
Zefran menghampiri Zacko ya duduk termenung menatap kosong ke arah anak-anak yang sedang bermain. Begitu hampa pikirannya hingga tak sadar Zefano telah bermain dengan Zefania di taman bermain komplek itu. Sejak pertemuannya dengan Cindy di Mall hatinya terasa begitu kosong.
Sebagian hatinya merasa menyesal telah membohongi Cindy dan dirinya sendiri dengan mengakui akan segera menikah dengan Allena.
Kenapa aku, bersikap seperti itu? Untuk apa? Sebuah kebohongan yang tidak ada gunanya. Kebohongan yang justru menambah jarak di antara kami. Andai saja waktu bisa terulang lagi, aku tidak akan melakukan itu. Kalau perlu aku memohon padanya untuk kembali padaku. Sekarang baru menyesal, tak ada kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Mereka terlihat baik-baik saja sementara aku menghabiskan waktu dengan menyesal, batin Zacko.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu?" tanya Zefran yang telah duduk di samping Zacko.
Zacko kaget karena tak menyadari kalau Zefran telah duduk di sampingnya. Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan Zefran.
"Apa?" tanya Zacko yang sempat mendengar ucapan Zefran.
Zefran tak bicara tapi hanya menunjukkan ponselnya yang menampilkan foto Zacko bersama Allena. Laki-laki itu kontan kaget, dengan cepat meraih ponsel yang masih berada dalam genggaman Zefran itu.
"Bagaimana ... bisa? Kenapa? Zefran bagaimana ini bisa ada padamu?" tanya Zacko akhirnya setelah bingung bagaimana cara menanyakannya.
"Tentu saja karena aku mendapat kiriman foto itu," jelas Zefran.
"Ini, siapa yang mengirimnya. Ini … ini foto kami di …"
"Jangan katakan foto kami, itu seolah-olah kalian memang senang berfoto bersama," ucap Zefran agak terpancing emosi.
"Maaf … maksudku ini diambil saat berada di taman bermain? Foto ini diambil oleh Cindy. Apa berarti dia yang mengirimkan ini padamu?" tanya Zefran lagi.
"Aku yang bertanya padamu kenapa kamu yang malah bertanya padaku? Kenapa bisa ada foto seperti ini?" tanya Zefran dengan nada yang semakin emosi.
Sial, aku sudah tahu jawabannya tapi melihat dia bengong-bengong seperti ini, aku jadi kesal juga, batin Zefran.
"Zefran, tolong! Jangan salah paham dulu! Tolong jangan salah paham pada Allena, karena ini kesalahanku. Aku yang meminta untuk berfoto bersama tanpa minta persetujuannya lebih dulu. Hari itu aku bertemu dengan Cindy, aku merasa malu karena masih hidup sendiri sementara Cindy telah digandeng laki-laki lain. Aku hanya ingin membuatnya cemburu. Hanya untuk memanas-manasinya, ini bukan yang sesungguhnya. Aku tahu Allena dan kamu saling mencintai. Ini hanya sebuah kesalahan yang tercipta dari sikap kekanak-kanakanku. Zefran, aku mohon maafkan aku. Jangan salahkan Allena karena kelakuanku ini, percayalah ini tidak sungguh-sungguh terjadi," jelas Zacko dengan raut wajah yang sangat menyesal.
"Kamu yakin? Melakukan itu karena cemburu pada Cindy? Hanya untuk memanas-manasinya? Kenapa? Apa karena kamu masih mencintainya?" jelas Zefran.
"Ya Zefran, percayalah aku masih mencintai Cindy. Dia ibu dari anakku, aku tak mudah menyingkirkan Cindy dari dalam hatiku," jelas Zacko untuk menyakinkan Zefran bahwa dirinya tak bermaksud menggoda Allena.
"Aah, kalau begitu sayang sekali, padahal kami berencana mencarikanmu pendamping lagi. Agar kamu tidak kesepian dan menggoda ibu-ibu di komplek ini," ucap Zefran.
"Aku juga tidak tahu, kenapa jadi berubah seperti ini, mungkin karena kebiasaan menemani Zia di taman ini. Satu persatu aku mengenal ibu-ibu itu. Padahal dulu aku terkenal sangat pendiam dan sulit bergaul. Tapi sungguh, aku tak berniat untuk tebar pesona di taman komplek ini. Karena itu … tidak usah Zefran, terima kasih. Kamu tidak perlu mencarikan pendamping untukku," ucap Zacko.
__ADS_1
"Serius? Tidak akan menyesal?" tanya Zefran.
Zacko menggelengkan kepalanya dengan pasti.
"Aku tak bisa menggeser posisi Cindy di hatiku," jawab Zacko.
"Kalau yang satu ini, kamu benar-benar tidak mau juga?" tanya Zefran lagi.
Kali ini Cindy yang telah berdiri di belakang mereka akhirnya muncul ke hadapan Zacko. Wanita itu mendengar semua yang di ucapkan suaminya dari balik pohon itu. Tentu saja Zacko sangat kaget. Cindy yang terlihat menghapus air matanya langsung mendekati Zacko. Laki-laki itu langsung berdiri dan segera memeluk istrinya.
"Cindy, ini benar-benar kamu? Aku tidak menyangka kamu bisa ke sini. Sayang, aku mohon tinggalkan laki-laki itu, kembalilah padaku. Aku mencintaimu Cindy, aku masih tetap mencintaimu," ucap Zacko sambil menangkup wajah istrinya.
Cindy menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir. Zacko terdiam menatap tak percaya. Cindy muncul dihadapannya namun seperti tak ingin kembali padanya.
"Aku tidak perlu meninggalkan siapa-siapa, dia tak ada hubungan khusus denganku. Selama ini aku tetap sendiri, dia hanya menjadi temanku. Bagiku, kamu adalah suamiku satu-satunya dan selamanya," jelas Cindy menatap suaminya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Kembali Zacko menenggelamkan Cindy dalam pelukannya. Laki-laki itu benar-benar tak menyangka mendengar pernyataan istrinya.
"Kamu masih menjadi istriku?" tanya Zacko.
Cindy mengangguk. Zacko tertawa namun juga menangis, menyesali apa yang terjadi pada mereka. Menyesali kesedihan yang harus mereka alami selama dua tahun berpisah hanya karena cemburu dan prasangka. Kesedihan yang seharusnya tak perlu terjadi. Mereka pun mempererat pelukannya dan saling meminta maaf.
"Aku tidak mau seperti mereka, terpisah sekian lama padahal masih saling mencintai," lirih Zefran nyaris berbisik.
"Kita tidak akan seperti itu, asalkan belajar untuk mendengarkan penjelasan satu sama lain. Tidak mengedepankan kemarahan, prasangka buruk dan kata-kata kejam," ucap Allena.
Zefran menoleh pada istrinya, kata-kata terakhir jelas-jelas tertuju padanya. Sejak menikahi Allena entah sudah berapa banyak kata-kata kejam yang dilontarkannya pada wanita itu. Padahal dia begitu mencintai Allena. Setiap masalah yang datang menyakitinya, Zefran akan balas menyakiti Allena lebih kejam lagi, berkali-kali lipat. Laki-laki itu menyadari kesalahannya dan langsung memeluk istrinya.
"Allena tolong! Bantulah aku! Untuk mengingatkanku, setiap aku berbuat salah, aku sungguh tak ingin berakhir seperti mereka," ucap Zefran.
"Tentu aku akan bantu Kakak, aku akan menjelaskan, mengingatkan, asalkan Kakak mau mendengarkan. Aku yakin Kakak bisa menahan diri, menahan emosi jika ingat dengan … ancamanku," ucap Allena lalu tersenyum.
Zefran pun tersenyum. " Kamu benar, saat ingat ancamanmu, mau tak mau aku harus menjaga emosiku, kata-kataku hingga kamu bisa memiliki waktu untuk menjelaskan semuanya padaku. Allena, selama aku belum terbiasa menahan diriku. Aku mohon, kamu tetap bersabar ya sayang. Jangan buru-buru menjalankan ancamanmu," pinta Zefran.
"Tidak mau, kesabaran itu ada batasnya," ucap Allena.
"Sayang?" tanya Zefran tak percaya Allena akan menolak permintaannya.
__ADS_1
Wajah laki-laki itu langsung terlihat risau.
"Tapi jangan khawatir, batas kesabaranku masih jauh. Jadi Kakak tidak akan menemukan batas kesabaranku," ucap Allena sambil tertawa.
Zefran menarik napas lega sambil tertawa. Laki-laki itu kesal karena seperti dikerjai Allena. Segera Zefran berlagak seperti ingin menggelitik istri usilnya itu. Allena yang tak tahan geli memilih menghindar.
"Sudah Kak, jangan!" ucap Allena seperti memerintah.
"Bukankah batas kesabaranmu sangat jauh. Sekarang cobalah bersabar menerima gelitikan dariku," ucap Zefran sambil bergerak mengejar Allena yang mulai mundur menjauh.
"Jangan Kak, malu di sini banyak orang, malu!" ucap Allena yang langsung berlari karena tetap dikejar suaminya.
Allena berlari mengitari pohon. "Aaah, tidak mau Kak, berhenti! Ini norak sekali!" ucapnya masih terus berlari.
"Makanya berhenti, jangan lari," jawab Zefran sambil terus mengejar
"Nggak mau! Nanti Kakak gelitik aku," ucap Allena.
"Nggak! Aku nggak akan gelitik kamu. Kamu nggak percaya padaku?" tanya Zefran.
"Nggak!"
"Kurang ajar, tadinya nggak mau gelitikin kamu tapi sekarang rasakan pembalasanku," ucap Zefran masih terus mengejar Allena.
Wanita itu lelah dan dengan cepat Zefran dapat meraih pinggangnya dan memeluknya dari belakang.
"Tolong, jangan gelitik aku, rasanya memalukan," bisik Allena.
"Baiklah! Tapi kalau di kamar tidak memalukan ya 'kan?" tanya Zefran.
"Benar, kita pulang sekarang? Tapi Zeno masih bermain," ucap Allena sambil tersenyum karena masih di peluk
"Aku akan mengajaknya pulang. Kita mandi sore sama-sama lagi, dia pasti mau," usul Zefran, Allena mengangguk.
Laki-laki itu lalu mengajak Zefano pulang, sebelum mereka meninggal taman itu, Cindy berlari memeluk Allena. Wanita itu menangis sambil meminta maaf serta mengucapkan terima kasih hingga berkali-kali.
Allena membalas pelukannya dan menerima permintaan maaf wanita itu. Allena pun mengundang Cindy dan keluarga untuk berkunjung ke rumah mereka. Cindy berjanji akan sering bermain ke kediaman keluarga Dimitrios itu. Zefran, Allena dan Zefano pun berpamitan pulang sambil melambaikan tangan pada keluarga yang baru memulai kembali lembaran hidup baru mereka.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...