan memeluk suaminya.
"Tolong, jangan dorong aku menjauh lagi, aku tidak akan menyesal. Aku tidak akan pernah menyesal," ucap Allena sambil erat suaminya.
Setelah apa yang aku lakukan padamu selama ini, kamu masih mau hidup bersamaku? Dengan dengan laki-laki cacat sepertiku? Aku sungguh bodoh karena tidak mempercayaimu Allena, maafkan aku Allena … maafkan aku sayang, batin Zefran.
__ADS_1
Zefran akhirnya membalas pelukan Allena, wanita yang dicintainya itu lebih menguatkan pelukannya. Air mata Allena mengalir namun merasa bahagia. Allena masih memiliki kesempatan hidup bersama dengan cinta sejatinya.
...~ Bersambung ~...