
Zefran dan sahabat lainnya berkumpul bersama dengan Allena, Dokter Shinta dan Valendino. Kesempatan itu digunakan Dokter Shinta untuk mengumumkan bahwa dua hari lagi Frisca akan menjalani operasi pengangkatan rahimnya. Mereka sepakat berkumpul di rumah sakit itu untuk menjenguk dan mendukung kesembuhan Frisca.
"Kak Zefran, ada yang mencari Kakak," ucap Rahma.
"Siapa?" tanya Zefran.
"Namanya tuan Patrick," jawab Rahma.
"Oh, kamu temani dia dulu ya, sebentar lagi aku temui," sambung Zefran.
"Baik Kak," ucap Rahma dan berlalu dari tempat itu.
"Kenapa tidak langsung ditemui Kak? Kasihan disuruh menunggu padahal Kakak tidak sibuk juga 'kan," ucap Allena.
"Biar saja Rahma yang menemani, kita kasih kesempatan dua orang itu saling mengenal. Jika tidak seperti itu keduanya akan sulit menemukannya pasangan," jelas Zefran.
"Wah, Kakak benar-benar jenius. Kalau tahu begitu dari dulu kita jodohkan mereka," ucap Allenan sambil tersenyum.
Zefran dan Allena membiarkan Rahma menemani orang kepercayaan perusahaan keluarga Dimitrios itu. Setelah dirasa cukup lama barulah Zefran ingin menemui Personal Assistant sekaligus sahabatnya itu. Allena melompat mengapit lengan suaminya.
"Aku ikut, aku ingin lihat perkembangan hubungan mereka," ucap wanita itu sambil tersenyum.
Zefran ikut tersenyum lalu mencubit lembut puncak hidung istrinya. Laki-laki itu membiarkan Allena berjalan bersamanya menemui Patrick dan Rahma yang terlihat berbincang dengan malu-malu.
Allena langsung menoleh ke arah suaminya dan tersenyum saat melihat kedua anak muda itu yang sedang berbincang-bincang, kadang tersenyum kadang menunduk.
"Ternyata mereka sedang asyik, apa kita ganggu mereka sekarang?" bisik Allena.
"Biarkan saja, lagi pula mencariku hanya untuk menunjukkan kalau dia memenuhi undanganku. Biarkan mereka menjalin hubungan, kita sapa tamu yang lain saja," ujar Zefran yang mencomot sebutir anggur di keranjang buah dan menyuapi Allena.
Mereka kembali menyapa tamu pesta, sesekali Allena minta diri dan menghilang ke kamar untuk menyusui bayinya, sekaligus beristirahat sejenak. Allena mempersilahkan masuk saat terdengar suara ketukan pintu. Ibu Vina masuk dan langsung duduk di kursi malas samping Allena
"Lihatlah, umurnya baru hitungan hari tapi terlihat sudah besar. Anak-anak jaman sekarang berkembang dengan cepat. Tak terasa aku telah memiliki dua orang cucu, rasanya baru kemarin jantung ibu berdebar-debar karena takut kamu tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga ini. Sekarang lihatlah, Zeno tumbuh besar dan sebentar lagi adiknya menyusul. Beranjak dewasa dan menemukan pasangan mereka masing-masing lalu kamu juga akan menjadi seorang nenek," ucap Vina.
"Masih sangat jauh Bu," ucap Allena sambil tersenyum.
"Ya, kalau kita bayangkan memang terasa masih jauh. Tapi saat dijalani dengan segala kesibukan dan rutinitas sehari-hari. Tanpa terasa apa yang kita bicarakan hari ini datang tanpa disadari. Ibu bahkan masih ingat saat pertama kali kamu, memberi tahu ibu kalau kamu sudah bisa makan sendiri. Rasanya baru kemarin kejadian itu namun sekarang kamu telah memiliki anak-anak yang cantik dan tampan," ucap Vina sambil membelai rambut tipis Zifara.
"Karena itu Ibu harus selalu sehat dan melihat anak-anakku tumbuh besar. Sebenarnya apa yang ibu khayalkan sama dengan khayalan Mommy. Ternyata orang tua memang seperti itu, saat memikirkan anak cucunya, pikiran mereka jauh ke depan. Saat bicara seperti itu aku ingat sama Ibu. Seperti yang ibu katakan, hanya sebentar saja, tanpa terasa anak-anak ini akan tumbuh besar. Bu, temani aku membesarkan anak-anakku Bu," pinta Allena.
"Ini, sekarang Ibu menemanimu," ucap Vina sambil tersenyum.
Wanita yang telah tua namun masih terlihat cantik itu tersenyum, dia tahu apa maksud Allena yang sesungguhnya.
"Maksud Allena Ibu tinggal di sini bersamaku," pinta Allena lagi.
"Kamu ingin Ibu menemanimu, tentu akan Ibu temani. Tapi menemani bukan selalu ada disampingmu. Ibu akan selalu ada untukmu saat kamu ingin bercerita, saat kamu rindu, saat kamu sedih, saat kamu senang dan yang terpenting lagi Ibu menemanimu dengan doa-doa Ibu," ucap Vina sambil menangkup wajah putri satu-satunya itu.
"Ibu..,"
Hal yang selalu diinginkan Allena agar ibunya ada disampingnya tapi Bu Vina punya kebahagiaan sendiri di rumah kecilnya dan Allena terpaksa mengalah untuk itu.
Jika dia bukanlah seorang istri atau menantu keluarga kaya itu tentulah dengan senang hati Allena menemani ibunya di rumah kecil penuh kenangan itu.
"Ibu sudah makan?" tanya Allena akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Ibu sudah sayang, berbincang dengan teman-teman Ika. Tak ada habis-habisnya, sambil ngobrol makan ini makan itu. Tertawa hingga mulut Ibu terasa pegal. Makanya ibu pamit istirahat, karena tidak melihatmu dan bayimu di bawah jadi ibu pikir kamu pasti sedang menyusui," tutur Vina.
"Kalau Ibu capek, istirahatlah Bu!" ucap Allena.
"Ya, sebelum Ibu ke kamar, Ibu ingin memberi nasehat padamu. Jangan terlalu akrab dengan laki-laki lain. Meski mereka adalah teman-temanmu tapi kamu adalah seorang istri yang harus menjaga perasaan suami. Melukai perasaannya sama dengan melukai perasaanmu sendiri. Saat belum terjadi kamu akan mencoba-coba, mungkinkah ini akan menyakiti suamimu? Saat dia tersakiti barulah kamu sadar kalau kamu pun merasa sedih melihatnya tersakiti. Suamimu sangat posesif karena dia sangat mencintaimu tapi kamu juga sangat mencintainya 'kan? Jika seperti itu, saat kamu melukainya maka kamu yang akan merasakan perihnya," tutur Vina.
Allena tercenung mendengar ucapan Bu Vina namun akhirnya wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Ya Bu, Allena akan ingat pesan Ibu, " ucap Allena masih tersenyum.
Bu Vina mengecup kening putrinya. Baru saja Bu Vina akan pamit terdengar suara ketukan pintu. Allena mempersilahkan masuk, Zefran muncul dari balik pintu.
"Oh, ternyata ada Ibu, kalau begitu nanti saja..,"
"Zefran! Ibu sudah selesai, kemarilah!" seru Vina.
Terlihat Zefran yang berjalan mendekati sambil tersenyum.
"Ibu mau kembali ke kamar, temanilah istrimu," ucap Vina sambil menepuk lengan menantunya.
Bu Vina melangkah keluar kamar, tersenyum sesaat sebelum menutup pintu kamar Allena.
"Ada apa? Kenapa Ibu di sini? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Zefran.
__ADS_1
"Ingin tahu saja," ucap Allena.
Zefran langsung cemberut, Allena tertawa. Laki-laki itu pun tertawa.
"Cuma memberi nasehat agar dalam bergaul aku harus memikirkan perasaan suamiku..,"
"Haaa, Ibu memikirkan aku? Ibu perhatian padaku?" tanya Zefran.
"Apa anda suamiku?" tanya Allena.
"Ya, iyalah memang ada suamimu yang lain?" tanya Zefran.
"Kalau begitu kenapa masih bertanya? Tentu yang dimaksud Ibu adalah Kakak," ucap Allena sambil mencubit hidung suaminya.
Zefran tertawa, laki-laki itu langsung mengecup bibir istrinya.
"Lihatlah Zara sudah tidur, ayo kita taruh di ranjang bayinya!" seru Zefran sambil mengambil bayi itu dan menaruhnya di ranjang bayi.
Allena merapikan kancing bajunya dan hendak berdiri dari kursi malas untuk mendekati Zefran. Namun, laki-laki itu justru menyuruhnya tetap di tempat. Allena menunggu suaminya mendekat lalu menatap laki-laki yang tersenyum padanya itu.
"Kalau bayi yang ini tidurnya di sini," ucap Zefran sambil menggendong istrinya ke ranjang.
Allena tertawa kecil, saat laki-laki itu juga ikut rebah di sampingnya.
"Bayi yang ini juga di sini?" tanya Allena sambil menarik hidung mancung suaminya.
"Ya, mau menemani bayi ini," ucapnya sambil membalas menarik hidung mancung istrinya.
Mereka tertawa lalu saling menatap, hanya sebentar saja lalu Zefran telah membenamkan bibirnya ke bibir istrinya. Semakin lama ciuman itu semakin panas membuat Allena bingung harus melakukan apa untuk suaminya.
Wanita yang baru saja melahirkan itu, belum bisa memenuhi hasrat suaminya. Setiap kali menatap Allena, terlihat Zefran yang selalu menahan diri.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk Kakak?" tanya Allena saat bibir laki-laki itu telah berpindah ke lehernya.
"Tidak, seperti ini saja, aku ingin merasakan bahagianya bersamamu. Kalau kamu tidak bahagia, aku juga tidak akan bahagia," balas Zefran dengan bibirnya masih menciumi leher istrinya.
Allena mendorong suaminya hingga laki-laki itu terlentang, wanita itu langsung duduk di sampingnya. Allena meraih ikat pinggang suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zefran sambil menangkap kedua tangan Allena.
"Memberikan kebahagiaan untukmu," ucap Allena.
"Tapi aku akan bahagia jika membuatmu bahagia," ucap Allena lanjut melepas ikat pinggang suaminya.
Zefran tertawa lalu menangkap istrinya dan membaringkannya. Laki-laki itu memeluk erat Allena, sambil memejamkan mata. Allena diam dalam pelukan laki-laki itu.
"Kita tidur saja sebentar," ucap Zefran masih memejamkan matanya.
Allena diam, patuh pada keinginan suaminya. Meski merasa tidak enak hati pada tamu-tamu yang masih ramai, namun wanita itu memilih diam mengikuti kehendak suaminya. Allena balas memeluk suaminya. Zefran tersenyum sambil memejamkan mata. Mereka beristirahat setelah lelah menemani tamu-tamu yang hadir di acara.
Tak sampai satu jam mereka terbangun, Allena menepuk pipinya sendiri agar lebih segar. Zefran tertawa, keduanya membasuh wajah di wastafel dalam kamar mandi. Zefran memeluk Allena dari belakang sambil menatap wajah istrinya dari pantulan cermin besar di hadapannya.
Allena pun ikut menatap laki-laki itu dan tersenyum. Zefran mengecup pangkal bahu istrinya. Lalu kembali memandang wajah cantik yang masih basah itu.
"Aku mencintaimu," bisik Zefran.
Allena tersenyum, masih memandang suaminya dari cermin.
"Kamu tidak membalas ucapan cintaku?" tanya Zefran.
"Apa masih belum tahu jawabannya?" tanya Allena.
"Ya aku tahu tapi kalau tidak mendengar sendiri jawabnya aku masih belum yakin..,"
"Belum yakin?"
"Salah, bukannya belum yakin tapi terasa kurang lengkap, kurang sempurna," jawab Zefran.
Allena tertawa.
"Ungkapan cinta itu tidak harus dengan kata-kata tapi bisa dengan rasa percaya, dengan perlakuan, dengan..,"
"Lalu perlakuan apa yang bisa menjawab ucapan cintaku tadi?" tanya Zefran langsung membalik tubuh istrinya menghadap ke arahnya.
Allena tersenyum dan langsung membenamkan bibirnya ke bibir suaminya. Mengejar lidah laki-laki yang bergerak ke sana kemari itu. Allena kewalahan tidak mendapatkannya, Zefran tersenyum.
Allena menarik tubuh laki-laki itu lebih mendekat tapi Zefran memainkan lidahnya, saat Allena mulai mendapatkannya Zefran mengelak membuat wanita itu penasaran dan mulai kesal. Zefran tertawa, lalu memeluk istrinya sambil membalas ciuman wanita yang dicintainya itu.
Di depan cermin besar itu, Zefran kembali memeluk istrinya dan memandang wanita yang juga tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Kita kembali ke bawah sekarang?" tanya Zefran yang dibalas anggukan oleh Allena.
Mereka pun kembali bergabung dengan tamu-tamunya. Mereka tertawa saat melihat Patrick dan Rahma yang semakin akrab. Zefran dan Allena berjalan berangkulan mendekati sahabat-sahabatnya.
"Nah, ini dia orangnya, tuan rumah tak bertanggung jawab meninggalkan tamu-tamunya sendirian," ucap Ronald sewot.
"Sendirian bagaimana, ramai begini," balas Zefran.
Ronald menggaruk kepalanya yang tak gatal, semuanya tertawa. Allena dan Zefran duduk dan bergabung dengan mereka.
Dokter Shinta langsung bicara mengenai operasi pengangkatan rahim Frisca. Mereka sepakat untuk menjenguk sahabatnya itu dan membantu biaya pengobatannya.
Hari itu pun tiba, bersama mereka menunggu di ruang tunggu keluarga pasien. Sesekali menoleh ke ruang bedah itu. Namun, lampu indikator di atas ruang bedah itu masih saja menyala.
"Bagaimana kalau kita menunggu di ruang rawat inap? Lihatlah putrimu sudah lelah," ajak Zefran pada Rivaldo.
Setelah asyik bermain kedua anak itu lelah menunggu jalannya operasi.
"Tidak apa-apa, kami sehari-hari memang seperti ini menemani Frisca. Kalau lelah dan mengantuk, Keisya akan tidur di pangkuanku," balas Rivaldo sambil tersenyum lalu mengusap rambut putrinya yang telah tertidur.
Allena kasihan melihat anak kecil yang terlihat begitu lelah namun tak mendapatkan tidur yang nyaman.
"Maaf, tuan Rivaldo tapi..,"
"Jangan panggil tuan, Nyonya, saya tidak pantas," ucap Rivaldo memotong ucapan Allena.
"Baiklah karena hubunganmu yang dekat dengan Kak Frisca, aku akan memanggilmu Kak Valdo," tegas Allena.
Rivaldo salah tingkah, mendapatkan panggilan akrab seperti itu dari Allena namun tidak bisa mengelak jika memang saat ini ada kedekatan antara dirinya dan Frisca.
"Kami datang ke sini beramai-ramai ingin memberi dukungan kepada teman, sahabat atau keluarga kami. Kak Frisca memang mantan istri Kak Zefran, itu mungkin membuat Kak Valdo merasa tidak nyaman akan kehadirannya tapi kami semua hadir di sini karena kami telah menuntaskan perasaan kami di masa lalu. Rasa sakit hati, marah dan dendam telah kami hilangkan dari hati kami, yang tertinggal sekarang hanyalah rasa persaudaraan dan persahabatan," jelas Allena.
Lalu menoleh ke arah suaminya yang sedang menggendong Zefano. Zefran mengangguk pada Allena yang mencoba menjelaskan hubungan mereka sekarang dengan Frisca pada Rivaldo. Laki-laki itu menambahkan penjelasannya pada Rivaldo agar laki-laki itu merasa yakin akan ucapan istrinya.
"Aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Frisca. Kami sudah menuntaskan hubungan kami dan aku hanya mencintai Allena istriku. Jangan ada kekhawatiran kalau aku berbuat baik pada Frisca akan membuatku kembali padanya," tutur Zefran menambahkan.
Rivaldo salah tingkah seakan-akan pikirannya tertebak.
"Kami berempat dan Frisca adalah sahabat sejak kuliah, hubungan kami bahkan melebihi sahabat tapi telah seperti keluarga," tambah Altop.
"Aku juga sahabat Frisca, meski kami pernah putus hubungan tapi hati kami tetap terikat hubungan persahabatan," timpal Shinta.
Allena kembali ikut menambahkan.
"Aku sudah menganggap Kak Frisca seperti kakak perempuanku karena anakku yang begitu menyayanginya. Karena itu kami mohon terimalah kami dan anggap kami seperti keluargamu. Jika Kak Valdo sungguh-sungguh menyayangi kakak perempuanku, jangan batasi diri lagi seolah-olah kami adalah orang lain bagi Kak Valdo," ucap Allena membujuk sambil mengusap rambut Keisya yang tertidur di pangkuan Rivaldo.
Rivaldo menoleh ke arah mereka secara bergantian. Semua mengangguk sambil tersenyum ke arahnya.
"Saat tindakan bedah selesai dilakukan, kita tetap belum bisa menemui Frisca, karena Frisca akan dipindahkan ke ruangan transisi. Di sana kondisi fisik Frisca akan terus dipantau. Jika tidak mengalami komplikasi apapun setelah operasi dan jika kondisi Frisca terus membaik, maka tim medis akan memindahkannya ke ruang perawatan. Disana kita baru bisa menjenguk Frisca, untuk itu sebaiknya kita menunggu Frisca di ruang perawatan saja," papar Shinta.
Rivaldo mengamati Dokter Shinta yang memang sedang mengenakan jas dokternya. Akhirnya laki-laki itu percaya dan ikut apa yang disarankan mereka.
Bersama-sama akhirnya mereka melangkah ke ruang rawat inap yang telah di pesan Allena. Rivaldo terkejut saat memasuki ruangan yang begitu mewah itu.
"Maaf, tapi aku tidak akan sanggup membayar tagihan untuk ruang perawatan yang semewah ini. Aku hanya bisa di..,"
"Aku, adiknya ini yang akan membayar tagihannya. Kakak ipar tidak perlu khawatir," ucap Allena cepat memotong ucapan Rivaldo.
Mendengar panggilan Allena terhadapnya, Rivaldo menuduk tersipu.
"Di sini kita bisa ikut istirahat menunggu Frisca," ucap Zefran.
Laki-laki itu duduk di sofa sambil merebahkan Zefano yang sudah tertidur karena letih menunggu. Mereka semua mengangguk sambil menatap Rivaldo untuk meminta persetujuannya. Akhirnya laki-laki itu mengangguk dan ikut duduk di kursi tamu, sambil tetap memangku putrinya.
Allena ingin menggendong Keisya untuk memindahkannya ke ranjang penunggu pasien. Namun Zefran melarang karena Allena yang baru saja melahirkan. Zefran akhirnya menggendong Keisya dan memindahkannya ke ranjang penunggu pasien, Rivaldo hanya bisa pasrah.
Di sana mereka menunggu Frisca sambil menceritakan kedekatan mereka dengan Frisca pada Rivaldo. Setelah itu Dokter Shinta keluar untuk melanjutkan pekerjaannya dan Valendino membeli makanan untuk cemilan mereka.
Saat menjelang malam, pintu ruang perawatan mewah itu pun terbuka. Semua menoleh ke arah para perawat yang mendorong brankar di mana Frisca masih tertidur di atasnya. Para perawat memindahkan Frisca ke ranjang di ruangan itu.
Dokter memberi penjelasan pada keluarga pasien. Dokter Shinta pun datang dan ikut mendengarkan. Setelah memberikan penjelasan, dokter penanggung jawab Frisca pamit meninggalkan ruangan, mengangguk sekilas pada Dokter Shinta lalu menghilang di balik pintu.
"Nah sudah dengar penjelasan dokter 'kan? Saat ini Frisca masih dalam pengaruh anestesi dan sekarang sudah masuk waktunya makan malam. Bagaimana kalau kita makan malam dulu?" tanya Shinta.
"Makan malam? Apa anak-anak boleh ikut?" tanya Zefano langsung duduk sambil mengucek matanya.
Semua langsung menoleh saat mendengar suara anak itu. Melihat tingkah Zefano yang langsung bangun mendengar kata makan malam sontak membuat mereka semua tertawa.
Rivaldo yang melihat kelucuan itu ikut tersenyum meski dalam hatinya masih ada keraguan akan masa depannya dan keluarganya tapi saat melihat Zefano, laki-laki itu tak bisa menahan senyumnya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...