Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 128 ~ Berjanji ~


__ADS_3

Zacko melindungi Allena dari bola yang melayang ke arahnya. Reflek Zacko memeluk Allena hingga punggung Zacko lah yang terkena bola kaki itu. Allena mengangkat wajahnya saat Zacko bertanya, membuat wajah mereka menjadi begitu dekat. Zefran yang melihat kejadian itu langsung mendekat.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" bentak Zefran.


Laki-laki itu langsung menarik tangan Allena dan membawanya pergi. Allena hanya bisa mengikuti tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Menoleh sekilas pada Zacko dengan wajah murung. Mengikuti langkah Zefran dengan susah payah karena tungkai kaki Zefran yang lebih panjang.


Zacko hanya bisa menatap Allena yang pasrah di tarik tangannya oleh Zefran.


Seperti ini rasanya, dicurigai orang. Rasanya ingin berteriak tak terima tapi lidah terasa kelu, tak bisa berkata-kata. Jika Zefran bertanya aku akan menjelaskan semuanya tapi dia hanya menarik tangan istrinya. Entah apa yang akan dilakukannya pada Allena. Persis seperti apa yang aku lakukan dulu pada Cindy, menarik tangannya dan memakinya di rumah. Oh ya ampun, apa Zefran juga akan melakukan itu, ini tidak adil. Allena tidak bersalah, kami tidak melakukan apa-apa. Apa yang harus aku lakukan? batin Zacko.


Laki-laki itu akhirnya memberitahu baby sitter Zifara kalau majikannya telah pulang. Baby sitter itu pun mengajak Zefano pulang.


Sementara itu Allena dan Zefran telah sampai di kamar mereka.


"Apa yang kalian lakukan di sana? Apa kamu tidak berpikir? Berpelukan di tempat terbuka seperti itu?" tanya Zefran dengan membentak dan tatapan mata yang tajam.


"Siapa yang berpelukan?" tanya Allena.


"Kamu pikir aku tidak melihatmu? Jelas-jelas aku melihat kalian berpelukan, aku bahkan menarik tanganmu saat laki-laki itu masih memelukmu!" bentak Zefran lagi.


"Dia cuma melindungiku dari bola yang tiba-tiba melayang ke arahku, hanya itu," jelas Allena.


"BOHONG!" bentak Zefran dengan tatapan mata yang tajam dan dada yang turun naik karena menahan emosi.


Allena tak lagi bicara membela diri, dia justru balik menatap tajam mata suaminya. Mendapatkan tatapan seperti Zefran kelimpungan. Allena menunduk lalu melangkah menuju pintu.


"Mau kemana kamu?" tanya Zefran dengan suara yang cukup keras namun tak sekeras tadi.


"Pergi! Apa Kakak tidak lelah memiliki istri yang pembohong? Apa Kakak tidak lelah hidup dengan istri yang selalu ingin berselingkuh?" tanya Allena.


"Allena …"


"Aku lelah, setelah mendengar cerita Zacko aku semakin lelah. Dia dan istrinya berpacaran lebih dari sebelas tahun namun berakhir dengan perpisahan. Sebelas tahun … sebelas tahun pacaran, istrinya memutuskan berpisah karena merasa lelah dicurigai. Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Kita tidak pacaran, menikah pun karena terpaksa, berpisah?… itu hanya menunggu waktu," ucap Allena dengan tegar tanpa setitik pun air mata.


"Allena …" ucap Zefran terhenti tanpa tahu apa yang akan diucapkan selanjutnya.


"Aku telah cukup membuktikan cintaku. Aku tidak akan membela diri lagi. Apakah aku dinilai bohong atau jujur, terserah … aku letih, aku tidak mau dicurigai lagi, aku tidak mau dinilai sebagai pembohong lagi. Satu-satunya cara agar aku tak dicurigai lagi adalah ... aku tidak tinggal denganmu lagi," ucap Allena lalu melanjutkan langkahnya.


Zefran meraih tangan Allena, namun wanita itu menepisnya. Allena kembali melanjutkan langkahnya. Zefran berusaha menghalangi.

__ADS_1


"Kamu mau kemana? Kamu ingin pergi bersamanya? ALLENA!" panggil Zefran.


Allena tidak peduli.


"Kalau kamu pergi aku akan bunuh diri," teriak Zefran kehilangan akal.


Langkah Allena terhenti sesaat. "Kekanak-kanakan," ucap wanita itu lalu melanjutkan lagi langkahnya. Zefran panik, tak menyangka Allena akan memilih jalan untuk pergi.


"Allena jangan pergi! Maafkan aku!" teriak Zefran akhirnya.


Namun Allena tetap melanjutkan langkahnya. Zefran menghalangi di depan pintu, laki-laki itu meraih tangan istrinya. Memohon pada wanita itu untuk mengurungkan niatnya pergi.


"Maafkan aku Allena, jangan pergi. Aku mohon, jangan tinggalkan aku," ucap Zefran memohon.


"Aku sudah sering mendengar kata maaf dari Kakak. Maaf … maaf … maaf … sudah begitu banyak kata-kata maaf yang terlontar dari mulut Kakak, aku bosan. Dan selama ini aku selalu memaafkan tapi sekarang aku tahu apa arti maaf bagi Kakak. Maaf itu seharusnya mengakui kesalahan, apa Kakak mengakui kesalahan karena menuduhku? Maaf itu menyesal, apakah Kakak menyesal menuduhku? Tidak! Kakak meminta maaf hanya untuk menghalangiku pergi, hanya untuk menghentikan kemarahanku tapi Kakak tidak pernah mengakui kesalahan Kakak, tidak pernah menyesal menuduhku. Selalu kembali seperti itu, aku letih Kak! Aku sungguh-sungguh letih. Sekarang biarkan aku pergi. Jika selama ini tidak cukup untuk membuktikan cintaku pada Kakak, aku menyerah! Aku tidak bisa membuktikan apa-apa lagi, sebaiknya aku pergi," ucap Allena.


"Allena, aku mohon! Jangan pergi! Aku janji aku tidak meragukanmu lagi. Aku tidak akan mengucapkan kata maaf lagi, aku akan menahan diri. Allena, aku mohon aku tidak bisa kehilanganmu, aku mohon Allena," ucap Zefran memohon.


Allena melangkah cepat menuruni tangga, hingga tiba di ruang tengah. Di sana Allena melihat anak-anaknya yang baru pulang. Allena hendak menyusul mereka namun Zefran menghalangi. Laki-laki itu berlutut di hadapan Allena. Wanita itu terkejut, melihat suaminya yang merendahkan dirinya demi menghalanginya untuk pergi.


"Allena, aku mohon jangan pergi Allena, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku tidak mau kehilanganmu. Aku janji akan berubah, aku menyesali sikapku aku menyesal Allena. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Zefran memohon sambil meraih tangan Allena dan air mata yang mengalir deras.


Allena duduk di hadapan Zefran dan meminta laki-laki itu untuk berdiri.


"Kak berdirilah! Jangan seperti ini," ucap Allena dengan suara pelan.


Zefran langsung memeluk Allena erat-erat hingga wanita itu sulit untuk melepaskan diri.


"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memutuskan untuk membatalkan pergi dari sini," ucap Zefran dengan air mata yang masih mengalir.


Allena menyadari, sikap Zefran tidaklah main-main. Tapi dia juga ingin Zefran tahu kalau dia tidak mau diperlakukan seperti itu lagi.


"Mungkin ini yang terbaik Kak, agar kita sama-sama bahagia."


"Tidak! Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak akan bahagia hidup tanpamu. Tidak Allena, aku mohon jangan pergi. Zeno bilang sama Mama jangan pergi, jangan tinggalkan Papa," ucap Zefran meminta bantuan Zefano.


"Kak, malu sama Santi," ucap Allena lagi.


Zefran menggelengkan kepalanya, sama sekali tak pedulikan apa yang dipikirkan baby sitter mereka itu. Zefano mendekati mereka, melihat wajah risau anak itu, akhirnya Allena mengalah. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk tidak pergi.

__ADS_1


"Berjanjilah di depan Zeno, kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku," ucap Zefran.


"Itu tidak adil, aku harus bertahan jika diperlakukan seperti ini lagi?" tanya Allena.


"Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan percaya padamu," ucap Zefran akhirnya merenggangkan pelukannya.


"Aku ingin Kakak berjanji, jika Kakak melakukan ini, meragukanku, cemburu buta dan menyakiti hatiku. Jika aku ingin pergi, Kakak tidak akan menghalangiku lagi," ucap Allena.


"Apa?"


"Ya, jika terjadi seperti ini lagi Kakak harus biarkan aku pergi," ucap Allena akhirnya.


Zefran menunduk, Zefano duduk di pangkuan Allena di antara mereka. Zefran terlihat sangat enggan mengucapkan janji itu. Zefano menatapnya seolah-olah juga ingin mendengarkan keputusan Zefran. Akhirnya Zefran mengangguk, lalu menghela nafas panjang.


"Baiklah jika aku menyakitimu dan mencurigai kesetiaanmu, jika kamu ingin pergi, aku … relakan kamu pergi," ucap Zefran akhirnya.


Allena mengangguk, baginya bukan hal yang mudah meminta janji seperti itu pada Zefran. Allena sendiri juga takut jika suatu saat terjadi hal seperti ini lagi dan dia terpaksa harus pergi. Tapi Allena lakukan itu bukan agar bisa pergi dari sisi Zefran, tapi agar laki-laki itu lebih berhati-hati bersikap pada Allena.


Wanita itu ingin Zefran tahu, mulai sekarang kebersamaan mereka tergantung pada sikap Zefran terhadapnya. Zefran menghela nafas berat setelah mengucapkan janji itu. Lalu mengangkat Zefano dari pangkuan istrinya. Zefano menghapus air mata yang masih tersisa di wajah Zefran.


Anak itu tersenyum, Zefran menoleh pada istrinya yang masih duduk di hadapannya. Lalu meraih tengkuk Allena dan mencium kening wanita yang dicintainya itu.


"Terima kasih sayang karena masih mau bertahan bersamaku," ucap Zefran.


Zefano tersenyum menatap ayahnya.


"Sudah sore, ayo kita mandi sama-sama," ajak Zefran pada Zefano.


Zefano mengangguk.


"Kita ajak Zara dan Mama ya," ajak Zefano.


Zefran mengangguk sambil tersenyum dan menoleh pada Allena. Wanita itu membalas senyum suaminya. Mereka pun mandi bersama di dalam jacuzzi whirlpool bath, tentu saja kali ini Zefran dan Allena tak melepas seluruh pakaiannya.


Mereka pun bermain air bersama, mereka terlihat begitu bahagia. Zifara terlihat lucu saat menepuk-nepuk air dihadapannya namun kelabakan saat air itu muncrat di wajahnya. Zefano juga ikut menepuk air di hadapannya dengan kuat, hingga akhirnya mengenai wajah Zifara. Bayi itu kembali kelabakan dan menoleh pada Allena minta digendong.


Allena, Zefran dan Zefano tertawa. Mereka bermain dan tertawa hingga sepuas-puasnya. Setelah Zefano dan Zifara selesai mandi sambil bermain, tinggallah Zefran dan Allena di dalam jacuzzi whirlpool bath itu. Perlahan laki-laki itu melepas baju kaos istrinya, hingga tak menyisakan apa pun di tubuhnya, begitu juga dengan laki-laki itu.


Zefran pun langsung membuktikan bahwa dia selalu menginginkan dan membutuhkan Allena.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2