Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 85 ~ Berbaikan ~


__ADS_3

Wanita itu meninggalkan Zefran dan masuk ke kamar mandi. Zefran tertunduk sambil memijat pangkal hidungnya lalu menatap ke arah kamar mandi. Terlalu banyak pemikiran sendiri yang dipendam oleh Allena dan Zefran dengan sabar harus bisa memberi pengertian padanya.


Laki-laki itu melangkah ke kamar mandi, terlihat istrinya yang berdiri menunduk di depan wastafel. Zefran memeluk wanita yang hanya mengenakan kain putih yang dililitkan itu, melingkarkan tangannya ke pinggang wanita itu dan mengecup bahu Allena yang terbuka. Zefran lalu meletakkan dagunya di bahu wanita cantik itu.


"Frisca adalah cinta pertamaku, kamu benar tapi kenyataannya sekarang kamu adalah cinta terakhir bagiku dan cinta sejatiku, cinta yang sesungguhnya dan selama-lamanya. Allena, satu-satunya wanita yang aku cinta hanya kamu dan aku mencintaimu selama-lamanya. Demi cintaku padanya, aku memang menentang perjanjian Mommy dengan ibumu agar bisa menikah dengannya. Itu karena aku tidak mengenalmu sebelumnya. Tapi setelah menikah denganmu aku justru tidak bisa mempertahankan cintaku padanya. Karena ketulusanmu dan kesabaranmu menghadapi laki-laki sepertiku. Aku terjerat cintamu dan tak ingin lepas lagi. Kamu mampu membuat hatiku berpaling dari cinta pertamaku. Dia memberikan kepuasan padaku selama belasan tahun. Tapi kamu Allena …,"


Zefran membalik tubuh Allena ke hadapannya dan menangkup wajah wanita itu.


"Kamu memberiku kepuasan sejak pertama kali hingga selamanya. Allena, aku mohon, jangan simpan pemikiran seperti itu lagi. Percayalah padaku, apa yang kita alami sejak pertama menikah itu semua untuk menguji kekuatan cinta kita. Dengan semua masalah yang timbul tidak sedikit pun cintaku berkurang padamu," jelas Zefran.


"Apa sekarang Kakak tidak menyesal berpisah dengannya? Karena hingga sekarang dia masih tetap cantik, tubuhnya tetap indah. Sementara aku bertambah gemuk?" tanya Allena.


"Siapa bilang kamu bertambah gemuk? Selain baju hamil apa kamu membeli pakaian dengan ukuran yang lebih besar? Aku tidak melihatnya? Aku masih melihatmu dengan ukuran baju yang sama," jelas Zefran.


"Tapi kenapa Kak Altop dan Kak Ronald bilang aku bertambah gemuk?" tanya wanita itu sambil menunduk.


"Mereka cuma bercanda karena pipimu yang terlihat lebih berisi. Aku yakin mereka berkata seperti itu karena gemas ingin mencubit pipimu," ucap Zefran lalu tertawa.


Allena justru mencubit pinggang laki-laki itu.


"Kakak bohong, buktinya Kakak menyuruhku makan brokoli. Kakak menyetujui ucapan Kak Ronald kalau aku bertambah gemuk," protes Allena.


"Apa salahnya makan brokoli? Bukannya kamu memang suka makan brokoli? Tapi menyuruh memakan itu bukan karena kamu bertambah gemuk, tapi hanya karena ingin menggodamu. Sudahlah Allena, percayalah! Hanya kamu wanita yang aku cintai. Hilangkan rasa tidak percaya dirimu apalagi kata-kata yang menyatakan kami adalah anak-anak dari keluarga kaya? Sejak kapan status sosial menjadi masalah bagi kami dalam berteman.  Kami berteman dengan siapa saja tidak membatasi diri hanya berteman dengan keluarga kelas atas. Allena, lihatlah dirimu! Aku jatuh padamu, aku sendiri bahkan jatuh cinta pada gadis dari keluarga sederhana," tutur Zefran sambil memeluk istri tercintanya.


"Tapi Kakak menghinaku kalau aku menikahi Kakak karena uang. Aku menjual diriku pada keluarga ini demi membayar hutang. Aku masih ingat ucapan Kakak sehari setelah kita menikah. Sampai sekarang aku masih merasa kita menikah karena uang. Kakak menamparku karena menganggap aku adalah wanita rendah yang telah dibeli. Kakak …,"


Zefran tidak mengizinkan Allena bicara lagi. Laki-laki itu menyumpal mulut Allena dengan mulutnya. Memeluk wanita itu dengan erat dan membenamkan bibirnya lebih dalam. Allena bingung Zefran tidak memberi jawaban tapi justru memeluk dan menciumnya.


"Apa kamu tidak percaya? Aku bersyukur keluargamu berhutang. Jika bukan karena itu, mungkin aku tidak akan mengenalmu bahkan menikahimu. Aku bersyukur dengan kejadian itu, karena itu yang membawamu padaku. Jika bukan karena hutang itu, kamu tidak akan punya alasan menjadi istri keduaku. Sayang, jangan sesali itu lagi, karena aku sangat bersyukur karena itu. Jangan pernah ... pernah …  pernah lagi merasa rendah diri. Kami tidak merendahkanmu, kami menghormati dan menghargaimu. Jangan ragukan cintaku padamu lagi! Aku mohon sayang, aku bahagia menikah denganmu, aku bahagia memilikimu dan anak-anak kita. Aku sangat mencintaimu Allena," ucap Zefran kemudian mencium lama kening istrinya.


Setelah puas mencium kening istrinya, Zefran menatap wajah cantik Allena lalu memeluknya erat.


Allena mengalami postpartum depression, emosinya turun naik, baru sesaat yang lalu hatinya bahagia bahkan menggodaku. Sekarang malah emosi, merasa sedih dan sensitif. Aku harus lebih sabar menghadapinya hingga masa-masa ini berakhir. Mungkin akan sulit menghadapi Allena saat dia mengalami penurunan kepercayaan diri dan merasa harga dirinya rendah seperti saat itu. Aku juga tidak boleh emosi menghadapi perasaan Allena yang seperti ini. Aku harus menyatakan cinta padanya setiap hari agar dia selalu ingat kalau aku sangat mencintainya, batin Zefran.


Laki-laki itu benar-benar mengingat janji itu dalam hatinya. Sejak saat itu, Zefran bertekad setiap saat mengucapkan cinta pada istrinya, menggodanya, menyanjungnya dan memanjakannya.


Allena merasa heran dengan sikap Zefran yang terasa begitu berlebihan. Namun, mendapat perhatian yang begitu besar dari laki-laki itu tentu saja membuatnya bahagia. Zefran bahkan rela berebut dengan Allena untuk mengurusi bayi mereka. Di tengah malam rela bangun saat mendengar Zifara menangis.


Segera mengurusi bayi itu agar Allena tidak terbangun. Allena bukannya tidak mengetahui semua itu, wanita itu tersenyum saat diam-diam mengintip aktifitas Zefran mengganti popok bayi yang sekarang hampir berumur satu bulan itu. Laki-laki itu berbicara sendiri seolah-olah berbicara pada bayi cantik itu.


"Kalau sudah besar, Zara jangan seperti Mama ya!" ucap Zefran.


Allena langsung cemberut.


"Harus lebih segala-galanya dari Mama, Mama itu baik, cantik dan pintar. Zara harus lebih dari itu, lebih baik dari Mama, lebih cantik dari Mama dan lebih pintar dari Mama. Ah, Papa lupa, Zara juga harus lebih beruntung dari Mama. Zara harus mendapatkan suami yang jauuuuh, lebih baik segalanya dari Papa. Janji ya!" ucap Zefran tersenyum sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking kecil Zifara.


Allena tersenyum mendengar ocehan tak berbalas itu.


Akan sulit menemukan suami yang lebih baik darimu Kak. Hingga saat ini Kakak sudah sabar menghadapiku yang sensitif tak jelas ini. Aku tahu Kakak berusaha untuk itu, Kakak pasti merasa lelah menghadapiku. Ah ya ampun, harusnya aku mulai bisa menguasai emosiku. Aku harus selalu percaya padanya, tak boleh meragukan cinta lagi, batin Allena.

__ADS_1


Allena dan Zefran belajar menguasai emosi mereka. Zefran seperti telah terbiasa. Saat wanita itu bersedih dengan cepat Zefran membujuknya, saat Allena marah, Zefran bersabar menerima kemarahannya.


"Kak, kita diundang ke pernikahan Kak Valdo dan Kak Frisca," ucap Allena sambil mengantar suaminya ke teras saat laki-laki itu akan berangkat ke kantor.


Zefran sebenarnya telah mendengar berita gembira itu dari sahabat-sahabatnya. Namun, laki-laki itu hanya diam menunggu Allena sendiri yang membahasnya. Dia tidak ingin memulai apa pun pembicaraan yang berhubungan dengan Frisca. Karena Allena yang sensitif pada apa pun yang berhubungan dengan wanita itu.


Tapi jika Allena yang membicarakannya, Zefran akan mendengar dengan serius. 


"Hari ini aku akan mengantarkan mereka fitting pakaian pengantin mereka. Aku juga akan menemui Kak Tiara untuk menanyakan kesiapannya menyediakan bunga-bunga segar untuk pesta pernikahan itu," ucap Allena bersemangat.


"Sayang, jangan sampai merepotkanmu untuk urusan pernikahan mereka," ucap Zefran takut Allena kelelahan dan mudah tersulut emosi.


Zefran selalu menghindar mengucapkan nama Frisca. Karena Allena yang berkata benci saat mendengar Zefran menyebut nama wanita yang pernah menjadi istrinya itu.


"Tapi aku sudah janji Kak, mana mungkin aku batalkan. Lagi pula ini tidak merepotkan. Aku cuma menemui Kak Tiara dan mereka yang akan mengurus segalanya. Sekalian ingin bertemu dengan Kak Tiara. Sudah lama juga tidak bertemu dengannya. Mengenai seragam pengantin, nanti aku akan menemani Kak Valdo dan Kak Frisca, sekalian ingin cek ulang apa masih ada yang kurang pas. Nanti aku ajak Zeno untuk temani aku. Iya Kak?" jelas Allena.


"Kamu pergi bersama Zeno?" tanya Zefran kurang yakin.


Allena mengangguk.


"Aku ikut ya?" tanya Zefran meminta izin sambil tersenyum. Allena mendelik heran.


"Kenapa? Ingin melihat Kak Frisca memakai gaun pengantin?" tanya Allena.


Mendengar itu, senyum di wajah Zefran langsung menghilang.


Lebih baik tidak ikut daripada dituduh seperti itu, batin Zefran.


"Duh sedihnya, nggak dibolehin ikut," ucap Allena menggoda suaminya.


"Nggak ah, siapa yang sedih? Aku cuma ingin ikut kemana pun kamu pergi. Aku senang bisa ikut setiap kegiatanmu. Tapi kalau tidak di bolehin ya mau gimana lagi," ucap Zefran yang kemudian pamit dan mencium bibir istrinya.


"Makan siang nanti Kakak pulang ya? Habis makan siang temani aku ke toko bunga. Setelah itu kita temani Kak Frisca fitting gaun pengantinnya. Gimana?" tanya Allena.


Zefran menghentikan langkahnya dan berbalik mendengar seruan Allena.


"Jangan dipaksakan sayang, jika kamu tidak ingin aku ikut, ya … tidak usah, aku juga iseng tadi," ucap Zefran.


"Nggak Kak, aku senang Kakak temani, tapi kalau ketemu Kak Robert jangan berpikiran macam-macam ya!" seru Allena sambil menghampiri laki-laki itu. 


Allena melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Zefran mengangguk.


"Kamu juga! Kalau kita ketemu Frisca, jangan punya pikiran macam-macam juga ya!" balas Zefran sambil menangkup wajah wanita itu.


Allena tertawa lalu memeluk suaminya.


"Kalau seperti ini terus, aku bisa batal masuk kantor. Aku senang nyantai di rumah tapi apa kamu suka melihat aku tidak masuk kerja?" tanya Zefran.


"Ya sudah berangkatlah! Maaf sudah menghambat laju petugas," ucap Allena lagi, Zefran tertawa.

__ADS_1


Kembali mengecup bibir istrinya kemudian melangkah menuju garasi. Allena melambaikan tangan saat Zefran melewatinya dengan kecepatan yang sangat pelan. Allena tertawa melihat tingkah suaminya yang tak kunjung melajukan mobilnya. Allena meninggalkan teras saat mobil suaminya itu sudah tak terlihat lagi.


Melangkah pelan ke dalam rumah dan langsung naik ke lantai atas.


Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa nanti, bisik hati Allena.


Kembali wanita itu menemani putra dan putrinya bermain dan belajar. Zefano yang telah ketinggalan pelajaran di sekolahnya karena harus di rawat inap, tak dibiarkan Allena. Dalam setiap kesempatan anak itu tetap belajar di bantu Allena. Meski Zeno tak lagi mendapatkan pelajaran di sekolah namun Allena benar-benar tak ingin anaknya ketinggalan pelajaran.


"Nanti Mama pergi ke toko bunga lalu temani Tante Frisca cobain gaun pengantinnya. Apa Zeno mau ikut?" tanya Allena sambil mengoreksi jawaban latihan Zefano.


"Boleh ikut Ma?" tanya Zefano balik.


"Boleh kalau Zeno mau ikut," jawab Allena.


"Yey, ikut sama Mama ketemu Tante Frisca dan Keisya. Ya 'kan Ma? Keisya juga ikut 'kan?" tanya Zefano.


"Mama kurang tahu? Nanti Zeno tanya sendiri sama Keisya. Zeno telepon dulu aja," usul Allena.


"Baik Ma," ucap Zefano lalu mengecup pipi ibunya.


"Zeno senang ketemu sama Tante Frisca dan Keisya?" tanya Allena.


"Ya Ma, Zeno suka semuanya. Tante Frisca, Om Valdo, Keisya, Uncle Val, Auntie Shin, Uncle Top, Uncle Ron, pokoknya semua, Zeno suka semua," jawab Zefano sambil merentangkan tangannya dan bergerak membentuk lingkaran.


"Zeno memang anak yang baik, suka berteman dengan siapa saja," ucap Allena yang juga merentangkan tangannya untuk memeluk putranya.


Setelah makan siang mereka berangkat bersama-sama menggunakan sedan sport milik Zefran. Seperti permintaan Allena tadi, wanita itu meminta suaminya makan siang di rumah kemudian bersama-sama menuju tempat-tempat yang disebutkan Allena.


Mereka tiba di toko bunga Tiara, Allena menceritakan kalau dulu dirinya pernah bekerja di toko bunga itu pada Zefano. Saat melihat Allena datang bersama keluarganya, Tiara yang berada di dalam kantornya langsung keluar menyambut. Allena mengenalkan Zefran dan Zefano pada Tiara. Mantan atasannya itu, begitu terkejut saat melihat Zefano yang telah tumbuh besar.


"Ya ampun, ini putramu Allena? Aduh tampannya, sudah sebesar ini? Waktu cepat berlalu ya Allena," ucap Tiara.


"Dulu saat menunggu kelahiranmu Tante Tiara panik sampai lupa kalau belum makan siang. Saat menggendongmu rasanya tak pernah puas menciumi wangimu. Kalau tidak ingat toko, bisa-bisa sampai tengah malam Tante Tiara gendong kamu." Cerita Tiara sambil berjongkok dan menangkup wajah Zefano.


Anak itu tersenyum mendengar cerita Tiara. Sementara Zefran merasa ada yang lain.


"Jadi bukan hanya Valen yang menemanimu saat melahirkan?" tanya Zefran pada Allena.


Allena menggelengkan kepalanya, Tiara pun bercerita bagaimana Allena yang tiba-tiba mengalami kontraksi.


"Beruntung ada Tn. Valen yang bisa membantu membawa Allena. Kami berdua menunggui Allena dengan rasa panik sampai lupa waktu. Bahkan Tn. Valen baru teringat menghubungi Tuan Zefran setelah Allena melahirkan," jelas Tiara.


Zefano menatap istrinya, selama ini selalu ada ganjalan di hatinya terhadap Valendino yang dianggap mengambil alih kesempatan Zefran untuk menunggui Allena melahirkan. Setiap mengingat itu masih tersisa rasa kesal di hatinya meski telah menyadari kejadian seperti itu bisa saja terjadi.


Zefran sendiri bahkan diingatkan Dokter Shinta untuk menghubungi ibunya. Zefran merasa bersalah karena masih menyimpan penyesalan itu terhadap Valendino. Bukan lagi karena Valendino yang lupa menghubunginya tapi karena mengira Valendino sendirian menunggu istrinya melahirkan, seakan-akan menganggap Allena istrinya sendiri.


Baru kali ini Zefran mengetahui kalau ternyata Tiara bersama Valendino menunggui Allena melahirkan. Baru kali ini mengetahui Valendino tidak sendirian. Hati Zefran terasa lega sekaligus merasa bersalah atas prasangka buruknya pada sahabatnya itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2