
Zefano bangun dari tidurnya setelah mendengar gedoran pintu. Bertanya pada Frisca apakah ayahnya datang menjemput tapi Frisca justru menyuruhnya jangan bersuara. Suara gedoran pintu kembali terdengar dan suara itu semakin keras.
Frisca berpikir polisi datang untuk menangkapnya karena telah menculik Zefano. Frisca mendekap Zefano di dadanya dan bersiap-siap mengancam akan menjadikan Zefano sebagai sandera. Terdengar suara orang yang menggedor pintu.
"Nona, apa Nona ada di rumah? Kapan mau bayar sewa kost-nya? Kalau tidak punya uang keluar saja segera. Masih banyak yang mau sewa kamar ini!" teriak pemilik kamar kost itu.
Frisca menghembuskan nafas, wanita itu tidak begitu peduli dengan pemilik kamar. Hal yang ditakutkannya adalah polisi yang sekarang mungkin mulai mencarinya.
"Nona! Besok saya datang lagi! Awas kalau sembunyi saya punya kunci kamar ini. Kalau besok tidak sediakan uangnya silahkan angkat kaki!" teriak pemilik kamar kost.
Frisca mendelik mendengar teriakan ancaman dari pemilik kamar namun tetap diam di tempatnya. Suara pemilik kamar sudah tidak terdengar lagi, berpura-pura tidak berada di kamar untuk menghindari tagihan sewa kamar adalah taktik Frisca.
Gedor-gedor pintu, bikin kaget saja, aku tidak punya uang! Kalau aku punya uang untuk apa aku bertahan di sini. Lebih baik aku sewa kamar hotel, jerit hati Frisca.
Frisca melepaskan dekapannya pada Zefano, wanita itu mengkode Zefano untuk melanjutkan tidurnya. Anak itu mengangguk seolah-olah mengerti bahwa dia tidak boleh bersuara. Frisca pun kembali duduk perlahan.
Kalau besok benar-benar menerobos masuk ke sini bagaimana? Aah, sial, berarti harus kabur lagi? Pemilik kost ini benar-benar ulet menagih uang sewa, jerit hati Frisca.
Frisca menatap Zefano yang kembali melanjutkan tidur siangnya. Frisca pun ikut istirahat siang dan terbangun menjelang sore.
"Tante, Papa belum datang menjemput?" bisik Zefano begitu bangun.
Frisca mendelik, sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan anak itu.
"Itu untuk makan malam," ucap Frisca sambil menunjuk dengan mulutnya mie instan kemasan cup di atas meja tamu.
Zefano menatap makanan yang selalu ingin dicoba rasanya itu. Namun saat menoleh ke arah jendela kaca, Zefano tercenung karena sudah se sore itu ayahnya masih belum menjemputnya.
Zefano ingin segera pulang untuk bertemu dengan ibunya tapi ayahnya belum juga menjemputnya, Zefano merasa sangat sedih. Ingin bertanya lagi pada Frisca tapi wanita itu terlihat tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Tante tolong antar Zeno pulang ya, Zeno nggak mau tunggu Papa. Habisnya Papa jemputnya lama," ucap Zefano pelan.
"Siapa yang mau antar kamu pulang? Papa kamu juga tidak akan menjemputmu karena dia tidak tahu kamu ada di sini," jawab Frisca.
Zefano ternganga sambil menatap Frisca tak mengerti.
"Tapi Tante bilang Papa mau jemput Zeno di sini. Harusnya Zeno tunggu Mama aja tadi," ucap Zefano.
"Aku bohong, mereka tidak tahu kamu ada di sini. Karena kamu sedang diculik, kamu tahu apa artinya diculik?" tanya Frisca sambil tersenyum miring.
Wajah Zefano berubah risau, matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah.
"Kamu tidak akan bertemu dengan Mama dan Papamu lagi. Kamu akan terpisah dengan mereka selamanya. Tante akan jual kamu ke tempat yang jauh biar kamu jadi anak orang lain. Lama kelamaan kamu akan lupa pada Mama dan Papamu dan mereka juga lupa padamu," ucap Frisca dengan senyum licik.
Mendengar itu mulut Zefano mengatup kuat untuk menahan air matanya. Matanya berkedip-kedip untuk menghilangkan air yang mulai muncul. Frisca tertawa terbahak-bahak menatap ekspresi wajah Zefano.
"Tante bohong!" teriak Zefano.
"Nggak, Tante nggak bohong kamu lihat sendiri 'kan? Tante nggak punya uang untuk bayar sewa kamar? Kalau kamu dijual Tante bisa punya uang untuk bayar sewa kamar ini," jawab Frisca.
"Tante jahat! Tante jahat!" jerit Zefano mulai terisak-isak.
Tangannya saling menggenggam erat, mata Zefano yang mengedip cepat membuat air matanya deras mengalir. Badannya berguncang terisak dengan mulut yang bertaut erat. Frisca tertawa setiap kali menatap hidung merah Zefano.
"Tadi senyum-senyum sekarang malah mewek, kamu cengeng sama seperti Mamamu," ucap Frisca memancing kesedihan Zefano.
Zefano mengangkat wajahnya menatap Frisca yang tersenyum meledek. Bahkan mencibir pada anak itu, bibir mungilnya bergerak meski tetap terkatup. Tawa Frisca semakin pecah hingga mengeluarkan titik bening di sudut matanya.
"Oh ya kamu benar Zefano, Papamu itu dulu sangat menyayangiku, sangat, sangat, sangat menyayangiku tapi sejak kedatangan Mamamu, Papamu menjadi berubah dia menjauh dariku. Mamamu merebut Papamu dariku, Mamamu jahat, Mamamu…,"
"Nggak! Mama nggak jahat, makanya Papa sayang sama Mama. Tante yang jahat!" teriak Zefano.
"Bukannya kamu lihat sendiri di foto itu Papamu peluk sambil mencium pipiku? Bukankah terlihat dia begitu sayang padaku? Tapi sekarang aku tidak disayang lagi oleh Papamu karena tidak dibolehkan sama Mamamu. Mamamu melarang Papamu sayang padaku. Itu membuatku sedih karena Mamamu jahat, jahat sekali," tutur Frisca.
__ADS_1
"Nggak! Nggak! Mama nggak jahat, Mama nggak jahat," teriak Zefano.
Kali ini anak itu menangis, hatinya sedih karena ibunya dituduh sebagai orang yang jahat. Jika sedari tadi hanya menitikkan air mata, sekarang Zefano benar-benar menangis.
Frisca tertawa, ada kepuasan di hatinya mengerjai anak kecil itu. Tertawa terbahak-bahak seolah-olah rasa kesalnya pada kedua orang tua Zefano bisa terlampiaskan melalui anak itu. Tertawa hingga akhirnya tertegun sendiri sementara Zefano masih menangis.
"Kamu ingin kembali pada Mamamu?" tanya Frisca.
Pertanyaan yang berhasil membuat tangis Zefano mereda seketika.
"Berikan Papamu padaku maka aku akan berikan kamu pada Mamamu. Tapi kamu tidak bisa bertemu lagi dengan Papamu, bagaimana?" tanya Frisca sambil menahan tawa.
Karena terlihat raut bingung bercampur sedih di wajah Zefano. Kadang menunduk, kadang menatap ke arahnya lalu menunduk lagi seolah-olah ingin memberikan jawaban tapi ragu-ragu.
Frisca kembali tertawa, tak puas-puasnya mengerjai anak itu. Semakin Zefano terlihat bingung semakin jadi Frisca menggodanya. Hingga akhirnya malam menjelang, wanita itu memaksa Zefano memakan mie instan kemasan cup itu sebagai makan malam mereka.
Zefano memakan mie instan itu dengan sisa isak tangisnya. Zefano terlihat menikmati makan malamnya itu namun tubuhnya berguncang karena terlalu banyak menangis. Frisca menatap dengan perasaan menyesal, Zefano terlihat sangat menyukai makan malamnya namun kesulitan makan karena isak tangisnya yang masih tersisa.
Maaf ya, ucap Frisca dalam hati namun senyum di bibir.
Malam itu Zefano tidur di kursi tamu dan Frisca di ranjang single di hadapannya. Menoleh ke arah anak yang telah tertidur namun dengan tubuh yang sesekali masih berguncang.
Frisca melepas sepatu Zefano dan menyelimuti anak itu. Lalu kembali menatap Zefano sambil tersenyum pedih, menghembuskan nafas berat kemudian kembali ke ranjangnya.
Besok pagi harus pergi dari sini, ah tidak, sebelum pagi aku sudah harus kabur dari sini, batin Frisca.
Kembali berusaha memejamkan matanya. Ada perasaan takut ketiduran tapi juga harus tidur agar besok bisa bangun lebih cepat. Frisca berusaha mengosongkan pikirannya agar bisa secepatnya tertidur.
Frisca dan Zefano akhirnya tertidur di kamar yang sempit itu. Karena sedih dan lelah Zefano lebih cepat tertidur namun melewati tengah malam anak itu kembali terbangun karena mendengar rintihan Frisca. Anak itu segera mendekati wanita yang menangis sambil memegang perutnya itu.
"Tante sakit perut ya?" tanya Zefano dengan raut wajah yang khawatir.
Frisca menoleh ke arah Zefano dan hanya mengangguk seakan-akan tak sanggup berbicara.
Frisca menatap anak itu dengan air mata yang mengalir di samping kedua matanya. Tak terlihat dendam dan benci dari raut wajah Zefano yang ada hanya panik, khawatir dan takut.
Frisca menunjuk ke arah tas ransel yang tergeletak di lantai dekat pintu. Zefano langsung membongkar isi tas itu untuk menemukan obat apa pun yang ditemukannya kemudian menyerahkannya pada Frisca. Segera anak itu mengambilkan segelas air minum dari dispenser yang tak dinyalakan itu.
Frisca meminum obat lalu tidur terlentang menatap langit-langit kamar. Air matanya mengalir menahan sakit namun sekuat tenaga menahan rintihannya. Zefano mengusap perut Frisca dengan lembut.
"Kalau Zeno sakit perut biasanya dikasih minyak angin lalu diusap-usap seperti ini. Tapi Tante nggak punya minyak angin jadi diusap-usap aja ya, masih sakit ya Tante?" tanya Zefano.
Wanita itu menggelengkan kepalanya kuat namun air matanya mengalir. Saat itu juga Frisca merasa menyesal telah menjahati Zefano hanya demi kesenangannya melihat anak itu menangis.
Zefano kembali tersenyum saat melihat Frisca tak lagi merintih. Tangan kecil Zefano masih mengusap pelan perut Frisca.
Tanganmu tidak meredakan sakitku tapi membuat hatiku merasa nyaman, batin Frisca.
"Terima kasih Zefano," ucap Frisca yang dibalas dengan senyuman oleh Zefano.
Frisca kembali menyuruh anak itu tidur dan dia pun melanjutkan tidurnya. Paginya Frisca terlambat bangun dan dengan tergesa-gesa wanita itu membangunkan Zefano.
"Ayo bangun kita harus pergi dari sini," ucapnya sambil membawa tas ranselnya.
Begitu keluar dari kamar seorang bapak-bapak langsung menyambut mereka dan menangkap Zefano. Awalnya bapak itu terkejut karena melihat seorang anak kecil keluar dari pintu kamar Frisca namun kesempatan itu dipergunakannya untuk menahan Frisca.
Zefano panik karena tangannya digenggam oleh bapak itu.
"Mau kemana kalian ha? Aku sudah tahu akal bulus orang-orang seperti kalian. Seenaknya saja menginap tanpa bayar, ayo bayar dulu atau anak ini aku tahan," teriak bapak itu pada Frisca hingga membuat bangun penghuni kamar kost lainnya.
Zefano menangis karena ketakutan, melihat itu Frisca langsung memukuli bapak itu dengan tas ranselnya berkali-kali. Bapak itu terjatuh, Zefano pun terduduk di lantai. Frisca langsung menggendong Zefano dan segera berlari meninggalkan bapak itu.
Zefano yang digendong Frisca menatap ke belakang, terlihat bapak-bapak gemuk itu yang berusaha untuk duduk. Namun tatapan Zefano lebih pada tas ransel Frisca yang tertinggal bersama bapak itu.
__ADS_1
Frisca segera menaiki sebuah bus yang kebetulan lewat. Sambil terengah-engah menggendong Zefano lalu mencari tempat duduk. Anak itu menatap wajah Frisca yang berkeringat. Lalu mengelap keringat Frisca dengan telapak tangannya.
"Harta terakhirku sudah lenyap," ucap Frisca pelan dengan nafas yang masih tersengal.
"Obat Tante juga ketinggalan," ucap Zefano.
Frisca menatap anak yang memandangnya dengan iba. Frisca tersenyum, kejadian seperti tadi sudah sering dilaluinya baik saat telah sendiri maupun saat masih menikah dengan Bobby.
Sedikit demi sedikit barang-barangnya harus rela ditinggal atau hilang karena tak sempat dikemas karena harus segera pergi. Hidup berpindah-pindah dari satu kamar kost ke kamar kost yang lain. Tas ransel itu adalah barang terakhirnya, isinya tak banyak hanya satu setel pakaian dan obat-obatan.
Frisca menatap jalanan melalui jendela kaca bus. Membiarkan bus itu membawanya entah ke mana. Biasanya saat kenek bus meminta ongkos dia akan berpura-pura kecopetan dan kemudian dia pun diminta turun. Tak peduli akan diturunkan di mana yang penting telah pergi jauh dari pemilik kost yang menagih bayaran.
Frisca duduk di emperan sebuah toko yang telah terbengkalai. Wanita itu duduk termenung sambil bersandar di tiang toko. Pikirannya kosong, tubuh otak dan jiwanya lelah. Frisca menatap Zefano yang juga terlihat lelah.
Anak ini sedang sakit harusnya aku tidak membawanya ikut dalam kesulitan hidupku, batin Frisca.
Tiba-tiba perutnya terasa nyeri, lama kelamaan rasa nyeri itu semakin terasa. Wanita itu bahkan meringkuk menahan sakit di atas emperan toko itu. Zefano langsung panik, teringat Frisca yang harus meminum obatnya tapi tas ransel berisi obat-obatan itu telah tertinggal.
Pandangan Zefano mengitari sekeliling daerah yang masih asing baginya dan terhenti pada toko sembako yang tidak terlalu besar dan tak jauh dari tempat mereka melepas lelah. Zefano langsung berlari mendatangi toko itu.
"Buk! Pak! Tolong! Apa ada obat sakit perut?" teriak Zefano yang tak melihat pedagangnya.
Setelah menunggu dan berteriak sekali lagi, seorang laki-laki muncul sambil tersenyum.
"Kalau beli obat di apotik atau di toko obat," ucapnya sambil tersenyum menunduk menatap Zefano.
Zefano kembali panik, matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah. Penjaga toko itu merasa heran dengan sikap Zefano dan bertanya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya penjaga toko itu.
Zefano menunjuk Frisca yang telah berguling menahan sakit. Laki-laki penjaga toko itu menoleh dan memperhatikan, ada keraguan di hatinya karena takut mungkin sebuah penipuan tapi melihat raut wajah Zefano yang begitu sedih, bergegas laki-laki itu menghampiri Frisca.
Laki-laki itu menatap wajah Frisca yang telah pucat dengan keringat yang membanjiri. Laki-laki itu bertanya pada Frisca dan menanyakan nama obat yang biasa di minumnya. Frisca pun menjawab dengan susah payah.
Laki-laki itu pergi ke tokonya sekejap lalu keluar dari rumahnya menggunakan sepeda motor. Zefano hanya bisa memandang laki-laki itu mengemudikan motornya dengan kencang. Dalam waktu singkat laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi. Zefano beralih menatap Frisca lalu menangis karena tidak tega melihat wanita itu kesakitan.
Frisca menjulurkan tangannya, anak itu langsung mendekat dan duduk disamping Frisca. Wanita itu meraih tangan Zefano dan meletakkan tangan kecil itu di perutnya. Frisca lelah menahan sakit hingga meminta Zefano mengusap perutnya.
Zefano mengusap perut Frisca dengan sebelah tangan lagi menghapus air matanya sendiri. Mengusap perut itu seperti yang dilakukannya tadi malam. Frisca tersenyum dengan bibirnya yang pucat, air matanya mengalir di samping matanya.
"Nanti…, kasih tahu.., Om tadi.., kalau Tante.., menculik Zeno. Dia.., pasti mau.., mengantar Zeno pulang..," ucap Frisca.
Wanita itu telah pasrah jika harus tertangkap atau dilaporkan ke polisi. Zefano diam, hanya fokus mengusap dan menghapus air matanya. Tak lama kemudian laki-laki tadi datang dengan membawa sebotol air mineral dan bungkusan berisi obat-obatan. Laki-laki itu membantu Frisca meminum obatnya.
"Di samping rumahku ada kamar yang dijadikan gudang. Kalau kamu mau bisa beristirahat di sana," ucap laki-laki itu.
Frisca tidak menjawab, wanita itu hanya memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas berat. Laki-laki itu menoleh pada Zefano yang menghapus air matanya cepat.
Akhirnya laki-laki itu memutuskan menggendong Frisca menuju samping rumahnya. Zefano berjalan mengikuti. Seorang gadis kecil keluar dari toko sembako itu dan menatap laki-laki itu.
"Tante ini sakit, kita biarkan dia istirahat di kamar samping ya?" tanya laki-laki itu pada si gadis kecil.
Gadis kecil itu menoleh ke arah Frisca yang memejamkan mata kemudian mengangguk. Laki-laki itu meminta gadis kecil itu mengambil kunci kamar dan membukanya. Gadis kecil itu masuk ke dalam toko lalu membukakan pintu kamar itu. Laki-laki itu masuk dan merebahkan Frisca di ranjang kecil dalam ruangan sempit itu.
"Aku akan memindahkan barang-barang ini ke tempat lain," ucap laki-laki itu.
"Tidak usah, kami hanya istirahat sebentar lalu pergi," ucap Frisca dengan nafas yang masih terdengar keras.
Laki-laki itu urung memindahkan barang, lalu beralih menatap Zefano yang berdiri di ujung ranjang. Tersenyum sekilas pada anak itu lalu pamit keluar kamar.
Frisca mengulurkan tangannya dan meminta Zefano tidur di sampingnya. Frisca merasa khawatir anak itu kelelahan. Frisca tidur menyamping sambil memeluk Zefano, mereka tertidur karena lelah hati dan tubuh mereka.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1