
Allena mendorong kursi roda suaminya, wanita benar-benar mengajak Zefran bermain di ruangan bermain anak-anak mereka.
"Kamu benar-benar ingin meledekku ya?" tanya Zefran.
"Nggak Kak, kalau Kakak di sini kita bisa bermain bersama-sama dengan anak-anak," jawab Allena.
"Aku pikir kamu ingin aku latihan berjalan bareng Zifara," ucap Zefran.
"Ya, sekalian," ucap Allena.
"Sini kamu."
"Apa?"
"Sini, ke depan sini!" seru Zefran menoleh ke arah Allena.
Allena yang sedang mendorong kursi roda suaminya bergerak ke depan. Allena tak mengerti sebabnya.
Apa Kakak marah? Batin Allena.
Zefran menangkup wajah istrinya.
"Berarti kamu benar-benar ingin meledekku ya, mentang-mentang aku baru belajar jalan," ucap Zefran sambil menggoyang-goyangkan wajah Allena ke kiri dan ke kanan.
"Nggak!!" jawab Allena sambil tertawa.
Mereka teguh dengan ucapan masing-masing.
"Ya!" ucap Zefran lalu tiba-tiba mengecup bibir istrinya.
"Kakak! Nanti, dilihat pelayan sini," ucap Allena.
"Kamu maunya dilihat pelayan mana? Pelayan hotel?" tanya Zefran.
"Bukan itu maksudku," ucap Allena tertawa.
Allena meski sering diperlakukan mesra oleh Zefran tetap merasa jengah dilihat orang yang dikenalnya. Apalagi di hadapan orang-orang tak terbiasa melihat kemesraan suami istri.
"Aku jadi ingin menginap di hotel sayang. Kita belum pernah berbulan madu 'kan?" tanya Zefran sambil menggenggam kedua tangan istrinya.
"Bukannya kita sudah berbulan madu?" tanya Allena.
"Kapan? Dengan suamimu yang mana kamu berbulan madu?" tanya Zefran.
Allena mencubit pinggang suaminya. Zefran mengelinjang kegelian. Sebenarnya Allena sensitif dengan tuduhan seperti itu. Allena bisa saja menganggap ucapan Zefran adalah tuduhan yang serius, mengingat laki-laki itu memang pencemburu.
__ADS_1
Tapi melihat Zefran yang tertawa, Allena lega. Dituduh berbulan madu dengan laki-laki lain sebenarnya membuatnya cukup merasa sedih. Allena selalu menjaga dirinya hanya untuk suaminya. Pernah mencoba mencintai Valendino namun akhirnya tak berhasil. Allena selalu menyesali hatinya yang sempat goyah ke arah laki-laki itu.
Allena lanjut mendorong kursi roda suaminya ke ruang bermain anak-anak. Seperti yang mereka duga, Zefano dan Zifara sedang berada di ruangan itu. Zefano asyik mengerjakan permainan edukasinya dan Zifara dilatih berjalan oleh baby sitter-nya.
Allena juga mengajak Zefran berjalan ke arahnya setelah berlatih melemaskan otot-ototnya. Zefran mulai melangkah perlahan. Sesekali melihat Zifara yang juga belajar berjalan. Zefran sampai di hadapan Allena dan langsung memeluk wanita cantik itu.
"Kakak capek?" tanya Allena.
"Belumlah, masa satu kali jalan langsung capek. Sebenarnya pekerjaannya tak berat. Tapi perasaan takut yang membuatnya jadi terasa berat," jelas Zefran.
"Ya, Kakak yang berjalan, aku yang ngos-ngosan," ucap Allena.
"Itu tidak adil 'kan? Maunya kita itu ngos-ngosan berdua ya 'kan?" tanya Zefran.
"Sstt, Kakak jangan genit gitu ada Santi, dia itu masih gadis," bisik Allena.
"Nanti juga bakal menikah, tidak apa-apa biar dia lebih expert sebelum menikah," sanggah Zefran.
Allena mencubit pinggang laki-laki itu. Allena melihat Santi yang ingin beranjak pergi.
"Mau kemana San?" tanya Allena merasa tak enak hati.
"Mau ambil popok Zara Nyonya," jawab baby sitter itu.
"Biar, saya yang ambil ya," ucap Allena.
Allena bertanya untuk siapa ditujukan namun pelayan itu bingung karena tak mengetahui untuk siapa. Allena segera mengambil kartu kecil yang terselip di sela-sela bunga dan membacanya.
^^^Semoga lekas sembuh ya sayang^^^
^^^Z love Z^^^
Semoga lekas sembuh? Berarti untuk Kakak? Tapi dari siapa ini? Z love Z, dia cuma memberi inisial. Kurang ajar! Ingin menggoda suamiku? Tak akan aku biarkan, batin Allena.
Allena membawa buket bunga itu dan berjalan hingga ke luar gerbang, di bak sampah besar itu Allena hendak membuangnya. Tak perlu menyuruh pelayan melakukan itu, Allena akan lebih puas melakukannya sendiri. Baru akan melemparnya ke bak sampah besar itu seorang pemulung berteriak memanggil.
"Nyonya maaf, apa itu akan dibuang?" tanya pemulung itu.
"Ya,"
"Boleh untuk saya saja," ucap pemulung itu.
"Boleh, ambillah," ucap Allena.
Wanita itu menyerahkan buket bunga itu pada si pemulung dan kembali masuk ke halaman rumahnya.
__ADS_1
Rasain, buket bungamu jatuh ke tangan pemulung. Goda tuh pemulung sampai puas, batin Allena.
Wanita itu langsung masuk ke ruang bermain anak-anak.
"Kok lama sekali sayang?" tanya Zefran.
"Ada sedikit urusan," jawab Allena.
Wanita itu kembali bermain bersama suami dan anak-anaknya. Berusaha menghilangkan pikiran dari pengirim buket bunga tadi tapi tetap saja terlintas di benaknya pertanyaan siapa pengirim buket bunga itu.
Wanita itu jadi sering melamun, mencoba mencari siapa kira-kira orang yang dikenalnya yang berinisial Z. Hingga Allena tak menyadari saat Zifara jatuh terlentang diatas karpet.
"SAYANG!" teriak Zefran berlari mengejar Zifara dan langsung menggendongnya.
Allena tersadar dan langsung mengejar.
"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa sayang, jangan nangis ya," ucap Zefran menimang putrinya.
Mata Allena langsung berkaca-kaca, menyesali dirinya yang lengah hingga membuat putrinya terjatuh justru di hadapannya. Dan yang lebih membuatnya sedih adalah berpikir bahwa Zefran pasti akan menyalahkan dirinya.
Tapi laki-laki itu hanya sibuk menimang-nimang putrinya tanpa sedikit pun berkata-kata pada Allena.
"Kenapa Nyonya?" tanya Santi yang baru datang dengan susu formula di tangannya.
Sementara dia melihat Zefran sedang menimang Zifara yang tengah menangis. Allena bahkan tak berani menawarkan diri menggendong anak itu. Seolah-olah tak becus mengurusnya tiba-tiba merasa peduli padanya.
Santi mengambil alih Zifara dan segera memberi susu pada bayi itu. Mata Allena yang berkaca-kaca kini mengalirkan air mata. Zefran menoleh pada Allena yang termangu dan terlihat begitu menyesal.
"Kamu kenapa sayang, kok malah menangis?" tanya Zefran langsung mendekati istrinya dan memeluk wanita yang dicintainya itu.
"Anak kecil jatuh saat belajar berjalan itu hal yang biasa sayang, kenapa begitu khawatir?" tanya Zefran berusaha menenangkan hati istrinya.
Aku takut Kakak menyalahkanku, aku takut dibilang tak becus menjaganya, maaf Kak. Harusnya aku tak perlu peduli lagi dengan pengirim buket bunga itu, maafkan aku Kak, batin Allena.
Anehnya justru dihibur suaminya, Allena justru merasa lebih sedih. Seolah-olah dia lebih pantas menerima kemarahan daripada penghiburan.
"Lho aneh, dibilang nggak apa-apa kok malah tangisnya makin kencang?" tanya suaminya sambil mengusap punggung istrinya.
"Maafkan aku Kak," ucap Allena.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi juga Zara pasti ingin jalan lagi," ucapnya menghibur istrinya.
Zefran mengangkat dagu wanita itu, lalu mengecup bibirnya. Allena lega, Zefran benar-benar tak terlihat marah padanya, wanita itu tersenyum mendapat kecupan manis dari suaminya air matanya masih mengalir.
"Untung saja sudah tersenyum kalau tidak aku gendong juga kamu biar diam," ucap Zefran.
__ADS_1
Allena sontak menoleh ke arah kaki Zefran, laki-laki itu seolah-olah telah kokoh berdiri tanpa rasa gamang sedikit pun. Zefran bahkan tak menyangka kalau tadi dia berlari mengejar Zifara yang jatuh di karpet. Zefran merasa kalau dia benar-benar telah sembuh sekarang.
...~ Bersambung ~...