
Frisca meminta Zefano tidur di sampingnya. Frisca merasa khawatir anak yang baru saja diizinkan keluar dari rumah sakit itu menjadi kelelahan. Frisca tidur sambil memeluk Zefano. Dalam sekejap mereka telah tertidur karena lelah hati dan tubuh mereka.
Tiba-tiba terdengar suara pintu digebrak, beberapa orang polisi masuk dan menodongkan senjata ke arah mereka. Frisca bangun begitu juga dengan Zefano.
Karena kaget dan takut, Zefano langsung memeluk Frisca. Wanita itu langsung menggendong Zefano. Tiba-tiba Allena masuk dan meminta Zefano melepaskan pelukannya dan datang ke arahnya.
"Zeno, ke sini sayang! Ini Mama datang untuk menjemput Zeno," ucap Allena langsung membujuk Zefano sambil memegang dadanya.
Tapi Zefano menggelengkan kepala.
"Nggak mau, Mama jahat! Mama udah rebut Papa dari Tante Frisca, Mama jahat! Mama juga nggak jaga Zeno baik-baik jadinya Zeno hilang," ucap Zefano masih melingkarkan tangannya di leher Frisca.
Air mata Allena langsung mengalir, wanita itu tidak menyangka dalam waktu sekejap Zefano telah membencinya.
"Ayo nak kemarilah, ikut sama Mama. Kita berkumpul lagi sama Papa, Nenek, Oma, semuanya. Mereka semua menunggu Zeno, mereka khawatir sama Zeno," ucap Allena sambil menekan dadanya yang terasa sakit.
Namun, Zefano tetap saja menggelengkan kepalanya.
"Mama kumpul saja sama mereka, Zeno nggak mau ninggalin Tante Frisca sendiri. Mama jahat! Mama yang bikin Tante Frisca hidup sendirian! Mama yang bikin Zeno hilang!" ucap Zefano.
Mendengar Zefano yang menolak diajak ibunya, Frisca langsung keluar sambil tetap menggendong Zefano. Para polisi tetap menodongkan senjata namun hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa karena Zefano ada dalam pelukan Frisca.
"Zeno jangan pergi! Mama minta maaf, Mama akan selalu jaga Zeno. Jangan pergi nak, jangan tinggalkan Mama!" jerit Allena.
Tapi Frisca tetap saja membawa Zefano pergi, anak itu bahkan memalingkan wajahnya. Allena mengejar dengan susah payah.
"Nyonya Frisca jangan bawa anakku! Berhenti jangan bawa anakku! Zeno jangan pergi! Frisca kembalikan anakku! Kembalikan! Jangan pergi! Zeno!" teriak Allena.
Meski susah payah Allena tetap mengejar. Wanita itu bahkan terjatuh dan menatap putranya yang naik bus dengan digendong. Allena berusaha bangkit namun kakinya terasa berat. Wanita itu tetap melambaikan tangannya memanggil meski Zefano telah bergerak menjauh.
Terlihat dari kaca bus Zefano yang diam memandang ibunya. Allena menangis sejadi-jadinya namun tak ada yang mencoba menghentikan Zefano. Anak itu telah pergi dan semakin menjauh.
"Zenooo! Jangan pergi nak! Zeno! Zeno! Zeno!
Allena membuka matanya yang menangis. Allena mengusap air mata itu dan menatap jari-jari tangannya yang basah. Menatap langit-langit rumah sakit dan segera bangun. Zefran yang duduk sambil memandangi laptop terkejut melihat istrinya yang tiba-tiba terbangun dan langsung duduk.
"Sayang kenapa? Kenapa bangun?" tanya Zefran masih duduk di depan meja kerja.
"Zeno, aku melihatnya pergi bersama Frisca," ucap Allena yang turun dari ranjang rumah sakit.
"Allena! Kamu mau kemana? Kamu masih lemah, kamu harus istirahat," ucap Zefran segera menghampiri istrinya.
"Zeno dibawa Frisca!" ucap Allena dengan suara yang meninggi.
"Ya! Kita sudah tahu kalau Frisca yang membawanya. Sekarang polisi sedang mencari mereka, kita harus sabar menunggu kabar dari mereka," ucap Zefran membujuk istrinya.
"Aku akan mencarinya sendiri, aku yang harus membujuk sendiri. Zeno marah padaku karena aku tidak menjaganya. Zeno menyalahkan aku yang bersikap jahat pada Nyonya Frisca. Zeno tidak mau kembali padaku karena aku wanita jahat dan lalai menjaganya. Aku akan mencarinya sendiri, aku akan membujuknya, aku..,"
"Cukup! Kamu ini bicara apa? Kamu akan mencarinya ke mana? Lihat keadaanmu sekarang, kamu itu masih lemah, mendengar Zeno dibawa Frisca kamu langsung jatuh pingsan. Bagaimana caramu mencarinya?" bentak Zefran.
Allena menatap Zefran dengan tatapan yang tajam. Dia tidak menjawab ucapan suaminya tapi juga tidak ingin dihalangi. Wanita itu kembali berjalan ke luar ruangan. Zefran menahan kedua bahu Allena dan mengguncangnya untuk menyadarkannya. Allena seperti masih terbawa mimpi.
Tiba-tiba Allena merasakan sakit di perutnya. Wanita itu hingga terduduk perlahan sambil memegang perutnya, Zefran memandangnya panik.
"Allena, kamu kenapa? Jangan bercanda Allena!" ucap Zefran panik dan menatap wajah Allena yang telah berkeringat.
Zefran langsung berlari memanggil petugas medis. Allena pun langsung ditangani oleh dokter spesialis kandungan. Dokter itu mengatakan bahwa Allena akan segera melahirkan. Mendengar itu Zefran bertambah panik.
Sebagian suster yang bekerja di situ mengetahui hubungan baik antara Allena dan Dokter Shinta, langsung saja suster itu mengabarkan pada dokter cantik itu tentang kondisi Allena. Dokter Shinta pun langsung berlari menemui Zefran.
"Apa yang terjadi? Apa benar Allena akan melahirkan?" tanya Shinta.
"Ya, dia ada di dalam, dia terlihat sangat kesakitan," ucap Zefran sambil menggigit kepala tangannya.
"Apa kamu tidak ingin menemaninya?" tanya Shinta heran.
"Apa? Aku tadi dari sana tapi aku tidak sanggup menyaksikannya. Sebentar-bentar dia meringis kesakitan tapi dokter mengatakan masih belum cukup bukaan. Aku benar-benar tidak mengerti katanya akan segera melahirkan tapi ternyata masih belum juga. Lalu sampai kapan dia akan merasakan kesakitan seperti itu?" tanya Zefran setengah curhat.
"Ibu hamil yang akan melahirkan memang seperti itu, kita doakan saja proses persalinannya lancar. Merasakan sakit seperti itu bahkan bisa dirasakan oleh seorang ibu semalaman bahkan hingga sehari semalam," jelas Shinta.
"Apa? Semalaman kesakitan seperti itu? Aku tidak bisa membayangkannya. Kenapa tidak dilakukan bedah Caesar saja?" tanya Zefran.
"Jika tidak ada masalah dan masih bisa dilahirkan secara normal kenapa harus bedah Caesar?" tanya Shinta balik.
"Ya, biar Allena tidak perlu merasakan kesakitan seperti itu. Bukankah proses operasi Caesar dimulai dengan pemberian anestesi hingga dia tidak perlu merasakan sakit sedikit pun?" tanya Zefran.
"Saat proses persalinan memang tidak merasakan sakit tapi setelah persalinan apa bekas sayatan itu bisa langsung sembuh dan tidak akan dirasakan sakitnya?" tanya Shinta.
"Oh benar juga, luka sayatan mana mungkin tidak merasa sakit," ucap Zefran berpikir sendiri.
__ADS_1
Kembali laki-laki itu teringat saat berada di ruang persalinan. Zefran menggenggam tangan Allena untuk memberi dukungan dan menguatkan hati istrinya. Namun setiap kali Allena merasakan kontraksi, wanita itu akan menggenggam tangan suaminya dengan erat hingga Zefran semakin merasa panik.
Saat tak ada kontraksi Allena akan memandang suaminya dengan tersenyum dan berterima kasih karena mau menemaninya. Zefran pun membantu mengusap keringat istrinya yang mengalir setiap saat karena menahan sakit. Saat itu hati Zefran sedikit tentram.
Tapi saat rasa sakit itu kembali datang, ekspresi kesakitan Allena membuat tubuh Zefran ikut gemetar dan Zefran terlihat sangat ketakutan. Hingga akhirnya Allena meminta suaminya untuk menunggu di luar karena merasa kasihan melihat laki-laki itu yang ketakutan.
Laki-laki itu akhirnya menunggu seorang diri di luar hingga Dokter Shinta datang.
"Zefran, kamu tidak ingin menghubungi keluarganya?" tanya Shinta.
"Apa? Oh ya ampun aku sampai lupa," ucap Zefran segera menghubungi ibunya, Bu Vina dan Rahma.
Siapa lagi ya? Oh ya Valen dan yang lain, batin Zefran.
Tiba-tiba Zefran tercenung sendiri, mengingat Valendino. Mengingat kemarahannya pada sahabatnya itu saat tidak memberinya kabar kelahiran putra pertamanya. Barulah hari ini terasa olehnya kepanikan saat menunggu kelahiran bisa membuat orang lupa melakukan hal kecil seperti itu.
Mengabarkan keluarga yang seharusnya dilakukan Valendino tapi tidak dilakukannya karena tidak ada yang mengingatkan. Laki-laki itu akhirnya lupa dan mengabarkan Zefran sesaat setelah Allena melahirkan.
"Terima kasih Dokter Shinta sudah mengingatkan saya menghubungi keluarga," ucap Zefran.
"Hmm, saya cukup sering melihat seorang suami yang kebingungan sendiri menunggu kelahiran istrinya. Saya pikir kenapa tidak menghubungi keluarga agar ada teman untuk saling mendukung? Mungkin karena terlalu panik jadi mereka sering lupa," jawab Shinta sambil tersenyum.
"Ya benar jika bukan karena Dokter Shinta, saya juga pasti akan kebingungan sendiri. Saya juga akan lupa menghubungi keluarga," balas Zefran juga tersenyum.
Tak lama kemudian keluarga besar pun datang. Langsung menanyakan keadaan Allena, Zefran menjawab dengan dibantu oleh Dokter Shinta.
"Dokter Shinta ini calon istri Valen Mom, dia juga yang mengingatkan saya menghubungi Mommy. Jika tidak, mungkin Mommy akan kehilangan momen menunggu kelahiran cucu untuk yang kedua kali," ucap Zefran sambil tersenyum malu.
"Dasar kamu ini! Kalau begitu terima kasih banyak Dokter Shinta karena telah mengingatkan Zefran," ucap Mahlika sambil menyalami Dokter Shinta.
Dokter cantik itu pun menyambut jabat tangan nyonya kaya yang masih cantik di usia tua itu dengan takzim.
Zefran tertunduk ketika mengingat Zefano yang hingga saat ini masih belum ditemukan. Begitu melihat Valendino datang tergesa-gesa, Zefran langsung mengangguk menanyakan kabar dari kepolisian namun Valendino membalas dengan gelengan kepala.
Tak satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Hanya diam tertunduk dengan raut wajah risau. Dokter Shinta menghembuskan nafas berat melihat tingkah Valendino dan Zefran yang saling memberi kode. Dokter Shinta juga mengerti maksud tatapan mereka. Dokter itu pun mendadak risau.
"Bu, aku akan menjenguk Zeno sebentar ya. Udah tiga hari nggak ketemu Zeno, aku kangen Bu," ucap Rahma pada Bu Vina.
"Zeno, dia sedang..,"
"Sudahlah Dokter Shinta, kita jelaskan saja apa yang terjadi sebenarnya," ucap Zefran.
"Ada apa? Kenapa dengan Zeno? Apa dia kritis lagi? Kenapa? Kenapa?" tanya Mahlika langsung panik.
"Zeno hilang Mom, kemarin saat akan keluar dari rumah sakit..,"
"APA? HILANG?"
Serentak Ny. Mahlika, Bu Vina dan Rahma berteriak kaget. Bu Vina bahkan terduduk, Rahma langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan air mata yang langsung mengalir. Ny. Mahlika memegang keningnya yang mendadak berdenyut.
"Kenapa bisa hilang di rumah sakit? Kita bisa mencarinya hingga ke setiap sudut rumah sakit ini? Kenapa hanya diam di sini?" tanya Mahlika.
"Dia dibawa Frisca Mom, kami tidak tahu bagaimana caranya dia bisa membujuk anak itu," ucap Valendino.
"Padahal mereka belum pernah bertemu 'kan?" tanya Shinta.
"Ya, terakhir Frisca bertemu Zeno saat anak itu masih bayi. Aku rasa Frisca sudah lama mengamati Zeno selama ini," ucap Zefran.
"Zeno, anak yang mudah bergaul. Dia selalu merasa semua orang itu adalah orang yang baik. Semua bisa menjadi temannya, semua disayanginya. Sama sekali tidak berpikiran kalau orang bisa saja berbuat jahat," ucap Shinta yang tertunduk sambil menghapus air matanya.
"Ya, aku yang memberinya nama Zefano. Nama itu memiliki arti orang yang senang bergaul. Dia merasa aman ketika dikelilingi orang banyak. Harapanku saat memberi nama itu agar dia menjadi seorang konselor yang hebat karena sangat mengerti sifat orang-orang. Percaya diri dan memiliki semangat untuk menjadi pribadi yang positif serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk orang banyak. Aku rasa itu lah sebabnya anak itu bisa bergaul dengan mudah di rumah sakit ini," jelas Mahlika.
"Konselor? Ya, pantas saja saat pertama kali bertemu denganku dia langsung menjadi penasehatku," ucap Shinta dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Saat bertemu denganku dia membantuku mengambilkan minum," kenang Zefran.
"Dia membantu siapa pun di rumah sakit ini," ucap Shinta lagi.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin berdiam diri di sini? Kita harus segera menemukannya," ucap Mahlika tak sabar.
"Kami sudah melapor Mommy, polisi sudah mulai mencari. Kami juga telah menyebar foto-foto Frisca dan Zeno di berbagai media maupun dengan menyebar poster. Kami bahkan menerjunkan para karyawan perusahaan untuk membantu menempelkan foto mereka di berbagai fasilitas umum. Tapi hingga saat ini belum ada yang memberi kabar," jelas Valendino.
"Jangan-jangan telah sampai di luar kota atau di luar negeri?" tanya Rahma sambil menangis.
"Kalau luar negeri rasanya tidak mungkin, bandara pasti akan mencekal mereka," jawab Valendino.
"Lalu di mana cucuku?" tanya Vina pelan.
Tidak ada yang bisa menjawab, semua hanya diam tertunduk. Hening dengan pikiran mereka masing-masing hingga saat pintu ruang bersalin di buka baru lah mereka semua kaget. Dokter spesialis kandungan langsung menghampiri.
__ADS_1
"Dokter Lusi bagaimana keadaan ibu dan bayi?" tanya Shinta langsung.
"Apa semuanya terlalu khusyuk berdoa hingga tak mendengar tangis bayinya yang begitu keras?" tanya Lusi.
"Ya ampun, sudah lahir? Apa mereka sehat?" tanya Shinta lagi.
"Ya, bayi perempuan yang sehat," jawab Lusi.
"Bagaimana dengan ibunya?" tanya Zefran.
"Ibunya sehat namun ada gejala depresi, apa sedang ada masalah atau hanya gejala baby blues syndrome?" tanya Lusi pada Zefran dan Dokter Shinta.
"Kami memang dalam masalah dokter? Zeno menghilang kemarin," ucap Shinta.
"Apa Zeno? Anak yang tampan dan lucu itu? Apa dia ibunya?" tanya Lusi sambil menunjuk ke ruang bersalin.
Dokter Shinta mengangguk, mata Dokter Lusi langsung berkaca-kaca.
"Anak itu hafal semua nama dokter di rumah sakit ini," ucap Lusi menunduk sambil menghembuskan nafas berat.
Lalu menepuk bahu Dokter Shinta dan berlalu sambil tangannya mengusap sudut matanya.
"Pak, buk, ibu dan anak bisa ditemui di ruang rawat inap nanti," ucap perawat yang baru muncul.
Mereka pun menunggu di ruang rawat inap. Tak lama kemudian Allena muncul dengan didorong para suster di atas brankar. Allena dipindahkan ke ranjang rumah sakit.
"Jangan terlalu banyak menangis ya Bu," nasehat suster itu pelan.
Allena mengangguk, para suster itu pun menganggukan kepala, pamit pada keluarga pasien lalu meninggalkan ruangan. Allena membalas pelukan keluarganya satu per satu dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
Rasa bahagia karena kelahiran bayinya tertutupi oleh rasa sedih kehilangan putranya. Ditambah lagi Allena yang paling merasa bersalah atas hilangnya Zefano. Meski seluruh anggota keluarga menghiburnya tetap saja raut wajah Allena tidak menunjukkan kebahagiaan.
Meski Allena tersenyum namun senyum itu hanyalah senyum yang dipaksakan. Melihat itu Dokter Shinta menarik tangan Zefran dan berbicara di sudut ruangan.
"Ini bahaya, jangan pernah tinggalkan Allena sendirian. Dia mengalami depresi dan baby blues syndrome memperburuk suasana hatinya. Dia bisa bunuh diri, kamu harus hati-hati menjaganya," ucap Shinta khawatir.
Zefran mengangguk.
"Aku tidak akan meninggalkan dia sedetik pun," ucap Zefran berjanji.
Dokter Shinta pun mengangguk, pesan itu pun disampaikannya pada Rahma agar gadis itu bisa membantu Zefran menjaga Allena.
Sementara itu di daerah lain, Frisca dan Zefano tertidur setelah letih berlari dan mengalami sakit di perutnya hingga akhirnya memilih beristirahat di sebuah paviliun kecil seorang pemilik toko sembako.
Terdengar ketukan pintu, sesaat kemudian laki-laki itu muncul sambil membawa nampan. Frisca dan Zefano yang tertidur hingga hampir menjelang siang pun langsung terbangun.
"Aku tidak tahu apa kalian sudah sarapan atau belum tapi hari sudah menjelang siang. Apa kalian tidak lapar?" tanya laki-laki itu.
Frisca dan Zefano otomatis bergerak duduk dan langsung menatap hidangan yang beraroma sedap itu.
"Hanya nasi goreng, itu masakanku yang paling istimewa selain itu aku hanya bisa memasak hidangan sederhana. Silahkan dicicipi," ucap laki-laki itu sambil mengambil nampan dan menyodorkannya pada Frisca dan Zefano.
Zefano memandang Frisca, wanita itu mengangguk. Zefano pun akhirnya mengambil piring berisi nasi goreng lengkap dengan sayuran dan telur mata sapi itu. Frisca pun ikut mengambil sepiring nasi goreng untuknya.
"Om sendiri apa udah makan?" tanya Zefano.
"Udah dong, Om dan anak Om udah makan waktu sarapan. Tadinya Om bikin nasi goreng yang banyak biar sekalian untuk sarapan kalian tapi ternyata kalian masih tidur. Jadi Om bawa lagi, barusan Om panaskan biar kalian enak makannya," jelas laki-laki itu.
"Rasanya enak Om," ucap Zefano polos.
"Makasih ya atas pujiannya, sebenarnya banyak yang bilang nasi goreng Om enak. Banyak yang menyarankan untuk bikin warung nasi goreng tapi belum mampu. Selain tidak ada modal, siapa juga yang akan membantu di toko kalau buka warung nasi goreng," jelas laki-laki itu lagi.
Zefano mengangguk sambil terus menikmati nasi goreng dihadapannya. Entah lapar karena semalam hanya makan mie instan atau memang karena enak. Mereka berdua dalam waktu singkat telah menghabiskan nasi goreng di hadapan mereka.
Gadis kecil yang tadi membukakan pintu berdiri malu-malu di depan pintu.
"Keisya, ayo sini!" ajak laki-laki itu.
Gadis kecil yang cantik itu mendekat, Zefano tersenyum padanya.
"Kalian mungkin sepantaran, ayo perkenalkan dirimu," ucap laki-laki itu pada putrinya.
Gadis kecil itu mengulurkan tangan pada Zefano dan menyebutkan namanya, Zefano membalas menyebut namanya begitu juga pada Frisca. Lalu duduk di pangkuan ayahnya di kursi plastik.
"Kalau nama Om, Rivaldo," ucap Rivaldo sambil mengulurkan tangannya pada Zefano kemudian pada Frisca.
"Tapi sebaiknya dipanggil Valdo saja daripada dipanggil Rival nanti jadi lawan terus," ucap Rivaldo membuat Frisca sontak tersenyum.
Rivaldo ikut tersenyum melihat Frisca yang tersenyum sambil menunduk. Laki-laki tampan itu memandang putrinya yang tertawa menghadap ke arahnya. Rivaldo mencubit puncak hidung putrinya lalu mencium pipi putih gadis kecil itu. Semua itu tak luput dari pandangan Frisca yang tanpa sengaja tersenyum melihat tingkah keduanya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...