Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 150 ~ Rahma & Patrick' s Wedding ~


__ADS_3

Acara peragaan busana Zifara telah selesai dilakukan. Allena pun bersyukur karena Dr. Shintya dan Dr. Devan terlihat semakin akrab. Namun saat perjalanan pulang Dr. Shintya, mengucapkan kata-kata yang mengejutkan Allena.


"Aku rasa dia masih menyukaimu," ucap Shintya pelan nyaris tak terdengar.


Saking tak percayanya Allena hingga tak sengaja bertanya. Rasa heran dengan ucapan Dr. Shintya harusnya ditelan dalam hatinya, berpura-pura tak mendengar ucapan dokter perempuan yang manis itu.


Allena tertegun, bahkan terhenti membantu memasang seat belt Dr. Shintya. Allena menyesal bertanya seperti itu, karena begitu pelannya suara Dr. Shintya, harusnya Allena bisa berpura-pura tak mendengar. Kini dia bingung harus menjawab atau berkomentar apa. Meski tak yakin Dr. Devan sungguh-sungguh menyukainya. Tapi tingkah dan ucapan Dr. Devan di masa lalu memang mengisyaratkan seperti itu.


Allena kembali duduk di kursi kemudi, teringat cerita dari suaminya kalau Dr. Devan adalah rival-nya dalam meraih hati gadis-gadis di sekolah.


"Aku rasa dia tidak sungguh-sungguh menyukaiku. Perasaannya padaku mungkin timbul karena sifat mereka yang sejak dulu suka berebut hati perempuan. Saat dia tahu kalau aku adalah istri Kak Zefran, aku rasa perasaan ingin bersaingnya muncul hingga tanpa sadar bersikap seolah-olah dia menyukaiku. Aku yakin dia tidak tulus menyukaiku dokter, dia hanya ingin merebut perhatianku dari suamiku. Dan itu pasti tidak akan terjadi, Dr. Devan juga tahu itu," ungkap Allena.


Dr. Shintya menunduk, sebagian hatinya ingin percaya pada ucapan Allena namun sebagian lagi tak bisa mempercayai.


"Percayalah dokter, semua ini hanya perasaan Dr. Shintya saja. Karena, saat kita menginginkan seseorang, kita butuh kepastian hati apakah orang yang kita inginkan juga menginginkan kita sebanyak kita menginginkannya. Aku sangat mengerti perasaan itu. Liku-liku pernikahanku dengan Kak Zefran dilalui dengan rasa tak percaya diri. Rasa tak yakin bisa memiliki hati pasangan kita seutuhnya. Ternyata rasa itu, bukan hanya aku yang merasakannya tapi Kak Zefran juga. Kami masing-masing terus mencari kepastian seperti apa perasaan pasangan masing-masing. Sudah cukup besarkah rasa cintanya pada kita. Saat melihat kehadiran seseorang kita akan merasa, mampukah mempertahankannya agar tetap memilih kita? Atau saat mengenal seseorang. Kita akan berpikir, apakah dia menyukai orang itu? Apakah aku mulai tersingkir dari hatinya? Apa aku bisa mengalahkan orang itu dihatinya? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan timbul untuk mengganggu keyakinan kita padanya. Membuat kita meragukan keputusannya memilih kita. Tapi percayalah dokter jika … kita menepis semua itu dengan lebih menebalkan rasa percaya pada pasangan kita, semua itu dapat kita lewati hingga suatu saat akan terlihat bukti kalau pasangan kita sungguh-sungguh memilih kita jauh dari dalam lubuk hatinya," jelas Allena panjang lebar untuk lebih meyakinkan hati Dr. Shintya.


"Sungguh?" tanya Shintya.


"Maaf, aku menjelaskan panjang lebar seperti seorang yang menggurui dan merasa seperti orang yang berpengalaman tapi … apa yang aku ucapkan tadi memang sungguh-sungguh. Suatu saat dokter pasti akan menemukan bukti keseriusan Dr. Devan. Hanya saja dokter jangan putus asa untuk menunggu dan buru-buru memutuskan kalau Dr. Devan tak sungguh-sungguh menyukai Dr. Shintya," jelas Allena lagi.


Wanita itu menoleh sekilas pada Dr. Shintya yang menatap ke arahnya. Terlihat Dr. Shintya tersenyum pada Allena. Sekarang dokter manis itu sedikit merasa lega atas penjelasan Allena. Seperti yang diminta Allena, dokter itu hanya disuruh bersabar menunggu bukti cinta Dr. Devan muncul di hadapannya dan sebelum itu terjadi, dia tak boleh putus asa untuk percaya pada dokter tampan itu.


Hari h pun datang. Semua sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta pernikahan Rahma dan Patrick. Allena dan putranya Zefano telah lebih dulu berada di gedung perusahaan fashion milik Ny.  Marilyn. Begitu juga dengan Rahma dan Patrick, keduanya telah mengenakan seragam pengantin mereka masing-masing.


Allena yang mengundang seluruh karyawan dan para model perusahaan itu mendapat kemudahan dari mereka-mereka yang mengenalnya. Untuk penata rias pengantin, salah seorang penata rias yang biasa merias wajah para model-model terkenal itu menawarkan diri untuk merias wajah Rahma dan Patrick.


Untuk dokumentasi tak diragukan lagi, para fotografer berebut ingin membantu Allena dalam mensukseskan pesta adik dari designer kesayangan mereka. Allena yang telah terbiasa menebar kebaikan, di saat-saat butuh bantuan semuanya siap pasang badan untuk membantunya.


Tak perlu mencari orang lain, mereka bahkan merajuk jika tak dilibatkan dalam acara yang membutuhkan banyak campur tangan orang-orang yang ahli di bidangnya. Untuk dekorasi bunga-bunga segar dan kering tentu saja Allena harus melapor pada Tiara, karena jika tidak dilibatkan dan mantan bosnya itu tahu maka Allena tak akan berani lagi menunjukkan wajahnya di depan wanita yang telah menganggapnya seperti keluarga sendiri itu.


"Allena semua dekorasi bunga telah siap. Bagaimana dengan pengantinnya?" tanya Tiara ingin mengetahui kesiapan pasangan pengantin melalui sambungan telepon.


"Baik Kak, semua lancar mereka sebentar lagi siap meluncur ke gedung pesta," lapor Allena.


Wanita itu sangat berterima kasih atas perhatian Tiara pada pesta pernikahan Rahma. Allena yang telah menganggap Rahma seperti adiknya sendiri itu juga tak lupa mengundang keluarga Rahma dari kampungnya. Beberapa orang tamu keluarga Rahma diberikan beberapa kamar di hotel itu untuk tempat beristirahat mereka.


Rahma memeluk Allena dengan perasaan haru. Gadis itu bahkan hampir menangis melihat perhatian Allena yang begitu besar padanya. Allena tak ingin gadis itu terus merasa terharu karena takut akan merusak riasannya.


"Kamu ini pakai acara sentimentil segala, awas nanti rusak riasannya," ucap Allena pura-pura kesal.


"Habisnya aku yakin jika bukan karena Kak Allena aku tidak akan merasakan pesta yang mewah seperti ini. Juga tidak akan mendapatkan Kak Patrick sebagai calon suamiku," ucap Rahma menjelaskan alasannya yang terbawa perasaan.


"Aku bisa seperti ini sekarang, semua juga karena dukunganmu. Jika kamu tak peduli padaku dulu, membiarkan aku pergi sendiri bersama putraku, membiarkan aku terpuruk sendiri di kamar kost itu dan tak mendukungku untuk belajar di Paris, tak mau membantuku merawat Zeno. Aku … tidak akan bisa seperti sekarang ini Rahma. Jadi jangan anggap kamu berhutang banyak padaku. Akulah yang berhutang banyak padamu," ungkap Allena.


Rahma menatap wajah wanita cantik yang telah dianggapnya sebagai kakak itu. Sejujurnya dia tidak menghitung-hitung apa yang dilakukannya untuk wanita cantik itu. Rahma membantunya dengan ikhlas karena Allena yang terlihat begitu menderita dan Rahma merasa sangat kasihan padanya. Namun, bagi Allena semua itu tak dilupakannya begitu saja. Segala kebaikan Rahma selalu disimpan di dalam hatinya karena begitulah Allena, selalu melupakan kebaikannya pada orang lain dan tak pernah melupakan kebaikan orang lain padanya.

__ADS_1


Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Allena dan pasangan pengantin telah tiba di gedung pesta. Para tamu yang berasal dari sanak saudara dan para sahabat telah menunggu di sana. Begitu juga dengan Dr. Shintya dan Dr. Devan.


Sambil menunggu acara dimulai, mereka terlihat sedang berfoto bersama dengan Zifara. Allena langsung mendatangi mereka.


"Apa-apaan ini, berfoto dengan anakku? Apa yang dikatakan orang nanti jika melihatnya. Orang-orang akan mengira ini putri kalian tapi tak ketahuan kapan menikahnya," protes Allena melihat Dr. Devan dan Dr. Shintya berfoto sebuah seperti keluarga kecil bersama putrinya.


Mendengar ucapan Allena, Dr. Shintya menoleh pada Dr. Devan. Sepertinya yang memiliki ide untuk berfoto bersama bayi kecil yang cantik itu adalah ide Dr. Devan.


"Berfoto sebentar saja dengan Zara nggak boleh, pelit sekali," jawab Devan.


"Ya, Zara itu 'kan anakku. Aku berhak atas dirinya. Kalau kalian ingin berfoto 'kan bisa berdua saja," jawab Allena.


"Tapi kami ingin foto bersama Zara--"


"Untuk apa?"


"Untuk … untuk merasa kalau kami ini satu keluarga," ucap Devan sambil tersenyum.


"Untuk merasa? Menjadi keluarga itu diwujudkan bukan hanya sekedar merasa," jawab Allena seperti menggurui.


"Sekarang merasa dulu, nanti diwujudkan," ucap Devan tak mau kalah.


"Diwujudkan dulu baru dirasakan," protes Allena.


"Baiklah apa?" tanya Allena.


"Oh ya ampun, istri Zefran ini benar-benar cerewet," ucap Devan.


Dr. Shintya tersenyum tertahan mendengar perdebatan Allena dan Dr. Devan. Keduanya terlihat begitu akrab seperti adik kakak yang sedang bertengkar.


"Baiklah aku akan mewujudkannya. Aku akan menikahi Shintya … puas?" tanya Devan.


"Dokter yang ingin menikah kenapa aku yang puas?"


"Oh ya ampun, pantas saja Zefran bertekuk lutut padamu. Jika aku yang selalu menang berdebat dengannya bisa dikalahkan olehmu apalagi dia. Zefran pasti ka--,"


"Jangan bawa-bawa suamiku, sudah melamar belum. Kalau sekedar bicara mau menikah saja itu tak bisa dijadikan pegangan tapi kalau melamar aku baru percaya. Kalau tidak segera melamar, aku carikan model tampan untuk Dr. Shintya," ungkap Allena sambil menahan ketawa.


Dr. Devan kehabisan kata-kata. Laki-laki itu menoleh pada Dr. Shintya lalu kembali menoleh pada Allena. Laki-laki itu menepuk jidat lalu menatap Dr. Shintya sekian detik kemudian berlutut.


"Tunggu! Tunggu! Tunggu! Dokter mau apa?" tanya Allena sambil ketawa.


"Mau melamarlah katanya harus segera?" 


"Merasa terpaksa nggak? Kalau terpaksa nggak usah. Aku bisa carikan model--"

__ADS_1


"Jangan sebut-sebut model terus. Aku ini ingin melamar," jawab Devan masih berlutut.


"Tapi terpaksa nggak?" tanya Allena sambil merebut Zifara dari gendongan Dr. Shintya.


"Nggak …! Kalau terpaksa, aku tidak akan berpikir membeli cincin ini dan membawanya ke mana-mana--"


"Jadi memang sudah niat?" tanya Allena yang dibalas dengan anggukan oleh Dr. Devan.


"Ok! Lanjut!" teriak Allena sambil mengkode seorang fotografer untuk menangkap momen berharga itu.


Allena segera menyingkir dari spot selfi berdekorasi bunga-bunga indah yang memang disediakan untuk tamu yang ingin berfoto. Terlihat Dr. Devan yang ingin melakukan proses pelamaran. Tak hanya satu fotografer beberapa yang lainnya langsung mendekat.


Ada yang mengambil foto, ada yang merekam video. Dan semua mata para tamu, keluarga dan sahabat pun tertuju pada mereka. Serentak menahan napas, hening, saat melihat Dr. Devan tiba-tiba seperti grogi memulainya.


"Dr. Shintya bersediakah … bersediakah …." Devan menelan ludah.


"Dr. Shintya bersediakah .…"


Zefano menepuk jidat.


"Bersediakah--"


"Kamu jadi istriku? Ngomong itu aja susah," celetuk Zefano.


Semua yang hadir di situ langsung menoleh dan tertawa pada Zefano yang duduk di samping ayahnya. Zefran langsung merangkul anaknya. Zefano sepertinya menjadi orang yang paling tidak sabar melihat adegan yang tak di mulai-mulai itu.


Semua orang masih tertawa, Dr. Devan tertunduk juga menahan ketawa. Dia sendiri juga tak menyangka jika kata-kata yang begitu simpel di ucapkan Zefano, tapi begitu sulit diucapkannya. Dr. Devan menarik napas dan menghembuskannya sebanyak tiga kali. Lalu segera menengadahkan wajahnya.


"Dr. Shintya! Bersediakah kamu menjadi istriku?" tanya Devan dengan cepat.


Dr. Shintya menatap ragu pada laki-laki yang berlutut di hadapannya itu.


"Cepatlah jawab, kakiku hampir kram," bisik Devan.


Dr. Shintya kelimpungan dan segera menjawab. "Ya! Aku bersedia!" ucapnya segera.


Semua orang langsung bersorak, Zefano bertepuk tangan. Allena tersenyum lalu melambaikan tangan  Zifara pada pasangan itu.


"Untung segera dijawab, aku hampir kehabisan napas rasanya," celetuk seorang tamu.


Semua orang tertawa mendengar ucapan spontan itu. Dr. Shintya terlihat bahagia hingga matanya berkaca-kaca, memandang cincin pertunangan di jari manisnya. Dr. Devan mendekat dan langsung mencium kening calon istrinya. Di saat laki-laki itu beralih mencium pipinya, Dr. Shintya melirik pada Allena yang tersenyum padanya. Dr. Shintya membalas senyum itu dan mengucapkan kata-kata tanpa suara.


"Thank you."


...~  Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2