Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 57 ~ Kembali Bersama ~


__ADS_3

Polisi langsung memborgol Dokter Shinta dan membawanya pergi. Zefano menjerit ingin mengejar namun Valendino menahan tubuh mungilnya. Tangan kecil Zefano melambai-lambai memanggil dokter itu untuk kembali. Dokter Shinta menangis berjalan sambil menoleh ke arah anak yang menjerit menangis memanggil namanya.


Dokter Shinta telah hilang dari pandangan namun tangis Zefano masih belum reda. Anak itu menangis sambil memeluk Valendino. Allena dan Zefran yang sedang berjalan tersenyum sambil bergandeng tangan kaget saat melihat putra mereka sesenggukan di bahu Valendino.


"Zeno kenapa nak? Kenapa Valen, kenapa dia?" ucap Zefran bertubi-tubi sambil meraih tubuh Zefano dan menggendongnya.


Valendino bangkit dari duduk berlututnya. Dengan wajah risau menceritakan tentang penangkapan Dokter Shinta di depan mata mereka.


"Siapa Dokter Shinta?" tanya Zefran memotong cerita Valendino yang sama sekali tidak mengingat dokter itu.


"Dia dokter yang membantu Frisca membuat hasil tes DNA palsu," jelas Valendino.


"Apa? Kalau begitu, apa masalahnya kalau dia ditangkap? Dia memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," balas Zefran.


"Dia juga yang akhirnya menyerahkan dokumen asli itu padaku agar kamu bisa menolong anakmu," ucap Valendino.


"Kalau begitu dia sudah menolong kita," ucap Allena.


"Dia hanya memperbaiki kesalahannya sayang, bukannya menolong," jawab Zefran.


"Jika dia tidak mengungkapkan kebenarannya dia akan selamat. Tapi dia memilih menolong kita dan itu membuat Zeno jadi tertolong" jelas Allena.


"Pikiranmu sama dengan pikiran Zeno karena itu Zeno memaafkannya. Dari dulu Zeno memang sangat menyayangi Dokter Shinta. Mereka sudah saling mengenal sejak pertama kali Zeno dirawat di rumah sakit ini," jelas Valendino kemudian.


"Lalu siapa yang melaporkannya? Kenapa polisi bisa mengetahu adanya pemalsuan dokumen itu? Apa Kakak yang melaporkannya?" tanya Allena.


"Tidak, aku belum sempat memikirkan itu," ucap Zefran sambil mengusap punggung Zefano yang masih menyisakan isak tangisnya.


"Aku pikir kalian yang melaporkannya, Zeno sangat terpukul waktu melihat Dokter Shinta dibawa pergi," jelas Valendino.


"Kami benar-benar tidak melaporkannya tapi siapa lagi yang mengetahui tentang pemalsuan dokumen itu?" tanya Allena.


"Maaf Zefran, apa mungkin Mommy yang melaporkannya? Aku menceritakan tentang pemalsuan dokumen itu untuk menyakinkan Mommy bahwa Zeno benar-benar cucu Mommy," ucap Valendino.


"Kalau begitu, kita tanyakan langsung sama Mommy," ucap Zefran.


Mereka bersama-sama kembali ke ruang rawat inap Zefano. Di ruangan itu sedang berbincang Ny. Mahlika dan Bu Vina. Sejak transplantasi Zefano dilakukan Ny. Mahlika rajin menjenguk Zefano. Karena nyonya itu memang menyayangi Zefano sejak anak itu lahir namun karena dokumen palsu itu membuat perasaan Ny. Mahlika kecewa dan merasa ditipu.


"Ada yang ingin kami tanyakan sama Mommy," tanya Zefran.


"Ada apa nak?" tanya Mahlika balik.


"Apa Mommy yang melaporkan Dokter Shinta dengan tuduhan pemalsuan dokumen?" tanya Zefran.


"Ya, apa sudah ada tindakan dari kepolisian?" tanya Mahlika.


"Mom, kami tidak berniat melaporkan Dokter Shinta," ucap Allena.


"Kenapa? Dia telah melakukan tindak kejahatan yang merugikan kita. Kamu dan anakmu terpisah dari keluarganya sekian tahun karena perbuatannya. Lagipula Mommy lakukan itu agar dalang dari pemalsuan dokumen itu juga tertangkap," jelas Mahlika.


"Jadi Mommy ingin menyasar Frisca?" tanya Zefran.


"Ya, Mommy tidak akan tinggal diam. Setelah menipu Mommy selama bertahun-tahun, Mommy harus melakukan sesuatu untuk memberi dia pelajaran," ucap Mahlika dengan emosi.


"Tapi akhirnya mengorbankan Dokter Shinta, Mom," ucap Allena yang tidak setuju.


"Mengorbankan? Allena, mereka itu sekongkol, dia bukan korban tapi dia itu juga pelaku. Mommy berharap dengan ditangkapnya dokter jahat itu Frisca juga ikut tertangkap," ucap Mahlika.


"Oma, Dokter Shinta bukan dokter jahat, Dokter Shinta itu baik. Dokter Shinta teman Zeno, Oma," ucap Zeno menoleh pada Ny. Mahlika setelah sejak tadi menempel di bahu ayahnya.


Ny. Mahlika bangun dan mengusap punggung Zefano yang terusik dengan pembicaraan mereka.


"Zeno, dokter itu telah melakukan kesalahan dan berbuat salah itu harus mendapat hukuman agar jera dan tidak berbuat salah lagi," jelas Mahlika.


"Dokter Shinta janji sama Zeno tidak akan berbuat jahat lagi. Jadi Zeno sudah maafkan Dokter Shinta. Oma minta maaf sama Mama karena Oma juga berbuat salah. Tapi Mama tidak suruh polisi tangkap Oma. Kalau sayang kita harus maafkan, kalau maafkan kita tidak lapor polisi," ucap Zefano kembali terisak-isak memeluk Papanya.


Ny. Mahlika tercenung, tidak hanya Ny. Mahlika semua terdiam mendengar ucapan cucu nyonya itu. Zeno berpikir polos namun justru mampu menyindir nyonya besar itu. Di depan Zefano Ny. Mahlika meminta maaf pada Allena dan ibunya. Membuat Zefano merasa neneknya itu memiliki kesalahan dan dimaafkan begitu saja oleh ibunya.


"Mom, Zeno sangat menyayangi Dokter Shinta. Meski saya tidak mengenalnya langsung tapi saya tahu Zeno dan Dokter Shinta sangat dekat. Saya sering mendengar cerita tentang Dokter Shinta dari Zeno. Dokter Shinta ditangkap di depan matanya membuat Zeno terguncang. Sejak tadi dia tidak berhenti menangis, Zeno merasa sangat sedih melihat Dokter Shinta dibawa pergi polisi. Ini bisa mendatangkan trauma baginya Mom," ucap Allena menjelaskan sekaligus memohon.


Ny. Mahlika terdiam lalu menatap wajah Zefano yang masih menempel di bahu Zefran. Air matanya masih mengalir dan isaknya masih mengguncang tubuhnya.


"Mom, kita cabut saja laporan. Kita selesaikan secara kekeluargaan," ucap Zefran.


Ny. Mahlika berpikir sejenak lalu kembali menoleh pada cucunya.


"Baiklah Zeno, kita lepaskan Dokter Shinta demi cucu Oma yang sangat Oma sayangi ini," ucap Mahlika sambil tersenyum mengusap punggung Zefano.


Anak itu langsung menoleh pada neneknya dan merentangkan tangannya. Zefano memeluk Ny. Mahlika dengan masih digendong Zefran.


"Makasih Oma," ucap Zefano memeluk Ny. Mahlika lalu mencium pipi neneknya itu.


Ny. Mahlika bahagia mendapat ciuman dari cucu kesayangannya. Valendino menoleh dan tersenyum pada Allena menunjukkan rasa terima kasihnya pada gadis itu.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya Dokter Shinta itu pacar Zeno atau pacar Uncle Val?" tanya Allena menggoda putranya.


Mendengar itu Zefano langsung ingin berpindah di gendong oleh Mamanya.


"Jangan sayang, biar Papa saja yang gendong Zeno. Kasihan adek yang ada dalam perut Mama," ucap Zefran.


"Apa? Apa Allena mengandung?" tanya Mahlika langsung terperangah.


"Ya Mom karena itu saya tidak boleh menjadi pendonor," jelas Allena.


Ny. Mahlika langsung memeluk Allena, wanita yang telah tua itu terharu mendapatkan kabar yang paling disukainya selama bertahun-tahun.


"Mommy merasa aneh saat memelukmu tapi pikiran aneh itu terlupakan saat kamu bersedia memaafkan Mommy. Selamat ya sayang, Mommy harus ekstra hati-hati menjagamu kali ini jangan sampai ada masalah lagi," ucap Mahlika sambil mengusap perut Allena yang belum begitu terlihat besar karena gadis itu yang selalu mengenakan gaun yang longgar.


"Terima kasih Mommy, saya akan jaga baik-baik bayi ini. Mudah-mudahan selalu sehat dan tidak ada masalah saat kelahirannya nanti," ucap Allena.


"Kamu tidak merasakan mual seperti dulu?" tanya Mahlika.


"Anehnya, saya sama sekali tidak merasakan apa-apa Mommy. Bahkan saya tidak sadar kalau telah hamil sampai-sampai saya tidak percaya saat dokter memberitahu," cerita Allena sambil tersenyum.


Ny. Mahlika tersenyum membelai wajah Allena, Zefano menoleh ke arah perut ibunya. Ny. Mahlika langsung memberitahu kalau dia akan memiliki seorang adik.


"Zeno nggak mau adek," ucap anak itu langsung memeluk ayahnya.


"Kenapa Zeno nggak mau adek?" tanya Zefran sambil mengusap punggung Zefano.


"Teman Zeno bilang kalau punya adek, Papa dan Mama jadi nggak sayang lagi," ucap Zefano pelan.


"Nggak mungkin sayang, Zeno masih tetap anak Mama dan Papa mana mungkin nggak sayang lagi? Bahkan makin sayang kalau Zeno jadi seorang abang yang bisa menjaga dan melindungi adiknya," ucap Zefran.


"Benarkah? Papa nggak bohong?" tanya Zefano.


"Apa pernah Papa bohong? Papa pernah cerita sama Zeno kalau Papa sangat sayang sama anak dan istri Papa meski hidup terpisah. Bukankah sekarang Zeno lihat sendiri kalau Papa sayang sama Zeno," ucap Zefran yang di balas anggukan sambil tertawa oleh Zefano.


Zefran mengecup kedua pipi anak itu lalu merebahkannya di ranjang rumah sakit.


"Sekarang Zeno istirahat ya, biar cepat sembuh," ucap Zefran sambil mengusap kening anaknya dan mencium kedua pipinya.


"Kalau begitu kapan kalian kembali ke rumah?" tanya Mahlika setengah berbisik pada Allena.


Allena dan Zefran saling berpandangan lalu Allena beralih memandang ibunya. Ibu Vina mengangguk menyetujui.


"Secepatnya ya sayang, kita bisa sama-sama menjaga Zeno dan bayi kita di rumah," bujuk Zefran sambil meraih kedua tangan istrinya.


"Tentu, kalau perlu aku yang akan membantumu bersiap-siap," ucap Zefran sambil tersenyum senang.


"Tidak perlu," ucap Allena sambil tersenyum.


Zefran memeluk istrinya.


"Jangan pamer kemesraan di sini, ini rumah sakit. Apa tidak kasihan sama yang masih jomblo," ucap Mahlika.


"Oh iya tapi setahuku, Dokter Shinta itu sudah jadi pacarnya Kak Valen," ucap Allena.


Ny. Mahlika langsung kaget.


"Oh ya? Benarkah Valen? Kenapa kamu diam saja pacarmu ditahan polisi? Kalau Mommy tahu, Mommy minta pertimbangan dulu denganmu," ucap Mahlika menyesal.


"Di luar Kak Valen terlihat diam Mom tapi dalam hatinya sudah menjerit dan menangis," ucap Allena.


Semua tertawa mendengar ucapan Allena membuat Valendino tertunduk malu. Namun, laki-laki itu bersyukur akhirnya Ny. Mahlika bersedia mencabut tuntutan terhadap kekasihnya.


"Segera resmikan Kak, nanti keburu di rebut Zeno," kelakar Allena.


Mereka tertawa, Valendino kembali tertunduk malu. Ny. Mahlika bertanya tentang keseriusan hubungan Valendino dengan Dokter Shinta. Laki-laki itu menjawab dengan pasti bahwa saat ini dia menjalin hubungan yang serius dengan dokter itu, mendengar itu Ny. Mahlika langsung mengajukan pencabutan tuntutan atas Dokter Shinta.


Bagaimanapun juga Ny. Mahlika telah menganggap Valendino dan teman-teman Zefran lainnya seperti anak sendiri. Ny. Mahlika tentu tak ingin melihat Valendino menderita karena kekasihnya yang terjerat kasus hukum.


Malam itu Zefran menginap di rumah sakit menemani Zefano agar Allena bisa mengemas barang-barangnya. Zefran sangat ingin istrinya segera pindah ke rumah mereka.


"Akhirnya kalian bisa berkumpul kembali," ucap Vina sambil ikut menyusun pakaian Allena dalam koper.


Melihat itu hati Allena merasa sedih, teringat dia akan kembali meninggalkan ibunya.


"Ibu, apa sebaiknya kita sama-sama pindah ke sana?" tanya Allena.


"Pertanyaanmu ada-ada saja, bukankah waktu baru menikah ibu sudah jelaskan alasannya. Di sini ibu bahagia, tinggal di rumah ini ibu seperti masih tinggal bersama ayah. Ibu tinggal membayangkan ayah dinas di luar kota maka sedikit pun ibu tidak akan merasa kesepian lagi. Tapi bagaimana dengan Rahma? Apa dia ikut kembali bersamamu?" tanya Vina.


"Kalau boleh saya tetap di sini Bu, Rahma ingin di sini menemani ibu," ucap gadis itu berdiri di pintu kamar.


"Ibu merasa senang kalau Rahma tetap tinggal di sini. Tapi apa sanggup berpisah dengan Zeno?" tanya Vina sambil tersenyum.


"Kalau kita kangen, kita bisa sama-sama kunjungi Zeno kan Bu?" tanya Rahma yang di balas anggukan oleh Bu Vina.

__ADS_1


"Baiklah Rahma tapi kenapa? Bukannya sudah biasa tinggal di rumah keluarga Dimitrios? Kenapa sekarang jadi enggan pindah ke sana?" tanya Allena.


"Karena sekarang Rahma sudah punya ibu, kalau dulu Rahma cuma hidup sendiri. Bekerja di rumah Dimitrios memang bisa berkumpul dengan teman-teman pelayan. Tapi Rahma tetap merasa hidup sendiri. Kalau sekarang Rahma punya ibu, Rahma ingin berbakti sama ibu," ucap Rahma sambil memeluk Bu Vina dan menempelkan dagunya di bahu Bu Vina.


Bu Vina tersenyum sambil membelai wajah Rahma.


"Iihh.., kamu ini mau merebut ibuku ya?" tanya Allena pura-pura marah.


"Ya, itu resiko anak gadis yang sudah menikah harus menjauh dari ibunya. Sana pergi! Ibu hanya mau tinggal sama Rahma, nggak butuh kak Allena," balasnya sambil menjulurkan lidah untuk memanasi Allena dan langsung berlari ke luar kamar. 


"Huu, awas kamu ya, nanti kalau sudah dapat jodoh, omongan ini aku balikin ke kamu," ucap Allena yang berlari mengejar sambil melempar pakaian.


"Allena hati-hati kandunganmu, ya ampun anak ini. Kalau bercanda masih seperti anak gadis saja lupa kalau sedang hamil," teriak Vina khawatir.


Dan benar saja Allena hampir jatuh tersandung, untung saja Rahma segera menyambut tubuh Allena.


"Ngilu ibu melihatmu berlarian seperti itu," ucap Vina.


"Ya Kak hati-hati, awas kalau terjadi apa-apa sama ponakanku," ucap Rahma sambil memapah Allena duduk di sofa.


Allena memeluk gadis itu.


"Terima kasih Rahma, karena hadir dalam kehidupan kami," ucap Allena.


"Justru Rahma yang berterima kasih Kak, karena Kak Allena, Rahma jadi punya keluarga," ucap gadis yang telah jadi yatim piatu sejak duduk di sekolah menengah pertama itu.


Allena membelai wajah adik angkatnya itu. Lalu mereka melanjutkan mengemas pakaian Allena dan Zefano karena malam nanti Zefran akan datang menjemput istrinya.


"Kalau terjadi apa-apa, cepat telepon Rahma ya Kak," ucap Rahma.


Allena mengangguk, gadis itu pun berangkat setelah di jemput suaminya. Allena kembali menginjakkan kaki di rumah megah itu. Para pelayan menyambut kedatangan Allena dengan suka cita. Tak lupa Ny. Mahlika yang ikut terjun langsung menyiapkan makan malam untuk menyambut menantunya.


"Kamu belum makan malam kan? Mommy sudah bilang kamu harus makan malam di sini," ucap Mahlika sambil mengapit menantunya ke meja makan.


Zefran menggeleng-geleng melihat ibunya yang sama sekali tidak peduli padanya. Mengabaikannya dengan barang-barang milik Allena. Para pelayan langsung mengambil alih koper-koper Allena sambil tersenyum tak enak hati. Mereka terpaku karena tidak menyangka Allena akan kembali ke rumah itu.


"Nyonya besar memasak sendiri menu makan malam ini, nyonya. Kami heran dan ingin bertanya tapi nyonya tidak mau jawab. Ternyata untuk menyambut Ny. Allena," ucap pelayan setengah baya yang biasa menjadi juru masak di rumah itu.


"Mommy, saya jadi tak enak hati, Mommy tidak perlu menyiapkan ini," ucap Allena.


"Tidak apa-apa, Mommy senang melakukannya. Dengan begini Mommy merasa lega, rasanya seperti telah menebus dosa padamu," ucap Mahlika.


Allena tersenyum, mereka pun memulai makan malam dengan suka hati.


"Jika cucu Mommy bertambah banyak sepertinya Mommy harus mengganti meja makan ini dengan yang lebih besar," ucap Mahlika.


Allena dan Zefran tertawa.


"Mommy, meja makan ini saja, sudah sangat besar. Bisa untuk menjamu para sahabat. Untuk apa ganti yang lebih besar lagi?" tanya Allena.


"Kamu jangan salah, waktu berjalan dengan cepat. Tanpa terasa, anak-anakmu akan bertambah banyak lalu bertambah besar, lalu masing-masing punya pacar, masing-masing menikah, masing-masing punya anak ah.., Mommy yakin meja ini tidak akan cukup lagi untuk kita," ucap Mahlika menghayal sambil tertawa.


Allena ikut tertawa begitu juga dengan Zefran. Laki-laki itu tertawa begitu renyah, baru kali ini dia merasa memiliki ibu yang sama seperti ibu-ibu lainnya. Memasak untuk keluarganya, menghayal memiliki cucu yang banyak. Menceritakan cita-citanya yang banyak untuk cucu-cucunya.


Setelah puas bercanda sambil menghabiskan makan malam, Ny. Mahlika meminta Allena untuk istirahat di kamarnya. Gadis itu pun melangkahkan kaki masuk ke kamarnya yang dulu. Memandang mengitari kamarnya yang masih terlihat sama seperti saat ditinggalkannya dulu.


Zefran menutup pintu dan menguncinya, Allena menoleh dan langsung dihujani kecupan-kecupan bernafsu dari suaminya.


"Kita ulang malam pertama kita, sayang" ucap Zefran.


"Malam pertama dengan perut buncit?" tanya Allena sambil tertawa.


"Hey wanita hamil itu seksi, apa kamu tidak tahu? Karena itu kalau bisa kamu jangan keluar rumah," tanya Zefran.


"Kenapa?" tanya Allena heran.


"Melihat wanita hamil, laki-laki berimajinasi bagaimana proses pembuatan bayi yang dikandung wanita itu," ucap Zefran.


"Iih, aneh. Kakak suka membayangkan itu ya kalau melihat wanita hamil?" tanya Allena dengan nada cemburu.


"Ya, tapi hanya satu wanita hamil yaitu kamu," bisik Zefran.


"Kakak juga membayangkan proses pembuatan bayiku?" tanya Allena dengan ekspresi yang pura-pura takut.


"Ya sayang, karena itu aku tidak tahan setiap kali melihatmu," ucap Zefran.


Allena tersenyum, setelah itu hening karena mereka telah sibuk menyatukan bibir mereka, memuaskan hasrat mereka. Allena hingga tak sanggup mengimbangi permainan cinta Zefran yang menggebu-gebu. Lagi dan lagi seperti tidak ingin berhenti. Zefran seperti ingin menumpahkan hasratnya yang tertahan sekian lama.


Hingga akhirnya Allena tertidur lemas di pelukannya. Lewat tengah malam, terdengar suara nyaris ribut di luar. Zefran segera bangun, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Laki-laki itu segera mengenakan piyama tidur dan keluar dari kamar.


Berjalan ke lantai bawah untuk melihat apa yang terjadi. Zefran terkejut, di ujung anak tangga Frisca yang mabuk dihadang para pelayan untuk naik ke lantai atas.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2