Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 72 ~ Memaafkan ~


__ADS_3

Dokter Shinta duduk di samping ranjang Frisca. Dokter cantik itu sejak tadi hanya diam menatap sahabatnya yang sekarang hanya berbaring lemah. Frisca meraih tangan Dokter Shinta dan menggenggamnya.


"Sekarang saatnya aku meminta maaf padamu. Aku ingat kamu telah memutuskan hubungan pertemanan kita. Tapi tetap saja aku datang padamu dan mengeluhkan masalah hidupku. Mungkin kamu telah muak melihat wajahku tapi untuk kali ini tolong dengarkanlah aku, maafkanlah aku Shinta. Seperti yang kamu tahu, saat ini aku menderita kanker serviks stadium lanjut dan mungkin aku tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi, karena itu aku mohon Shinta, tolong maafkanlah aku," ucap Frisca pelan dengan air mata yang mengalir perlahan.


Shinta mengambil tisu dan menghapus air mata itu


"Jangan menangis lagi, apa kepalamu tidak sakit karena terlalu banyak menangis?" tanya Shinta yang tak memerlukan jawaban.


"Tapi aku belum mendengar jawabanmu atas permintaan maafku," ucap Frisca pelan.


"Jika aku tidak memaafkanmu, apa mungkin aku duduk di sini menemanimu?" tanya Shinta sambil tersenyum.


"Terima kasih Shinta," ucap Frisca dengan tersenyum.


"Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kamu bisa bertemu dengan laki-laki sebaik itu? Apa dia sudah lama jadi temanmu tanpa sepengetahuanku?" tanya Shinta.


Frisca menggeleng.


"Kami baru saja bertemu di masa pelarianku karena menculik Zeno. Aku kesakitan dan Zeno meminta tolong padanya. Valdo menolong kami dan membiarkan kami menginap di rumahnya. Entah kenapa dengan mudah kami menjadi dekat. Semua karena anak-anak itu. Mereka yang berpikiran polos menganggap semua orang itu baik dan pantas untuk mendapatkan pertolongan. Meski aku telah membuat Zeno menangis, letih dan takut tapi Zeno tetap menolongku," tutur Frisca.


Frisca menoleh pada kedua anak-anak yang sedang duduk di kursi pengunjung itu. Tersenyum menatap keakraban kedua anak yang belum lama saling mengenal itu.


"Meski kami baru saling kenal tapi Keisya bisa langsung menyayangiku dan Zeno. Meski Valdo tahu aku memiliki masa lalu yang kelam tapi dia tetap ingin memberiku kesempatan. Aku.., ingin meraih kesempatan itu tapi aku takut mengecewakan mereka," jelas Frisca kembali menangis.


"Kamu beruntung Frisca, bisa menemukan orang-orang sebaik mereka. Tidak! Tidak hanya kamu, aku pun beruntung telah bertemu dengan orang-orang sebaik mereka. Allena, Zefran, Valendino dan Zeno bagiku mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Selalu melihat sesuatu dari sisi baiknya dan menepis semua sisi buruknya. Aku rasa Valdo dan putrinya juga seperti itu, yang terpenting bagi mereka adalah mengambil hikmah dari sebuah kejadian. Tak peduli dengan penderitaan dan kesedihan yang telah kita lakukan pada mereka," tutur Frisca.


"Kamu benar Shinta, mereka orang-orang yang berpikiran positif," sahut Frisca.


"Untuk itu kita harus menjadi orang yang lebih baik agar kita tidak lagi mengecewakan mereka. Benarkan?" tanya Shinta.


Frisca mengangguk pelan.


"Apa menurutmu aku masih punya harapan untuk hidup lebih lama?" tanya Frisca.


"Tentu saja kamu memiliki harapan itu karena memang ada jalan untuk pengobatannya. Kita harus berusaha maksimal untuk kesembuhanmu. Demi calon suamimu yang begitu semangat mencari biaya pengobatanmu," ucap Shinta.


Kata-kata yang membuat Frisca tersipu.


"Apa benar penyebab penyakitku ini adalah pola hidupku di masa lalu?" tanya Frisca.


Dokter Shinta mengangguk.


"Kebiasaan hidup yang kurang baik bisa menyebabkan terjangkitnya kanker serviks. Seperti kebiasaan merokok, kurangnya asupan vitamin terutama vitamin c dan e serta kurangnya asupan asam folat. Kebiasaan buruk lainnya seperti sering melakukan hubungan intim dengan berganti pasangan..,"


"Ya ampun!" sahut Frisca langsung.


"Atau melakukan hubungan intim dengan pria yang sering berganti pasangan," ucap Shinta.


"Ya, aku tahu persis kalau aku bukan wanita satu-satunya bagi Bobby. Dan aku tetap saja kembali berhubungan dengannya," ucap Frisca sambil memegang keningnya.


"Apa kamu juga melakukan hubungan intim di usia dini? Usia di bawah enam belas tahun?"


"Ya, pertama kali bersama Bobby saat itu kami masih sangat muda," 


"Itu justru meningkatkan resiko dua kali lipat terkena kanker serviks. Ditambah faktor lain seperti adanya riwayat keluarga penderita kanker, penggunaan pil KB dalam jangka waktu yang sangat lama, terlalu sering melahirkan dan aborsi," jelas Shinta.


Frisca menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Semua masuk akal sekarang, memang benar gaya hidupku di masa lalu menjadi penyebab penyakit yang kuderita saat ini," ucap Frisca menutup matanya yang kembali mengeluarkan air mata.


"Sudahlah Frisca, yang lalu biarlah berlalu, yang penting sekarang ini kita berusaha untuk kesembuhanmu. Jangan kecewakan Valdo, Ok!" ucap Shinta memberi semangat.


"Bantu aku Shinta, tolong jangan tinggalkan aku. Bantulah aku agar aku tidak putus asa menjalani pengobatan ini, aku mohon," ucap Frisca.


"Tanpa kamu minta pun aku akan menemanimu melewati masa sulit ini. Percayalah banyak yang mendukung dan mendoakan kesembuhanmu. Tanamkan dalam dirimu bahwa yang kamu lakukan sekarang ini adalah demi mereka yang menyayangimu, yang sangat menginginkan kesembuhanmu," ucap Shinta sambil tersenyum.


"Itu benar, terima kasih, Dokter telah memberi pengertian padanya," ucap Rivaldo yang tiba-tiba muncul dari balik tirai rumah sakit.


Dokter Shinta bangun dari duduknya dan tersenyum.


"Frisca adalah sahabatku di masa kuliah, tentu saja aku akan memberi pengertian padanya," jawab Shinta.


"Kamu sudah kembali?" tanya Frisca.


"Ya, aku sudah menerima uang muka penjualan rumahku. Uang itu bisa kita gunakan untuk memulai pengobatanmu. Jangan khawatirkan hal yang lain. Kamu hanya perlu menjalani pengobatan ini dengan sepenuh hati, mengerti!" ucap Rivaldo sambil mengusap anak rambut wanita cantik itu.


Dokter Shinta tersenyum melihat kasih sayang Rivaldo yang terlihat jelas dari sikap, perilaku dan perkataannya. 


"Aku senang sahabatku menemukan laki-laki sebaik dirimu. Aku harap kamu bisa menuntunnya menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Shinta.


"Pada dasarnya setiap manusia terlahir baik tapi karena lingkungan yang memberi corak masing-masing pada pribadi manusia. Aku bukanlah orang suci, aku juga banyak kesalahan. Setiap orang tahu mana yang benar mana yang salah. Namun, kadang dalam situasi tertentu kita salah dalam memilih. Tapi jika terlanjur salah bukan berarti tidak bisa menjadi benar. Asalkan ada kemauan maka kita bisa memperbaiki, meski orang tidak percaya dan tetap menilai buruk jangan pedulikan itu, karena pasti ada orang yang percaya dan tulus menginginkan kita menjadi orang yang lebih baik," tutur Rivaldo sambil mengangguk.


"Yang kamu katakan benar, aku bahkan hanya butuh satu anak untuk menyakinkanku memilih jalan yang benar," ucap Shinta sambil menoleh pada Zefano.


Dokter Shinta tertawa melihat Zefano yang bercerita dengan tingkah yang lucu di hadapan Keisya. Frisca juga ikut menoleh ke arah anak itu.

__ADS_1


"Jika Zeno tidak memperlakukanku seperti orang yang masih memiliki arti, aku mungkin lebih terjerumus lagi. Dia membuatku menjadi manusia yang berguna setidak-tidaknya saat kami hanya berdua," ucap Frisca.


"Kita dipertemukan olehnya bukan? Aku bisa menerima kebaikanmu karena Zeno yang bersikap terbuka padamu," lanjut Frisca sambil menoleh pada Rivaldo.


"Iya benar, Zeno sangat mudah disukai hingga aku tidak rela berpisah dengannya begitu cepat. Karena itu aku mengajak mereka tinggal di rumahku. Anak itu sangat menggemaskan bukan?" tanya Rivaldo pada Dokter Shinta.


Dokter Shinta mengangguk setuju. Pada kesempatan itu Rivaldo juga menjelaskan kalau dia telah berkonsultasi dengan dokter dan Frisca akan segera memulai pengobatannya.


Melihat Rivaldo yang telah kembali dan sikapnya yang menunjukkan keadaan yang baik-baik saja. Dokter Shinta pun minta diri, pamit kembali ke rumah sakit. Zefano pun ikut pulang bersama Dokter Shinta. Namun, mereka berjanji akan kembali mengunjungi. Rivaldo menggendong anak itu yang ingin mencium pipi Frisca.


"Tante, Zeno pulang dulu ya, nanti Zeno balik lagi. Tante cepat sembuh ya," ucap Zefano.


"Ya sayang, Zeno nanti ke sini lagi ya. Tante pasti kangen sama Zeno," ucap Frisca dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya, nanti Zeno ajak Papa dan Mama," jawab anak itu.


Frisca mengangguk lalu bergerak mendekat, Rivaldo langsung mendekatkan Zefano pada Frisca. Wanita itu mencium kedua pipi anak itu.


Andai Zeno itu anakku, batin Frisca.


Wanita itu melambaikan tangan pada Zefano. Anak itu juga membalas lambaian tangannya. Rivaldo dan Keisya mengantar Zefano dan Dokter Shinta hingga ke depan pintu. Mereka melambaikan tangan pada Zefano dan Dokter Shinta.


"Kita bisa ketemu Zeno lagi nggak Pa?" tanya Keisya.


"Ya, tentu bisa. Jika dia datang ke sini, kalian bisa bertemu lagi. Kalau dia tidak datang, kita yang ke sana temui dia," ucap Rivaldo.


"Apa bisa?" tanya Keisya.


"Tentu bisa, kita datang ke rumahnya. Tante Frisca adalah teman baik dari orang tuanya. Tante Frisca bisa mengantar kita ke rumahnya," jelas Rivaldo.


"Kalau gitu Tante Frisca harus cepat sembuh biar kita bisa main ke rumah Zeno," ucap Keisya.


Rivaldo mengangguk lalu menggendong anaknya dan duduk di samping ranjang rumah sakit Frisca.


"Tante, cepat sembuh ya biar kita bisa main ke rumah Zeno," pinta Keisya.


"Ya, baiklah sayang kalau Tante sembuh akan Tante ajak Keisya ke rumah Zeno," ucap Frisca sambil mengusap dagu gadis kecil yang cantik itu.


Frisca menoleh ke arah Rivaldo yang tersenyum padanya. Menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sedih. Rivaldo telah resmi menjual rumah satu-satunya namun tak ada raut penyesalan di wajah laki-laki itu. Frisca terharu dan berjanji di dalam hatinya.


Jika aku ditakdirkan sembuh, aku akan berbakti padamu dan menyayangi kalian sepenuh hatiku, batin Frisca dengan pelupuk mata yang kembali mengalirkan airnya.


"Tante jangan nangis," ucap Keisya yang langsung memeluk ayahnya. Membenamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu untuk menyembunyikan air matanya.


"Tante nggak nangis sayang, Tante terharu. Bahagia karena melihat gadis kecil yang cantik dan baik hati ini mau menemani Tante di sini," ucap Frisca sadar air matanya membuat anak itu bersedih.


"Lihatlah Tante tidak menangis," ucap Rivaldo.


Dengan masih memeluk ayahnya, perlahan Keisya mengintip ke arah Frisca yang telah tersenyum. Anak itu melepaskan pelukannya dan kembali menatap Frisca sambil tersenyum.


Frisca ingin menanyakan rencana Rivaldo selanjutnya karena laki-laki itu telah kehilangan rumahnya tapi Frisca tak ingin membahas itu di depan Keisya. Frisca takut saat mendengar cerita Rivaldo dia akan bersedih dan membuat Keisya juga ikut bersedih.


"Baru saja berpisah dengan Zeno rasanya sudah kangen ya," ucap Frisca mengalihkan pembicaraan.


"Ya, padahal baru saja pergi. Paling masih sampai parkiran. Rasanya kita seperti kehilangan anggota keluarga ya," ucap Rivaldo pada Keisya.


Anak itu mengangguk kuat.


"Ya, makanya Tante cepat sembuh ya biar kita ke rumah Zeno. Kita ajak dia tinggal di rumah kita lagi," ucap Keisya yang tidak mengerti bahwa rumah mereka telah dijual.


Frisca menatap Rivaldo dan mengucapkan kata maaf tanpa suara.


"Kita cari rumah yang dekat dengan rumah Zeno saja. Rumah kita 'kan jauh, kalau mau ketemu Zeno jadi susah. Kalau kita pindah rumah dan dekat dengan Zeno, Keisya bisa main dengan Zeno kapan saja," ucap Rivaldo.


Keisya mengangguk, Rivaldo tersenyum pada Frisca. Wanita itu menatap Rivaldo dengan mata yang sayu penuh rasa bersalah.


Sementara itu Dokter Shinta dan Zefano berjalan santai bergandengan tangan. Berdua mereka kembali pulang ke rumah sakit di mana Allena masih di rawat inap.


"Tante gendong ya?" tanya Shinta pada Zefano.


"Tante? Bukannya dipanggil dokter Shinta?" tanya Zefano.


"Nggak mau, Zeno nggak adil. Masa sama Frisca panggilnya Tante. Kalau sama Dokter Shinta dipanggilnya Dokter Shinta," ucap Shinta pura-pura merajuk.


"Tapi 'kan memang panggilnya Dokter Shinta," ucap Zefano menoleh sambil memiringkan kepalanya.


"Nggak mau, masa panggilan dari Zeno sama dengan panggilan orang lain. Pasien dan petugas-petugas rumah sakit semua memanggil Dokter Shinta. Masa Zeno sama dengan mereka, nggak dong. Zeno itu spesial jadi manggil Dokter Shinta juga harus beda," ucap Shinta.


"Trus panggil apa dong? Yayang?" tanya Zefano lalu tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.


"Apa?" teriak Shinta lalu tertawa.


"Tahu dari mana ada panggilan seperti itu?" tanya Shinta lagi, masih tertawa.


"Dari Keisya, kata Keisya kalau Om Valdo manggil mamanya itu yayang. Trus Zeno juga disuruh panggil yayang sama Keisya tapi kalau udah gede, se gede Om Valdo itu," jelas Zefano terlihat serius.

__ADS_1


Dokter Shinta tertawa hingga harus menutup mulutnya takut terbahak-bahak.


"Ya, ya, ya, baiklah. Zeno panggil yayang sama Keisya nanti kalau sudah gede ya. Kalau sama Dokter Shinta panggil Tante aja," usul Shinta masih menahan ketawa.


"A-ha bagaimana kalau Auntie Shin? 'kan Auntie Shin pacaran sama Uncle Val?" usul Zefano sambil mengangkat kedua alis matanya turun naik berkali-kali.


Dokter Shinta kembali tertawa lalu menggendong anak itu.


"Auntie Shin? Aah.., keren sekali. Auntie sayang sama Zeno, Auntie culik saja ah biar sama-sama Zeno terus," ucap Shinta.


"Kawin lari?" tanya Zefano.


"Apa?"


"Kayak papa dan mama Keisya, kata Keisya papa dan mamanya itu kawin lari biar bisa sama-sama terus tapi nggak ngajak orang cuma lari berdua," jelas Zefano.


Dokter Shinta tertawa.


"Cuma lari berdua?" tanya Shinta yang dibalas anggukan oleh Zefano.


"Kalau gitu ayo kita lari berdua," ajak Shinta.


"Ayooo," ucap Zefano yang langsung turun dari gendongan Dokter Shinta dan mengajak Dokter cantik itu berlari bersama.


Mereka berlari hingga ke area parkir mobil sambil bergandeng tangan. Mereka berlari sambil tertawa, saat itu Dokter Shinta merasa bersyukur mendapat kesempatan bertemu dengan Allena. Hingga akhirnya mengetahui anak yang disayanginya itu adalah anak yang pernah dicuranginya dengan dokumen DNA palsu. Dokter Shinta bertekad akan selalu menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri.


Begitu sampai di ruang rawat inap ibunya, Zefano langsung memeluk kedua neneknya. Mencium pipi mereka bergantian begitu juga dengan Rahma. Zefano langsung diberondong dengan berbagai macam pertanyaan.


Pelukan dan ciuman bergantian menghujani Zefano. Rasa khawatir dan rindu, mereka lampiaskan tak henti-hentinya. Tak ada satu pun yang ingin segera melepasnya, semua ingin menguasai anak itu.


Setelah puas memeluk anak itu akhirnya Zefano mendatangi dan memeluk ayahnya yang berdiri sambil tersenyum di samping ranjang ibunya.


"Jagoan Papa akhirnya pulang juga, jangan pergi sendiri-sendiri lagi ya? Kalau tidak melihat Zeno rasanya kangen sekali dan hati kami jadi sedih. Zeno nggak ingin bikin kami sedih 'kan?" tanya Zefran.


Zefano menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk ayahnya. Saat Frisca berkata akan menjualnya, Zeno berpikir tidak akan bisa bertemu lagi dengan ayahnya. Laki-laki yang baru saja diketahuinya sebagai ayah kandung yang diimpikannya.


"Maafin Zeno Papa, Zeno tidak akan pergi sendiri lagi," ucap Zefano yang bersandar di pundak ayahnya.


Zefran mencium pipi anaknya lalu mendudukkannya di atas ranjang rumah sakit istrinya. Allena yang harus bersabar menunggu mereka melepaskan Zefano akhirnya mendapati anak itu duduk di dekatnya.


"Ini adek Zeno ya Ma?" tanya Zefano sambil menatap dan mengusap pipi adik perempuannya.


Anak laki-laki tampan itu sibuk memperhatikan adiknya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


"Lucu ya Ma, kakinya kecil betul. Rasanya pengen Zeno gigit, boleh dimakan nggak Ma?" tanya Zefano sambil membuka mulutnya dan memasukkan kaki bayi mungil itu ke mulutnya.


Semua yang berada di situ langsung berteriak mencegah, anak itu langsung tertawa, ternyata Zefano hanya ingin mengerjai semua yang berada di situ. Zefran gemas, laki-laki itu langsung mengangkat dan melambungkan tubuh Zefano tinggi-tinggi. Anak itu tertawa riang saat tubuhnya terasa terbang.


Puas bermain dengan ayahnya, Zefano diminta memilihkan nama untuk adiknya. Semua nama yang diusulkan padanya dijawab setuju. Saat diusulkan nama lain anak itu pun menjawab setuju.


"Jadi namanya siapa ini?" tanya Allena yang juga ikut penasaran nama apa yang akan dipilih Zefano untuk adik perempuannya.


"Namanya adalah...,"


Anak itu mendekati ibunya lalu berbisik, Allena yang mendengar bisikan anaknya, mengangguk-angguk sambil tersenyum lalu mencium pipi anak itu.


"Jadi namanya siapa?" tanya yang lainnya serentak hingga terdengar keras.


Zefano menutup telinganya dengan kedua tangannya sambil tertawa.


"Dia ingin pilihan Papanya, Zifara Dimitrios," ucap Allena sambil tersenyum.


"Kenapa Zeno pilih nama itu?" tanya Vina.


"Karena Zeno ingin adek yang cantik dan pintar seperti Keisya," ucap Zefano.


"Huuu, siapa Keisya?" tanya Rahma.


"Teman Zeno," ucap anak itu sambil memegang tangan adiknya.


Dokter Shinta yang sejak tadi hanya senyum-senyum mendengar ucapan anak itu akhirnya mengumumkan bahwa besok Allena sudah diperbolehkan pulang. Semua senang mendengar berita itu, kondisi Allena telah membaik secara fisik maupun kejiwaannya.


Tak lama kemudian Valendino datang, Zefano langsung menghambur ke pelukan laki-laki itu. Terlihat Zefano yang juga merindukan laki-laki yang sangat menyayanginya itu.


"Kangennya Uncle sama anak ganteng ini, Zeno kangen juga nggak?" tanya Valendino.


"Kangen dong," ucap Zefano langsung mencium pipi laki-laki itu.


Valendino membalas mencium kedua pipi anak itu.


"Sudah diumumkan belum?" tanya Valendino pada Dokter Shinta.


"Pengumuman lagi? Apa itu?" tanya Mahlika.


Ditanya seperti itu akhirnya Dokter Shinta mengumumkan dengan malu-malu kalau mereka berencana melangsungkan pernikahan yang rencananya akan dilaksanakan dua bulan lagi. Mendengar itu Allena langsung merentangkan tangan. Dokter cantik itu langsung mendatangi dan memeluk wanita yang telah dianggapnya seperti saudara kandung.

__ADS_1


Allena mengucapkan selamat dan mendoakan semoga niat baik dokter cantik itu berjalan dengan lancar.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2