
Pesta pernikahan Rahma dan Patrick berlangsung dengan meriah. Setelah di acara akad nikah dilaksanakan, resepsi pun digelar dengan bonus acara pertunangan Dr. Devan dan Dr. Shintya. Semua yang hadir ikut mendoakan pasangan yang baru saja memantapkan hati mereka untuk ke jenjang pernikahan.
Leana menatap para sahabat yang asik menikmati hidangan sambil tertawa bercerita kisah-kisah lucu dan seru pertemanan mereka. Bahkan cerita yang telah pernah di dengar pun terasa masih begitu lucu saat seseorang yang baru mendengar ikut menimpali.
Semua yang telah tahu berita akan ikut menambahkan candaan mereka. Cerita lucu yang berulang pun tetap terdengar lucu. Begitulah jika mereka bertemu.
Namun ada hal yang membuat Allena penasaran dengan keputusan Dr. Devan yang begitu cepat mengajak Dr. Shintya menikah. Ingin bertanya tapi takut dikira rela mereka terlalu cepat memutuskan menikah. Hal yang ditakutkan Allena adalah keputusan yang tergesa-gesa membuat mereka menyesal.
"Kalian baru beberapa kali bertemu, kenapa tiba-tiba memutuskan melamarnya dalam waktu yang singkat? Kamu tak didesak Allena 'kan?" tanya Zefran tiba-tiba membuat mata Allena terbelalak.
Kaget karena apa yang dipikirkannya justru ditanyakan oleh suaminya. Dengan semangat Allena menguping pembicaraan mereka, meski terlihat tak acuh namun perhatian pendengaran Allena terfokus pada pembicaraan Zefran dan Dr. Devan.
Ditanya seperti itu Dr. Devan langsung tertawa.
"Apa hebatnya istrimu hingga bisa mendesakku?" tanya Devan.
Mata Allena langsung mendelik, Dr. Devan kembali tertawa melihat ekspresi Allena.
"Meski judes dia tak akan bisa mendesakku," sambung Devan sambil melirik Allena.
Zefran pun ikut menoleh pada istrinya, ikut tertawa saat melihat istrinya terbelalak mendengar ucapan Dr. Devan.
Judes? Huh kalau bukan karena penasaran dengan jawabanmu sudah aku semprot dari tadi, batin Allena dengan mata melotot.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu tertawa melihat ekspresi marah namun terlihat lucu itu. Allena memalingkan wajahnya menyambar brownies yang terhidang di hadapannya.
Zefran tak akan puas melihat tingkah Allena tapi dia begitu penasaran dengan jawaban sahabat masa SMA nya itu.
"Meski aku suka mengejar cewek-cewek tapi yang aku kejar itu adalah cewek-cewek pilihan. Itu karena aku tak sembarangan memilih dan memutuskan. Meski akhirnya bubar yah mau gimana lagi? Begitu juga saat aku memutuskan untuk serius dengan Shintya, jangan khawatir itu bukan karena desakan Allena atau keputusan yang sembarangan," jelas Devan.
"Kamu menjelaskan panjang lebar tapi aku belum mendapatkan jawabannya. Aku tanya kenapa tiba-tiba memutuskan melamarnya dalam waktu yang singkat? Kalian 'kan baru beberapa kali bertemu," ucap Zefran ingin langsung masuk ke inti pertanyaannya.
"Karena ucapan Shintya--"
"Ucapan Shintya? Apa itu?" tanya Zefran begitu penasaran.
"Dia cerita padaku, kalau dia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Sejak kecil menyukaimu, selalu mengingat kenangannya bersamamu. Meski singkat tapi sangat berkesan. Meski banyak yang datang, dia tetap bertahan menyukaimu," jelas Devan sambil menatap wajah sahabatnya.
"Sejak Mommy-nya berkata kalau kamu sudah diminta untuk dijodohkan dengannya, perasaannya padamu semakin kuat. Karena itu dia nekat menyamar dan menjadi baby sitter di rumahmu. Melihat caranya mencintai istrimu, memperlakukan dan memanjakan istrimu, dia merasa iri. Dia begitu ingin merebutmu dari Allena. Dia ingin mendapatkan apa yang dimiliki Allena. Tapi … sejak Allena mengenalkan dia padaku, perlahan perasaannya padamu menjadi luntur. Dia sendiri tak tahu kenapa. Satu hal yang membuat aku akhirnya memutuskan untuk serius padanya. Setelah mendengar kata-katanya, 'aku tidak tahu Dr. Devan hanya ingin mempermainkan aku atau serius ingin menjalin hubungan denganku tapi … cuma Dr. Devan yang bisa mengalihkan hatiku dari Kak Zefran'. Mendengar itu aku langsung putuskan untuk serius dengannya," jelas Devan.
"Artinya dia sudah suka padamu? Dan kamu menerima dia hanya karena merasa telah merebut perhatiannya dariku. Itu artinya kamu hanya ingin mengalahkanku," ungkap Zefran.
"Ini bukan ingin tapi sudah. Itu beda, aku sudah mengalahkan kamu. Aku sudah berhasil membuat dia berpaling darimu tanpa aku berusaha. Hanya diperkenalkan oleh Allena, dia langsung suka padaku," jawab Devan.
"Baiklah kalau begitu, awas kalau kamu mempermainkan hati orang. Bukan apa-apa, Allena pasti akan merasa bersalah," ucap Zefran yang akhirnya membuat Allena menoleh ke arah mereka.
"Jangan khawatir Allena, aku sungguh-sungguh kok," jawab Devan mengangguk sambil menoleh pada Allena.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dr. Shintya datang dari toilet. Gadis itu langsung menghampiri Allena untuk mengambil Zifara.
"Nggak usah dokter, dokter duduk saja di samping Dr. Devan, ngobrol-ngobrol," ucap Allena sambil tersenyum.
Gadis akhirnya melangkah dan duduk di samping dokter tampan itu. Dr. Devan langsung menyodorkan makanan ke hadapan Dr. Shintya. Laki-laki itu mendekat lalu berbisik.
"Lama sekali ke toiletnya?" tanya Devan.
"Ke toilet cuma sebentar tapi tadi aku menerima telepon dulu dari Mommy," jawab Shintya.
"Lalu?"
"Aku tunjukkan cincin ini lalu kirimkan foto Kak Devan," sambung Shintya.
"Oh ya? Lalu?" tanya Devan penasaran.
"Mommy setuju dan ingin segera bertemu denganmu," jawab Shintya.
"Oh ya?" tanya Devan yang dibalas anggukan oleh Dr. Shintya.
Laki-laki itu meraih kepala gadis itu mendekat ke arahnya. Lalu mencium pipi gadis itu lembut. Dengan ragu-ragu gadis itu membiarkan dokter tampan itu melakukannya. Zefran menoleh pada Allena dan tersenyum. Wanita itu juga membalas senyum suaminya.
Berdua mereka bahagia melihat kemesraan pasangan itu. Dalam hati berharap hubungan mereka akan abadi, bahagia dan selalu setia.
__ADS_1