Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 71 ~ Namanya Siapa? ~


__ADS_3

Allena pulang bersama Zefran dan Suster Nofi. Mereka kembali ke ruang rawat inapnya. Baru saja duduk di ranjang rumah sakit, Allena langsung teringat pada bayi perempuannya. Saat hatinya lega karena menemukan Zefano, Allena seperti melihat dunia kembali.


Kehilangan Zefano yang membuatnya selalu merasa bersalah dan sering termenung. Tatapan mata yang kosong dan pikiran yang selalu melayang entah kemana.


Bayi perempuan itu bahkan sering terabaikan olehnya. Hanya sekedar menyusuinya saja Allena sering diingatkan. Jika bukan karena Zefran yang telaten menyerahkannya. Wanita itu mungkin tidak pernah sekalipun menyentuh putrinya.


Saat anak itu menangis Zefran segera mengurusnya. Merawatnya di hadapan Allena untuk menarik perhatian wanita itu terhadap bayi perempuannya. Meski ada perawat yang siap membantunya untuk membersihkan dan mengganti popok namun Zefran memilih melakukannya sendiri di depan Allena.


Namun, perhatian Allena tak teralihkan, Allena membiarkan Zefran melakukan semuanya. Sedangkan dirinya hanya duduk termenung menyesali diri. Hal itu sempat membuat Zefran khawatir. Depresi yang dialami istrinya membuat Zefran memberikan perhatian ekstra bagi istrinya. Hal yang ditakutkan Zefran adalah Allena mengalami baby blues syndrome.


"Allena, ini bayimu ingin digendong olehmu," pancing Zefran.


Tapi Allena bergeming, kemudian Zefran segera meletakkan bayi itu di pangkuan Allena.


"Sayang, kamu harus menyusui bayimu," ucap Zefran membuyarkan lamunan Allena.


Wanita itu menoleh pada bayi di pangkuannya lalu mulai menyusui dengan pikiran yang kosong. Tak ada sedikit pun perhatian Allena pada bayi itu.


Semoga Zeno segera ditemukan, jika tidak depresi Allena akan bertambah parah, ya ampun apa yang akan terjadi dengan keluargaku? jerit hati Zefran dengan air mata yang menitik.


Setiap saat laki-laki itu menghubungi Valendino untuk mengetahui kabar dari usaha pencarian mereka. Namun, sahabatnya itu masih belum memberikan kabar gembira hingga akhirnya Dokter Shinta yang datang berlari memberitahukan keberadaan Zefano.


Dan kini wajah Allena telah kembali ceria karena telah bertemu dengan Zefano meski harus kecewa karena pulang tanpa membawa anak itu. Tapi Allena merasa tenang karena Dokter Shinta siap menjaga anak itu dan membawanya pulang nanti.  


Telah bertemu dengan Zefano membuat hati Allena bahagia dan kini telah tumbuh keinginan dihatinya untuk bermain bersama putrinya.


"Kak, aku ingin melihat putri kita," pinta Allena.


Zefran langsung tersenyum, semenjak dilahirkan Allena tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan putri mereka. Allena hanya sekedar menyusui dengan tatapan yang kosong. Sama sekali tidak memandang bayi cantik dihadapannya, itu pun jika diingatkan untuk menyusui bayinya. Tapi sekarang Allena justru meminta untuk dibawakan bayinya.


"Kamu ingin entun dibawa ke sini?" tanya Zefran sambil tersenyum.


"Entun? Siapa Entun?" tanya Allena dengan kening mengernyit heran.


"Ya, anakmu. Bayi perempuan yang baru kamu lahirkan itu," jawab Zefran sambil menahan ketawa.


"Masa namanya Entun?" tanya Allena.


"Ya habisnya saat ditanya padamu siapa nama anakmu? Kamu tidak mau menjawab, cuma diam menatap kosong akhirnya ibu memanggilnya dengan panggilan Entun," jelas Zefran dengan menekankan suaranya saat menyebut nama itu.


"Aah, nggak mau. Aku nggak mau namanya Entun. Masa namanya Entun sih?" tanya Allena sambil memukul bahu suaminya.


"Salah sendiri kenapa waktu ibu bertanya, Allena ibu kasih nama Entun ya? Kamu diam saja berarti setuju," goda Zefran.


"Nggak setuju! Nggak setuju! Nggak setuju!" teriak Allena berulang kali.


"Eeeh, ada apa ini?" tanya bu Vina tiba-tiba datang bersama Rahma dan juga Ny. Mahlika.


"Iya ya, sudah lama Mommy tidak mendengar suaramu. Begitu bersuara langsung berisik seperti ini," ucap Mahlika.


Membuat kedua nenek yang cantik-cantik itu tertawa.


"Kami sudah menemukan Zeno, Mommy. Pagi tadi kami menyusul ke rumah sakit di mana dia terlihat dan baru pulang barusan. Sekarang Allena sudah bernyawa lagi, makanya dia berisik," ucap Zefran sambil tersenyum.


Allena mendelik, Bu Vina dan Ny. Mahlika tertawa. Rahma cekikikan.

__ADS_1


"Lalu Zeno di mana tuan?" tanya Rahma tak sabar ingin bertemu dengan anak itu.


"Tuan, tuan, kamu mau kerja lagi di rumahku?" tanya Zefran.


Rahma langsung melambaikan tangan di depan wajahnya sambil tersenyum.


"Lalu saya harus panggil apa dong?" tanya Rahma pelan dan ragu-ragu.


"Terserah kamu, panggil nama juga boleh kalau mau dicap kurang ajar," jawab Zefran sambil tersenyum menatap istrinya.


Allena tersenyum, Rahma semakin bingung tak berani memutuskan. Allena berpikir selamanya Rahma tidak akan berani menyapa Zefran jika tidak dipertegas.


"Kamu sudah aku anggap sebagai adikku, jadi suamiku adalah kakak iparmu. Kamu panggil Kak Zefran saja. Aku pikir, kalau tidak ditentukan sekarang, selamanya kamu tidak akan mau menyapa suamiku," ucap Allena.


"Tahu aja kakak ini aku sudah bertekad seperti itu," ucap Rahma.


"Apa? Bertekad selamanya tidak memanggilku?" tanya Zefran.


"Ya!"


"Ya, ampun," jawab Zefran lalu tertawa.


Mereka semua tertawa, meski hati sangat rindu untuk segera bertemu dengan Zefano namun hati mereka telah lega karena anak itu telah ditemukan.


Bu Vina, Ny. Mahlika dan Rahma bertanya banyak tentang Zefano. Di mana dan bagaimana keadaannya. Zefran menjelaskan semua kejadian pada ibunya dan ibu mertuanya. Juga termasuk sakit yang diderita Frisca. Mereka bertiga terenyuh mendengarkan cerita Zefran.


Perasaan mereka bercampur aduk, kecewa, marah, sedih bercampur menjadi satu. Bagaimanapun juga Frisca telah menjadi keluarga sekian lama. Frisca pernah menjadi istri bagi Zefran, menantu bagi Ny. Mahlika. Nyonya itu pun dulu sangat menyayanginya.


Rasa marah karena telah menculik cucu satu-satunya membuat Ny. Mahlika bertekad akan memasukkannya ke penjara. Namun, saat mendengar penyakitnya dan Allena pun telah memaafkannya. Akhirnya Nyonya besar itu pun pasrah meski rasa sayangnya terhadap Frisca telah menurun drastis.


"Ini Bu, anak Ibu tidak bersyukur. Padahal Ibu sudah memberi nama untuk putrinya, eh dia malah protes," ucap Zefran lalu tertawa.


Allena kembali memukul lengan suaminya yang ikut rebah dan bersandar di kepala ranjang rumah sakit itu.


"Masa ibu kasi nama Entun sih, Bu?" tanya Allena cemberut pada ibunya.


"Ya, salahmu sendiri kenapa setiap kali ditanya siapa nama anakmu? Kamu diam tak pernah ada jawaban," ucap Mahlika.


Allena tertunduk, tidak berani protes pada ibu mertuanya. Sejak kehilangan Zefano, wanita itu tidak perhatian sama sekali pada bayi yang dikandungnya, apalagi menyiapkan nama untuknya. Dan sekarang barulah menyadari kalau dia telah berbuat tidak adil terhadap putrinya.


Bayi itu datang setelah Zefran meminta suster mengantarnya ke ruang rawat inap Allena. Wanita itu langsung menggendong dan menatap wajah cantik putrinya yang masih tertidur.


"Dia cantik sekali ya Kak tapi sayang namanya Entun," ucap Allena dengan mimik yang berubah dari senyum senang menjadi cemberut.


Semua tertawa, Allena merasa kesal melihat semua orang yang baginya begitu tega memberi nama lucu seperti itu. Ada begitu banyak nama yang bisa dipilih. Allena merasa ibunya begitu tega memberi nama seperti itu bagi putrinya yang hidup di jaman modern seperti sekarang ini.


"Entun itu artinya titipan sementara. Jadi ibu memberi nama itu hanya untuk nama sementara sampai kamu sadar sepenuhnya dan menentukan sendiri nama untuk anakmu," ucap Vina sambil tersenyum.


"Benar Bu? Jadi ini bukan nama yang sebenarnya? Masih bisa diganti?" tanya Allena dengan wajah yang riang.


Bu Vina mengangguk, semua tersenyum senang saat melihat wajah Allena yang begitu bahagia. Mereka pun mengusulkan beberapa nama untuk bayi yang cantik itu.


"Zefania Kak, sifatnya sama seperti Zeno orang yang senang bergaul. Nyaman dikelilingi orang banyak, bisa menjadi konselor yang hebat terus mempunyai kepribadian berusaha secara praktis, berorientasi terhadap status, pencari kekuasaan, bertujuan pada materi," usul Rahma.


"Berarti materialistis, kamu ingin anakku menjadi perempuan materialistis?" tanya Allena.

__ADS_1


"Tapi calon sukses Kak, jaman sekarang ini materialistis yang realistis," ucap Rahma sambil tertawa.


Bu Vina mencubit pipi Rahma karena gemas.


"Kalau nggak, Zafina saja artinya pemenang," usul Rahma lagi.


"Kalau Zifana artinya terang, kebetulan Entun lahirnya di siang hari," ucap Vina sambil cekikikan sendiri.


Rahma pun ikut tertawa cekikikan melihat Allena yang terlihat bingung menoleh bergantian pada siapa pun yang mengusulkan nama.


"Kalau Mommy usul namanya Zafira, cantik seperti batu safir yang cantik dan mahal," sahut Mahlika.


"Wah.., Mommy orientasinya perhiasan mahal," ucap Allena sambil tersenyum.


"Ya benar, Mommy baru melihat padparadscha sapphire cantik sekali. Campuran antara warna pink dan jingga dengan pantulan cahaya yang indah menawan. Batu permata itu salah satu batu permata terindah sekaligus terlangka di dunia. Mommy tidak pernah puas memandangnya, harganya mencapai seratus lima belas milyar per karat," tutur Mahlika sambil membayangkan cantiknya batu permata itu.


"Mommy mau?" tanya Zefran.


"Mommy sudah pesan, kalau kamu bersikeras ingin membayarnya ya silahkan," ucap Mahlika langsung.


Semua tertawa, secepat kilat Ny. Mahlika menyerahkan masalah pembayaran batu permata asal Srilanka itu pada putranya yang seorang CEO di perusahaan keluarganya.


"Jadi siapa namanya ini?" tanya Allena kembali teringat pada tujuan pembicaraan mereka.


Semakin mendapat banyak usulan nama, wanita cantik itu semakin bingung memilihnya.


"Zifara artinya cantik dan pintar, kalau mau bisa dipanggil Zara. Abangnya dipanggil Zeno adiknya dipanggil Zara," usul Zefran akhirnya.


Ada yang termenung, ada yang manggut-manggut. Semua nama-nama itu terdengar cantik-cantik dengan makna yang bagus dan menarik. Akhirnya Allena memutuskan Zefano yang memilih satu di antara semua usulan nama itu


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Zefano datang diantar oleh Dokter Shinta. Anak itu langsung diberondong dengan berbagai macam pertanyaan. Pelukan dan ciuman bergantian menghujani Zefano. Tak ada satu pun yang ingin segera melepaskannya, semua ingin menguasai anak itu.


Anak itu hanya tertawa karena sikap semua orang di situ yang ingin memperebutkannya. Allena harus bersabar menunggu mereka melepaskan Zefano dan akhirnya mendekat dan duduk di dekatnya.


"Ini adek Zeno ya Ma?" tanya Zefano sambil menatap dan mengusap pipi adik perempuannya.


Anak itu sibuk memperhatikan semuanya, rambutnya yang tipis. Pipinya yang chubby, tangannya yang mungil, kakinya yang kecil.


"Lucu ya Ma, kakinya kecil betul. Rasa pengen Zeno gigit, boleh dimakan nggak Ma?" tanya Zefano sambil membuka mulutnya dan memasukkan kaki bayi mungil itu ke mulutnya.


Semua yang berada di situ langsung berteriak jangan, anak itu langsung tertawa. Zefran gemas setelah merasa dikerjai anaknya. Laki-laki itu langsung mengangkat dan melambungkannya tinggi. Zefano tertawa riang saat tubuhnya terasa terbang.


"Ayo sekarang Zeno ingin nama adik siapa?" tanya Mahlika yang tak sabar ingin tahu nama apa yang akan dipilih anak itu.


Mereka kembali mengusulkan nama-nama bayi perempuan itu satu persatu. Setiap diusulkan Zefano menjawab setuju. Saat diusulkan nama lain anak itu pun setuju.


"Jadi namanya siapa nih?" tanya Allena yang juga ikut penasaran nama apa yang akan dipilih Zefano untuk adik perempuannya.


"Namanya adalah...,"


Ucap anak itu lalu berbisik pada ibunya, Allena yang mendengar bisikan anaknya, mengangguk-angguk sambil tersenyum lalu mencium pipi anak itu.


"Jadi namanya siapa?" tanya yang lainnya serentak hingga terdengar keras.


Zefano menutup telinganya dengan kedua tangannya sambil tertawa.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2