
~ Zefran, tolong bilang sama Mommy kalau kamu memaafkanku dan menjadikan aku istri keduamu ~
Ucapan Frisca membuat kaget semua orang yang berada di sana. Allena bahkan memilih kembali ke kamarnya, gadis itu melewati Zefran tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya.
Zefran melihat perubahan air muka istrinya saat mendengar ucapan Frisca. Laki-laki itu langsung emosional membantah ucapan mantan istrinya.
"Sekali pun aku tidak pernah berkata memaafkanmu apalagi menjadikanmu istri kedua. Kamu selalu berbohong pada semua orang. Dengarkan aku, segala kebohonganmu itu tidak akan berpengaruh bagiku jadi hentikan usahamu untuk menghancurkan keluargaku," bentak Zefran yang semakin kesal saat melihat dampak ucapan Frisca pada istrinya.
Mendengar itu Frisca langsung menatap Allena yang melangkah menuju tangga. Lalu berkata dengan keras agar gadis itu bisa mendengarnya.
"Allena adalah gadis lugu, sederhana dan berhati lembut, apa bisa menghancurkan rumah tangga orang? Apa mungkin sekejam itu menghasut orang-orang untuk membenciku? Dulu aku mengizinkanmu menikah dengan suamiku karena kamu bukanlah gadis jahat yang berambisi merebut suami orang. Hingga akhirnya aku mengizinkanmu menjadi istri kedua suamiku. Lalu bagaimana denganmu? Apa gadis baik sepertimu mengizinkan aku menjadi istri kedua suamimu?" teriak Frisca.
Langkah Allena terhenti, ucapan Frisca seperti menuntut balasan atas izin yang pernah diberikannya dulu.
"Aku tidak bersedia, aku tidak tertarik berpoligami lagi," jawab Zefran langsung.
"Aku tidak ingin mendengar jawabanmu, aku hanya ingin mendengar jawaban Allena yang baik hati. Aku ingin tahu apa dia bisa menjadi orang yang adil bagi orang lain," ucap Frisca.
Ucapan Frisca menunjukkan bahwa Allena juga bisa menjadi wanita jahat jika menolaknya menjadi istri kedua Zefran. Allena membalik badan dan melangkah ke arah Frisca.
"Meski situasinya sama tapi niat kita berbeda. Aku menjadi istri kedua agar rumah tanggamu tetap utuh. Berbeda dengan niatmu menjadi istri kedua agar rumah tanggaku menjadi hancur," tuduh Allena.
Ny. Mahlika tersenyum, Frisca membelalakkan matanya. Zefran tersenyum menunduk.
"Aku bukan gadis baik jadi aku tidak bisa menerima wanita lain masuk ke dalam rumah tanggaku. Aku putuskan, aku tidak mengizinkan suamiku menikah lagi. Jika ingin mencari suaka di rumah ini silahkan saja tapi minta izin dulu pada pemilik rumahnya," jelas Allena.
Mencari suaka? Memangnya aku ini pengungsi? Kurang ajar, teriak Frisca dalam hati dengan matanya yang membulat.
Allena ingin melanjutkan langkahnya ke lantai atas kemudian terhenti saat mengingat sesuatu. Gadis itu menatap ke arah meja makan yang telah tersedia sarapan yang disiapkan Frisca.
"Oh ya, selamat menikmati sarapan Mommy, Nyonya Frisca sudah susah payah menyiapkan sarapan untuk Mommy, maaf saya tidak bisa menemani Mommy sarapan. Saya harus segera pergi menggantikan Rahma di rumah sakit," ucap Allena sekaligus meminta izin untuk keluar rumah.
"Baiklah, Mommy juga akan mampir ke sana, setelah urusan Mommy selesai Mommy akan langsung ke sana," jawab Mahlika yang langsung masuk ke kamarnya.
Sementara Zefran mengikuti Allena masuk ke kamar mereka.
Awas kamu Allena, kamu membuat usahaku meraih hati Zefran dan Mommy menjadi sia-sia. Jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi padamu dan keluargamu. Kamu berani menabuh genderang perang menentangku. Aku akan lakukan apa pun untuk membalas perlakuanmu ini, tunggu saja, ucap Frisca dalam hati.
Sementara itu Zefran yang masuk ke kamar langsung memeluk gadis itu dari belakang.
"Kamu pergi sekarang sayang?" tanya Zefran.
"Ya, maaf Kak, rasanya tidak betah melihat nyonya Frisca ada di rumah ini," ucap Allena sambil bersiap-siap untuk ke rumah sakit.
"Dulu kamu menyesali aku menceraikannya, kenapa sekarang seperti sangat benci bertemu dengannya. Bagaimana jika saat itu aku batal menceraikannya? Kamu akan selalu bertemu dengannya," ucap Zefran.
"Beda lagi jika dia masih menjadi istri Kakak, bagaimanapun juga aku harus menimbang perasaannya sebagai istri pertama. Tapi sekarang situasinya berbeda dia tidak ada hubungannya lagi denganmu, aku tidak harus menimbang perasaan wanita yang jelas-jelas ingin menggoda suamiku," jelas Allena.
"Senang sekali mendengarnya," ucap Zefran.
"Dengar apa?" tanya Allena.
"Kata-kata suamiku yang keluar dari mulutmu, terdengar merdu sekali. Aku makin jatuh cinta padamu," ucap Zefran sambil menangkup wajah gadis yang dicintainya.
"Suamiku, suamiku, suamiku..,"
Zefran tertawa dan langsung membekap mulut Allena dengan mulutnya. Memainkan lidahnya yang liar bergerak ke sana kemari mengejar lidah Allena yang menghindar. Zefran melenguh penasaran terus mengejar dan mencari. Allena mendorong suaminya yang terus penasaran tidak mendapatkan apa yang dicarinya.
"Sudah, aku makin kesiangan tiba di rumah sakit," ucap Allena.
"Salahmu sendiri kenapa menghindar," ucap Zefran kembali menarik istrinya ke dalam pelukannya.
Kali ini Allena pasrah mengikuti keinginan laki-laki itu. Memejamkan matanya menikmati ciuman lembut laki-laki tampan itu. Zefran menghentikan ciumannya setelah puas menikmati manisnya bibir beraroma vanilla itu.
"Apa yang akan Kakak lakukan di rumah? Kakak jangan berduaan dengan Nyonya Frisca ya" ucap Allena.
"Aku ikut denganmu daripada di sini di goda Frisca. Lebih baik aku menemui putraku," ucap Zefran.
__ADS_1
"Tapi Kakak masih mengantuk, katanya masih ingin tidur?" tanya Allena.
"Justru itu aku merasa tidak nyaman tidur sendirian di rumah. Aku juga bisa tidur di di rumah sakit," usul Zefran.
Sambil tersenyum Allena mengangguk setuju, usul Zefran membuat hatinya tenang. Meninggalkan Zefran dan Frisca berduaan membuat otaknya bisa berpikiran macam-macam. Mereka berangkat ke rumah sakit bersama-sama. Sampai di sana Zefano terlihat begitu senang bertemu dengan Papanya.
Zefano langsung minta di gendong oleh Zefran, di sana juga sedang berkunjung Dokter Shinta dan Valendino.
"Oh kamu ada di sini?" tanya Zefran pada Valendino.
"Aku menemani Shinta, setiap hari dia minta ditemani olehku menemui Zeno," ucap Valendino yang langsung di cubit pinggangnya oleh Dokter Shinta.
"Dokter Shinta? Jadi dokter ini yang bernama Dokter Shinta?" tanya Zefran.
Allena dan Valendino saling berpandangan heran.
"Ya, kita telah bertemu sebelumnya saat ingin menemui Zeno. Saat itu aku mengenalmu sebagai suami Frisca, aku juga berkata kita adalah adalah orang-orang dewasa yang menyukai Zeno. Andai aku tahu Zeno adalah Zefano saat itu juga aku akan memberitahumu kalau dia adalah anakmu," ucap Shinta kemudian menunduk menyesal.
Valendino langsung mengusap lengan Dokter Shinta. Gadis itu tersenyum meski masih terlihat sangat menyesal. Dengan matanya yang berkaca-kaca gadis itu akhirnya menunduk di dada Valendino
"Terima kasih Dokter," ucap Allena tiba-tiba.
Mengagetkan Dokter Shinta yang masih berusaha menenangkan hatinya. Gadis itu langsung menatap ke arah Allena dengan tatapan heran.
"Terima kasih karena telah mengungkapkan kebenarannya," ucap Allena sambil tersenyum.
Senyum Allena yang terlihat tulus membuat Dokter Shinta tidak mampu menahan tangisnya.
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Dokter Shinta.
Allena mengangguk dan langsung merentangkan tangannya.
"Maafkan aku, maafkan aku yang telah membuatmu menderita," ucap Shinta menyesal.
"Semuanya sudah berlalu Dokter, sekarang kita harus menatap masa depan. Setiap keputusan yang kita ambil saat ini akan ada pengaruhnya untuk masa depan, kita berharap saat itu kita tidak menyesal lagi, bukan?" ucap Allena sambil mengusap punggung Dokter Shinta.
Frisca pernah mengizinkan Zefran menikah lagi dengan alasan tertentu. Dan Allena memutuskan untuk tidak mengizinkannya menikah lagi dengan alasan apa pun.
Allena dan Dokter Shinta saling menatap haru, Allena tersenyum, Dokter Shinta tertawa dengan air mata yang masih menitik.
"Jangan menangis lagi Dokter Shinta," ucap Allena.
"Dokter Shinta memang cengeng Ma, dulu juga nangis waktu cerita tentang pulpen berharga dan dokumen palsu," jelas Zefano.
"Dokumen palsu? Dokter Shinta menceritakan padamu?" tanya Zefran.
Dokter Shinta mengiyakan sambil menunduk menghapus air matanya.
"Ya, aku bahkan menceritakan perbuatanku yang membuat dokumen DNA palsu pada Zeno. Aku tidak tahu kalau dokumen itu adalah hasil tes DNA Zeno. Karena nama yang selalu kuingat adalah Zefano. Aku mengingat namanya setiap kali aku melihat hasil kejahatanku. Setiap kali itu pula aku merasa bersalah, aku hanya bisa berdoa kalau anak itu akan baik-baik saja meski terpisah dari ayahnya. Tapi tetap saja sebahagianya seorang anak tetaplah menginginkan kedua orang tuanya," jelas Shinta masih meneteskan air mata.
"Sudahlah Dokter jangan diingat lagi, jika seperti ini nanti air matanya habis. Biasanya gadis yang mau di lamar akan meneteskan air mata haru. Sisakan air matamu untuk Kak Valen nanti," ucap Allena tersenyum sambil memancing Valendino.
Laki-laki itu tertunduk sambil tersenyum begitu juga dengan Dokter Shinta.
"Aku sudah melamarnya," ucap Valendino pelan.
"Oh, benarkah? Kenapa Dokter diam saja? Kenapa tidak cerita?" tanya Allena yang langsung meraih jemari Dokter Shinta untuk membuktikan ucapan Valendino.
Gadis itu terkejut haru menatap cincin pertunangan yang telah melingkar di jari manis Dokter cantik itu. Allena langsung memeluk Dokter Shinta dan mengucapkan selamat.
"Aku ke sini minta izin sama pacar pertamaku dan bertanya apa aku boleh bertunangan dengan Valen," ucap Shinta.
"Pacar pertama?" tanya Allena dan Zefran serentak.
"Ya, Zeno itu pacar pertamaku. Karena kencan butaku selalu gagal. Zeno memintaku menjadi pacarnya. Zeno bilang kalau sayang boleh jadi pacar. Karena Zeno sayang padaku jadi aku boleh jadi pacarnya," cerita Shinta lalu tertawa.
Semua tertawa mendengar cerita nostalgia Dokter Shinta dan Zefano.
__ADS_1
"Wah, bukannya pacar Zeno banyak? Katanya suster-suster yang ada di rumah sakit ini pacar Zeno?" tanya Allena.
"Ya, Ma, semua suster di sini pacar Zeno," ucap Zefano.
"Lalu kalau mereka dapat pacar baru harus minta izin dulu sama Zeno? Seperti Dokter Shinta?" tanya Allena lagi.
"Iya, mereka datang, Zeno kenalin ini pacar Suster Lia. Zeno kenalin ini pacar Suster Hani. Zeno kenalin ini pacar Suster Nofi, Zeno kenalin…, Zeno kenalin.., Zeno kanalin…," ucap anak itu sambil menggelengkan kepala dan menepuk keningnya.
Allena dan lainnya tertawa, Allena sampai-sampai mencium pipi gemas anaknya. Begitu juga dengan Zefran yang sedang menggendong Zefano.
"Makanya punya pacar jangan banyak-banyak, jadi repot sendiri 'kan?" ucap Valendino.
"Huuu, Uncle Val aja ya iri," ucap Zefano.
"Iri? Kapan?" tanya Valendino maju mendekati Zefano yang masih digendong Zefran.
"Waktu itu Uncle Val bilang Zeno hebat. Uncle Val saja se tua ini belum punya pacar, Zeno masih kecil sudah punya pacar. Sekarang malah salahin Zeno punya pacar, itu namanya iri?" balas Zefano.
"Kamu pintar sekali melawan orang tua, siapa yang mengajari?" tanya Valendino.
"Banyak, tiap hari suster-suster di sini mengajari," ucap Zefano sambil tersenyum di balik jari-jari tangan.
"Enak sekali di kerubuti suster-suster tiap hari," balas Valendino.
"Tuh, iri lagi 'kan?" ucap Zefano.
Semua tertawa, Allena meminta dua laki-laki itu berhenti bertarung mulut.
"Jadi kapan pestanya Dokter? Kalau bisa sekarang-sekarang ini atau setelah aku melahirkan sekalian," usul Allena sambil tersenyum.
"Sudah berapa bulan sekarang?" tanya Shinta.
"Hampir enam bulan," jawab Allena.
"Kalau begitu tiga bulan lagi melahirkan? Zeno juga sudah boleh pulang setelah masa pemulihan tiga bulan. Kalau begitu pesta pernikahan kita tentukan empat bulan atau lima bulan lagi ya, Val?" tanya Shinta.
"Boleh," jawab Valendino sambil mengangguk.
"Mama, rambut Zeno sudah tumbuh belum lima bulan lagi?" tanya Zefano sambil memegang kepalanya.
"Sudah dong sayang, memangnya kenapa?" tanya Allena.
"Berarti lima bulan lagi, Zeno udah ganteng lagi," jawab Zefano.
"Sekarang pun tetap ganteng kok sayang. Oh ya Mama sampai lupa Tante Rahma mana, nak?" tanya Allena.
"Sudah pulang Ma, tadi di usir sama Uncle Val," ucap Zefano sambil tersenyum.
"Di usir? Memangnya aku sekejam itu? Hey young man kenapa selalu sinis padaku? Kamu iri ya pacarmu direbut?" tanya Valendino dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Nggak! Siapa yang iri? Sana ambil Dokter Shinta, pacar Zeno masih banyak. Nanti kalau Zeno ambil lagi baru tahu lho Uncle Val bisa nangis," ucap Zefano.
"Ambil lagi aja! Siapa yang nangis?" jawab Valendino tidak mau kalah.
"Waktu itu aja nangis, minta Dokter Shinta jadi pacar taunya Dokter Shinta malah pergi, Uncle Val nangis bilang yah Uncle Val ditolak," ucap Zefano sambil kedua tangannya mengusap kedua matanya.
Valendino gemas, tak sabar langsung merebut Zefano dan membaringkannya di ranjang rumah sakit kemudian menggelitik pinggang anak itu.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, terlihat seorang suster berdiri di depan pintu.
"Oh ternyata benar di sini Dokter Shinta. Ini ada paket untuk Dokter Shinta katanya harus disampaikan sekarang," ucap suster itu kemudian berlalu setelah menyerahkan amplop coklat berukuran besar itu.
Dokter itu langsung membuka amplop itu dan menatap satu per satu lembaran dari dalam amplop itu. Lalu menoleh ke arah Allena dan Valendino secara bergantian. Valendino berhenti menggelitik Zefano saat melihat ekspresi wajah Dokter Shinta yang berubah.
Dokter Shinta berlari meninggalkan ruangan, beberapa lembaran itu terjatuh. Semua yang berada di situ dapat melihat dengan jelas foto-foto yang menampilkan kedekatan Valendino dan Allena.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1