
Allena mengajak Zefano melihat keadaan pasien yang telah menolong mereka. Allena bersyukur karena hasil CT scan menunjukkan tak ada cedera yang serius pada pasien. Allena berterima kasih pada laki-laki muda itu karena telah menolongnya dan Zefano.
Allena menunjukkan rasa terima kasihnya yang begitu besar. Namun laki-laki muda yang terus menatapnya itu justru hanya tersenyum. Laki-laki muda itu mengatakan kalau dirinya mengenal Allena bahkan mengakui kalau Allena adalah cinta pertamanya.
Allena terperangah hingga tak bisa berkata-kata. Anak muda itu sendiri juga garuk-garuk kepala seperti kaget dengan ucapannya sendiri.
"Apa gara-gara kepalaku terbentur ya, kok jadi berani blak-blakan begini," ucapnya lalu tertawa.
Allena yang akhirnya tersadar dari rasa kagetnya pun ikut tertawa.
"Memangnya kenal aku di mana?" tanya Allena heran.
"Aku salah satu warga di perumahan ibunya Kak Allena. Aku anaknya Pak Rahman," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh ya, putra Pak Rahman sudah sebesar ini?" tanya Allena tak menyangka.
"Ya Kak, tadi saat di toko buku, aku melihat Kak Allena tapi masih ragu-ragu. Takutnya Kak Allena nggak kenal aku, jadi aku maju mundur ingin menyapa Kak Allena. Untung aku cowok kalau aku cewek mungkin sudah maju mundur cantik," ucapnya sambil tersenyum.
Allena tertawa, dalam hati Allena sama sekali tak ingat dengan pemuda itu. Meski dia tahu kalau Pak Rahman punya seorang putra tapi Allena tak punya waktu untuk memperhatikan para tetangganya dulu.
"Kenalkan Kak, aku Dion," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Allena pun menyambut jabat tangan laki-laki muda yang tampan itu.
"Adiknya Celine Dion?" tanya Allena bercanda.
Dion tertawa, laki-laki itu begitu bahagia bisa berbincang dengan Allena.
"Apa Kak Allena percaya?" tanya Dion.
"Ya?" tanya Allena tak mengerti.
"Kalau Kak Allena adalah cinta pertamaku?" tanya Dion.
"Dion ..." ucap Allena yang lebih berharap laki-laki itu tak membahas tentang perasaannya itu.
"Aku ingat saat itu masih kelas tiga SMP. Aku ikut menemani Bapak meronda malam. Saat itu Kak Allena pulang kerja dari Night Club. Kak Allena memberi Bapak-bapak yang sedang meronda itu dua bungkus rokok. Aku belum pernah memperhatikan Kak Allena sebelumnya tapi malam itu aku seperti melihat seorang bidadari yang singgah di pos ronda kami. Kak Allena tersenyum dan berbasa-basi pada bapak-bapak itu. Itu, adalah kesempatan pertamaku untuk menatap wajah Kak Allena lebih lama," tutur Dion.
"Aku tidak tahu ada anak kecil yang ikut meronda?" tanya Allena.
"Awalnya karena bapak kesal aku tak mau tidur tapi justru asyik main game di ponsel. Akhirnya bapak mengajakku meronda. Awalnya sangat malas, tapi sejak malam itu, setiap kali bapak mendapat giliran ronda, aku akan langsung ikut menemaninya. Bahkan rela tidur siang agar bisa tetap terbangun saat Kak Allena pulang," jelas Dion sambil tersenyum.
Dion menghela nafas panjang, lalu meneruskan ceritanya.
"Bapak-bapak akan membicarakan tentang Kak Allena. Mereka bilang, Kak Allena orang yang sangat baik, meski kehidupan Kak Allena sulit tapi masih mau berbagi. Bapak-bapak itu juga cerita, kalau Kak Allena terlilit hutang hingga dipaksa menikah dengan rentenir yang telah beristri empat. Sejak saat itu aku rajin belajar. Aku ingin segera menamatkan sekolah demi bisa bekerja dan membantu Kak Allena membayar hutang. Pokoknya aku nggak rela kalau Kak Allena harus menikah dengan orang tua beristri banyak itu. Tapi belum tercapai cita-citaku, aku dengar Kak Allena telah menikah dengan seorang pengusaha kaya. Cita-citaku tak kesampaian. Hu-uh, aneh, kenapa aku bisa berani seperti ini, curhat sama Kak Allena, jangan-jangan ada yang salah dengan otakku. Untung saja sidang skripsiku sudah selesai. Kalau dalam keadaan error begini, entah seperti apa presentasiku," ucap Dion sambil tersenyum.
Allena tersenyum kecut, senang bercampur sedih. Dion sepertinya baik-baik saja dan bisa bercanda tapi Allena juga khawatir dan merasa bersalah.
"Maaf ya Dion, kamu harus mengalami kecelakaan ini," ucap Allena menyesal.
"Aku justru bersyukur Kak, karena kejadian ini aku justru bisa bicara dengan Kak Allena. Bertahun-tahun aku cuma memendamnya saja. Menyapa Kak Allena pun aku nggak berani. Hari ini rasanya aku telah melepas bebanku selama bertahun-tahun. Bagi Kak Allena mungkin itu hanya cinta Monyet tapi bagiku itu adalah cinta sejati," ucap Dion lagi.
"Dion …"
"Aku tahu Kak Allena sekarang telah hidup bahagia dengan keluarga Kakak. Ngomong-ngomong, apa ini putranya?" tanya Dion.
Allena seperti tersihir dengan cerita Dion hingga lupa untuk mengenalkan putranya.
"Oh ya, perkenalkan ini putraku Zefano tapi dia suka memanggil dirinya Zeno," ucap Allena sambil mengenalkan Zefano.
Zefano mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya, begitu juga dengan Dion.
"Zeno masih kecil aja udah ganteng ya, gimana kalau udah gede. Papanya juga pasti ganteng ya Kak?" tanya Dion yang sebenarnya tak perlukan jawaban.
__ADS_1
Allena cuma tersenyum mendengar pujian Dion.
"Oh ya, apa kamu akan di rawat inap? Kalau ya aku pesankan kamar untukmu ya," ucap Allena.
"Ya, kalau hasil CT scan menunjukan tidak masalah tapi dokter bilang harus dilihat efeknya dalam beberapa hari ini. Efeknya bisa mengalami nyeri kepala berat, terjadi perubahan kesadaran contohnya jadi tidur terus dan sulit bangun. Gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan bicara, kelumpuhan salah satu sisi tubuh, kejang …"
"Ya aku juga dengar itu dari dokter," ucap Allena dengan wajah risau.
"Gejala-gejala trauma kepala ringan dapat muncul setelah beberapa hari, hingga beberapa minggu. Gejala itu tidak langsung terlihat, seperti kepala terasa pusing. Hilangnya kesadaran dalam hitungan detik hingga menit. Mudah kebingungan, hilang keseimbangan. Suasana hati yang mudah berubah-ubah. Telinga kerap berdengung. Sering merasa depresi. Penglihatan mulai kabur. Kesulitan untuk tidur. Hmm.. klu muncul gejala itu harus segera diobati, jika dibiarkan akan menyebabkan komplikasi, jadi mungkin aku lebih baik pulang dulu. Jika terasa gejala seperti itu barulah aku …"
"Jangan! Tetaplah di sini biar Kakak yang urus rawat inapmu. Kakak khawatir gejalanya timbul tapi kamu mengabaikannya. Jika di sini, kesehatan kamu akan terus dipantau oleh dokter. Sidang skripsimu sudah selesai 'kan? Kamu tidak memiliki kegiatan di kampus lagi 'kan?" tanya Allena dengan raut wajah yang makin risau.
Dion mengangguk.
"Mungkin hanya sedikit perbaikan di skripsiku tapi masih bisa di serahkan hingga bulan depan," jawab Dion.
"Kalau begitu kamu istirahat di sini ya, Kakak akan konsultasi ke dokter bagaimana baiknya. Kalau dokter mengizinkan kamu rawat inap, kamu lakukan rawat inap saja. Masalah biaya jangan khawatir. Kakak justru lebih khawatir kalau terjadi apa-apa denganmu di belakang hari. Kamu setuju 'kan?" tanya Allena.
Allena panjang lebar menjelaskan keinginannya, terlihat jelas kalau wanita itu begitu khawatir. Sementara Dion hanya tersenyum melihat wajah cantik Allena yang terlihat risau cenderung panik. Ada rasa bahagia di hatinya melihat Allena yang tidak mengabaikannya begitu saja atau bahkan terlihat perhatian dan khawatir padanya.
"Baiklah Kak," ucap Dion patuh pada keinginan Allena.
Allena segera keluar mencari dokter untuk berkonsultasi. Sementara Zefano duduk di kursi samping ranjang rumah sakit Dion. Kadang-kadang anak itu melirik pada dokter-dokter dan perawat-perawat yang lalu lalang di unit gawat darurat itu.
"Zeno sudah sekolah?" tanya Dion menghilangkan rasa canggung. Zefano mengangguk.
"Sebenarnya besok mau daftar sekolah, hari ini beli alat-alat sekolah dulu. Maafin Zeno ya Om," ucap Zefano lalu menunduk.
"Kenapa Zeno minta maaf?" tanya Dion.
"Karena Zeno pilih-pilih tas kelamaan jadi Om terpaksa tolongin Zeno," ucap anak itu.
"Om nggak terpaksa kok. Lagian setiap orang kalau mau pilih yang terbaik itu memang lama. Kalau pilihnya asal-asalan, memang lebih cepat tapi hasilnya juga asal-asalan, bisa jadi menyesal. Jadi bukan salah Zeno ya, Zeno memang harus memilih dengan baik. Apalagi Zeno ganteng …"
Dion tertawa, tentu saja Zefano tak mengerti. Zefano membicarakan tas sementara Dion membicarakan tentang seorang gadis. Laki-laki muda itu membelai rambut Zefano.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, tadi Om pikir tidak sempat menyelamatkanmu," ucap Dion sambil tersenyum.
"Makasih ya Om," ucap Zefano yang dibalas dengan anggukan oleh Dion.
Tak lama kemudian Allena datang dan memberitahu kalau Dion diizinkan beristirahat di salah satu ruang rawat inap.
"Dalam tiga hari jika tidak terjadi apa-apa dan Dion ingin pulang, maka Dion boleh pulang. Atau jika ingin beristirahat selama seminggu untuk melihat kondisinya juga boleh. Tapi ingat ya! Jika ada keluhan langsung saja dilaporkan ya," ucap Allena.
"Baik Kak, jangan khawatir," jawab Dion dengan tersenyum manis.
"Baiklah, setelah Dion dipindahkan ke ruang rawat inap. Kakak pamit pulang dulu ya, Kakak akan beritahu Pak Rahman dan ibu kalau Dion ada di sini. Mmm, mungkin besok baru Kakak ke sini lagi," ucap Allena masih terlihat risau.
Dion mengangguk, Allena pun menunggu Dion dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP. Dion ternganga melihat betapa mewahnya ruang menginap untuk pasien itu. Dion menolak untuk ditempatkan di situ namun Allena bersikukuh menempatkannya di situ.
"Apa yang kamu lakukan pada kami melebihi apa yang bisa kuberikan padamu. Istirahatlah, aku akan segera beritahu keluargamu. Apa ada yang ingin kamu hubungi lagi? Teman atau pacar?" tanya Allena.
Laki-laki itu hanya menunduk sambil tersenyum. Tak lupa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Baiklah, mungkin nanti bisa kamu hubungi sendiri. Jika sendirian mungkin akan bosan, kalau ditemani teman apalagi pacar mungkin akan lebih menyenangkan tapi itu terserah kamu. Kakak pulang dulu ya, kami sudah keluar rumah sejak tadi. Besok Kakak akan menjengukmu lagi," ucap Allena.
Dion menyetujui, Allena dan Zefano pun pulang. Setelah sebelumnya mampir dan menjelaskan kejadian yang menimpa Dion pada keluarganya. Saat sampai di rumah Zefran langsung bertanya karena merasa kalau Allena dan Zefano pergi terlalu lama.
Allena pun menjelaskan kejadian yang menimpa mereka. Zefran mendengar dengan rasa kaget, segera memeluk putranya dan bertanya apakah putranya itu terluka.
"Zeno dan aku baik-baik saja, tapi Dion yang tertimpa hingga jatuh pingsan. Saat ini aku sudah memesankan ruang rawat inap untuknya. Jika tidak ada dia mungkin aku dan Zeno yang sudah tertimpa," jelas Allena.
"Dion?" tanya Zefran reflek bertanya.
__ADS_1
"Ya, anak yang menolong kami itu ternyata tetangga di perumahan ibu. Aku sendiri sebenarnya tak kenal dengannya tapi dia ingat aku. Tadi kami juga mampir ke rumah keluarganya sekalian menengok ibu. Jadi pulangnya agak telat," jelas Allena.
"Kalau terjadi apa-apa teleponlah kami. Jangan selesaikan sendiri. Kamu membuatku khawatir, jika aku menelepon aku justru takut mengganggumu," jelas Zefran.
"Baik Kak, maafkan aku," ucap Allena menunduk.
Zefran memeluk istrinya dan bersyukur karena tidak terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anaknya. Zefran menangkup wajah istrinya.
"Besok kita jenguk anak itu ya, aku juga ingin berterima kasih padanya," ucap Zefran lalu mengecup bibir Allena.
"Hmm, baiklah. Aku juga ingin tahu bagaimana kabarnya besok. Oh ya, dia telah menyelesaikan skripsinya, apa mungkin Kakak bisa membantunya mendapat pekerjaan di perusahaan Kakak," ucap Allena.
"Oh itu, boleh. Nanti kita lihat di mana dia bisa ditempatkan," jawab Zefran.
Allena senang, mengingat dia ingin membalas kebaikan anak itu dengan melakukan sesuatu. Membujuk suaminya menerima anak itu bekerja di mana di zaman sekarang ini cukup sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi untuk fresh graduate sepertinya.
Keesokan harinya Allena dan Zefran menjenguk Dion. Ternyata anak muda itu sedang dikunjungi oleh teman-temannya. Terdengar suara tawa dari anak-anak mahasiswa yang sebagian besar hampir menamatkan kuliahnya.
Zefran dan Allena menghentikan langkahnya di depan pintu ruang rawat inap Dion. Laki-laki itu ragu untuk meneruskan langkahnya karena takut akan mengganggu keceriaan mereka dengan kedatangan mereka berdua.
"Wah, jadi pahlawan loe, kayak Superman and Lois Lane, atau Spiderman and Mary Jane," ucap salah seorang mahasiswa.
"Lebih enak Spiderman and Mary Jane, ada adegan kiss yang fenomenal," ucap mahasiswa yang lain.
Zefran tertunduk dengan rahang yang mengeras. Allena langsung panik, wanita itu langsung berbisik agar mereka pulang dan mencari waktu lain untuk menjenguk Dion.
"Tidak apa-apa sayang, kita tunggu sebentar lagi. Aku kira jika kita masuk tak lama kemudian mereka pasti akan pulang," ucap Zefran.
"Kita jadi mengusir teman-teman Dion?" tanya Allena polos.
"Ya, memang itu tujuannya. Aku tidak suka dengan obrolan mereka," ucap Zefran sambil menatap lurus ke depan.
Allena sudah menyangka, Zefran pasti tidak mengabaikan begitu saja obrolan para mahasiswa itu karena ini menyangkut dirinya. Allena pasrah dan berharap tidak terjadi apa-apa.
Seperti yang diucapkan Zefran, laki-laki itu mengetuk pintu rawat inap dan melangkah masuk diikuti Allena. Otomatis mata para mahasiswa tertuju pada Zefran dan Allena. Zefran langsung tersenyum pada mereka. Allena kagum dengan gaya Zefran yang karismatik saat berhadapan dengan para mahasiswa itu. Zefran terlihat begitu wibawa membuat para mahasiswa itu langsung segan padanya.
Allena langsung mengenalkan Dion pada suaminya. Tak hanya Dion yang disalami Zefran, semua mahasiswa yang ada di situ pun di salami laki-laki itu. Para mahasiswa itu terlihat segan, tak ada satu pun dari mereka yang berani berkelakar lagi.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan istri dan anakku kemarin," ucap Zefran menyampaikan niatnya datang menjenguk Dion.
"Tidak masalah Kak, memang sudah sewajarnya saling tolong menolong," ucap Dion yang ikut deg-degan saat berhadapan dengan Zefran.
"Aku tetap harus berterima kasih dan aku paling tidak suka berhutang budi. Aku dengar sebentar lagi kamu akan di wisuda. Kalau kamu mau, kamu bisa mengajukan lamaran di perusahaanku," ucap Zefran to the point.
"Tidak perlu Kak, aku lebih suka mendapat pekerjaan dengan usahaku sendiri," ucap Dion secara halus.
Kurang ajar, dia menolakku di depan orang banyak, batin Zefran.
"Baiklah, itu bagus. Berusaha dengan kemampuan sendiri mendapat pekerjaan di jaman sekarang ini memang agak sulit tapi akan menjadi kebanggaan bagimu jika berhasil mendapatkannya. Aku hanya ingin menyenangkan hati istriku, tadi malam dia memintaku untuk membalas kebaikanmu dengan memberimu pekerjaan," ucap Zefran sambil memandang istrinya.
Allena menunduk, ada penyesalan di hatinya mengusulkan hal itu hingga membuat Zefran seperti di permalukan. Dion pun menyadari apa yang diucapkannya telah menyakiti hati Zefran. Dion merasa kalau Zefran telah berusaha untuk menjaga emosinya.
"Ya Kak maaf, saya tidak sedikit pun berniat untuk menolak. Tapi saya ingin mencoba kemampuan saya lebih dulu, mungkin suatu saat saya akan membutuhkan bantuan dari Kak Zefran," ucap Dion akhirnya mengalah.
Zefran tersenyum miring, kembali merasa di atas angin.
"Wah gitu dong bro, masa dapat kesempatan emas nggak diambil," ucap salah seorang mahasiswa pada Dion.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya, semoga sukses bro. Loe memang beruntung, semoga tercapai cita-cita loe mendapatkan cinta sejati loe ya! Siapa namanya tadi?" tanya seorang mahasiswa.
"Allena, ya Allena. Cewek pujaan Dion itu namanya Allena."
Zefran terbelalak dan langsung menoleh pada Allena. Allena sendiri juga terperangah, meski dia telah mengetahui perasaan Dion terhadapnya tapi tentu hal itu tidak perlu diceritakannya pada Zefran. Allena hanya bisa tertunduk, tak mampu menahan tatapan mata Zefran yang tajam mengarah padanya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...