Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 62 ~ Di Ruang Rawat Inap ~


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, mereka akhirnya kembali ke ruang rawat inap Zefano. Anak itu berjalan sambil digandeng kedua orang tuanya. Saat masuk ke ruangan itu Zefano langsung melepaskan tangannya dari pegangan tangan Zefran dan Allena. Zefano langsung menutup matanya dengan kedua tangannya.


Allena, Zefran, Dokter Shinta dan Valendino langsung tertawa.


"Kenapa tutup mata?" tanya Shinta.


"Zeno nggak boleh lihat orang pacaran," jawab Zefano masih menutup matanya.


Mereka tertawa, Dokter Shinta menarik kedua tangan Zefano dan menciummu kedua pipi anak itu gemas.


"Gimana mau lihat wajahmu yang ganteng itu kalau di tutup? Kenapa lama sekali balik ke sini? Itu makan siang Zeno udah datang," ucap Shinta sambil mencubit pipi anak itu.


"Oh, tadi kami sibuk mencari anak kami yang hilang, sampai sekarang juga belum ketemu," ucap Zefran.


"Apa? Itu?" ucap Shinta polos menunjuk wajah Zefano.


"Oh ini, ini tuyul yang menyamar jadi Zeno," ucap Zefran.


Zefano memukul paha ayahnya, Zefran tertawa, semuanya pun ikut tertawa.


"Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang, bagaimana kalau kita makan di luar," ajak Valendino.


"Boleh, kita makan di restoran mana?" tanya Shinta.


Zefano yang berdiri di tengah-tengah menoleh ke kanan dan ke kiri menatap siapa pun yang sedang bicara.


"Restoran Jepang?" usul Zefran.


Zefano menoleh ke arah Zefran.


"Tapi bagaimana dengan Zeno? Apa kita tinggal saja" tanya Shinta.


"Oh, Zeno sudah punya makanan dari rumah sakit, dia harus makan makanan sehat dan bergizi," ucap Allena.


Zefano meringis menatap wajah-wajah yang sedang membahas restoran yang ingin dikunjungi itu.


"Jadi Zeno tidak ikut ya kalau begitu Restoran Korea saja, enak juga itu," usul Valendino.


Zefano masih menoleh ke kanan dan ke kiri namun dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir bawah yang maju ke depan.


"Aku lebih suka restoran cepat saji, kebayang burger atau pizza rasanya enak sekali," ucap Allena.


Tiba-tiba Zefano menangis, mereka yang asyik berbincang langsung tertawa. Zefran menggendong putranya dan bertanya.


"Zeno kenapa nangis sayang?" tanya Zefran pura-pura tidak mengerti.


"Zeno nggak diajak makan burger," ucap anak itu menangis.


Mereka pun kembali tertawa.


"Zeno nggak nangis saat pengobatan tapi malah nangis karena nggak diajak makan burger? Duh.., kasihan, kalau gitu burger-nya kita pesan antar saja jadi kita bisa makan di sini sama-sama. Tapi makanan dari rumah sakit harus dihabiskan dulu ya nak," ucap Shinta.


"Nanti keburu kenyang Dokter," jawab Zefano masih dengan bibir bawah yang maju ke depan.


"Nggak apa-apa burger-nya disimpan dulu nanti jika perut Zeno sudah mulai kosong bisa dipanaskan lagi pakai microwave. Zeno boleh makan sepuas-puasnya," ucap Shinta sambil menggelitik perut Zefano.


Anak itu tertawa sambil berusaha menangkap tangan Dokter Shinta.


"Ampun, ampun, nanti boleh makan sepuas-puasnya?" tanya Zefano sambil memegang tangan Dokter Shinta.


"Boleh tapi ayo cepat di habiskan makannya biar perut Zeno cepat kosong lagi," ucap Shinta.


Gadis itu mengambil Zefano dari gendongan ayahnya dan mendudukkannya di kursi meja makan. Menyiapkan semua hidangan di hadapan Zefano. Mereka pun ikut duduk sambil menatap Zefano yang bersiap-siap untuk makan.


Ruang rawat inap signature suite ini memiliki fasilitas se kelas kamar hotel bintang lima sehingga pasien dapat merasakan nuansa nyaman namun mewah dan elegan.


Dengan fasilitas kamar mandi dengan air dingin dan panas, toilet otomatis, lampu kamar mandi otomatis, meja makan, meja tamu, lemari pendingin dengan minibar, dispenser, microwave, kursi pijat bahkan coffee maker dan lain-lain. Membuat pasien dan pengunjung merasa nyaman seperti di rumah sendiri.


Semua mata tertuju pada Zefano yang mulai menyantap makanannya namun saat melihat brokoli anak itu langsung menoleh ke arah ibunya.


"Ma, nggak mau brokolinya," ucap Zefano.


"Kasih Papa aja, biar sekali-sekali Papa makan brokoli," ucap Allena sambil tersenyum.


Zefran mendelik ke arah gadis itu karena Zefran tahu persis Allena mengetahui dia tidak suka makan brokoli. Allena tak acuh tersenyum sambil menatap layar ponselnya. 


Zefano menyuapi Papanya, Valendino tertawa, merasa bebas dari brokoli yang hampir setiap saat berkunjung selalu dipaksa makan oleh Zefano. Melihat itu Zefran langsung mengusulkan menyuapi Valendino.


"Kasih Uncle Val saja ya, Uncle Val juga jarang makan brokoli," usul Zefran sambil mendorong tangan Zefano mengarah ke arah Valendino.


Valendino terperangah.


"Enak saja, setiap kali ke sini aku dipaksa makan brokoli sama Zeno, jarang dari mana?" protes Valendino.

__ADS_1


Allena dan Dokter Shinta tertawa.


"Aneh ya, tiga cowok ganteng ini semua tidak suka brokoli," ucap Shinta pada Allena.


Zefano menatap ke atas lalu mengetuk kening dengan telunjuknya.


"Iya, aneh ya?" ucapnya seolah-olah berpikir.


Semua tertawa, Valendino merebut sendok dengan brokoli itu lalu menyuapi Zefano. Anak itu langsung meringis.


"Siapa tiga cowok ganteng yang tidak suka brokoli? Salah, cuma ada dua, yang satu ini tuyul jadi harus makan brokoli," ucap Valendino.


Zefano kesal tiba-tiba Valendino menyuapinya brokoli. Dokter Shinta langsung membujuk.


"Uncle Val ini usil, mana ada tuyul aja, yang ada itu tuyul ganteng ya 'kan," ucap Shinta.


Zefano kembali kesal mendengar ucapan Dokter Shinta yang menggodanya.


"Kalau dibilang tuyul terus nanti Zeno menghilang nih," ancam Zefano sambil cemberut.


"Jangan!" ucap Shinta sambil memeluk Zefano seolah-olah menangkap Zefano.


"Jangan menghilang ya nanti nggak ada tuyul ganteng lagi," ucap Shinta.


Zefano kesal, semua tertawa. Akhirnya Allena membujuk Zefano menghabiskan makanannya sambil duduk di pangkuan ibunya.


"Manja nya anak ini," ucap Valendino.


"Awas hati-hati kena dedek bayi," ucap Shinta.


Setelah puas menggoda Zefano, akhirnya mereka diam mengamati Zefano yang disuapi ibunya. Sesekali Zefano menyuapi Allena sayuran yang tidak disukainya.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka pun makan siang bersama-sama. Tak hanya burger, Valendino memesan berbagai macam makanan yang bisa disimpan di lemari pendingin.


Setelah itu Valendino dan Dokter Shinta pamit menjalankan tugas masing-masing. Zefano pun istirahat sambil berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya.


Allena dan Zefran memutuskan menginap setiap hari di ruang rawat inap mewah itu. Zefano tidur di ranjang otomatis sementara Allena dan Zefran tidur di ranjang penunggu pasien. Hanya disaat-saat tertentu Zefran meminta Allena menginap di rumah dan digantikan oleh Bu Vina dan Rahma.


Allena pun memutuskan mengerjakan pekerjaannya di ruang rawat inap itu. Memilih duduk di karpet tebal dengan laptop dan lembaran-lembaran kertas design fashion yang menumpuk di atas meja tamu. Merancang dan mengirim hasilnya ke perusahaan fashion yang menjadi naungannya.


Kadang menggunakan fasilitas Teleconferance melalui layar LED enam puluh lima inch yang dilengkapi dengan kamera web cam yang canggih sehingga Allena tidak perlu khawatir jika harus meeting jarak jauh.


Allena juga menikmati fasilitas tambahan lainnya seperti setiap pagi dikirimkan koran pagi ke ruangan dan disediakan menu makanan tiga kali sehari dan dua kali kudapan serta welcome fruit.


Sebelah tangan Zefano menggantung di bahu Allena. Gadis itu meletakkan tangan itu di samping  agar tidur Zefano lebih nyaman. Menyelimuti anaknya, mengusap kening dan kepala Zefano yang sekarang telah ditumbuhi rambut.


Allena mencium pipi anak kesayangannya. Terdengar suara berdehem, Allena langsung menoleh dan tersenyum. Zefran telah berdiri sambil menenteng paper bag berisi makanan untuk mereka.


"Mencium laki-laki saat tidak ada suami sungguh perbuatan tidak terpuji," ucap Zefran sambil tersenyum.


Allena tertawa, meraih paper bag itu dan menaruhnya di meja makan kemudian memeluk suaminya.


"Malam sekali pulangnya?" tanya Allena.


"Kenapa? Sudah lapar lagi ya, anak Papa masih belum kenyang ya?" tanya Zefran membungkuk di hadapan perut buncit Allena.


Zefran selalu membawakan makanan tambahan untuk istrinya yang berbadan dua. Laki-laki itu tidak ingin nutrisi untuk calon anaknya tak tercukupi karena Allena yang hanya berkurung di ruangan rawat inap itu.


"Maaf ya sayang tadi meeting-nya kelamaan," ucap Zefran.


"Nggak apa-apa, Kakak sudah makan belum?" tanya Allena.


"Tadi ditawari makan malam bersama tapi nggak mau ah, maunya makan sama istri tercinta saja," ucap Zefran sambil menangkup wajah Allena dan mengecup bibirnya.


"Kalau gitu aku siapkan makan malamnya dulu ya!" ucap Allena sambil mengangkat paper bag berisi makanan yang dibeli Zefran dan membawanya ke dapur.


Allena menuangkan makanan yang masih panas itu ke wadah. Tiba-tiba tangan Zefran sudah melingkar di atas pinggang Allena.


"Malam ini harusnya kita menginap di rumah saja," ucap Zefran.


"Kenapa? Bukannya Kakak sendiri yang bilang malam ini kita menginap di rumah sakit?" tanya Allena sambil tersenyum.


Gadis itu mengerti maksud ucapan Zefran namun berpura-pura tidak tahu. Melihat sikap Zefran yang sudah mulai mengecup lehernya dari belakang perlahan membuat Allena memejamkan matanya.


"Kita pesan kamar yuk sayang, bilang ingin istirahat karena sakit kepala," ucap Zefran tersenyum.


Allena tertawa mendengar usul suaminya.


"Memangnya di sini hotel sayang?" tanya Allena.


"Aku rasa mereka mau menyediakan untuk semalam saja, tidak perlu kunjungan dokter," ucap Zefran sambil terus menyentuh tengkuk Allena dengan bibirnya.


Allena kembali tersenyum.

__ADS_1


"Kita makan dulu ya nanti dipikirkan," ucap Allena.


"Oh ya, kamu lapar ya? Ayo kita makan dulu," ucap Zefran sambil membantu Allena menata makan malam mereka di atas meja makan.


Allena menyantap makan malamnya sambil sesekali melirik suaminya. Ada rasa iba dihatinya saat melihat sang suami yang harus menahan hasrat karena situasi dan kondisi.


Allena memutar otak untuk mencari solusi, menoleh ke sana kemari. Dapur tanpa pintu tak menjadi pilihannya, kamar mandi? Allena menggelengkan kepala. Dengan badannya yang sebesar itu akan kesulitan mencari tempat yang nyaman.


Ranjang penunggu pasien memang biasa menjadi tempat tidur mereka tapi tanpa pembatas dan berhadapan langsung dengan ranjang rumah sakit Zefano. Allena sudah habis akal hingga saat meletakkan piring kotor ke dapur gadis itu sempat menatap balkon yang luas itu.


Allena mematikan lampu balkon dan tersenyum kemudian menghidupkannya kembali. Setelah makan malam mereka duduk di karpet tebal sambil menyandarkan punggung di sofa. Menikmati tayangan televisi yang sama sekali tidak menarik bagi mereka.


Apalagi bagi Zefran yang kembali menyentuh lembut lengan istrinya yang bersandar di dadanya. Zefran mengangkat dagu Allena dan mulai membenamkan bibirnya. Allena menikmati ciuman lembut itu sambil memejamkan mata.


Semakin lama ciuman Zefran makin menggebu namun akhirnya dilepas begitu saja, laki-laki itu pun menunduk. Allena tersenyum kemudian mengajak suaminya mencari udara segar di balkon. Laki-laki itu setuju, Allena meminta suaminya menunggu di balkon 


Zefran yang bersantai di sofa bed mengira istrinya berusaha untuk mengalihkan pikirannya, terkejut saat lampu dimatikan. Allena muncul setelah menutup dan mengunci pintu geser menuju balkon itu. Zefran tersenyum meski hanya terlihat samar-samar namun Zefran tahu istrinya telah berada di hadapannya.


Laki-laki itu langsung merebahkan istrinya di sofa bed yang cukup luas untuk mereka berdua. Laki-laki itu tersenyum dan langsung menyatukan bibir mereka. Allena harus menahan desahnya agar tidak menimbulkan suara, begitu juga dengan Zefran yang hanya bisa berbisik.


"Terima kasih sayang," ucapnya sambil memeluk dan menciumi leher istrinya.


Allena tak membalas ucapan Zefran, gadis itu tidak berani bersuara, Allena bahkan hanya menggigit bibirnya saat mereka mencapai puncaknya. Zefran berbaring di samping Allena sambil tersenyum lalu menoleh ke arah istrinya.


"Sekali lagi terima kasih sayang," ucap Zefran kemudian mendekat dan kembali mengecup bibir istrinya.


Zefran bertahan dalam posisi miring dengan tangannya menopang kepala. Tak henti-hentinya memandang Allena sambil tersenyum.


"Kenapa? Kenapa tersenyum terus? Apa yang Kakak pikirkan?" tanya Allena menoleh ke arah suaminya.


"Kamu cerdas," ucap Zefran singkat.


"Bukan cerdas hanya tekun mencari jalan keluar. Setelah aku pikir-pikir memesan kamar prosedurnya pasti rumit. Apalagi alasannya sakit kepala bisa-bisa Kakak di suruh CT Scan dulu, acara bisa batal," ucap Allena.


Zefran tertawa tertahan lalu mendekati istrinya dan menyelipkan tangannya di kepala gadis itu. Zefran memeluk istri tercintanya sambil mengusap perut istrinya yang sudah sangat besar.


"Sudah berapa bulan kandunganmu, sayang?" tanya Zefran.


"Hampir delapan bulan," jawab Allena sambil menatap suaminya.


Zefran justru merengut.


"Kenapa?" tanya Allena.


"Sudah sebesar itu? Berarti sudah mendekati persalinan? Apa aku masih boleh mendekatimu?" tanya Zefran dengan wajah cemberut.


"Kenapa tidak boleh?" ucap Allena tersenyum.


"Aku takut menyakitimu atau membahayakan kandunganmu," ucap Zefran.


"Melakukan hubungan mendekati hari persalinan justru bermanfaat sebagai induksi alami yang memudahkan proses persalinan," jawab Allena.


"Benarkah? Justru memudahkan persalinan?" tanya Zefran dengan semangat.


Allena mengangguk.


"Iya, melakukan hubungan saat leher rahim dan rahim ibu hamil sudah siap untuk persalinan atau telah dekat tanggal jatuh tempo atau usia kandungan empat puluh minggu bisa membantu melancarkan persalinan," ucap Allena tersenyum geli melihat antusiasme suaminya bertanya.


"Wah benarkah? Dari mana kamu tahu? Jangan-jangan kamu cuma mengarang hanya untuk menyenangkan hatiku iya 'kan?" tuduh Zefran.


"Ini benar, aku tahu saat mendengar obrolan bidan dan dokter. Lalu langsung saja aku bertanya dengan jelas. Bahkan saat tanggal persalinan telah tiba tapi si ibu tidak kunjung merasakan kontraksi, ibu itu dianjurkan mencoba untuk berhubungan dulu. Faktanya, berhubungan saat menjelang persalinan itu benar-benar dapat memudahkan persalinan asal kondisi kehamilan ibu sehat dan tidak mengalami masalah," jelas Allena sambil tertawa.


"Oh, tapi dulu kita tidak seperti itu. Saat kamu mengandung Zeno?" tanya Zefran masih ragu.


"Kakak lupa? Saat itu Kakak membenciku, selalu curiga padaku dan Kak Valen. Lagi pula saat itu masih ada Nyonya Frisca, Kakak mana peduli padaku," ucap Allena dengan suara pelan.


Zefran menatap istrinya dengan tatapan yang bersalah, laki-laki itu langsung memeluk istrinya.


"Maafkan aku Allena," bisik Zefran.


"Kakak ini apa-apaan, itu kan sudah lama berlalu kenapa masih meminta maaf?" tanya Allena.


"Tidak apa-apa sayang, aku tidak ingat semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu. Jika satu per satu terungkap maka aku akan selalu siap meminta maaf padamu," jelas Zefran dengan mata yang sayu.


Meski pencahayaan hanya samar-samar namun Allena bisa merasakan kalau Zefran menatapnya dengan tatapan yang menyesal. Wajah mereka yang begitu dekat membuat Allena dengan mudah meraih bibir suaminya.


Mengecup bibir laki-laki yang menyesal itu untuk menghiburnya dan Zefran tidak akan tinggal diam melihat Allena berbuat seperti itu. Laki-laki akan langsung membalas dengan ciuman yang hangat.


"Aduh, aduh perutku sakit," ucap Allena.


Zefran langsung merenggangkan pelukannya. Menatap Allena dengan wajah panik. Laki-laki itu langsung berdiri dan menyalakan penerangan agar bisa lebih jelas melihat keadaan Allena.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2