
Zefano mengintip dari lubang kaca pintu, terlihat seorang pasien yang kesulitan menjangkau botol air mineral di atas nakas. Anak itu datang untuk membantu, mereka pun berkenalan. Zefran menyambut uluran tangan Zefano dan mengusap rambut anak yang tampan itu.
"Kenapa Zeno, di rumah sakit ini? Apa Zeno sakit?" tanya Zefran saat melihat anak itu mengenakan baju pasien.
Zefran meminta anak itu duduk di atas ranjangnya.
"Zeno cuma disuruh periksa kesehatan setiap hari," jawab Zeno setelah menggelengkan kepala.
"Kenapa harus periksa setiap hari?" tanya Zefran heran.
"Karena Zeno sudah mimisan tiga kali," ucap anak itu polos.
Zefran mengangguk.
"Om Zefran kenapa di rumah sakit? Apa Om sakit?" ucap Zeno balik bertanya.
"Om terluka karena berkelahi," jawab Zefran.
"O..o..o.., Om Zefran pasti nakal, Mama bilang anak yang suka berkelahi itu anak yang nakal," ucap Zeno.
"M..m.., Om Zefran memang nakal makanya jadi luka, apa Zeno tidak nakal?" tanya Zefran.
"Enggak, Zeno nggak nakal, Zeno cuma bandel" ucapnya sambil tertawa.
Zefran ikut tertawa sambil mengucek rambut anak itu.
"Di sini bersama siapa? Apa Zeno cuma sendiri di rumah sakit ini?" tanya Zefran.
"Ada Mama, Nenek dan Tante," jawab Zeno.
"Cuma itu? Papamu?" tanya Zefran heran.
"Dari kecil Zeno nggak punya Papa," jawab Zeno menunduk.
Wajah ceria anak itu tiba-tiba menghilang. Zefran melihat kesedihan di raut wajah anak itu. Zefran menarik tubuh anak itu dan memeluknya.
"Di dunia ini orang hidup dengan takdirnya masing-masing. Zeno berpisah dari Papa sedangkan Om Zefran berpisah dengan anak dan istri. Kadang kita harus menerima kenyataan itu tapi Zeno tidak boleh bersedih ya," jelas Zefran.
Laki-laki itu masih memeluk Zeno bahkan mengecup puncak rambut anak laki-laki tampan itu.
"Om punya anak?" tanya Zefano.
Zefran mengangguk.
"Tapi tidak bersama Om Zefran, dia bersama ibunya," jawab Zefran bernada sedih.
Zefano menunduk, mendengar ucapan Zefran yang terdengar sedih. Zefran kembali bersandar di ranjang rumah sakit.
"Kenapa anak Om tidak tinggal bersama Om saja?" tanya Zefano.
"Masalah orang dewasa itu rumit Nak, Zeno tidak akan mengerti jika Om Zefran beritahu," jawab Zefran sambil tersenyum.
"Mama juga nggak mau cerita tentang Papa Zeno. Mama pasti menangis kalau Zeno tanya. Jadi Zeno nggak mau lagi tanya tentang Papa," ucap Zefano sedih.
"Padahal Zeno ingin punya Papa. Zeno juga ingin panggil Papa. Dari kecil Zeno tidak pernah memanggil Papa seperti teman-teman Zeno," lanjut anak itu dengan suara pelan.
Zefran mengusap rambut anak itu dan mengangkat wajah yang menunduk itu.
"Zeno boleh panggil Om dengan sebutan Papa jika Zeno mau," ucap Zefran.
"Benarkah? Apa boleh?" tanya Zefano dengan wajah riang.
"Boleh, siapa yang bisa larang kalau Om ingin anggap Zeno seperti anak sendiri," jawab Zefran sambil tersenyum.
Zefano tersenyum senang.
"Senyummu manis sekali, kamu anak yang tampan. Mamamu pasti cantik dan Papamu juga tampan" ucap Zefran.
"Ya betul, Mama Zeno memang cantik," jawab Zefano langsung.
"Apa Om suka anak kecil?" sambung Zefano.
"Kenapa masih panggil Om, katanya mau panggil Papa," ucap Zefran menggenggam tangan Zefano.
"Oh iya baiklah Papa, apa Papa suka anak kecil?" tanya Zefano.
"Tentu saja, waktu anak Papa masih bayi Papa juga ikut bantu mengurusnya. Menggendongnya, memandikannya, mengganti popoknya, semuanya. Saat itu rasanya indah sekali. Saat itu Papa masih berkumpul bersama anak dan istri Papa," tutur Zefran.
Tanpa sadar Zefran meneteskan air mata, Zefano langsung menghapus air mata itu. Zefran tertawa namun semakin mengalirkan air matanya. Zefano sampai memeluk laki-laki itu dan menepuk punggungnya untuk menghibur.
"Terima kasih Zeno, kamu mengobati rindu Papa pada putra Papa," ucap Zefran.
"Mudah-mudahan Papa bisa kumpul lagi dengan anak Papa ya," harap Zefano.
"Terima kasih sayang," jawab Zefran.
__ADS_1
"Ooh, Zeno harus pergi Pa, Zeno harus balik ke kamar," ucap Zeno langsung melepas pelukannya dan turun dari ranjang rumah sakit Zefran.
"Zeno," panggil Zefran.
Zefano membalik badan menoleh.
"Apa kita bisa ketemu lagi?" tanya Zefran yang dibalas dengan anggukan oleh Zefano.
Zefano melambaikan tangan ke arah Zefran, laki-laki itu membalas sambil tersenyum.
Senyum dan sorot mata anak itu seperti pernah kulihat, hm.., Zeno, Zeno, bisik hati Zefran.
Laki-laki itu tertawa saat Zefano yang telah hilang di balik pintu tiba-tiba melongokkan kepalanya. Lalu melambaikan tangan dan pergi. Zefran tertawa bahagia namun kemudian kembali merasa sunyi.
Menoleh ke arah jendela, Zefran belum boleh banyak bergerak. Hingga dia hanya bisa memandang keluar jendela dari ranjangnya.
Sementara itu Allena sedang bertanya pada suster jaga.
"Suster, apa Zeno sedang ada pemeriksaan? Kenapa tidak ada di kamarnya?" tanya Allena.
"Zeno ada di sini," teriak Zefano telah berdiri di samping Allena.
"Oh ya ampun kamu mengagetkan Mama. Zeno dari mana sayang?" tanya Allena sambil mengusap dadanya.
"Kok Mama balik lagi?" tanya Zefano.
"Ditanya malah balik nanya," ucap Allena langsung menggendong anaknya ke kamar.
Zefano menatap para suster dan menyilangkan jari telunjuknya ke bibir. Para suster itu tertawa dan melambaikan tangan.
Allena merebahkan Zefano di ranjangnya dan Allena duduk di atas ranjang rumah sakit itu.
"Tadi kemana? Kenapa tidak diam di kamar?" tanya Allena berpura-pura emosi.
Zefano langsung meluruskan tubuhnya dan diam menatap lurus ke depan.
"Apa-apaan ini?" tanya Allena.
"Katanya suruh diam," jawab Zefano dengan mulut yang dibuka sedikit.
Allena langsung menggelitik pinggang anak itu, Zefano tertawa tak bisa menahan geli. Anak itu berusaha menangkap tangan ibunya.
"Apa masih bisa diam sekarang? Kenapa tidak diam saja? Kenapa bergerak? Ayo katanya mau diam saja," ucap Allena masih terus menggelitik pinggang Zefano.
"Ampun Mama, ampun," ucap Zefano sambil terus tertawa.
"Mama panik saat melihat ranjang ini kosong, Mama takut terjadi apa-apa. Mama khawatirkan kesehatanmu nak," ucap Allena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafin Zeno Ma," ucap anak itu pelan.
Allena mengangguk lalu mengecup puncak rambut anak itu.
"Nenek kurang enak badan jadi Mama suruh Tante Rahma jaga Nenek di rumah. Mama minta izin tidak masuk kerja jadi bisa temani Zeno di sini," jawab Allena.
"Asyiiik.., Mama temani Zeno," jerit anak itu.
Allena tersenyum, hari ini Zefano kembali melakukan pemeriksaan. Gadis itu menemani anaknya melakukan beberapa tes.
"Kami harus melakukan serangkaian tes lagi agar kami bisa dengan yakin memastikan penyakit yang diderita Zefano," ucap Dokter setelah kembali mengambil sampel darah Zefano.
"Apa bukan mimisan biasa, dokter?" tanya Allena.
"Setelah memeriksa riwayat penyakit keluarga, kami mengarah pada satu dugaan. Tapi kita tidak boleh sembarangan mengambil kesimpulan. Kami harus memastikan dengan melakukan beberapa kali pemeriksaan. Karena itu Zefano belum bisa kembali ke rumah untuk sementara waktu," jelas Dokter.
"Baiklah dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya," mohon Allena yang dibalas dengan anggukan dan ucapan sanggup dari dokter penanggung jawab Zefano.
Setelah mendapat penjelasan dari dokter, Allena melangkah pelan kembali ke ruang rawat inap Zefano. Pikirannya melayang, sambil menggendong anaknya Allena mengulang kembali penjelasan yang disampaikan dokter.
Riwayat penyakit keluarga? Apa maksudnya? Apa ada hubungannya dengan penyakit ayah? Tidak, tidak, belum tentu karena itulah dokter harus memeriksa lebih lanjut, jangan sampai, tidak, jangan sampai penyakit Zeno sama seperti penyakit ayah, jerit hati Allena.
Tanpa sadar mengencangkan pelukannya membuat Zefano merasa heran. Namun, anak itu hanya diam.
Tidak, keadaan ayah dan Zeno berbeda. Saat itu kami tidak punya biaya dan ayah menunda pengobatan hingga terlambat ditangani. Sekarang metode pengobatan penyakit itu sudah beragam, asalkan ada biaya dan terdeteksi sejak dini penyakit itu bisa dikalahkan. Aku akan lakukan apa pun untuk anakku. Apa pun itu termasuk mengorbankan diriku sendiri, jerit hati Allena yang kembali tanpa sadar memeluk anak itu erat.
Air mata gadis itu mengalir.
"Mama..," ucap Zefano pelan.
"Oh ya, maaf sayang," ucap Allena mengira anaknya kesakitan karena pelukannya yang terlalu erat.
"Kamarnya udah lewat," jawab Zefano lagi.
"Apa?" tanya Allena berhenti dan menoleh ke belakang.
Zefano merenggangkan pelukannya dan tertawa.
__ADS_1
"Mama melamun, Mama sedang jatuh cinta," ucap Zefano kemudian tertawa.
"Jatuh cinta? Siapa yang mengajari Zeno bicara seperti itu?" tanya Allena.
"Suster Hani, dia bilang Suster Lia sedang jatuh cinta makanya sering melamun," jawab Zefano.
"Siapa suster-suster itu? Kenapa bisa kenal dengan Zeno?" tanya Allena sambil berbalik arah menuju kamar rawat inap Zefano.
"Pacar Zeno, semua suster di sini pacar Zeno," ucapnya sambil tertawa.
"Ya ampun anak ini, masih kecil sudah jadi playboy," ucap Allena.
"Don Juan, Casanova," ucap Zefano.
"Siapa lagi yang mengajari itu?" tanya Allena sambil membaringkan Zefano di ranjang rumah sakit.
"Suster Nofi, katanya Zeno ganteng kalau besar nanti bisa jadi Playboy, Don Juan, Casanova," ucap Zefano sambil berteriak menyebutkan julukan untuk penakluk hati wanita dari berbagai negara itu.
"Iih, anak ini. Pergaulan Zeno sangat luas dan wawasanmu luar biasa. Tapi sekarang waktunya tidur siang nanti Mama bangunkan menjelang sore. Zeno harus banyak istirahat ya sayang," ucap Allena.
Zefano mengangguk patuh, anak itu segera memejamkan matanya. Allena menyelimuti lalu menepuk bahu anak itu untuk menidurkannya. Setelah itu kembali melamun memikirkan kesehatan anak itu.
Allena merebahkan kepalanya di bantal Zefano. Menatap wajah putranya yang tidur miring menghadap ke arahnya.
Semakin hari wajahmu semakin mirip Papamu, tampan seperti Papamu. Wajar saja suster-suster itu menggodamu, semoga lekas sehat ya sayang. Mama akan lakukan apa pun untukmu, putra tuan Zefran yang tampan, batin Allena sambil tersenyum.
Namun, senyum itu langsung menghilang saat teringat pada suaminya itu.
Bagaimana keadaannya sekarang, apa sudah sadar? Apa dia baik-baik saja? jerit hati Allena.
Perlahan gadis itu bangun dan melangkah keluar. Berjalan tergesa melewati lorong rumah sakit menuju ruang rawat inap suaminya. Mengatur nafasnya saat tiba di pintu ruang rawat inap laki-laki itu. Allena melirik papan nama yang masih bertuliskan nama Zefran.
Gadis itu ingin segera masuk namun akhirnya memutuskan untuk mengintip terlebih dahulu. Terlihat Zefran yang termenung menatap keluar jendela. Seorang diri dan terlihat sedih. Allena mendorong pintu itu dan berjalan perlahan.
Merasa ada yang datang, Zefran langsung menoleh dan tersenyum.
"Allena, kamu datang?" tanya Zefran seakan tidak percaya.
Allena tersenyum menghampiri, berdiri di ujung ranjang laki-laki itu. Zefran menatap Allena yang terlihat canggung. Setelah lima tahun berpisah, bertemu di peragaan busana dan malamnya Allena harus menjemput Zefran di Night Club lalu mengantarnya pulang.
Itu yang membuat Allena merasa canggung karena terakhir mereka bertemu, mereka melewati malam yang penuh gairah, bercinta hingga membuat Allena terpaksa menginap di rumah yang telah ditinggalkannya. Allena merasa bingung dengan statusnya saat ini.
"Ini tidak adil, dulu saat kamu terbaring di rumah sakit aku menemanimu. Membelikan permen untuk mulutmu yang terasa pahit. Tapi sekarang, jangankan membelikan permen yang bisa kita nikmati bersama, mendekat pun kamu sudah tidak mau lagi," ucap Zefran menghela nafas berat kemudian menunduk.
Allena otomatis maju mendekat.
"Bukan begitu, aku.., aku tidak tahu apa Kakak bersedia aku kunjungi," ucap Allena sambil menunduk.
"Kamu itu istriku, mana mungkin aku tidak ingin dikunjungi istri sendiri. Setiap hari aku hanya bisa menatapmu dari jauh karena aku takut membuatmu semakin benci. Meski sangat merindukanmu tapi aku menahan diri untuk menemuimu. Setiap hari menahan hati untuk memelukmu sementara Valendino begitu mudah jalan bersamamu dan memelukmu," ucap Zefran dengan mata yang berkaca-kaca.
Allena mendekat, gadis itu ingin meyakinkan Zefran bahwa apa yang dipikirkan laki-laki itu terhadap hubungannya dengan Valendino tidaklah benar.
"Kak, aku.., dia.., kami tidak..,"
Tapi Allena tidak tahu harus memulai darimana menjelaskannya. Hingga akhirnya Zefran meraih tangan gadis itu dan menariknya ke pelukannya. Zefran tidak butuh penjelasan gadis itu. Dia tidak peduli apa pun alasannya yang penting sekarang baginya Allena telah berada di pelukannya lagi.
Zefran memeluk erat tubuh istrinya dan menyatukan bibir mereka. Allena bahkan menahan tubuhnya agar tidak menekan luka di tubuh Zefran. Namun, laki-laki itu tidak peduli. Rasa rindunya pada Allena ingin dilampiaskan dengan ciuman yang menggebu.
Allena tak bisa bertahan saat lidah laki-laki itu menerobos masuk dan bermain di rongga mulutnya. Zefran semakin menarik tubuh gadis itu lebih mendekat saat Allena tanpa sadar membelai tengkuk laki-laki itu. Allena memejamkan mata saat tangan Zefran menyelinap masuk ke dalam blouse-nya.
Zefran mengusap lembut punggung berkulit halus itu membuat Allena melenguh nikmat. Nafas mereka semakin memburu hingga akhirnya terasa sesak. Allena melepaskan ciuman itu, Zefran tersenyum lalu mencium kening Allena. Gadis itu tertunduk malu karena tak pernah bisa menghindar dari perlakuan mesra Zefran.
"Aku mencintaimu sayang," bisik Zefran sambil menyatukan kening mereka.
Valendino yang sejak tadi datang untuk menjenguk sahabatnya, terpaksa menghentikan langkahnya saat melihat adegan mesra yang terjadi di ruangan itu melalui lubang kaca pintu. Berdiri bersandar di samping pintu sambil sesekali menoleh kembali ke dalam ruangan.
Panas cemburu mengalir di sekujur tubuhnya namun laki-laki itu bertahan hingga adegan mesra itu berakhir. Kemudian masuk untuk melanjutkan tujuannya datang ke tempat itu. Allena buru-buru berdiri saat terdengar ketukan pintu. Terkejut saat melihat Valendino yang datang.
Berbeda dengan Zefran yang terlihat santai, Allena kelimpungan menahan malu seperti orang yang ketahuan berbuat hal memalukan. Allena berpikir Valendino pasti melihat perbuatan mereka. Laki-laki itu menoleh pada Allena dan Zefran secara bergantian.
"Kerbau dipegang talinya, manusia dipegang omongannya. Kamu pasti ingat apa yang kamu ucapkan di dalam lift terakhir kali bukan?" tanya Valendino pada Zefran.
Zefran memalingkan wajahnya, Allena menoleh pada Zefran dan bertanya-tanya di dalam hati.
"Meski sedang terluka kamu pasti yakin dengan ucapanmu bukan?" lanjut Valendino menatap pada Zefran yang masih memalingkan wajah.
"Ada apa Kak? Apa maksud Kakak?" tanya Allena pada Valendino.
"Zefran ingin aku menjagamu dan mencintaimu sepenuh hatiku," ucap Valendino.
"Apa?" tanya Allena terkejut.
Zefran menoleh ke arah Valendino, laki-laki itu menatap sahabatnya. Ingin melihat seberapa tega dia dengan ucapannya.
"Dia telah menyerahkanmu padaku, sekarang kamu adalah milikku. Aku melarangmu untuk menemuinya lagi," ucap Valendino pada Allena.
__ADS_1
Allena terkejut, laki-laki itu langsung meraih tangan Allena dan menyeretnya pergi. Melihat itu Zefran langsung bergerak turun dari ranjangnya untuk mengejar. Meski terasa nyeri namun laki-laki itu tetap melangkah tertatih, keluar dari ruangan untuk mengejar gadis yang dicintainya.
...~ Bersambung ~...