
Ny. Marilyn dan para modelnya datang, semua mata tertuju pada mereka. Para model dengan penampilan yang cantik dan elegan, langsung menarik perhatian para tamu pesta
Para tamu wanita langsung terpana menatap
Robert Daniel yang begitu tampan. Laki-laki itu langsung menghampiri Allena, memeluk wanita cantik itu dengan pelukan yang hangat dan mencium kedua pipinya. Perhatian Zefran dan teman-temannya yang tadinya terpusat pada model-model cantik itu, kini beralih pada sikap mesra yang ditunjukkan Robert Daniel pada Allena.
Dia lagi, dia lagi, bajingan itu seperti hantu bisa muncul di mana-mana, jerit hati Zefran.
Tanpa sadar laki-laki itu mengepalkan tangannya dan ingin melangkah ke arah mereka. Namun, tangan Valendino menyilang di dadanya membuat laki-laki itu terpaksa menghentikan langkahnya.
"Mau apa?" tanya Valendino.
"Ya, menyapa mereka. Biar dia tahu Allena itu milikku. Seenaknya saja peluk-peluk istri orang," jawab Zefran.
"Kamu mau merusak acara anakmu sendiri? Sudahlah tenang, Allena itu tidak akan berpaling darimu. Mau seganteng apa pun laki-laki yang menggodanya, dia tidak akan mengkhianatimu. Tenang saja," ucap Valendino.
"Ya, lagipula kita tidak tahu sedekat apa hubungan mereka. Bisa jadi Allena sudah dianggap seperti adiknya sendiri," sela Ronald.
"Untuk itu, aku harus ke sana. Aku harus tahu seperti apa hubungan mereka," jawab Zefran langsung melangkah meninggalkan sahabat-sahabatnya.
"Hey bung, ingat? Jangan ada kekerasan. Allena bisa marah sama kamu," teriak Valendino.
Langkah Zefran terhenti, menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya lalu melanjutkan langkahnya mendekati Robert Daniel yang masih melingkarkan tangannya di bahu Allena.
Zefran berdehem, Allena langsung berbalik menoleh ke arah suara. Allena tersenyum dan segera menarik tangan suaminya untuk diperkenalkan pada Robert Daniel.
"Kak Robert, kenalkan ini suamiku, Zefran. Kak Zefran ini temanku, Robert," ucap Allena langsung sambil tersenyum.
Zefran dan Robert Daniel saling bersalaman. Mata mereka saling menatap tajam.
"Suamimu tampan sekali, apa dia seorang model?" tanya Robert.
"Bukan, dia hanya seorang pengusaha, cuma kebetulan dia memang tampan," jawab Allena sambil tersenyum memandang suaminya.
"Bagaimana kalau mencoba merambah dunia modeling? Aku bisa menjadi pembimbingmu, kalau mau kita belajar di Paris. Kita..,"
"Tidak usah, terima kasih. Jangan pisahkan aku dengan suamiku ya!" seru Allena cepat sambil mengapit lengan suaminya.
Zefran memandang istrinya dengan heran, namun bahagia karena melihat wanita itu yang terlihat begitu mempertahankannya. Robert Daniel tertawa sambil melambaikan jari telunjuknya.
Allena mempersilahkan Robert Daniel mencicipi hidangan. Sementara Zefran langsung mengajak istrinya bicara di pojok ruangan.
"Apa-apaan tadi itu? Seperti apa hubungan kalian? Kenapa dia seenaknya peluk-peluk dan cium-cium kamu," tanya Zefran tersulut emosi teringat apa yang dilihatnya tadi.
"Siapa yang cium-cium?" tanya Allena.
"Jangan dikira aku tidak melihat ya, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat dia memeluk dan menciummu," ucap Zefran semakin gusar karena Allena yang mengelak.
"Tadi itu peluk dan cium? Kak, sudah lupa dengan cara menyapa orang luar. Hal seperti itu bagi mereka cuma menyapa, Kakak sendiri pasti tahu itu dan memang jadi kebiasaan kalian juga. Kalau aku seperti itu dengan Kak Altop, Kak Ronald dan Kak Valen, kenapa Kakak tidak protes?" tanya Allena.
"Itu.., itu.., karena aku tahu mereka tidak punya perasaan apa-apa padamu. Tapi kalau dia?" tanya Zefran.
"Kalau dia kenapa? Aku juga tahu kalau dia tidak punya perasaan apa-apa padaku," ucap Allena.
"Tidak punya perasaan apa-apa bagaimana? Apa kamu tidak lihat dia begitu bernafsu melihatmu?" tanya Zefran.
"Bernafsu apa? Dia cuma menyapa, sama seperti yang Kakak dan sahabat Kakak lakukan pada model-model itu," balas Allena.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Zefran.
"Tuh 'kan kalau diri sendiri nggak sadar. Waktu model-model itu mendekati kalian apa kalian hanya berdiri seperti patung? Kalian juga memeluk dan menciumnya. Tapi aku hanya melihat itu sebagai cara kalian menyapa, itu namanya cipika-cipiki. Aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Kakak cipika-cipiki sama model itu. Lalu, apa Kakak punya perasaan sama model itu?" tanya Allena sambil berkacak pinggang.
"Perasaan apa? Aku tidak punya perasaan apa-apa pada model-model itu. Jangan asal tuduh," ucap Zefran salah tingkah dan mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Allena tersenyum.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan hubunganku dengan Kak Robert, justru Kak Zefran yang aku khawatirkan," ucap Allena lalu tersenyum melihat suaminya yang masih terlihat cemburu.
"Apa yang kamu khawatirkan? Kamu tahu sendiri, kalau aku tidak akan berpaling darimu," bantah Zefran.
"Aku juga tidak akan berpaling darimu Kak Zefran tersayang, aku mengenal Kak Robert saat di Paris. Setiap ke Paris dia akan selalu menemuiku. Tapi aku tetap mencintaimu meski lima tahun tidak melihat wajahmu sama sekali. Apa itu tidak cukup membuktikan kalau aku tetap setia padamu?" tanya Allena sambil membentangkan lima jarinya di depan wajahnya.
Penjelasan Allena yang panjang lebar itu membuat Zefran terpana. Saat tersadar laki-laki itu langsung menarik tangan istrinya ke balik dinding ruangan itu. Zefran menatap istrinya yang terpojok ke dinding.
"Kenapa? Kenapa kamu selalu bisa membuatku jatuh cinta padamu?" tanya Zefran.
Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab Allena karena laki-laki itu sendiri tidak memberi kesempatan bagi wanita itu menjawabnya. Zefran langsung membekap mulut Allena dengan mulutnya membuat wanita itu terkejut sesaat lalu tersenyum di sela-sela ciumannya.
Zefran semakin bernafsu saat Allena memainkan lidahnya, menari-nari di dalam rongga mulutnya. Membuat Zefran penasaran ingin menangkap lidah yang bergerak di mulutnya sambil terus menyesap manis bibir beraroma vanilla itu.
Zefran semakin mempererat pelukannya saat tiba-tiba seseorang menarik ujung jas nya. Sontak mereka melepas ciuman panas itu. Dan menoleh dengan kesal pada orang yang mengganggu kesenangan mereka.
"Papa, lepasin Mama, ada yang cari Mama itu," ucap Zefano sambil tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.
"Ya ampun, jantungku hampir copot. Aku pikir siapa," ucap Zefran bersandar di bahu Allena.
Laki-laki itu menenangkan jantungnya yang masih berdebar karena dikagetkan Zefano, bersandar di bahu istrinya sambil mengusap dadanya. Allena tertawa menepuk punggung suaminya.
"Tunggu sebentar ya sayang, nanti Mama ke sana," ucap Allena pada Zefano.
Anak itu mengangguk dan langsung berlari kembali ke lokasi pesta. Allena dan Zefran tertawa. Setelah merasa lega dari rasa kagetnya.
"Kakak sih, sembarangan berciuman," ucap Allena menyalahkan.
"Sembarangan berciuman gimana? Aku mencium istriku sendiri, di rumahku sendiri, sembarangan gimana maksudnya?" tanya Zefran.
"Kalau gitu kenapa tadi kaget? Kenapa wajahmu berubah pucat? Apa merasa malu?" tanya Allena menggoda suaminya.
"Ya. Aku malu, karena tidak bisa menahan diri untuk tidak menciummu," jawab Zefran.
Allena tertawa, wanita itu segera mengajak suaminya kembali ke tengah pesta. Allena mencari orang yang ingin bertemu dengannya.
Allena tidak mengenali dan terlihat bingung.
"Kenalkan saya Nofi, Suster yang mengantar Nyonya ke rumah sakit daerah," ucap Nofi.
"Oh ya ampun, terlihat berbeda ya jika tidak mengenakan seragam suster," ucap Allena.
Wanita itu melihat Suster Nofi dari ujung kaki ke ujung kepala. Gadis yang biasa menggulung rambutnya itu sekarang terlihat sangat modern dengan rambut yang tergerai. Suster Nofi juga memperkenalkan suster yang mengirimkan foto Zefano saat anak itu menunggu di rumah sakit bersama Rivaldo dan Keisya.
Allena memeluk kedua gadis yang telah membantunya menemukan Zefano itu. Memeluk erat Suster Nofi dan Suster Hayati itu dengan rasa haru. Dengan air mata menitik di sudut matanya mereka bertiga sama-sama merasa terharu. Allena segera mengajak kedua suster yang telah berjasa itu menuju ruang penyimpanan koleksinya.
Sebuah walk in closet berisi penuh gaun-gaun indah dan mahal tersusun rapi di sana. Sudah menjadi niatnya untuk menghadiahkan koleksi eksklusif-nya untuk kedua suster itu.
"Saya tahu, apa yang kalian lakukan untuk anakku tidak akan bisa dibayar dengan cara apa pun. Tapi izinkan saya, memberi sedikit apa yang saya punya untuk kalian sebagai tanda terima kasihku atas bantuan kalian," ucap Allena saat berada di dalam walk in closet itu.
Kedua suster itu terperangah melihat koleksi gaun rancangan Allena yang tidak akan pernah bisa mereka lihat secara langsung di depan mata. Bahkan mulut Suster Nofi tak bisa terkatup saking takjubnya.
"Tapi Nyonya, kami melakukannya dengan ikhlas. Kami merasa kasihan jika anak kecil harus terpisah dari orang tuanya," ucap Hayati.
"Apalagi saya yang sangat sayang sama Zeno. Apa pun akan saya lakukan agar bisa menemukannya Nyonya," ucap Nofi.
"Baiklah saya mengerti, kalau begitu kita semua sama. Sama-sama sayang dengan Zeno dan ikhlas melakukan apa pun untuknya. Saya juga ikhlas memberikan gaun ini pada kalian sebagai tanda terima kasihku. Apa yang kuberikan ini tidak akan bisa mengganti atau membayar sedikit saja kebaikan kalian pada kami. Tapi ini yang ingin aku lakukan. Kalian berdua silahkan pilih gaun mana yang kalian suka. Kalian juga boleh mencoba sepuas hati kalian dan jangan sampai menyesal. Jadi memilihnya tidak perlu buru-buru. Santai saja, kalau kalian masih ragu, hingga besok pun masih boleh memilih," ucap Allena sambil tertawa.
Suster Nofi dan Suster Hayati terperangah mendengar ucapan Allena yang bagi mereka mustahil mendengar ucapan seperti itu dari seorang designer yang ternama dan kaya raya.
Allena mohon diri untuk kembali ke pesta, dengan sengaja membiarkan kedua suster itu mencoba dengan bebas gaun-gaun koleksinya. Allena bahkan mengizinkan mereka berfoto selfie menggunakan gaun-gaun koleksinya.
Kedua suster itu melompat-lompat kegirangan mendapatkan kesempatan langka itu.
"Ya ampun lihatlah ruangan ini, hanya untuk menyimpan gaun-gaun ini saja interiornya sangat mewah," ucap Hayati.
__ADS_1
"Tentu saja, gaun-gaun yang dirancang Nyonya Allena itu mahal-mahal, mulai dari puluhan juta hingga milyaran," jelas Nofi.
"Benarkah? Oh yang mana yang berharga milyaran?" tanya Hayati.
"Mana aku tahu yang mana, memangnya aku hadir di acara peragaan busananya?" tanya Nofi yang tak perlu jawaban.
"Nyonya Allena itu baik ya? Cantik, kaya tapi tidak sombong," ucap Hayati.
"Ya, benar. Aku tidak menyangka akan mendapat hadiah seistimewa ini," ucap Nofi.
"Aku mau menikah cepat saja, biar anakku bisa dijodohkan sama Zeno," ucap Hayati.
"Jadi kamu besanan sama Nyonya Allena gitu? Jangan mimpi di siang bolong" ucap Nofi lalu tertawa.
"Habisnya Zeno ganteng, Mamanya juga baik, siapa yang nggak mau punya keluarga seperti itu?" tanya Hayati yang tak memerlukan jawaban.
Suster Nofi mencubit pipi Suster Hayati untuk menyadarkannya dari mimpi di siang bolongnya dan mengingatkan temannya untuk segera memilih gaun yang mereka sukai. Mencoba semua yang menarik bagi mereka dan berfoto dengan gaun-gaun indah itu.
Allena masih berbincang dengan tamu-tamu pesta saat kedua Suster itu datang menghampirinya.
"Maaf Nyonya kami sudah memilihnya. Tapi apa benar yang kami pilih itu boleh untuk kami bawa?" tanya Nofi ragu-ragu.
"Kenapa kalian yang bawa, nanti akan saya kirimkan ke alamat kalian. Berikan alamat kalian lewat pesan pribadi, nanti akan saya kirimkan. Tapi yang mana yang kalian pilih? Ayo kita lihat ke sana, saya takut nanti salah kirim," ucap Allena sambil bergerak ke lantai atas.
Tapi kedua suster itu menghentikan langkahnya.
"Ini nyonya, saya sudah memotretnya," ucap Nofi sambil menunjuk tampilan di layar ponselnya.
"Oh kalau begitu nanti kirimkan foto ini ke ponsel saya ya dan jangan lupa alamatnya sekalian," ucap Allena.
Kedua suster itu saling pandang.
"Benar-benar boleh untuk kami nyonya?" tanya Nofi.
"Ya, tentu saja. Aku sudah membebaskan kalian memilih, kenapa masih ragu?" tanya Allena.
Mendengar itu, kedua suster itu merasa lega dan merasa sangat bahagia. Tak lama kemudian mereka pamit pulang. Tak puas-puasnya mereka memuji kebaikan Allena selama dalam perjalanan pulang.
"Kamu memberikan hadiah gaun untuk mereka?" tanya Shinta.
"Ya, kalau untuk Kak Shinta sebuah gaun pengantin. Itu kalau Kak Shinta bersedia mengenakan gaun pengantin rancangan designer pemula sepertiku," ucap Allena.
"Kalau mau merendah jangan keterlaluan, designer pemula? Tidak akan segitu harganya rancangan designer pemula," ucap Shinta sambil tertawa.
Allena memeluk Dokter Shinta, kembali mengucapkan terima kasih atas bantuannya menemukan Zefano.
"Sampai kapan kamu akan mengucapkan terima kasih padaku. Aku juga banyak berhutang budi pada Zeno jadi wajar jika aku melakukan apa pun untuknya dan terlebih lagi aku sayang sama anak itu. Kalau benar-benar ingin berterima kasih padaku, berikan aku sesuatu yang aku inginkan," ucap Shinta.
"Baiklah, katakan saja apa itu?" tanya Allena.
"Zeno, berikan Zeno padaku," ucap Shinta lalu tertawa.
Allena pun ikut tertawa.
"Kalau inginkan anak, minta sama Kak Valen nanti," ucap Allena lalu tertawa.
"Apa itu, minta padaku?" sela Valendino.
"Mau tahu saja, ini rahasia wanita," jawab Allena.
"Awas ya, main rahasia-rahasiaan," balas Valendino.
Zefran dan sahabat lainnya datang mendekat untuk bergabung dan berbincang bersama. Kesempatan berkumpul itu dipergunakan Dokter Shinta untuk mengumumkan bahwa dua hari lagi Frisca akan menjalani operasi pengangkatan rahimnya.
Mendengar itu, mereka bersama-sama sepakat berkumpul di rumah sakit itu untuk menjenguk dan memberi dukungan pada Frisca.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...