
Allena kembali dari perusahaan fashion, baru saja wanita itu turun dari mobilnya. Allena di kejutkan oleh Santi yang langsung berlari ke arahnya.
"Nyonya, Zara demam! Zara sakit demam Nyonya!" jerit Santi berlari mendatangi.
Allena panik, segera menyentuh kening dan tubuh putrinya.
"Ayo bawa ke dokter Nyonya," ajak Santi.
"Ayo!" seru Allena masuk kembali ke dalam mobilnya.
Di perjalanan Allena menoleh ke wajah putrinya yang terlihat memerah. Bibirnya memerah dan terlihat lemah. Zifara hanya tidur di dalam gendongan Santi.
"Ke dokter mana ya?" tanya Allena masih bingung ke rumah sakit mana mereka menuju.
"Dokter anak Nyonya," jawab Santi langsung.
"Ah ya, dokter anak, siapa dokter anak yang aku kenal?" tanya Allena berbicara sendiri.
Wanita itu berpikir jika seseorang yang dikenalnya mungkin bisa langsung ditangani. Allena mengingat dokter anak yang menjadi penanggung jawab kesehatan Zifara saat peragaan busana anak-anak.
Wanita itu langsung meminta nomor telepon dokter itu pada Ny. Marilyn yang mana nyonya itu adalah tantenya. Segera wanita itu menelpon dokter itu. Allena memperkenalkan diri dan memperkenalkan Zifara, karena ini pertama kalinya dia menelpon dokter muda tampan itu.
Dr. Devan langsung menyambut saat Allena memberi tahu kalau dirinya adalah designer yang mengadakan peragaan busana anak-anak waktu itu.
"Allena istri Zefran? Mamanya Zara," ucap dokter itu langsung.
Allena membenarkan, dokter itu langsung meminta Allena datang ke ruangan prakteknya. Begitu sampai di rumah sakit, Allena langsung mendatangi ruang praktek dokter anak itu. Zifara langsung diperiksa olehnya. Dokter itu menenangkan Allena karena hal ini biasa terjadi pada bayi yang akan tumbuh gigi.
"Benarkah Dokter? Ini tidak apa-apa?" tanya Allena yang terlihat panik.
"Kenapa begitu panik? Ini seperti baru pertama kalinya kamu memiliki bayi?" tanya Devan.
"Ya benar, baru kali ini aku mengikuti perkembangan anakku dari bayi. Dulu aku meninggalkan putra pertamaku, Zeno, dengan nenek dan tantenya saat belajar di Paris. Aku baru kembali setelah anakku berumur lima tahun," jelas Allena.
"Oh pantas saja," ucap Devan sambil tertawa.
Santi memandang Allena kagum, menurut sepengatahuannya Allena hanyalah seorang pelayan Night Club yang beralih profesi menjadi designer namun tak pernah tahu kalau Allena pernah menempuh pendidikan di Paris.
"Tidak perlu khawatir, setelah meminum obat turun panas dia akan baik-baik saja," jelas Devan yang tertawa melihat kepanikan Allena.
Wanita itu sekarang bisa membayangkan panik ibunya dan Rahma saat Zefano demam karena tumbuh gigi. Allena menatap Santi yang menggendong Zifara sambil menepuk-nepuk bayi itu. Kembali terbayang Rahma yang juga pasti melakukan hal yang sama. Allena yang telah menganggap Rahma seperti adiknya dan sekarang akan segera menikah.
"Dokter, tadi aku langsung ke sini, aku belum sempat mendaftar," ucap Allena.
"Ya, biasanya akan diberikan formulir, karena belum ada, aku tidak bisa menuliskan catatan pemeriksaan dan tindakannya," ucap Devan sambil tertawa.
"Oh ya ampun, maaf dokter karena panik aku langsung ke sini. Kalau begitu aku permisi sebentar. Aku akan daftarkan Zara sekarang. Aku titip putri dan adikku ya dokter," ucap Allena sambil menepuk kedua bahu Santi yang duduk di hadapan Dr. Devan.
Santi kaget mendengar ucapan Allena, gadis itu tak menyangka di depan dokter tampan itu, Allena menganggapnya sebagai seorang adik.
"Ya, tidak masalah, jangan khawatir Allena," balas Devan.
__ADS_1
"Tunggu di sini ya Santi," ucap Allena pada baby sitter-nya itu.
Santi mengangguk dan Allena pun keluar dari ruang praktek Dr. Devan. Allena tersenyum saat menutup pintu itu, berharap rencananya berjalan baik. Wanita itu segera mendatangi bagian pendaftaran dan mendaftarkan putrinya di sana.
Menunggu beberapa saat hingga kartu berobat atas nama Zifara pun diserahkan padanya. Allena di minta ke ruangan Dr. Devan. Wanita itu berjalan dengan langkah pelan.
Apa mereka bisa akrab? Aku harap Dr. Devan belum memiliki pasangan dan mereka saling menyukai. Apa aku ini jahat? Apa aku berdosa? Mudah-mudahan tidak, karena tujuanku baik. Demi mempertahankan rumah tanggaku, dan demi membantu mereka menemukan pasangan. Apa ini akan berjalan lancar? Semua itu tergantung Yang Maha Kuasa yang akan membuka hati mereka, batin Allena.
Wanita itu sampai ke ruangan dokter muda itu. Allena urung masuk karena melihat Dr. Devan yang telah duduk di samping Santi sambil menggoda Zifara. Allena tersenyum, memikirkan dokter itu yang pindah duduk dari hadapan Santi dan duduk di bangku yang diduduki Allena tadi.
Allena membiarkan itu terjadi selama mungkin, hingga akhirnya Dr. Devan sadar dan akhirnya kembali pindah ke kursinya sendiri. Saat itulah Allena masuk.
"Maaf dokter, apa menunggu lama? Aku harus menunggu kartu ini tadi," tanya Allena sambil menunjukkan kartu berobat mirip kartu ATM itu.
"Ah tidak, aku baru saja mengisi form Zara. Nanti kamu bisa tebus resepnya di apotek di rumah sakit ini ya," ucap Devan.
Allena mengangguk, wanita itu pun mengajak Santi pulang setelah berterima kasih pada dokter muda itu. Saat berjalan menuju apotek Allena meminta Santi untuk memberikan Zifara padanya.
"Kamu pasti capek menggendong Zara terus 'kan," ucap Allena.
"Tidak apa-apa Nyonya," ucap Santi tak enak hati menyerahkan Zifara.
Kenapa jadi begini? Aku seperti menjiwai peranku sebagai baby sitter, batin Santi.
"Tidak apa-apa Santi, aku juga ingin menggendong anakku. Apalagi saat sakit seperti ini, terima kasih ya, kamu segera memberitahuku kalau Zara demam," ucap Allena.
Santi hanya tersenyum, sesekali melirik Allena yang asyik melangkah sambil menepuk-nepuk putrinya. Allena menebus resep di apotek yang tersedia di rumah sakit itu. Lalu melangkah ke parkiran mobil. Setiba di mobil Santi diminta masuk lebih dulu, Allena menyerahkan Zifara pada Santi.
Mereka pun melaju pulang ke rumah. Selama perjalanan Santi sesekali melirik ke arah Allena.
"Nyonya, maaf … kenapa mengakui aku sebagai adikmu?" tanya Santi.
"Kenapa? Apa tidak boleh? Aku merasa kamu sayang pada putriku. Aku selalu menganggap orang-orang yang sayang pada keluargaku sebagai keluargaku sendiri. Apa kamu kenal Rahma?" tanya Allena.
"Oh adik Nyonya yang akan segera menikah itu?" tanya Santi.
Santi mengenal Rahma karena selalu datang ke rumah itu setiap kali ada acara berkumpul keluarga. Dan Allena saat ini sedang sibuk mempersiapkan seragam pengantin untuknya.
"Ya! Saat aku melihatmu mengasuh dan merawat Zara aku teringat pada Rahma. Dia dulu mengasuh dan merawat Zeno saat aku belajar di Paris. Jadi, kenapa aku tidak memperlakukanmu sama dengan Rahma? Gadis itu juga aku anggap sebagai adikku sendiri, kenapa kamu tidak?" tanya Allena.
"Nona Rahma itu bukan adik kandung Nyonya?" tanya Santi.
"Bukan! Dia adik yang baru kukenal saat menikah dengan Kak Zefran," jelas Allena sambil tersenyum.
"Jadi … dia itu hanya seorang pengasuh?" tanya Santi.
"Dia seseorang yang sangat berharga bagiku. Dia membantuku merawat dan mengasuh Zeno sejak anakku masih bayi. Seperti yang aku bilang tadi, karena dia sayang pada anak-anakku,aku pun sayang padanya," jelas Allena.
Apa karena aku sayang sama Zara, dia juga menganggap aku sebagai adiknya? Anda salah Nyonya, aku sayang Zara karena Zara adalah anak dari laki-laki yang aku cintai. Aku akan menyayangi anak-anak Kak Zefran seperti anak-anakku sendiri, batin Santi sambil menatap lurus ke depan.
Santi menunduk menatap Zifara yang tidur di pangkuannya.
__ADS_1
"Kalau kamu sudah menikah dan melahirkan anakmu sendiri, kamu pasti jadi ibu yang baik. Jika anak orang lain kamu bisa sayang, apalagi anakmu sendiri," ucap Allena sambil tersenyum.
Karena itu berhentilah menghayalkan Zara adalah putrimu. Mulai sekarang carilah orang lain untuk dijadikan suamimu, jangan berharap pada suamiku, batin Allena.
Mereka pun sampai di rumah. Allena meminta agar Zifara di taruh kamarnya saja.
"Kenapa Nyonya?" tanya Santi.
"Aku ingin menemani dan merawat anakku yang sedang sakit, Santi," jelas Allena.
Santi terpaksa menyerahkan Zifara pada Allena. Wanita itu langsung membawa Zifara ke dalam kamarnya. Santi mencoba untuk mengintip, namun hanya sekilas karena Allena segera menutup pintu kamarnya. Santi tak pernah masuk ke kamar Allena karena memang dia bukan pelayan yang bertugas membersihkan kamar itu.
Apa yang akan dipikirkannya jika masuk ke kamar ini? Dia pasti akan memperhatikan barang-barang milik Kak Zefran. Oh, apa yang harus aku lakukan? Memecatnya tanpa alasan rasanya tidak mungkin, tidak manusiawi. Tetap di sini, aku jadi selalu waspada. Mencarikannya jodoh, entah berhasil atau gagal. Satu-satunya yang membuatku lega hanyalah dia tak terlalu berani menggoda Kak Zefran. Mudah-mudahan dia segera sadar dan mencari cinta yang lain, batin Allena.
Allena tidur di samping putrinya, setelah memberikan obat turun panas. Allena tidur sambil memeluk putri kesayangannya. Dan terbangun saat merasakan tarikan lembut di bibirnya. Allena membuka matanya dan langsung melihat wajah Dr. Devan yang begitu dekat di hadapannya.
Dokter tampan itu kembali ingin menyatukan bibir mereka. Allena panik dan langsung mendorong laki-laki itu namun Dr. Devan bertahan dan tetap mendekati Allena. Namun kali ini Allena tak mendorongnya lagi wanita itu justru membiarkan dokter tampan itu mendekat.
Dokter itu bahkan menjalin jemari mereka, perlahan-lahan mendekati wajah Allena, sedikit lagi bibir mereka akan kembali menyatu. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi, begitu dekat hingga Allena memejamkan mata. Tiba-tiba Allena membuka matanya.
Oh ya ampun, mimpi macam apa itu? Kenapa harus bermimpi seperti itu, batin Allena sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Kamu kenapa?"
"Apa?" tanya Allena langsung menoleh ke arah suara.
Zefran duduk di kursi dalam kamar itu dan menyerahkan ponsel Allena.
"Tadi Devan mengirim pesan untukmu, kamu tadi ke rumah sakit?" tanya Zefran.
"Ya, Zara demam. Dokter anak yang aku kenal cuma dia, jadi aku hubungi saja agar bisa cepat bantu tangani Zara," jawab Allena.
Zefran hanya diam mengangguk pelan. "Kamu tidak ingin balas pesannya?" tanya Zefran yang melihat Allena hanya memegang ponselnya.
"Kirim pesan apa dia?" tanya Allena ragu-ragu menatap ponselnya itu.
Setelah mimpi aneh yang dialaminya, Allena jadi jengah dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dokter tampan itu.
"Bacalah! Tadi aku ingin membalasnya tapi aku takut salah, karena pemikiran kita pasti tidak sama. Jadi aku biarkan saja," jelas Zefran.
Allena pun membuka pesan yang dikirim dokter itu. Awalnya Allena mengira dokter muda itu hanya ingin menanyakan kabar Zifara. Namun Allena terkejut pada akhirnya.
~ Halo Allena, bagaimana keadaan Zara? Sudah mendingan? ~
~ Allena, kenapa kamu lakukan itu? Ingin menjodohkan aku dengan Santi? ~
~ Jangan lakukan itu, aku tidak suka kamu lakukan itu. Rasanya sangat sakit ~
~ Kamu tahu? Aku baru sampai di rumah saat kamu menelponku. Begitu bahagia mendengar kamu ingin menemuiku. Apa kamu tidak lihat? Tak ada pasien lain selain kamu? Jam praktekku sudah habis. Aku hanya datang khusus untukmu, jadi … jangan lakukan itu lagi. Santi atau siapa pun, selain dirimu sendiri, jangan sodorkan lagi wanita mana pun padaku. Mengerti! ~
Pesan habis, Allena tercenung, perlahan Allena mengangkat wajahnya ingin menatap wajah suaminya. Zefran jelas-jelas telah membacanya dan sekarang Allena tidak tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya, dan apa yang akan dilakukan laki-laki dihadapannya itu.
__ADS_1
...~. Bersambung. ~...